Kurebut Suami Kakakku

Kurebut Suami Kakakku
Di Kamar Ecca


__ADS_3

Ecca masih berkutat di depan laptopnya meski waktu sudah menunjukkan jam makan siang.


Seharusnya siang ini ia menemui Belva untuk bimbingan skripsi, namun Ecca mengurungkan niatnya mengingat Belva masih terus saja mendesaknya untuk berkata jujur tentang bagaimana perasaannya.


Ting! Satu pesan masuk dalam ponsel Ecca dan Ecca pun langsung membukanya.


๐Ÿ“ฉ Pak Belva


Saya tunggu untuk bimbingan siang ini!


๐Ÿ“ฉ Ecca


Maaf Pak Belva, ๐Ÿ™ Hari ini saya belum siap untuk bimbingan.


Belva yang menerima balasan dari Ecca langsung membuang nafasnya kasar. Bayangan makan siang bersama Ecca di ruangannya kini buyar seketika.


Sebelum sampai di kampus, Belva memang sengaja memesan 2 porsi makan siang dalam box meal. Akhirnya ia pun memutuskan untuk segera kembali menuju ke apartemennya untuk melihat keadaan Ecca.


๐Ÿ„


๐Ÿ„


๐Ÿ„


Sesampainya di apartemen, Belva mengedarkan pandangannya dan tidak terlihat Ecca ada di dalam. Ia pun mengecek meja makan dan makanan yang ia siapkan untuk Ecca hanya berkurang sedikit.


'Caca gak sarapan?' tanya Belva dalam hati.


Belva pun bergegas menuju ke kamar Ecca dan mengetuk pintunya sambil memanggil nama Ecca. Namun, tidak ada sahutan dari dalam membuat Belva terpaksa membuka kamar Ecca dan masuk ke dalam.


Terlihat Ecca tertidur di depan laptopnya yang masih menyala dan memperlihatkankan skripsi yang sedang dikerjakan oleh Ecca. Tubuhnya tampak meringkuk di atas karpet kamarnya, membuat Belva merasa iba.


Perlahan Belva membereskan laptop Ecca dan mengangkat tubuh adik iparnya itu ke atas ranjang. Belva melakukannya dengan pelan agar Ecca tidak terbangun sambil terus memandangi wajah Ecca yang terlihat sangat cantik saat tertidur.


'Cantik!'


'Menarik!'


'Dan sangat mempesona!'


Batin Belva terus bergemuruh memuji paras Ecca.


Sedangkan Ecca yang baru saja terlelap, langsung membuka matanya dengan terkejut saat merasa tubuhnya sedikit tergoyang saat Belva menggendongnya.


"M-Mas Belva!!"


Suara Ecca tercekat saat mendapati Belva yang kini sedang membawanya ke atas kasur.


Saking terkejutnya, Ecca pun menggeliatkan tubuhnya untuk turun dari gendongan Belva. Namun Belva justru mengeratkan gendongannya dan menatap Ecca secara intens.


"Tenanglah Ecca! Aku tidak akan membiarkanmu turun dari gendonganku!"


"Tapi, Mas..."


Ecca masih trus saja menggeliat dan


Brukkk!!!


Keduanya jatuh sempurna di atas ranjang Ecca.

__ADS_1


Parfum maskulin Belva terhirup di hidung Ecca dan membuat Ecca memejamkan matanya menikmati aroma Belva yang membuatnya sangat nyaman.


Namun dadanya langsung berdegub tidak karuan saat Ecca merasa hembusan nafas Belva mulai menyapu wajahnya dan posisi mereka semakin terasa lebih in tim.


"Apa kamu lebih nyaman dengan posisi kita yang seperti ini?" bisik Belva tepat di ce ruk le her Ecca dan membuat Ecca sedikit me re mang.


"Haaah?!" Ecca mulai tersadar dan mendorong tu buh Belva yang saat ini masih ada di atasnya.


Belva pun menjauhkan tu buhnya dari Ecca dan menyunggingkan senyumnya melihat Ecca yang tampak merona dan salah tingkah.


"Jangan kecewa jika kali ini aku tidak mencium bibirmu, Caca!" ucap Belva yang kini duduk di tepi ranjang Ecca.


"Karena setelah menikah nanti, aku tidak akan pernah berhenti mengabsen bibir ti pismu yang begitu menggoda itu," lanjut Belva membuat Ecca tercengang.


"Iiiih, Mas Belva ngarang banget sih!" gerutu Ecca sambil melemparkan bantal ke arah Belva.


"Siapa juga yang minta dicium sama Mas Belva?"


Belva semakin gemas dengan tingkah Ecca kali ini membuatnya semakin ingin meng go da Ecca.


"Buktinya kamu tadi merem gituh, kenapa coba? Pasti nunggu Mas cium kamu kan kayak di film-film yang kamu tonton."


Tebakan Belva kali ini membuat Ecca berdecak kesal.


"Dih, sok tau banget Mas Belva nih. Amit-amit dah ciuman sama kakak ipar sendiri!"


Sanggahan Ecca membuat Belva kembali merapatkan jaraknya ke Ecca yang kini beranda di headboard ranjang nya.


"Amit-amit kamu bilang?"


"Trus kenapa kamu berani cium pipi Mas Belva waktu kita di mobil sepulang dari kantor?" tanya Belva yang semakin mendekat dan mulai kembali tak berjarak dengan Ecca.


"Itu kan Ecca gak sengaja, Mas!" kilah Ecca membela dirinya.


"Oooh, gak sengaja yaa? Bagaimana kalo sekarang kita buat jadi sengaja?" go da Belva semakin mendekatkan bibirnya dengan bibir Ecca.


Lagi-lagi ritme detak jantung Ecca kembali tidak terkontrol dan membuatnya sangat canggung saat ini.


"Ja-jangan Mas!" cegah Ecca sambil mendorong dada Belva pelan.


Kini telapak tangan Ecca mulai merasakan Detak jantung Belva yang tidak jauh beda dengannya.


"Kenapa?" tanya Belva tetap pada posisinya yang semakin membuat Ecca benar-benar terpojok.


"Jangan buat aku susah move on dari Mas Belva!" teriak Ecca.


Belva pun tersenyum lebar mendengar pengakuan Ecca barusan.


"Move on?" tanya Belva mengendurkan jaraknya dengan Ecca.


'Ups! aku sepertinya sudah salah bicara!' batin Ecca gusar.


"Bukan! Bukan itu maksudku, Mas!"


"Aku hanya tidak ingin mengkhianati pacarku sendiri. Ya, itulah maksudku," kilah Ecca menyelamatkan dirinya.


"Oke, lebih baik sekarang kita makan siang dan setelah itu kau harus bimbingan denganku. Waktu ku tidak banyak Caca. Kemungkinan beberapa hari ke depan aku akan sibuk dengan banyak klien di sini," jelas Belva yang kemudian menjauh dari Ecca.


"Aku tunggu di meja makan, dan jika dalam hitungan 5 kamu tidak duduk di sana, jangan salahkan aku kalau aku kembali menggendong mu!" ancam Belva.

__ADS_1


"Tapi aku tidak lap..."


"Satu!" Belva mulai menghitung.


"Mas, aku kan.."


"Dua!"


"Huft, ini sungguh menyebalkan!" gerutu Ecca sambil turun dari ranjang nya.


Belva yang sudah keluar dari kamar Ecca pun tiba-tiba kini sudah ada di depan Ecca.


"Lima!"


Dengan cepat Belva mengangkat tubuh Ecca dan membawanya ke meja makan.


Kali ini Ecca tidak lagi meminta untuk turun dari gendongan Belva. Namun ia terus saja menggerutu sepanjang Belva membawanya ke meja makan.


"Ck! Masa baru dua, ini udah langsung lima!"


"Mas Belva sekolah gak sih? Hitung-hitungan gitu aja salah!"


"Besok lagi Ecca gak mau di hitung-hitung kayak gitu! Kayak anak TK aja!"


Belva hanya terkekeh mendengar Ecca yang terus saja menggerutu di dalam dekapannya.


"Mas gak akan paksa kamu kayak gini, Ca! Seandainya tadi pagi kamu sarapan dengan baik."


"Apa yang udah buat kamu meninggalkan sarapan yang baru saja satu suapan?" tanya Belva sambil menurunkan Ecca di atas kursi makan.


Ecca mengerutkan dahinya sambil menatap Belva. "Dari mana Mas Belva tahu?"


Kali ini Belva tidak menjawab dan hanya membuka tudung saji sambil menunjukkan bekas sarapan Ecca yang hanya berkurang satu sendok saja.


"Oooh, emm itu tadi. Emmm,..."


"Sudahlah, kita makan dulu saja!" potong Belva sambil menyodorkan box meal yang sudah ia bawa.


Kini mereka pun mulai menikmati makan siang mereka bersama.


๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’


Naaah, setelah makan siang Ecca akan bimbingan skripsi nih sama Pak Belva.


Tunggu kelanjutannya ya readers setia aku yang insya Allah akan Author up hari ini.


Jangan lupa untuk dukung terus karya Author dengan


Like ๐Ÿ‘


Comment ๐Ÿ’ฌ


Favorit โค๏ธ


Vote ๐Ÿ’ž


Gift ๐ŸŒนโ˜•๐Ÿ’บ


Dan Tonton iklannya ๐Ÿ“น๐Ÿ“ฝ๏ธ juga ya

__ADS_1


Terima kasih


__ADS_2