Kurebut Suami Kakakku

Kurebut Suami Kakakku
Amarah Belva


__ADS_3

Sesampainya di firma, Nuna turun dari mobil terlebih dahulu dan berjalan di depan Ecca. Sedangkan Ecca hanya diam saja tidak menegus kakaknya untuk menunggunya.


Bahkan saat masuk ke dalam lift, Nuna langsung cepat cepat menutup pintu lift agar Ecca tidak masuk ke dalam lift yang sama.


"Kali ini aku akan bertemu dengan Belva dan kau sudah tidak bisa menghalangi aku, Ecca!" gumam Nuna dengan senyum seringainya.


Sedangkan Ecca yang kini sedang menunggu pintu lift terbuka, tiba-tiba tangannya di tarik oleh seseorang dan masuk ke dalam lift khusus pimpinan.


"Bee!" pekik Ecca saat mengetahui ternyata Belva yang sudah menarik tangannya.


"Kalo ada yang ngeliat gimana coba? Yang ada kan nanti orang malah ilfeel sama aku!" gerutu Ecca.


Bukannya menjawab pertanyaan Ecca, Belva justru memeluknya dengan sangat erat.


"Aku rindu, sayang. Kayak udah lama banget gak ketemu sama kamu," tukas Belva sambil mengusap punggung Ecca.


"Ck, apaan sih. Baru juga kemarin kita ketemu. Gak usah gombal deh!" balas Ecca sambil mencoba melepaskan dirinya dari pelukan Belva.


"Diem bentar aja, jangan banyak gerak!" pinta Belva. "Aku cuma pingin peluk bentar kok."


Mendengar permintaan Belva barusan, membuat Ecca mengalah dan membiarkan Belva meluahkan kerinduannya yang hanya semalam tidak bertemu dengannya.


"Kenapa semalam kamu gak balas pesan aku sih sayang?"


Ecca langsung merogoh tasnya dan mengecek ponselnya yang belum ia keluarkan dari dalam tas semenjak pulang kerja.


"Ponsel aku ternyata kehabisan daya, Bee!" jawab Ecca memperlihatkan ponselnya yang mati total ke arah Belva.


"Tentu saja kehabisan daya karena semalam berkali-kali aku menghubungi mu, Queen Ca. Entah kenapa aku merasa sangat khawatir saat kau jauh dariku," ucap Belva sambil melepas pelukannya.


Ting!


Pintu lift terbuka dan nampak Nuna sudah menunggu di depan ruangan Belva.


"Kamu ngapain ngajak ondel-ondel itu kesini?" tanya Belva berbisik ke arah Ecca.


"Bukan aku yang ajak, Bee. Tapi dia yang pingin ikut."


Melihat kedekatan Ecca dengan Belva membuat Nuna merasa curiga, terlebih saat Ecca keluar dari lift khusus pimpinan bersama Belva.


'Kenapa mereka terlihat sangat dekat ya? Bukankah seharusnya Ecca menjaga jaraknya dengan Belva karena dia bukan lagi kakak iparnya?'


'Terlebih Ecca bukannya sedang dekat dengan seorang pria?'


'Tunggu! Jangan-jangan pria yang sedang dekat sama Ecca itu...'


"Kakak kok udah sampe sini aja sih?" tanya Ecca membuyarkan lamunan Nuna.

__ADS_1


Sedangkan Belva tampak melewatinya begitu saja tanpa menyapanya sedikit pun.


"Emm, gak tau kenapa kakak seperti sangat akrab dengan tempat ini," jawab Nuna.


"Oh iya, cowok yang tadi jalan sama kamu itu siapa? Kok kalian bisa masuk ke dalam lift khusus pimpinan?"


Ecca pun tersenyum mendengar pertanyaan kakaknya barusan.


"Darimana kakak tahu kalau itu lift khusus pimpinan? Sepertinya tidak ada keterangan khusus yang menjelaskan itu lift khusus pimpinan?" tanya Ecca membuat Nuna kini tercekat.


"Kakak sebenarnya gak hilang ingatan kak?" tembak Ecca secara langsung.


Sayangnya Nuna masih kembali mencari alasan untuk menyangkal tuduhan Ecca.


"Kakak juga berharap ingatan kakak cepat pulih, Ca. Entah kenapa saat menginjakkan kaki kakak ke Firma ini kakak seperti mengingat sesuatu. Terlebih dengan ruangan ini," tukas Nuna menunjuk ke ruang kerja Belva.


Ecca membuang nafasnya kasar dan kemudian mengajak kakaknya masuk ke ruangan tunggu.


"Kakak tunggu dulu di sini, aku akan membuat laporan pengaduan kakak dan menyerahkannya ke atasan aku!" pinta Ecca yang langsung diangguki oleh Nuna.


Ecca pun langsung masuk ke ruangan Belva dan duduk di tempat kerjanya dan segera mengetikkan laporan pengaduan Nuna.


"Mau apa sih sebenernya dia ke sini?" tanya Belva yang tangannya sudah melingkar dari belakang Ecca.


"Dia butuh pengacara untuk membantunya melayangkan gugatan cerai, Pak Belva," jawab Ecca tanpa mengalihkan konsentrasinya dari layar laptopnya.


"Alasannya?"


Tangannya langsung memutar kursi Ecca dan menghadapkan ke arahnya.


"Joko berani masuk kamar kamu?" tanya Belva dan Ecca pun menganggukkan kepalanya.


"Bahkan sebelumnya Kak Nuna juga sengaja membubuhkan obat tidur ke dalam coklat panas yang ia buatkan untukku," jelas Ecca membuat Belva langsung naik pitam.


Tangannya langsung menghubungi nomor ponsel Joko dan memintanya untuk datang ke kantornya sekarang juga.


Tepat saat Ecca Sudah selesai membuat laporan pengaduan sementara dan menyerahkannya ke Belva, Papa Dion masuk ke dalam ruangan Belva.


"Apa yang membuat Nuna datang kemari?" tanya Papa Dion dan Belva langsung menyodorkan laporan yang baru saja Ecca buat.


"Dasar kur@ang aj@r!" umpat papa Dion setelah membaca laporan Nuna.


"Tapi Joko gak ngapa-ngapain kamu kan Ecca?" tanya papa Dion yang tampak khawatir.


Ecca pun menggelengkan kepalanya, "Tidak pak Dion! Untungnya saat saya dalam pengaruh obat tidur, saya justru masuk ke dalam kamar Mami saya."


"Jadi saat Pak Joko masuk ke dalam kamar saya, yang sedang ada di dalam kamar adalah Papi Mario."

__ADS_1


Penjelasan Ecca barusan membuat Belva sedikit lega namun tetap saja tidak mengurangi rasa amarahnya terhadap Joko.


"Biar Papa saja nanti yang mengurus Joko!" ucap Papa Dion yang langsung disanggah oleh Belva.


"Tidak Pa, biar aku yang mengurus Joko, dan papa yang akan mengurus masalah Nuna." pinta Belva.


Akhirnya Pak Dion keluar dari ruangan Belva bersama Ecca dan kemudian mengajak Nuna untuk mengikuti mereka.


Sepeninggalan pak Dion dan juga Ecca, Dirga pun datang membawa Pak Joko yang mengatakan sudah ada janji dengan Belva.


Tanpa pikir panjang lagi, Belva langsung menghantam wajah Pak Joko dengan pukulannya bertubi-tubi di depan Dirga. Bahkan Belva sama sekali tidak memberi jeda sama sekali untuk Pak Joko bernafas.


Perutnya pun juga menjadi sasaran Belva yang saat ini naik pitam. "Apa yang sebenarnya ada di fikiranmu sampai kau berani-beraninya masuk ke dalam kamar Ecca?!"


"Apa ini balasanmu atas semua kebaikan yang sudah ku berikan kepadamu?!"


Kemarahan Belva kali ini benar-benar membuat Dirga bergidik ngeri. Untung saja Papa Dion datang dan langsung menahan putranya yang terus saja menghantam Pak Joko. Jika tidak, Pak Joko mungkin sudah tidak bernyawa lagi.


"Dirga, tolong bawa Pak Joko ke rumah sakit atau klinik terdekat untuk diberikan pertolongan pertama!" titah Papa Dion kepada Dirga yang tadi sempat memanggilnya untuk menghentikan Belva.


Dirga pun langsung mengangguk dan segera membawa Pak Joko yang sudah babak belur ke klinik terdekat.


"Apa yang sudah kamu lakukan Belva?!" gertak Pak Dion.


"Apa kamu tidak sadar jika kita bekerja dalam ranah hukum?" tanyanya lagi menyadarkan putranya yang sudah bertindak di luar batas.


☘️☘️☘️


Sambil nunggu kelanjutannya, mampir dulu yuk ke Novel bestie aku. Dijamin ceritanya menarik dan seru banget.


Judul Karya : Wanita Pengganti Kekasih Sang CEO


Nama Pena : SyaSyi



Jangan lupa untuk dukung terus karya Author dengan


Rate 5 bintang 🌟🌟🌟🌟🌟


Like 👍


Comment 💬


Subscribe ❤️


Vote 💞

__ADS_1


Gift 🌹☕💺


Dan Tonton iklannya 📹📽️ juga ya


__ADS_2