
Ecca mencoba mengatur nafasnya sambil mencuci mukanya yang terasa sangat panas.
"Huft, sepertinya aku benar-benar bisa gila!"
Ecca menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
Satu menit.
Dua menit.
Tiga menit Ecca menenangkan dirinya di dalam kamar mandi rasanya sudah cukup. Ia pun keluar dari kamar mandi dan kembali meracik bahan-bahan yang akan ia masak.
Untungnya Belva sudah tidak tampak di pantry, jadi Ecca bisa leluasa untuk memasak makan malam mereka.
Ayam yang sudah dicuci oleh Belva pun langsung ia olah menjadi ayam tepung teriyaki sesuai permintaan Nuna. Cah brokoli dan juga tumis kangkung sudah siap untuk di sajikan.
Kini waktunya Ecca membersihkan tubuhnya. Karena di dalam kamar Ecca tidak ada kamar mandi, akhirnya Ecca memutuskan untuk langsung mandi di kamar mandi yang berada di dekat pantry.
Setelah ia menyelesaikan mandinya, Ecca pun segera mengeringkan tubuhnya. Sayangnya saat Ecca hendak mengenakan kembali baju yang sudah ia bawa, baju tersebut justru terjatuh dan basah.
"Yah, jatuh!" gerutu Ecca. "Gimana ya?" tanya Ecca pada dirinya sendiri.
"Emmmh, pake handuk aja deh, lagi pula Mas Belva juga paling masih mandi di kamarnya," gumam Ecca yang kemudian melilitkan handuk ke tubuhnya.
Ia pun melangkahkan kakinya ke luar dari kamar mandi dan menuju ke kamarnya yang ada di lantai atas.
Sepi, bermakna Nuna memang belum sampai di rumah. Namun, tak lama kemudian terdengar suara mobil yang berhenti di depan rumahnya.
"Itu pasti kak Nuna," gumam Ecca mempercepat langkahnya untuk menaiki tangga.
Ia sampai tidak sadar jika Belva yang berdiri sejak tadi di depan ruang kerjanya menelan ludahnya kasar melihat Ecca yang hanya berbalut handuk.
Kulit putih dan mulus Ecca benar-benar terekspos dengan jelas, terlebih handuk yang membalut tubuhnya hanya menutup setengah pa hanya saja.
"Bukannya di lantai atas juga ada kamar mandi?" tanya Belva saat Ecca hendak masuk ke dalam kamarnya dan membuat Ecca sangat terkejut.
Saking terkejutnya, Ecca hampir terpeleset dengan lantai yang basah karena tetesan air dari rambutnya. Untung saja Belva bergerak cepat untuk menangkap tubuh Ecca.
Deru nafas Belva terasa begitu kencang menyapu teng kuk le her Ecca. Sedangkan jantung Ecca pun mulai berdetak tidak beraturan. Sen tuhan tangan Belva di kulit bahunya membuatnya me re mang untuk yang ke sekian kalinya.
"Aku pulaaaaang!" teriak Nuna yang baru saja masuk rumah membuyarkan lamunan Belva dan juga Ecca.
Ecca pun langsung berdiri dan masuk ke dalam kamarnya, sedangkan Belva sendiri kini mencoba mengatur nafasnya sebelum turun ke bawah menyambut kedatangan istrinya.
"Hai Nuna!" sapa Belva sambil menuruni anak tangga. "Kenapa baru pulang jam segini?"
Nuna yang sudah mencium harum nya masakan Ecca pun langsung melangkahkan kakinya menuju ke ruang makan.
"Biasa laah, pekerjaan hari ini cukup banyak." jawab Nuna dengan santainya.
__ADS_1
"Makan yuk, aku sudah lapar." ajak Nuna yang langsung membalik piringnya di atas meja dan mengisinya dengan nasi dan lauk pauk.
"Ecca mana? Kok gak kelihatan?"
Belum sempat Belva menjawab pertanyaan Nuna, Ecca sudah menuruni anak tangga dan sedikit berteriak mendengar kakaknya sedang menanyakan dirinya.
"Emangnya hantu sampe gak kelihatan?" teriak Ecca sambil mendekat ke arah meja makan.
"Nah, gitu dong. Makan bareng sama kita. Iya kan sayang?" tanya Nuna sambil melayani Belva.
Kali ini Nuna mengambilkan nasi Belva dan juga lauk pauknya. Tidak hanya itu, Nuna juga menuangkan air minum untuk Belva.
Melihat perhatian Nuna terhadap Belva, membuat hati Ecca seperti teriris-iris. Bagaimana tidak, baru saja ia terbang melayang karena sikap Belva terhadapnya yang membuat jantungnya bertalu-talu.
Tapi kini, ia merasa seperti dihempaskan dari ketinggian yang paling tinggi hingga membuat hatinya remuk redam.
"Gimana pekerjaan kamu hari ini sayang?" tanya Nuna. "Pasti sukses kan?"
Belva yang mulai menikmati makan malamnya pun tersenyum dan mengangguk.
"Tentu saja, kamu hari ini gak terlalu capek kan?" balas Belva.
Kemesraan keduanya di meja makan membuat Ecca seketika merasa kenyang.
"Aku gak capek sayang, asisten ku membantu pekerjaanku dengan sangat baik." jawab Nuna.
"Oh iya, aku buatin susu hangat biar badan kamu enakan," tawar Nuna yang buru-buru langsung dicegah oleh Belva.
Mata Ecca kali ini mulai berkaca-kaca. Namun sekuat hati ia menahannya.
"Emm, aku kekamar dulu ya kak. Ngantuk banget nih." Ecca menutup mulutnya yang menguap sampai meneteskan air matanya.
"Gak makan dulu dek?" tanya Nuna.
"Udah kenyang tadi, ditraktir sama Kak Ollyta." jawab Ecca berbohong.
"Aku ke kamar dulu ya," ucap Ecca yang buru-buru meninggalkan ruang makan.
Air mata Ecca kini tumpah membasahi pipinya saat ia menaiki anak tangga menuju ke kamarnya. Rasa sesak kini juga memenuhi dadanya mengingat kemesraan Belva dan juga Nuna di meja makan.
"Mas Belva jahat!"
"Kenapa dia memberi harapan palsu untukku?" gerutu Ecca di tengah isak tangisnya.
"Harusnya Mas Belva tidak perlu dekat dekat denganku, meskipun aku adalah adik iparnya!"
"Mas Belva juga gak perlu kasih perhatian ke aku yang membuat aku jadi salah paham!"
"Aku benci keadaan ini!"
__ADS_1
"Aku benci dengan diriku sendiri yang begitu mencintai Mas Belva!"
"Aku benci Mas Belva!"
Isak tangis Ecca memenuhi kamarnya. Untung saja kamar Ecca sudah diberi peredam suara hingga suara tangisan Ecca tidak terdengar dari luar.
Tiba-tiba saja ponsel Ecca berdering dan muncul nama maminya yang kini sedang menghubunginya.
"Mamiiiiii," panggil Ecca mengangkat panggilan telfon dari maminya.
"Ecca? Kamu nangis? Kenapa sayang, baru hari kedua kerja kok udah nangis?" tanya Mami Ecca di ujung panggilan.
"Ecca mau pulaaang, Ecca capek miii," rengek Ecca yang tidak bisa menceritakan alasan dari rasa lelahnya kali ini.
"Ya Ampun Ecca, ini baru hari kedua loh, masa udah nangis sampe kayak gini sih?"
"Malu dong, Ca. Kan kamu sendiri yang dulu minta kuliah di Fakultas Hukum." balas Mami diujung panggilan.
"Ecca cuma mau pulang, Ecca mau tinggal sama mami aja. Ecca gak mau di sini. Ecca capek Mamiiiiii," tangis Ecca kali ini pecah membuat Mami Aleya tidak tega.
"Okey, sayang. Besok pulang kerja biar papi yang jemput kamu ya. Kamu bisa pulang ke rumah." balas Maminya.
Ecca pun langsung mengusap air matanya mendengar ucapan dari maminya. "Beneran yaa mii, besok papi harus jemput Ecca pulang,"
"Iyaa sayang. Ya udah, sekarang Ecca bobok gih. Besok harus kerja lagi kan?"
"Oke miii, tapi besok papi harus beneran jemput Ecca yaa." pinta Ecca sebelum mengakhiri panggilannya.
"Iyaa sayang, have a nice dream, Baby," ucap maminya sebelum panggilan terputus.
Malam ini Ecca kembali tidur dengan perut kosong.
...☘️☘️☘️...
Seperti biasa yaaa
Jangan lupa untuk dukung terus karya Author dengan
Like ☑️
Comment 💬
Favorit ❤️
Vote 💞
Gift 🌹☕💺
Dan Tonton iklannya 📹📽️ juga ya
__ADS_1
Terima kasih