
"Kak Nuna!" pekik Ecca miris melihat keadaan kakaknya.
"Ha ha ha ha! Dasar Pelakor!" umpat Nuna yang sudah siap menyerang Ecca.
Cuih! Nuna melempar ludahnya ke arah Ecca dan untungnya Ecca cepat menghindarinya.
"Kenapa?! Tubuhku sangat indah bukan?!" sarkas Nuna yang sudah seperti orang gila.
"Aku memang mau menggoda Belva dengan kecantikan tubuhku, Ecca. Aku mau mengambil kembali suamiku yang sudah kau rebut!" ceracau Nuna lagi sambil melenggak lenggokkan tubuhnya yang sedikit gempal setelah melahirkan.
"Kak Nuna, aku mohon sadar kaaak!" tukas Ecca yang kembali mendekat ke arah Nuna dan langsung di tarik oleh Mama Dea.
"Jangan mendekat sayang, Mama gak mau kamu kenapa-napa!" tukas Mama Dea.
"Tapi Ma..."
"Lihat! Lihat semua! Ecca bukan hanya merebut suamiku! Tapi juga merebut mama mertuaku!"
Nuna kembali menceracau, membuat satpam langsung menariknya kasar ke dalam Mansion dan mengurung nya di dalam kamar Nuna.
Kini seluruh keluarga besar pun berkumpul di ruang tengah. Ternyata Papi Mario sudah memanggil dokter jiwa untuk datang ke Mansion beserta perawat nya untuk mengecek keadaan Nuna dan membawanya ke rumah sakit.
"Nuna sudah merusak beberapa tanaman tetangga dan berteriak seperti orang gila. Bahkan ia sudah membuat kita semua malu," tukas Papi Mario.
"Jadi mau tidak mau, aku harus segera membawanya ke rumah Sakit Jiwa demi kebaikan kita semua."
Keputusan Papi Mario kini di setujui oleh semuanya, karena memang itulah yang terbaik.
Belva yang baru saja menelfon Hendy pun langsung masuk ke dalam Mansion dan bergabung dengan keluarga besar yang masih membicarakan Nuna.
"Sayang, Hendy meminta kau saja yang memberikan nama untuk bayi itu," bisik Belva membuat mata Ecca langsung berbinar.
"Benarkah, Bee?" tanya Ecca yang langsung diangguki oleh Belva.
"Emm, aku ingin memberinya nama Boy Rafael Swan. Boleh kan Pi?" tanya Ecca meminta persetujuan papinya.
Mendengar Ecca memberikan nama pada bayinya membuat Nuna langsung mengamuk di dalam kamarnya.
"Kamu jahat Ecca!"
"Kau sudah merebut semuanya dariku, bahkan sekarng kau juga merebut putraku sendiri!"
"Kamu adalah wanita terjahat yang pernah aku kenal!" teriak Nuna kencang.
Kemudian terdengar pecahan gelas dan barang-barang yang dibanting oleh Nuna di kamarnya.
Ecca pun langsung terduduk lemas sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Apa aku benar-benar sejahat itu?" tanya Ecca membuat semuanya makin geram dengan Nuna.
"Aku hanya tidak tega dengan bayi Kak Nuna. Aku hanya ingin merawatnya dengan baik, apa itu juga salah?" tanya Ecca lagi membuat Belva langsung memeluk istrinya dengan erat.
"Tidak perlu mendengar anjing gila yang sedag menggonggong sayang," tukas Belva menghibur istrinya.
"Benar kata Belva, sayang. Kamu sama sekali tidak seperti apa yang dikatakan oleh Nuna. Bahkan kau adalah istri terbaik Belva dan menantu kesayangan Mama," ucap Mama Dea yang sudah berada disisi Ecca juga.
"Tapi aku sangat tidak tega dengan Kak Nuna," tukas Ecca yang masih menutup wajahnya.
"Jangan merasa tidak tega sayang, Nuna saja sudah sangat tega denganmu sejak dulu! Apa yang sekarang terjadi padanya, memang itulah yang dia tanam selama ini," tukas Mami Aleya.
Tak lama kemudian tim medis dari rumah sakit jiwa pun tiba. Mereka langsung membawa Nuna yang terus saja meronta-rona sambil berteriak kencang.
"Aku tidak gila!"
"Aku hanya minta hakku dikembalikan!"
"Ecca sudah merebut kebahagiaanku!"
"Ecca merebut suamiku!"
"Ecca juga merampas darah dagingku sendiri! Ecca yang sudah gila!"
"Ecca yang serakaaah!"
Perawat Rumah Sakit Jina pun langsung menyuntikkan obat penenang dan membuat Nuna mulai rileks.
Setelah menguap berkali-kali, Nuna pun tertidur pulas sampai tiba di rumah sakit jiwa.
☘️☘️☘️
Dua bulan berlalu...
Nuna kini menjadi pasien rawat inap di Rumah Sakit Jiwa, sedangkan bayinya dirawat Ecca dan Belva dengan sangat baik, tentunya dengan bantuan baby sitter.
Pagi ini Ecca mulai mengerjapkan matanya saat sinar matahari mulai masuk menerobos celah korden kamarnya. Saat matanya terbuka, tampak wajah Belva yang sangat pucat sedang bersandar di sofa kamar mereka.
"Bee, kau mual lagi?" tanya Ecca yang langsung turun dari tempat tidurnya dan mendekati Belva.
Sudah satu minggu ini suaminya selalu muntah muntah di pagi hari. Beberapa hari yang lalu, Belva sudah periksa ke dokter. Sayangnya obat pemberian dokter sama sekali tidak mengurangi rasa mual Belva sedikit pun.
Ecca langsung mengambil minyak kayu putih dan mengusap kan ke tubuh Belva.
"Hari libur begini, biasanya dokter Rima buka praktek agak siang. Nanti kita periksa lagi ya. Boy juga harus diimunisasi," tukas Ecca sambil memijat tengkuk leher Belva.
Belva langsung menggelengkan kepalanya dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Ecca.
__ADS_1
"Entah kenapa rasa mualnya sedikit berkurang saat mengirup aroma tubuhmu, sayang," tukas Belva yang mulai mengabsen leher Ecca dan meninggalkan jejak kepemilikan di sana.
"Tapi Bee, kau sedang tidak sehat," tukas Ecca yang sudah mulai mer3m4ng mendapati suaminya yang terus melukis lehernya menggunakan bibirnya.
"Tapi aku sangat ingin, sayang," pinta Belva yang tangannya sudah mulai bergerak kemana-mana.
Akhirnya permainan panas mereka pun terjadi di sofa kamar mereka.
"Wow, ternyata rasa mualnya langsung hilang seketika setelah kita melakukan itu, sayang!" celetuk Belva yang sudah tidak sepucat tadi.
Dengan semangat, Belva pun mengangkat tubuh Ecca dan membawanya ke atas ranjang.
Sesi kedua mereka pun kembali terjadi. Kali ini Ecca tampak lebih agresif dan membuat Belva mulai kewalahan.
Tepat jam 9 Pagi, mereka baru pengakhiri permainan mereka karena perut mereka mulai terasa sangat lapar.
Ecca pun bergegas membersihkan tubuhnya terlebih dahulu, setelah itu ia;angsung turun ke bawah untuk menyiapkan sarapan.
Baby Boy tampak sedang tidur dalam box ayunan yang ada di depan televisi. Sedangkan baby sitternya tampak sedang menyetrika pakaian bayi di ruang laundry.
"Mbak Sari, nanti tolong siapin tas Boy yaa. Mau aku bawa ke dokter hari ini. Jadi Mbak Sari bisa bebas sampai siang," tukas Ecca yang mulai menyiapkan makanan untuk Belva yang tentunya sudah dimasak kan oleh bik Surti.
"Saya gak perlu nemenin Baby Boy ke rumah sakit Nona?" tanya Mbak Sari yang biasanya selalu ikut kemanapun Baby Boy pergi.
"Gak usah, mbak. Biar mbak Sari istirahat aja. Boy aman kok sama aku."
"Kalo mau jalan ke Mall, ajak bik Surti ya. Uang jajannya udah aku transfer ke rekening kalian!" tukas Ecca.
"Waaah, terima kasih banyak non Ecca. Saya akan segera siapkan tas Baby Boy!" timpal mbak Sari yang selama ini menjadi baby sitter Baby Boy.
☘️☘️☘️
Jangan lupa untuk dukung terus karya Author dengan
Rate 5 bintang 🌟🌟🌟🌟🌟
Like 👍
Comment 💬
Subscribe ❤️
Vote 💞
Gift 🌹☕💺
Dan Tonton iklannya 📹📽️ juga ya
__ADS_1