
"Hah?!" kali ini Ecca benar-benar terkejut mendengar pertanyaan dari Belva.
"Do you love me, Queen Ca?" Belva mengulangi lagi pertanyaannya dan membuat Ecca sangat bingung harus menjawab apa.
๐๐๐
Beberapa hari yang lalu, saat Ecca pulang dari Firma, Nuna sengaja datang ke kamarnya untuk membicarakan sesuatu.
"Ecca, ada yang ingin kakak bicarakan sama kamu," ucap Nuna sambil duduk di tepi ranjang Ecca.
"Ada apa kak?" tanya Ecca sambil meletakkan tasnya di atas nakas.
Tiba-tiba saja Nuna bersimpuh di kaki Ecca dan menangis.
"Eh, kakak!" pekik Nuna terkejut.
"Kakak minta maaf sama kamu Ca, kalo selama ini kakak selaku bikin kamu kesal dan marah sama kakak,"
"Kakak sadar, belum bisa menjadi kakak yang baik buat kamu,"
"Kakak juga selalu berbuat salah dan belum bisa memberikan contoh yang baik untuk kamu,"
"Kakak menyesal Ecca dengan perilaku kakak selama ini, kakak mohon maafkan semua kesalahan kakak," pinta Nuna dengan terisak-isak di kaki Ecca.
Ecca makin terkejut melihat baru kali ini kakaknya meminta maaf sampai menangis dan bersimpuh di kakinya. Ia pun mengamit bahu kakaknya dan memintanya untuk kembali duduk di tepi ranjang.
"Kita bicara pelan pelan ya kak. Aku gak nyaman kalo kakak kayak gini," timpal Ecca.
"Lagi pula Ecca juga gak pernah dendam apa pun sama kakak," jelas Ecca membuat Nuna langsung memeluk adiknya dengan erat.
"Kakak beneran minta maaf sama kamu, Ca!" pinta Nuna yang langsung diangguki kepala oleh Ecca.
"Aku juga udah maafin semua kesalahan kakak," balas Ecca membuat Nuna bernafas lega.
Nuna pun akhirnya bercerita jika ia menyesal sudah bertindak di luar batas dengan bosnya sampai menyebabkan ia hamil.
Dalam cerita Nuna, ia mengaku bahwa saat itu dijebak oleh bosnya sendiri untuk tidur bersamanya. Bahkan Nuna juga bercerita bahwa ia diancam jika menolak keinginan bosnya.
Ecca cukup iba mendengar cerita dari kakaknya. Namun, ia belum percaya seratus persen sebelum ia mengetahui kebenarannya dengan mata kepalanya sendiri.
__ADS_1
"Ya udah lah kak, toh semuanya sudah berlalu," timpal Ecca menanggapi cerita Nuna.
"Kamu memang benar, Ecca. Maaf jika kali ini kakak malah justru menikah dengan lelaki yang begitu kamu cintai."
Deg!
Entah kenapa ucapan Nuna kali ini begitu menggores hatinya.
"Mas Belva juga sudah sepakat untuk belajar mencintai kakak dan menjadi ayah yang baik untuk bayi yang kini ada di dalam kandungan kakak,"
"Kakak minta kerelaan hati kamu, Ca. Untuk melupakan cintamu pada lelaki yang saat ini sudah menjadi suami kakak!" pinta Nuna dengan sungguh-sungguh.
"Kakak tidak ingin bayi ini lahir tanpa memiliki sosok ayah," lanjut Nuna lagi membuat hati Ecca makin teriris iris
Berat!
Sudah tentu berat bagi Ecca merelakan hatinya untuk melupakan Belva. Terlebih saat Ecca mengetahui kakaknya bukan mengandung anak Belva.
Bahkan Ecca sendiri juga mendengar jika Belva sama sekali tidak mencintai Nuna.
Perlahan Ecca menghirup nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
"Aku sudah merelakan semuanya sejak kakak menikah dengan Mas Belva. Kakak tenang saja, aku tidak akan pernah mengusik kebahagiaan kakak." jawab Ecca dengan berat hati.
'Hemm, kali ini aku akan semakin mudah untuk mendapatkan perhatian dan cinta dari Belva,' gumam Nuna dalam hati.
'Ecca tidak akan menjadi penghalang untukku mendapatkan Belva,' batin Nuna bersorak gembira.
Sedangkan Ecca hanya terdiam tanpa membalas pelukan kakaknya.
๐๐๐
"Jawab pertanyaan aku, Caca!" pinta Belva yang mendapati Ecca terdiam begitu lama.
"Aku tidak memikirkan itu, Mas Belva. Aku benar-benar ingin fokus menyusun skripsi," jawab Ecca yang masih sangat bimbang untuk menjawab pertanyaan Belva.
"Adakah pertanyaan ku mengganggu mu dalam menyusun skripsi?" tanya Belva dan Ecca pun menggelengkan kepalanya.
"Tidak!" jawab Ecca.
__ADS_1
"Adakah menjawab pertanyaanku merupakan beban terbesar dalam hidupmu sampai kau tidak ingin menjawabnya?"
"Tidak!"
Belva tidak putus asa untuk menanti jawaban Ecca.
"Apa aku boleh untuk tidak menjawab pertanyaan Mas Belva?" tanya Ecca.
"Tidak, kali ini kau harus menjawab pertanyaanku, Caca"
"Kenapa?"
"Karena aku juga sudah lama memendam perasaan cinta denganmu, Caca. Aku mencintaimu, Queen Ca," jelas Belva membuat Ecca membeliakkan matanya.
'Apa?! Mas Belva mencintai aku?!' pekik Ecca dalam hati.
'Aku kali ini gak salah denger kan?' tanya Ecca dalam hati yang masih diselimuti oleh rasa terkejutnya.
Jauh di dalam lubuk hati Ecca merasa begitu bahagia mendengar ungkapan cinta dari Belva.
Namun seketika Ecca teringat bagaimana kakaknya memintanya untuk melupakan Belva.
Lagi-lagi Ecca masih bimbang untuk menjawab pertanyaan dari Belva. Dua hal ini membuatnya dilema.
Adakah ia harus memikirkan kebahagiaannya atau kebahagiaan kakaknya yang saat ini lebih membutuhkan sosok Belva di sisinya?
โ๏ธโ๏ธโ๏ธ
Jangan lupa untuk dukung terus karya Author dengan
Like ๐
Comment ๐ฌ
Favorit โค๏ธ
Vote ๐
Gift ๐นโ๐บ
__ADS_1
Dan Tonton iklannya ๐น๐ฝ๏ธ juga ya
Terima kasih