Kurebut Suami Kakakku

Kurebut Suami Kakakku
Interogasi Tajam


__ADS_3

Di ruang kerja Belva, Ecca memilih duduk di sofa sambil terus menundukkan kepalanya. Sedangkan Belva terus saja memandangi Ecca sambil melipat kedua tangannya di depan da da menunggu Ecca buka suara.


"Sampai kapan mau terus diam seperti ini?" tanya Belva.


"Memang apa yang perlu aku bicarakan?"


Ecca balas bertanya namun tanpa mengangkat kepalanya sedikit pun.


"Kamu mau ke perpustakaan atau memang ada janji untuk bertemu dengan seseorang?"


"Ya mau ke perpustakaan lah. Sampai sana pasti ketemu sama orang kan, bukan ketemu sama monyet. Kecuali kalo aku mau ke kebun binatang."


Ecca mencoba mengangkat kepalanya, namun tatapan tajam dari seorang Belva membuatnya kembali menunduk.


"Aku tidak suka jawaban bertele-tele, Queen Ca. Lebih baik sekarang jelaskan apa ini?!" tanya Belva dengan nada datar yang penuh dengan penekanan sambil memperlihatkan 2 kotak obat pe nam bah gai rah yang ada di tangannya.


"Emmm, aku benar-benar tidak membutuhkan itu."


"Memang bukan kau yang membutuhkan karena barang ini memang ditujukan khusus untuk pria, Queen Ca."


"Bahkan aku justru mau membuangnya"


"Membuangnya? Lalu untuk apa kau beli jika hanya untuk dibuang? Jawaban yang tidak logis!" balas Belva yang masih menginginkan jawaban yang gamblang dari Ecca.


Belva terus mendesak Ecca untuk mengatakan hal yang sebenarnya. Sedangkan Ecca sendiri masih berkelit menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Belva.


"Kalau tidak percaya ya sudah, aku mau ke toilet dulu!" Ecca berdiri dan siap untuk keluar dari ruangan Belva.


"Kau bisa pakai toilet yang ada di sini dan jangan keluar dari ruanganku sebelum aku mengizinkannya!" suara bariton Belva kini memenuhi ruangan.


Ecca pun langsung berbalik dan menuju ke toilet yang ada di ruang kerja Belva. Karena Ecca terus saja berkelit, akhirnya Belva mengecek CCTV apartemennya melewati ponselnya.


Dari rekaman CCTV tersebut, akhirnya Belva bisa bernafas lega setelah mengetahui jika pe nam bah gai rah itu ternyata adalah pesanan Nuna.


'Ternyata Ecca sebenarnya hendak menggagalkan aksi Nuna yang ingin menjebak ku dengan memberikan serbuk ini dalam minumanku,' gumam Belva dalam hati dengan senyum yang merekah lebar di bibirnya.


'Tapi kenapa Ecca tadi seperti marah ya denganku, Apa sebenarnya yang membuatnya cuek dan ketus saat berhadapan denganku?'


๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’


Sedangkan Ecca yang kini masih betah di dalam toilet terus saja berfikir untuk bisa keluar dari ruangan Belva.


"Duh! Aku pikir tadi alasan untuk ke toilet bisa membuatku lepas dari interogasi mematikan yang terus saja memojokkan aku."


"Ternyata aku salah besar. Hemm sepertinya aku memang harus berbicara jujur saja jika itu memang milik Kak Nuna. Dengan begini aku bisa cepat keluar dari ruangan Bee," gumam Ecca yang akhirnya dengan mantap melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi.


Saat kembali memasuki ruangan Belva, Ecca langsung bernafas lega saat tidak mendapati Belva duduk di sofa yang tadi.

__ADS_1


"Huft, akhirnya..." gumam Ecca lega.


"Apa kau sengaja mengulur waktuku, Queen Ca?" tanya Belva yang tiba-tiba sudah berdiri di hadapannya.


Deg!


Deg!


Deg!


Jantung Ecca bertalu kencang karena terkejut akan kehadiran Bee yang tiba-tiba sudah menghalangi jalannya.


Untung saja Ecca bisa mengerem langkahnya, kalau tidak pasti ia akan menabrak dada Bee untuk yang kedua kalinya.


"Ck, aku sama sekali tidak bermaksud untuk mengulur waktumu, Bee."


"Kalau begitu jelaskan sekarang juga!" pinta Belva.


"Itu bukan milikku, tapi milik Kak Nuna. Aku kemarin sempat melihat kak Nuna memesan obat itu secara online. Makanya tadi malam aku mencari obat lain untuk mengganti isi box pesanan Kak Nuna."


Penjelasan Ecca kali ini membuat Belva langsung melingkarkan tangannya di pinggang Ecca dan memeluknya.


" Eeehhh..."


Da da Ecca seketika terasa sesak karena gejolak dalam hatinya bergemuruh tidak menentu saat ia dan Belva kini tidak berjarak.


"Jadi kesimpulannya, kau sedang menyelamatkan aku dari rencana jahat Nuna, ya sayang?" tanya Belva sambil memegang dagu Ecca dan sedikit menaikkannya hingga kedua netra mereka bertemu.


"Aku sangat tersentuh dengan perhatianmu kali ini Queen Ca sayang."


"Diiih, mana ada seperti itu?" Nuna mendorong tubuh Belva agar menjauh darinya.


"Yang jelas aku sama sekali tidak membutuhkan itu! Jadi kalo Mas Belva mau, pakai saja dari pada terbuang sia-sia!" lanjut Ecca lagi dengan nada bicara yang ketus dan melewati Belva begitu saja.


'Queen Ca kembali memanggilku - Mas Belva - saat hanya berdua denganku? Hemm, sebenarnya ada apa sih ini?' tanya Belva dalam hati.


"Tunggu dulu, Queen Ca!" Belva kembali menahan langkah Ecca.


"Ada apa lagi? Aku harus cari buku referensi. Lagi pula sudah aku jelaskan semuanya bukan?!"


Kali ini tatapan Ecca lebih tajam dari pada tatapan Belva tadi saat menginterogasi Ecca.


"Sebenernya ada apa denganmu, sayang?" tanya Belva yang lagi-lagi memeluk tubuh Ecca dan kali ini lebih erat dari yang tadi.


"Nothing!" Ecca membuang wajahnya ke samping menghindari tatapan Belva.


"Apa kau memang ingin aku benar-benar mengkonsumsinya?" tanya Belva berbisik dan membuat kaki Ecca terasa lemas karena tu buhnya mulai me re mang.

__ADS_1


"Dan kemudian menuntaskan h@sยฎatku denganmu, sayang?"


Deg! Kali ini Ecca benar-benar tidak bisa berkutik. Terlebih tu buhnya hampir saja terjatuh.


Namun ingatannya kembali dengan cerita Nuna saat di rumah sakit tadi.


"Tuntaskan saja dengan Kak Nuna seperti yang Mas Belva lakukan semalam dengannya di atas sofa!" sarkas Ecca dengan ketus membuat Belva mengerutkan dahinya.


"Sebenarnya apa sih yang lagi kamu bahas dan bikin bad mood dari tadi?" tanya Belva yang belum paham dengan arah pembicaraan Ecca.


"Mas Belva pikir aja sendiri!" balas Ecca mendorong tubuh Belva. Namun karena rengkuhan Belva sangat kuat, Ecca sama sekali tidak bisa melepaskan diri dari pelukan Belva.


Sedangkan Belva yang semakin penasaran pun akhirnya mengangkat tubuh Ecca ala bridal style dan membawanya masuk ke dalam kamar khusus miliknya.


"Mau ngapain Mas?" tanya Ecca ketakutan saat melihat Belva mengunci kamarnya dari dalam.


"Mas? Kamu kembali memanggilku Mas saat kita hanya berdua saja, Queen Ca?"


Ecca yang masih ada dalam rengkuhan Belva terus saja menggeliat meminta untuk diturunkan.


"Aku tidak akan menurunkanmu sebelum kau jawab pertanyaanku, Queen Ca!"


"Turunkan aku dulu atau aku tidak akan menjawab pertanyaan Mas Belva!" ancam Ecca balik.


Akhirnya Belva pun menurunkan Ecca, namun terus mengikis jarak antara mereka berdua sampai Ecca terpojok di samping lemati pakaian Belva yang ada di kamar.


"Cepat jawab, Kenapa kamu kembali memanggilku Mas saat kita hanya berdua saja, Queen Ca?" Belva mengulangi pertanyaannya yang tidak kunjung di jawab oleh Ecca.


"Tentu saja karena Mas Belva adalah kakak ipar ku!"


๐Ÿ„๐Ÿ„๐Ÿ„


Sambil nunggu kelanjutannya, mampir yuk ke novelku yang udah tamat.


Judulnya COMPLICATED MISSION


Aku spill sedikit yaa.


Avega langsung membantu Rychelle turun dari kapal. Rychelle pun langsung berpegangan pada uluran tangan Avega. Namun, tanpa disengaja Avega menarik tangan Rychelle hingga Rychelle terjatuh tepat di atas Avega.


Brukkk! Seketika bibir Rychelle mendarat tepat di bibir Avega dan pemandangan tersebut membuat Alarick sangat gusar. Berbeda dengan Molly yang justru senang melihat kedekatan antara Avega dan karyawan barunya itu.


"Ayo sayang, kita tinggalkan mereka berdua." ajak Molly sambil menarik tangan Alarick.


Alarick langsung menghentakkan kakinya dan membuat Rychelle langsung menjauhkan dirinya dari Avega. Rychelle langsung mengusap bibirnya dan kemudian menepuk pakaiannya yang terkena pasir pantai.


Sedangkan Avega kini tersenyum penuh kemenangan. Kecelakaannya kali ini membuat dirinya sangat beruntung mencicipi bibir merah Rychelle.

__ADS_1


__ADS_2