
Sedangkan Belva masih setia untuk menunggu jawaban yang keluar dari bibir Ecca.
"Mas Belva itu kakak ipar aku, bagaimana aku bisa menerima cinta dari mas Belva," ungkap Ecca sambil terus melihat ke luar jendela tanpa menatap ke arah Belva sedikit pun.
"Tapi itu hanya status kontrak yang sebentar lagi akan aku akhiri Ca. Setelah aku berhasil mengumpulkan semua bukti untuk memukul mundur Nuna," jelas Belva berharap Ecca mau menerima pernyataan cinta darinya.
"Sebenarnya apa sih alasan Mas Belva mau nikah kontrak sama Kak Nuna kalo sebelumnya Mas Belva sudah tahu kalau kak Nuna itu sedang mengandung anak dari atasannya sendiri?" tanya Ecca yang diliputi rasa penasaran.
Akhirnya mau tidak mau Belva pun menceritakan kepada Nuna jika ia dan juga papanya telah berbuat salah kepada mama Dea dengan membantu lawan bisnis dari mama Dea hingga menyebabkan mama Dea kalah tender.
Terlebih tender mama Dea kali ini adalah proyek besar dan juga sangat menguntungkan. Dan lawan bisnisnya adalah mantan dari papa Dion.
Ecca paham betul bisnis yang sedang dibicarakan oleh Belva saat ini karena Mama Dea juga menjalin kerja sama dengan produk kecantikan milik maminya.
Tanpa Belva tahu, ternyata Nuna mengetahui bahwa Belva dan papanya membantu lawan bisnis maminya sendiri. Bahkan Nuna juga menyimpan berkas tersebut secara lengkap untuk dijadikan bahan bukti.
Nuna yang hamil anak dari atasannya pun menjadikan itu semua sebagai alat untuk mengancam agar Belva mau menikahinya. Dan kini Belva tidak punya pilihan lain selain menikahi Nuna.
Untungnya Belva yang sangat mengerti tentang hukum pun membuat perjanjian dengan Nuna tentang pernikahan kontrak mereka.
"Kenapa Mas Belva dan Om Dion justru berpihak pada lawan Tante Dea. Berarti kalian juga tidak membela mami Ecca dong waktu itu?" tanya Ecca yang semakin penasaran dengan cerita Belva.
"Kamu akan tahu sendiri nanti apa sebenarnya alasan ku dengan papa mengalahkan tender mamimu yang bekerja sama dengan mama, aku yakin Ecca pasti juga akan berpihak kepada kami," jelas Belva.
"Kalau mas Belva sudah tau jika itu yang terbaik, kenapa tidak sampaikan saja langsung sama tante Dea dan juga Mami?"
"Kenapa justru takut untuk mengatakan hal yang benar dan justru menuruti keinginan Kak Nuna?" serbu Ecca yang masih belum menerima alasan Belva menikah kontrak dengan kakaknya.
"Tidak semudah itu untuk mengatakan sesuatu hal yang benar Ecca. Semua pengacara, advokat muda, penasehat hukum pasti akan mengalami hal yang sama seperti ku," balas Belva.
"Yang jelas, butuh waktu untuk mengatakannya pada Mama, terlebih mama memiliki riwayat serangan jantung yang cukup serius!"
Penjelasan Belva kali ini membuat Ecca terhenyak. Hati kecilnya mulai menerima alasan yang disampaikan oleh Belva barusan.
Keduanya kini kembali terdiam cukup lama, sampai Ecca akhirnya mulai buka suara.
"Aku tahu, Kak Nuna memang bersalah. Bahkan dia juga sudah mengakui kesalahannya di depanku, Mas," tukas Ecca kemudian memecah keheningan di antara mereka berdua.
__ADS_1
"Sejak lama aku tidak pernah akur dengannya, bahkan sampai aku merasa seperti tidak memiliki kakak kandung selama ini,"
"Tapi mendengar penyesalan kak Nuna kemarin, membuat aku merasa memiliki seorang kakak lagi. Terlebih dia juga sampai benar-benar meminta maaf denganku,"
"Aku harap Mas Belva bisa belajar mencintai kak Nuna dan menjadi ayah keponakanku dengan baik," ucap Ecca dengan berat hati.
Di saat perasaan Ecca sudah dibalas oleh lelaki yang sangat ia cintai. Ecca harus memikirkan perasaan kakak kandungnya yang kini telah hamil.
Ia tidak mau menjadi wanita yang egois, yang hanya memikirkan perasaannya sendiri tanpa peduli dengan perasaan saudara kandungnya.
Tanpa terasa mata Ecca mulai berkaca-kaca dan perlahan membasahi pipi Ecca. Terlebih saat Belva mulai menggeser duduknya dan menjauh dari Ecca.
'Aku tahu, dia tidak mau bersikap egois yang hanya memikirkan perasaannya sendiri. Bahkan jawaban Ecca yang ku dengar saat ini terdengar sangat bijaksana di usianya yang masih belia,' gumam Belva dalam hati.
Meskipun hatinya diselimuti kekecewaan yang begitu mendalam atas penolakan Ecca, Belva sangat paham jika wanita yang ada di hadapannya kini sedang berusaha untuk tidak terlihat lemah dan rapuh.
"Tidak masalah jika kau menolak perasaanku saat ini, Caca! Yang terpenting saat ini, yang harus kau tahu adalah aku tidak akan pernah mencintai Nuna, meski saat ini statusnya adalah istriku!"
"Aku juga tidak pernah menyentuhnya sama sekali, meski kita berada dalam satu kamar yng sama. Dan bahkan untuk tidur bersama pun tidak akan pernah," jelas Belva membuat Ecca semakin tenggelam dalam rasa bimbangnya.
☘️☘️☘️
"Mas Belva kemana sih Mi?" tanya Nuna sambil mengunyah sarapannya.
"Kayaknya subuh tadi ada panggilan dari client, dan dia langsung pergi bawa mobil," jawab Mami Aleya yang sedang membuat kue bersama Mama Dea.
"Emang sebelum pergi ga bilang dulu ya sama kamu Belva mau kemana?" tanya Mama Dea.
"Mungkin tadi pamitan, ma. Cuma karena Nuna masih ngantuk jadi gak jelas dengernya Mas Belva mau kemana," kilah Nuna. Padahal Belva memang tidak mengatakan apapun sama sekali dengannya.
Setelah menghabiskan sarapannya, Nuna kembali ke kamar dan berkeliling mencari sesuatu, berharap Belva menuliskan pesan untuknya dan memberi kabar Belva akan pergi kemana.
Sayangnya apa yang dicari Nuna sama sekali tidak ia dapatkan. Bahkan saat Nuna mengecek ponselnya pun tidak terlihat pesan masuk dari Belva untuk memberi kabar kepadanya sedikit pun.
"Aaarrrgghh! Sial! Dia sama sekali tidak menganggap aku sebagai istri!" gerutu Nuna kesal.
Nuna pun mendial nomor ponsel Belva untuk menanyakan keberadaannya.
__ADS_1
"Hallo Mas, kamu dimana?" tanya Nuna saat panggilannya tersambung.
"Aku ada urusan di luar kota, Klien penting sedang menungguku," jawab Belva yang terdengar begitu datar.
"Sepagi itu kau pergi, kenapa tidak memberi kabar sama sekali? Aku bahkan mengetahui kau pergi justru dari Mami!" protes Nuna dengan harapan Belva mengucapkan kata 'maaf' kepadanya.
Lagi-lagi harapan Nuna kali ini tidak terwujud, karena Belva terdengar tidak begitu menanggapinya.
"Ck, Aku sibuk dan aku harap kau tidak mengganggu kesibukanku!" balas Belva tegas dan mematikan panggilannya secara sepihak.
Turut tuut tuut...
Nuna langsung melemparkan ponselnya ke atas tempat tidur begitu saja saat Belva memutuskan panggilannya.
"Huuh! Ini tidak bisa dibiarkan!" keluh Nuna.
"Aku harus mencari cara agar bisa menjerat Belva lebih dalam lagi di pernikahan kontrak ini. Kau tidak boleh kalah Nuna!" gumam Nuna yang menyemangati dirinya sendiri untuk tetap berjuang mempertahankan Belva.
Kali ini Nuna pun keluar dari kamarnya dan bergabung dengan mama mertuanya untuk membuat kue.
'Kelemahan Belva adalah pada mamanya. Aku harus mengambil hati Mama Dea untuk membantuku memiliki Belva seutuhnya,' batin Nuna.
🍥🍥🍥
Jangan lupa untuk dukung terus karya Author dengan
Like 👍
Comment 💬
Favorit ❤️
Vote 💞
Gift 🌹☕💺
Dan Tonton iklannya 📹📽️ juga ya
__ADS_1
Terima kasih