
"Kau sudah berjanji bukan untuk tidak menciumku sebelum kita menikah, Bee?" tanya Ecca mengingatkan apa yang tadi sempat dikatakan oleh Belva.
Belva membuang nafasnya sambil terus menatap Ecca secara intens.
"Tapi aku tidak sanggup untuk menahan diriku kali ini, Queen Ca. Kau tahu kenapa?" tanya Belva sambil menangkupkan kedua tangannya di pipi Ecca.
Ecca hanya mengedikkan bahunya sambil menggelengkan kepalanya.
"Karena aku sangat bahagia dicintai wanita secantik dan sebaik dirimu, Queen Ca."
Jawaban Belva seketika membuat pipi Ecca Sudah seperti kepiting rebus.
"Bee..." panggil Ecca dengan suara manjanya.
"Ada apa sayang?"
Blush!
Kali ini Ecca langsung memalingkan wajahnya dari tatapan Belva. Sudah tidak terbayang lagi bagaimana merahnya wajah Ecca saat ini mendengar panggilan sayang dari Belva.
"Hei! Kenapa justru berpaling dariku, Queen Ca?" tanya Belva sambil menarik dagu Ecca agar tetap bersitatap dengannya.
"Kau membuatku susah untuk bernafas, Bee!" gerutu Ecca sambil menundukkan kepalanya.
Rasanya sangat malu memandang Belva dengan radius yang sangat dekat.
Jangan ditanya bagaimana perasaan Ecca saat ini yang campur aduk tidak karuan. Semuanya menyatu dalam hatinya dan membuat ritme jantungnya terus berdetak dengan cepat.
"Kalau begitu, aku akan memberikan nafas buatan untukmu, bagaimana?" tanya Belva sambil mengusap bibir merah Ecca.
"Bee.."
"Iya sayang..."
"Jangan!"
"Sedikit saja," pinta Belva sambil terus mengusap bibir Ecca.
Deru nafas Ecca semakin terdengar di telinga Belva, membuat Belva makin tidak dapat menahan gejolak yang berkecamuk di dalam dadanya.
"Aku benar-benar sangat menginginkannya, Queen Ca."
"Tapi, Bee..."
"Just a Little, I promise with you Queen Ca," pinta Belva sambil mendekatkan wajahnya ke arah Ecca.
Ecca kini tidak bisa menolak keinginan Belva karena entah kenapa dia juga begitu menginginkannya.
"Tapi aku takut hamil, Bee..." ucap Ecca saat jarak mereka tinggal satu centi.
Blam!
Kepolosan Ecca kali ini membuat has rat Belva menguar begitu saja.
"Hamil?" tanya Belva mengulang kalimat Ecca.
"Iya, kata mama berciuman bisa menyebabkan aku hamil."
"Haaah!" Belva mengusap wajahnya kasar. Kali ini ia begitu menyadari kepolosan wanita yang sangat dicintainya.
"Mana mungkin berciuman saja bisa menyebabkan hamil, sayang?" Belva mengacak rambut Ecca.
__ADS_1
"Kamu belajar sains saat sekolah bukan?" tanya Belva dan Ecca pun menganggukkan kepalanya.
"Okey, sekarang aku tanya bagaimana terjadinya pembuahan dalam tubuh seorang wanita?"
"Tentu saja karena bertemunya sel telur dengan sel sper ma untuk bersatu sehingga membentuk zigot, lalu menjadi embrio sebagai cikal bakalΒ bayi," jawab Ecca seperti menjawab pertanyaan ujian nasional.
"Nah itu, kamu sangat hafal, Queen Ca. Jadi bukan dari ciuman kamu bisa hamil."
"Jelas bisa dong, Bee.." Ecca tetap bersikukuh dengan pendapatnya sendiri.
"Kalau dari ciuman yang berlanjut ke..." Ecca mengatupkan kedua ujung jari telunjuknya berkali-kali.
"Apa itu?" tanya Belva sambil mengikuti gerakan Ecca.
"Kikuk kikuk, pasti kan nanti Ecca hamil, Bee."
Kali ini Belva semakin gemas dengan tingkah Ecca. Tanpa persetujuan dari Ecca, Belva pun langsung menggendong Ecca ala koala dan membawanya ke kamarnya.
"Mau dibawa kemana, Bee?" tanya Ecca tanpa memberi perlawanan sedikit pun.
"Kamu harus aku beri pelajaran, Queen Ca!"
"Tapi Bee, bagaimana bimbingan skripsinya?" tanya Ecca sambil mengalungkan tangannya di leher Belva.
"Akan kita lanjutkan setelah ini!" Belva membuka pintu kamarnya dan menutupnya dengan kaki.
Setelah itu Belva menjatuhkan Ecca pelan di atas ranjang nya dan perlahan Ecca bergerak mundur ke belakang.
"Jangan macem-macem. Bee! Aku hanya bercanda tadi."
"Bercandanya tidak lucu, Queen Ca!" balas Belva yang membuat Ecca semakin terpojok.
"Not that easy, Queen Ca! Cium aku, atau aku yang akan mencium bibirmu?" tanya Belva memberi penawaran.
"Wait, Bee! Beri aku waktu untuk berfikir," pinta Ecca.
'Kalo Bee yang cium aku duluan nanti pasti lama. Hemm, mending aku dulu aja deh yang cium duluan.' batin Ecca.
"Aku dulu aja deh," ucap Ecca kemudian memberikan jawaban kepada Belva.
"Wow, I like it!" balas Belva sambil memejamkan matanya.
"Cium di sini!" perintah Belva sambil menunjuk ke arah bibirnya.
Perlahan Ecca memegang rahang Belva dan mendekatkan wajahnya ke wajah Belva. Diusapnya bibir lelaki yang sudah lama dicintainya dan
Cup! Ecca mendaratkan kecu pannya tepat di atas ibu jarinya yang masih menempel di bibir Belva.
Seketika mata Belva terbuka saat kecupan yang mendarat di bibirnya bukanlah kecupan yang ia inginkan.
Sayangnya Ecca Sudah bergerak cepat turun dari ranjang dan berlari keluar dari kamar Belva.
Belva kini hanya tersenyum sambil mengacak rambutnya sendiri melihat Ecca berlari keluar dari kamarnya.
"Aku tidak menyangka jika jatuh cinta ternyata seindah ini," gumam Belva sambil mengikuti langkah Ecca.
"Ayo katakan padaku, Bee. Apa saja yang harus aku perbaiki?" tanya Ecca yang sudah duduk di depan laptopnya.
"Kamu cukup menambahkan hasil penelitian aja. Untuk teorinya sudah bagus," jawab Belva sambil duduk di sofa dan mulai menyalakan televisi.
"Sekarang lebih baik tutup laptopnya dan kemarilah!" Belva menepuk sofa yang di sampingnya dan mengisyaratkan Ecca untuk duduk dekat dengannya.
__ADS_1
"Nanti dulu, Bee. Biar aku kirim dulu naskahnya ke email dosen Pembimbing ku."
"Memang alamat Emailnya sudah ada?" tanya Belva yang merasa belum memberikan alamat emailnya ke Ecca.
"Sudah dapat dari Kak Ollyta, abis DosBing nya pelit banget sih."
Setelah mengirim skripsi yang sudah dibuatnya, Ecca pun langsung menutup laptopnya dan duduk di samping Belva.
Tangan Belva pun langsung melingkar di pinggang Ecca dan memeluknya.
"Bee, apa aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Ecca sambil menyandarkan kepalanya di dada Belva.
"Tentu saja."
"Apa kau juga seromantis ini dengan pacar-pacarmu yang sudah lalu?" tanya Ecca.
"Aku tidak pernah punya pacar. Dan sedari dulu yang selalu ada di hati dan fikiran hanyalah Rebecca Marley Swan, Nothing other," jawab Belva sambil mengusap kepala Ecca.
"Benarkah?" hati Ecca langsung berbunga-bunga mendapatkan jawaban dari Belva.
"Iya sayang, bahkan aku mencintaimu lebih dulu saat kau masih bermain boneka koala."
Seketika ingatan Ecca pun kembali saat ulang tahunnya yang ke-9 dimana saat itu Belva memberikannya kado boneka koala. Sejak saat itu, Ecca selalu tidur dengan memeluk boneka koala pemberian Belva.
"Aku tidak suka pacaran karena bagiku itu hanya buang-buang waktu saja," tukas Belva lagi.
"Lalu bagaimana denganku?"
"Kamu adalah calon istri dan ibu dari anak-anakku kelak, Queen Ca. Bersabarlah! Karena saat ini aku sedang berjuang untuk membuatmu bahagia."
Ecca semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Belva. Ia paham, ke depannya pasti akan sulit untuk dilalui karena Belva saat ini masih berstatus sebagai kakak iparnya.
Namun, jauh di dalam lubuk hati Ecca, ia sudah membulatkan tekadnya untuk berjuang bersama Belva, lelaki yang sudah lama ia cintai.
πππ
Sambil nunggu bab yang selanjutnya, mampir yuk ke Novel temen Author. Dijamin karyanya keren banget.
Judulnya : Preman Cantik Di Nikahi CEO Kaya
Karya : Ummi Asya
πππ
Jangan lupa untuk dukung terus karya Author dengan
Like π
Comment π¬
Favorit β€οΈ
Vote π
Gift πΉβπΊ
Dan Tonton iklannya πΉπ½οΈ juga ya
Terima kasih
__ADS_1