Kurebut Suami Kakakku

Kurebut Suami Kakakku
Morning Kiss


__ADS_3

Keesokan paginya, Ecca bangun lebih awal dari Belva. Ia pun langsung mengecek isi kulkas dan segera membuat sarapan.


Pagi ini Ecca akan membuat Chicken steak. Ia pun segera mengupas wortel, membersihkan kentang, buncis dan jagung.


Belva yang baru saja keluar dari kamarnya langsung menyunggingkan senyumannya saat melihat Ecca Sudah sibuk membuat sarapan.


Ia pun berjalan mendekati Ecca dan langsung melingkar kan tangannya di perut Ecca.


"Bee!" pekik Ecca terkejut dan hampir menjatuhkan wortel yang sedang ia cuci.


"Ada apa sayang?" tanya Belva tanpa rasa bersalah.


"Kau membuatku terkejut Bee. Duduklah dan jangan mengganggu!" pinta Ecca.


"Melihatmu semakin cantik pagi ini membuatku tidak sabar untuk menikahi mu, Queen Ca."


Belva menyembunyikan wajahnya di ce ruk le her Ecca dan membuat Ecca sedikit me re mang.


"Ayolah Bee, ini masih pagi untuk mendengarkan semua omong kosongmu! Aku harus sampai di kampus pagi ini."


"Aku sungguh-sungguh, sayang. Ini bukan omong kosong," jelas Belva.


"Untuk apa ke kampus? Bukankah seharusnya kamu datang ke firma untuk melanjutkan penelitian?" tanya Belva tanpa mengendurkan nya sedikit pun.


"Masih ada beberapa hal yang harus aku urus Bee. Lagi pula kan aku mengajukan penelitian di Firma yang ada di Semarang."


Ecca kini berbalik dan sedikit mendorong tubuh Belva.


"Duduk dan biarkan aku memasak untukmu, Bee!" pinta Ecca.


"Okey, berapa lama aku harus menunggu?" balas Belva balik bertanya.


"Emmm, 15 menit aku pikir sudah selesai."


"Baiklah, aku akan mandi dulu." jawab Belva yang bersiap untuk kembali ke kamarnya.


Cup!


Bukan langsung berjalan, Belva justru mendaratkan kecupan nya tepat di pipi kiri Ecca.


"Morning kiss for you, Queen Ca," ucap Belva sambil berlalu menuju kamarnya.


Senyum Ecca langsung merekah saat mendapat kecupan singkat dari Belva.


"Aku harap akan selalu seperti ini setiap hari," gumam Ecca sambil melanjutkan kesibukannya.


☘️☘️☘️


Setelah selesai menyiapkan sarapan, Ecca pun langsung mandi dan mempersiapkan dirinya untuk pergi ke kampus.


Sedangkan Belva yang sudah menunggu Ecca di meja makan, tiba-tiba mendapatkan panggilan dari papanya.


"Halo Pa."


"..."


"Mungkin sekitar pekan depan aku baru pulang, Ada apa?"


"..."

__ADS_1


"Ck, aku ingin fokus bekerja di sini Pa. Jika Nuna harus ikut tinggal di sini, konsentrasi bisa buyar." gerutu Belva saat mendengar Nuna akan berangkat ke Jogja pagi ini.


"..."


"Bagus deh kalo dia memang ingin membuat surprise untukku dengan kedatangannya. Karena kejutan dariku justru akan lebih besar nantinya."


"..."


"Oke Pa, Terima kasih banyak informasinya."


Tepat saat panggilan Belva berakhir, Ecca sudah duduk di sampingnya sambil menyajikan steak buatannya.


"Kak Nuna mau dateng ke Jogja ya?" tanya Ecca dengan nada bicara yang terdengar sedikit ketus di telinga Belva.


"Jangan cemburu, sayang. Aku tidak akan sekamar dengannya. Dia akan tidur bersama adenganmu, nanti," jelas Belva sambil menggenggam erat tangan Ecca.


"Hemm," jawab Ecca melepaskan genggaman tangan Belva dan mulai menikmati sarapannya.


'Ternyata benar-benar tidak mudah menjalin hubungan dengan mas Belva. Baru mendengar Kak Nuna akan datang saja membuat hatiku panas terbakar rasa cemburu.' gumam Ecca dalam hati.


Tanpa terasa matanya mulai berkaca-kaca membayangkan dirinya yang kini memiliki status sebagai pelakor. Bahkan kini ia akan merebut lelaki yang telah menjadi suami kakak kandungnya sendiri.


Melihat Ecca terdiam sambil memalingkan wajahnya membuat Belva sadar jika Ecca pasti sedang mencoba untuk kuat.


"Sayang," panggil Belva sambil membalikkan tubuh Ecca.


"Jangan menangis, aku mohon!" pinta Belva sambil mengusap air mata Ecca yang jatuh membasahi pipinya.


"Aku akan jadi pelakor saat bersamamu, Bee."


Belva langsung mendekap Ecca dengan erat dan kini Ecca pun menangis di pelukan Belva.


"Tapi Bee, statusmu masih menjadi kakak ipar ku dan Kak Nuna saat ini juga sudah beri'tikad berubah menjadi wanita yang baik."


"Aku justru menjadi penghalang buat kakakku sendiri untuk berubah menjadi baik."


Belva terus mengusap kepala Ecca dan berusaha membuatnya tenang.


"Tidak ada perubahan sikap yang secepat membalikkan telapak tangan, sayang. Terlebih untuk wanita seperti Nuna."


"Dia berubah karena sudah dipecat oleh Hendy saat Nuna bertengkar dengan Wita di ruang kerja Hendy."


Ecca sedikit terhenyak mendengar penjelasan dari Belva karena sebelumnya ia mendengar sendiri jika Nuna lah yang mengundurkan dirinya sendiri demi berubah menjadi istri dan calon ibu yang baik.


"Segala fasilitas dari Hendy juga diberhentikan seketika dan kedatangannya kali ini hanyalah meminta uang dariku. Percayalah!"


Entah kenapa, penjelasan dari Belva saat ini membuatnya sedikit lega. Ia pun melepaskan pelukannya dan memandang ke arah Belva.


"Terima kasih sudah membuatku tenang, Bee."


Belva tersenyum sambil mengangguk.


"Ke depannya memang tampak sangat sulit, Queen Ca. Tapi aku mohon dengan sangat, berjuanglah denganku, agar semuanya terasa mudah!" pinta Belva sambil menggenggam tangan Ecca.


"Aku akan berjuang untuk mu, Bee!" balas Ecca membuat Belva mendekatkan bibirnya ke wajah Ecca.


Cup!


Kecupan singkat Belva kini mendarat di kening Ecca.

__ADS_1


"Makanlah, sayang! Aku akan mengantarkan ke kampus dan setelah itu kita berangkat ke firma bersama," ucap Belva sambil memotongkan daging steak untuk Ecca dan menyuapinya.


"Tidak perlu di tunggu Bee, aku sedikit lama di kampus. Fokus saja dengan kesibukan di firma, nanti aku akan menyusul," balas Ecca.


Belva pun akhirnya mengangguk setuju. Setelah menyelesaikan sarapan, Belva segera mengantarkan Ecca menuju ke kampusnya.


Sesampainya di kampus, tampak Naya sudah menunggu kedatangan Ecca di teras kantor fakultas.


"Hati-hati di jalan ya, Bee!" pamit Ecca sambil melambaikan tangannya.


Namun dengan cepat Belva menahannya untuk keluar dari mobil.


"Tunggu, sayang!" cegah Belva sambil menarik ikatan rambut Ecca dan membuat rambut Ecca terurai sempurna.


"Jangan mengikat rambutmu saat pergi kemana pun, Queen Ca. Aku tidak suka," ucap Belva sambil merapikan rambut Ecca yang terasa sangat lembut di tangannya.


"Why, Bee?" tanya Ecca dengan mimik muka protes.


"Aku gerah jika tidak mengikat rambut."


"Tapi kau terlihat sangat meng go da saat mengikat rambut seperti itu sayang, dan aku sangat cemburu jika Wanita ku menjadi bahan perhatian lelaki selain aku."


Ecca pun menganggukkan kepalanya menerima penjelasan dari Belva. "Baiklah, aku turun dulu ya Bee."


Lagi-lagi Belva menahan tangan Ecca, "SEbentar, Queen Ca!"


"Apalagi, Bee?"


"Aku belum mendapat ucapan selamat pagi darimu, sayang," jawab Belva sambil menunjuk ke arah pipi kirinya.


"Ini sudah hampir siang, Bee! Bahkan kau juga sudah terlambat," celetuk Ecca sambil memperlihatkan jam di tangannya yang kini sudah menunjukkan pukul 7 lebih.


"Lagi pula ini sudah di kampus, nanti kalu ada yang lihat gimana?"


"Kalau begitu kali ini kau berhutang padaku dan nanti aku akan langsung menagih hutang saat kita bertemu," ucap Belva sambil melepaskan tangan Ecca.


Ecca pun keluar dari mobil, dan sebelum menutup pintunya kembali ia pun berbalik ke arah Belva.


"Tapi aku gak janji ya, Bee," balas Ecca yang kemudian menutup uk pintu mobil Belva.


"Ck, benar-benar sangat mengemaskan. Aku benar-benar sudah tidak sabar untuk memilikimu, Ca," gumam Belva sambil mengemudikan mobilnya meninggalkan kampus.


🍒🍒🍒


Hari ini Author akan up satu bab lagi ya. Stay read untuk mengikuti kelanjutan kisahnya.


Jangan lupa untuk dukung terus karya Author dengan


Like 👍


Comment 💬


Favorit ❤️


Vote 💞


Gift 🌹☕💺


Dan Tonton iklannya 📹📽️ juga ya

__ADS_1


Terima kasih


__ADS_2