
"Kak Nuna!" pekik Ecca terkejut dan langsung berlari ke arah kakaknya. Darah segar yang keluar dari pelipis Nuna tidak begitu banyak, namun membuat Ecca tidak tega.
"Pak Belva, bisa bantu saya bawa kak Nuna ke klinik?" pinta Ecca membuat Nuna yang kini sedang pura-pura tidak sadarkan diri bersorak gembira dalam hati.
'Yes, pucuk dicinta ulam pun tiba. Akhirnya Belva sebentar lagi akan menggendongku ala bridal style dan membawaku ke dokter dengan raut wajah yang begitu khawatir.'
Sedangkan Belva sendiri sangat enggan membantu Nuna meski pun itu permintaan dari Ecca.
"Luka ringan seperti itu tidak perlu di bawa ke klinik."
"Dirga!" panggil Belva. "Tolong ambilkan kotak P3K dan berikan kepada Pak Joko untuk merawat istrinya yang kini sedang terluka!"
Saat Dirga mencari kota P3K, Pak Joko pun langsung sigap mengangkat tubuh Nuna ala bridal style dan menidurkannya di atas sofa.
'Aaaarrrrgghhh! Sial! Sial! Sial!' rutuk Nuna dalam hati. 'Kenapa malah si buluk ini yang gendong aku ke sofa? Harusnya kan Belva.'
"Tapi pak, ini Kak Nuna pingsan loh. Kalo nanti kenapa-napa gimana?" tanya Ecca yang begitu mengkhawatirkan Nuna.
'Naah, bagus Ecca. Ayo terus desak Belva untuk bertanggung jawab!' batin Nuna yang terus saja berharap Belva mengkhawatirkan keadaannya.
Pak Dion tampak membuang nafasnya kasar. Kedatangan Nuna benar-benar hanya mengganggu dan menimbulkan banyak masalah di firma.
Sedangkan Belva langsung memegang tangan Ecca dan mengarahkan telunjuk wanitanya itu untuk memegang hidung Nuna.
Tepat saat telunjuk Ecca memegang hidung Nuna, kelopak mata Nuna bergerak dan membuat Belva tersenyum kecut.
'Cih, ternyata kali ini dia hanya pura-pura pingsan,' gumam Belva dalam hati.
"Kemarilah, sayang. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu," ucap Belva sambil menarik tangan Ecca menjauh dari Nuna.
Mendengar Belva memanggilnya dengan sebutan 'sayang' membuat Ecca langsung salah tingkah. Terlebih di ruangan itu masih ada papanya Belva yang tentunya memperhatikan mereka berdua.
Sedangkan Nuna yang medengar panggilan Belva terhadap Ecca pun langsung bertanya-tanya dalam hati.
'Sayang? Kenapa Belva manggil Ecca' sayang'? Jangan - jangan mereka memang sedang menjalin hubungan? Berarti, lelaki yang membuat Ecca terus berbunga-bunga selama ini tuh beneran Belva ya?'
' Sial! Aku benar-benar kalah langkah sama gadis ingusan kayak Ecca!'
Belva memberi kode kepada papanya untuk meninggalkan ruangan mediasi dan mengajak Ecca masuk ke dalam ruangannya.
"Bee! Kamu kok asal manggil gitu sih di depan banyak orang?" gerutu Ecca sambil melepas genggaman Belva.
"Udah gitu ada Pak Dion lagi!" Ecca menutup wajahnya kesal mengingat Belva blak-blakan memanggilnya 'sayang'.
"Hadeuuuh, masalah panggilan menurut saya bukan masalah besar." tukas Pak Dion yang tiba-tiba masuk ke ruangan Belva dan menepuk bahu Ecca.
"Yang terpenting sekarang, kalian harus segera membereskan pembawa masalah besar yang sebenarnya itu. Papa udah gak sanggup."
"Mendingan papa pulang cepet deh hari ini," tukas Pak Dion yang langsung mengambil tasnya dan keluar dari ruangan.
__ADS_1
"Papa mau kemana?" tanya Belva sedikit tidak terima papanya lepas tangan begitu saja.
"Ada urusan penting sama mama."
Pak Dion berlalu begitu saja tanpa menoleh ke belakang.
"Bee, kamu cerita ya sama Om Dion kalo kita..."
"Emm, untuk masalah yang ini gak perlu dibahas dulu ya, sayang!" pinta Belva mengalihkan pertanyaan Ecca.
"Yang perlu kamu tahu sekarang, Nuna tidak pingsan karena dia hanya berpura-pura saja. Buktinya adalah, ketika kamu pegang hidungnya kelopak matanya bergerak-gerak," jelas Belva membuat Ecca manggut-manggut.
"Terus solusinya gimana dong, Bee?" tanya Ecca kemudian.
"Aku akan meminta Dirga untuk menyuruh mereka pulang. Karena jika mereka terus saja berada di sini, maka aku pastikan pekerjaan kita akan terbengkalai."
Ecca pun mengangguk setuju dan mulai ke meja kerjanya untuk mengerjakan pekerjaannya hai ini.
☘️☘️☘️
Sedangkan di ruang mediasi, Dirga justru seperti mendapatkan tontonan lawakan gratis.
Dengan telaten Pak Joko membersihkan luka yang ada di kepala Nuna. Bahkan ia juga meniupnya untuk mengurangi rasa sakit yang dirasakan istri gadungannya itu.
Sayangnya perhatian Pak Joko kali ini sama sekali tidak dianggap oleh Nuna. Saat mulutnya meniup luka di kepala Nuna, mulut Pak Joko malah ditapok dengan sangat kencang.
Tpok!
"Huek!" Nuna membuka matanya dan langsung duduk dengan sempurna.
"Bau banget sih mulut kamu nih. Bikin aku pingin muntah tauk gak?!" sarkas Nuna geram.
Mendengar Nuna protes dengan bau mulutnya, Pak Joko pun mengetes bau mulutnya sendiri dengan telapak tangannya, "Hah!"
"Bau apa sih? Orang gak bau sama sekali kok." protes Pak Joko.
"Bau jigong!" jawab Nuna membuat tawa Dirga langsung meledak.
Nuna dan Pak Joko serentak menoleh ke arah Dirga yang kini sedang tertawa sampai matanya berair.
"Ngapain ketawa?" tanya Nuna dan Pak Joko beriringan.
"Kalian berdua, kalau udah akur tanpa mediasi lebih baik sekarang segera pulang ke rumah. Karena waktu kalian sudah habis di sini," ucap Dirga dengan tegas.
Mendengar Dirga sudah mengusirnya dengan terang-terangan, membuat Pak Joko sadar diri dan bersiap untuk pulang.
"Apa aku masih boleh istirahat disini?" pinta Nuna sambil memegang kepalanya. "Kepala aku masih sangat sakit," rintih Nuna yang masih berharap bisa bertemu dengan Belva.
Sayangnya saat Dirga belum menjawab pertanyaan Nuna, tubuh Nuna sudah di gendong oleh pak Joko ala bridal style.
__ADS_1
"Jika masih sakit, aku akan menggendongmu, sayang," ucap Joka membuat Nuna cepat-cepat turun dari gendongan Joko.
"Idih, amit-amit banget sih!" gerutu Nuna yang kemudian berjalan lebih dulu dari Pak Joko.
Pak Joko pun undur diri dan segera mengejar langkah Nuna menuju ke pintu lift.
Saat keduanya di dalam lift, Pak Joko pun mulai berani menggenggam tangan Nuna dan membuat Nuna semakin jijik dengan pria yang kini mengaku sebagai suaminya.
"Lepasin gak?" ancam Nuna yang langsung dibalas dengan gelengan kepala oleh Pak Joko.
"Aku gak akan melepaskan tangan istriku sendiri."
"Cih, istri?" balas Nuna berdecih. "Sampai kapan pun aku tidak akan pernah sudi memiliki suami sepertimu!"
"Kamu ini sebenarnya hilang ingatan gak sih? Atau cuma pura-pura?" tanya Pak Joko membuat Nuna kini mulai bimbang menjawabnya.
'Aduh, jika kali ini aku berbicara dengan jujur. Sudah pasti Pak Joko akan melaporkan kebohonganku kepada semua orang.'
'Dan tentunya aku pasti merasa sangat hancur! Namun jika tidak memberitahunya, berarti aku juga harus acting mesra dong dengan cowok buluk kayak gini?'
"Kamu ditanya kok malah melamun sih?" tanya Pak Joko sambil menggerakkan telapak tangannya di depan wajah Nuna.
"Emm, aku hanya seperti begitu Familiar dengan atasan Ecca," tukas Nuna. "Dan itulah yang membuat aku tidak bisa mengontrol tadi," kilah Nuna yang sama sekali belum ingin diketahui tentang kebohongannya.
☘️☘️☘️
Untuk hari ini sampai di sini dulu ya.
Sambil nunggu kelanjutannya, mampir dulu yuk ke Novel bestie aku.
Nama Pena : SaEkha
Judul Karya "Young Mommy"
Jangan lupa untuk dukung terus karya Author dengan
Rate 5 bintang 🌟🌟🌟🌟🌟
Like 👍
Comment 💬
Subscribe ❤️
Vote 💞
Gift 🌹☕💺
__ADS_1
Dan Tonton iklannya 📹📽️ juga ya