Kurebut Suami Kakakku

Kurebut Suami Kakakku
Overhear


__ADS_3

"Apa sebenarnya yang sudah kau rencanakan Nuna?" tanya Belva geram.


"Bagaimana mungkin kamu ngidam sampai meminta kedua orang tua kita untuk menginap di sini?"


"Kamu tahu kan, kamar di rumah ini hanya ada 4 kamar. Trus mereka semua mau di taruh di kamar mana?"


Cecar Belva yang tidak habis fikir dengan keinginan Nuna kali ini.


Jika kedua orang tuanya ada di rumahnya, sudah pasti Belva akan tidur satu kamar dengan Nuna. Dan Belva benar-benar enggan untuk satu kamar bersama Nuna meski status mereka adalah suami dan istri.


"Kenapa harus pusing sih suamiku sayang?" balas Nuna sambil mendekatkan dirinya ke tubuh Belva.


"Kali ini, aku akan tidur di kamarmu. Lalu mama Dea dan papa Dion akan tidur di kamarku. Sedangkan Mami papiku tidur di kamar tamu yang ada di lantai bawah," jelas Nuna.


"Selesai bukan masalahnya?"


Ecca yang tanpa sengaja mendengarkan percakapan mereka berdua mulai mengerutkan dahinya. 'Apa maksud ucapan Kak Nuna barusan ya?' tanya Ecca dalam hati.


Ia makin mendekatkan dirinya di tembok pembatas antara pantry dan taman samping agar lebih mendengar apa yang sedang dibicarakan Nuna dengan Belva.


"Aku benar-benar malas tidur dengan wanita sepertimu, Nuna! Sebenarnya apa yang sedang kau rencanakan?!" tukas Belva yang sudah benar-benar kesal dengan sikap Nuna kali ini.


Sebulan yang lalu, tidak pernah ada masalah antara dia dan Nuna. Keduanya sama-sama menjalani kesibukan mereka masing-masing tanpa peduli satu sama lain.


Namun, hari ini Nuna benar-benar membuat Belva sangat kesal dengan tingkahnya.


"Aku tidak merencanakan apa-apa, Suamiku sayang. Aku mencintaimu, Belva. Dan aku benar-benar ingin menjadi istrimu seutuhnya," ucap Nuna sambil memegang tangan Belva.


Belva langsung menepis tangan Nuna dan sedikit menjauh darinya.


"Jangan gila! Pernikahan kita hanya pernikahan kontrak. Jangan pernah bermain-main dengan perjanjian yang sudah kita buat sebelumnya!"


"Jangan melanggar isi perjanjian atau kau akan berhadapan denganku di depan meja hijau!" jelas Belva dengan tegas.


Pyar!


Ecca yang terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar pun tanpa sengaja memecahkan piring yang sedang ia pegang. Cumi goreng tepung yang ada di dalam piring langsung jatuh berceceran di lantai.


"Neng Ecca gak pa pa?" tanya Bik Surti yang sangat terkejut mendengar pecahan piring tadi.


Mama Dea dan Mami Aleya yang sedang mengobrol di ruang tamu pun langsung berlari ke pantry untuk melihat apa yang terjadi. Begitu juga dengan Belva dan juga Nuna.


"Maaf Bik, aku ceroboh sampai menjatuhkan piring. Cumi goreng tepungnya nanti Ecca gorengan lagi," tukas Ecca merasa bersalah.


"Neng Ecca jangan kemana-mana, biar Bik Surti bersihkan dulu pecahan piringnya!" pinta Bik Surti yang bergegas mengambil sapu.


Sedangkan Nuna langsung menatap tajam ke arah Ecca. 'Ck, aku yakin Ecca barusan mendengar obrolan aku sama Belva,' batin Nuna.


"Kenapa bisa jatuh sih, Ca?! Emang kamu barusan ngapain?" tanya Nuna dengan tatapan mengintimidasi.


"Emmmh, Ecca emang yang gak hati-hati kak. Maaf ya," tukas Ecca sambil memasang muka bersalah nya.


"Gak papa, Ca. Lagipula kan gak sengaja," tukas Mama Belva. "Kita lanjut lagi yuk Jeng, ngobrolnya," Mama Belva mengamit lengan Mami Nuna dan kembali mengajaknya ke ruang tamu.

__ADS_1


Sedangkan Ecca pun bergegas mengganti masakan yang baru saja ia kacau barusan.


"Kamu barusan nguping obrolan kakak sama Mas Belva ya?" tanya Nuna berbisik ke arah Ecca saat Belva meninggalkan pantry.


"Kalo iya kenapa?" Ecca balik bertanya dengan kakaknya tanpa gentar sedikit pun.


"Kakak akan buat perhitungan sama kamu, jika kamu berani berbuat macam-macam!" ancam Nuna sebelum meninggalkan Ecca.


Mendengar ancaman Nuna, membuat Ecca membuang nafasnya kasar.


'Kali ini aku harus benar-benar berhati-hati dengan Kak Nuna,' batin Ecca mawas diri.


Ecca sadar betul jika kakaknya yang satu itu akan melakukan hal apapun untuk menyelamatkan dirinya sendiri.


Sedangkan dalam benaknya mulai timbul berbagai macam pertanyaan tentang apa yang baru saja ia dengar tadi.


'Mas Belva dan Kak Nuna ternyata tidak pernah satu kamar selama ini. Kenapa aku gak pernah tau ya?'


'Trus sekarang Kak Nuna hamil, padahal mereka gak pernah tidur bareng. Berarti, Mas Belva udah tau dong kak Nuna itu hamil anak siapa?'


'Tapi, kenapa Mas Belva mau nikah kontrak sama Kak Nuna kalo dia udah tau sikap kak Nuna selama ini?'


'Pasti ada banyak hal yang mereka sembunyikan selama ini. Aku akan berusaha mencari tahu semuanya,' gumam Ecca dalam hati.


Tiba-tiba bibirnya tersenyum lebar sambil membuat adonan tepung untuk cumi yang baru saja ia potong.


'Kayaknya aku masih ada harapan untuk ngedapetin hatinya Mas Belva,' sorak Ecca dalam hati.


Dengan semangat Ecca menggoreng cumi sambil berdendang pelan.


"Bawaannya girang amat. Pasti tadi mecahin piring gara-gara ngelamunin pacarnya ya?"


Ecca terkekeh pelan, "He he, tau aja nih Bik Surti." tukas Ecca.


☘️☘️☘️


Setelah makan malam, Ecca langsung bergegas masuk ke dalam kamarnya untuk melanjutkan mengerjakan skripsinya. Sedangkan yang lain bercengkerama di ruang tamu.


Kali ini Ecca memilih mengerjakan skripsinya di balkon kamar sambil menikmati angin malam. Saking fokusnya mengerjakan skripsi, Ecca sampai tidak sadar jika Belva sudah berdiri sedari tadi di belakangnya.


"Yang itu uraiannya kurang pas deh Ca," timpal Belva sambil menunjuk ke arah laptop Ecca.


"Eh, Mas Belva!"


Ecca sedikit terkejut saat mengetahui Belva ada di belakangnya. Terlebih saat kedua tangan Belva kemudian mengetikkan sesuatu di keypad laptopnya hingga terlihat seperti Belva sedang memeluknya.


"Ini harusnya ditambahkan kalimat seperti ini, Ca," celetuk Belva sambil terus mengetik di laptop Ecca.


Sikap Belva kali ini membuat jantung Ecca sangat berdebar-debar, bahkan sampai sedikit sesak dibuatnya karena mereka benar-benar sudah tidak berjarak.


Bau harum maskulin tubuh Belva benar-benar tercium oleh Ecca membuat Ecca begitu nyaman menghirup nya.


"Kamu pake shampo apa sih, Ca?" tanya Belva kemudian.

__ADS_1


"Rambut kamu harum banget," lanjutnya lagi membuat Ecca salah tingkah.


Ecca menyingkirkan tangan Belva yang sedari tadi mengungkungnya dan merapikan rambut panjangnya.


"Masa sih, Mas?" tanya Ecca mengelus rambutnya yang sedikit bergelombang dan mengesampingkan ke bahu kanan.


"Orang Ecca pakai shampo yang biasa kok," lanjutnya lagi.


"Emm, Mas Belva gak gabung sama yang lain di ruang tamu?" tanya Ecca kemudian.


"Mas baru aja beresin kamar, nanti juga gabung kok," jawab Belva.


"Oh iya, Ca. Kamu tadi sempet denger ya obrolan Mas Belva sama Kak Nuna?"


Pertanyaan Belva kali ini membuat Ecca terdiam sedikit lama. Jujur, ia bimbang harus menjawab apa.


"Jawab aja gak papa kok, Ca kalo kamu emang dengar. Mas Belva gak akan marah sama kamu," tukas Belva lagi saat mendapati Ecca tidak menjawab pertanyaannya dan terdiam lama.


"Maaf, Mas Belva. Ecca bener-bener gak sengaja tadi," jawab Ecca sambil menundukkan kepalanya.


"Gak papa, Ca. Yang penting kamu gak ikut campur dengan masalah kita ya," pinta Belva.


Deg!


Ecca terhenyak dengan permintaan Belva kali ini. Dia fikir, Mas Belva akan menceritakan atau menjelaskan tentang hubungannya dengan Nuna selama ini.


Ternyata Belva justru memintanya untuk tidak ikut campur.


"Oke deh, Mas. Kalo gitu, Ecca masuk ke kamar dulu ya," pamit Ecca yang kemudian masuk ke dalam kamarnya sambil membawa laptopnya ke dalam.


Sedangkan Belva menatap punggung Ecca yang meninggalkannya dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.


'Aku sebenarnya sangat ingin berbagi cerita dengan Caca. Tapi sayangnya aku sungguh tidak tega membawanya masuk ke dalam masalah yang sedang aku hadapi,' batin Belva.


'Aku takut Nuna berbuat di luar batasnya dengan Ecca dan membuatnya justru tersakiti,"


Sikap Belva barusan justru membuat Ecca makin bertekad untuk mencari tahu, apa yang sebenarnya terjadi di dalam pernikahan kakaknya.


☘️☘️☘️


Jangan lupa untuk dukung terus karya Author dengan


Like 👍


Comment 💬


Favorit ❤️


Vote 💞


Gift 🌹☕💺


Dan Tonton iklannya 📹📽️ juga ya

__ADS_1


Terima kasih


__ADS_2