
Sesampainya di rumah Belva, Nuna pun langsung menghalangi langkah Belva yang hendak masuk ke dalam kamarnya.
"Tunggu, Belva!"
"Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu," ucap Nuna.
"Katakan saja sekarang karena waktu ku tidak banyak!" balas Belva datar.
"Mami sepertinya sempat curiga saat mengusap perutku tadi. Jadi cepat atau lambat Mami pasti akan mengetahui jika aku hamil di luar nikah," jelas Nuna.
"Itu adalah masalahmu sendiri Nuna, tidak ada sangkut pautnya denganku."
Mendengar penjelasan Nuna barusan membuat Belva melanjutkan langkahnya menuju ke kamar. Namun dengan cepat Nuna memegang lengan Belva dan kembali menahan Belva untuk melangkah.
"Jangan pergi dulu, Belva! Aku belum selesai bicara!"
"Apa lagi?!" Belva yang sudah tampak lelah pun mau tidak mau harus berhenti sejenak untuk mendengarkan penjelasan Nuna.
"Aku ingin kau mengakui di depan Mami kalo aku hamil di luar nikah karenamu, Belva."
Belva langsung mengerutkan dahinya mendengar permintaan Nuna yang menurutnya berlebihan.
"Hah?!"
"Apa aku tidak salah dengar mengakui perbuatan be jat yang sama sekali tidak pernah aku lakukan?"
"Apa kau pikir aku orang yang bodoh, Hah!" gertak Belva yang amarahnya mulai tersulut karena ide gila Nuna barusan.
"Bagaimana jika aku tidak ingin mengikuti ide gilamu sama sekali?"
Jawaban Belva kali ini membuat Nuna merasa sangat kesal sampai ia harus kembali mengeluarkan ancamannya.
"Maka aku tidak akan segan untuk menuju ke rumah Mama Dea sekarang juga, untuk melaporkan jika putranya sendiri yang membuat Mama Dea kalah tender."
"Aku sekarang tidak takut jika kau tidak mengirimiku uang, karena aku juga akan melaporkan Jika kau sama sekali tidak memberi nafkah untukku, Belva!" ancam Nuna.
"Lakukan saja sesukamu dan aku tidak akan pernah peduli!" balas Belva membuat Nuna mendelik.
'Sial! Dia sama sekali tidak takut dengan ancamanku!' pekik Nuna dalam hati.
'Tidak ada cari lain lagi. Kali ini aku harus benar-benar ke rumah mama Dea,' tekad Nuna mengingat Belva benar-benar tidak bisa diajak kerja sama.
Rasa lelah setelah menempuh perjalanan panjang tidak lagi dirasakan Nuna mengingat saat ini ia sangat membutuhkan dukungan.
Nuna baru sadar jika ia benar-benar tidak bisa main-main dengan lelaki seperti Belva. Namun ia tetap tidak akan putus asa karena papa Dion masih bisa diajak untuk berkompromi dengannya.
๐๐๐
__ADS_1
Di sisi lain, Mami Aleya kembali masuk ke dalam kamar Ecca dan duduk di sofa kamar Putrinya sambil membaca-baca majalah yang sengaja dibawa dari kamarnya.
Kali ini ia memutuskan untuk menunggu Ecca sampai bangun demi mengobati rasa penasarannya.
Tiba-tiba ponsel Ecca yang ada di atas nakas pun berdering. Dengan cepat Mami Aleya bergerak untuk mengambil ponsel Ecca dan mengangkat panggilan yang masuk di ponsel Putrinya bungsunya itu.
"Nuna," gumam Mami Aleya saat melihat ternyata Nuna yang saat ini sedang menghubungi ponsel Ecca. "Ngapain dia, telfon Ecca?" gumam Mami Aleya sambil menggeser layar ponsel Ecca dan menjawab panggilan Nuna.
"Lama banget sih, Ca angkat telfon nya!" gertak Nuna diujung panggilan membuat Mami Aleya sangat terkejut mendengarnya.
'Kasar sekali Nuna! Aku fikir dia sudah benar-benar berubah setelah menikah dengan Belva,' batin Mami Aleya.
Namun kali ini Mami Aleya menahan dirinya untuk tidak bersuara agar ia tahu apa tujuan Nuna menelfon Ecca.
"Kamu gak tahu ya kakak sampe jamuran nungguin kamu angkat telfon!"
Mami Aleya menghembuskan nafasnya kesal dan terdengar sampai Nuna.
"Gak perlu sok sokan mendengus kesal deh. Gini, kali ini kamu harus bantu kakak untuk jangan cerita macem-macem sama Mami tentang apapun yang kamu tahu tentang kakak!"
"Kalo sampe Mami tahu semua rahasia kakak, kakak akan langsung bikin perhitungan sama kamu!"
Tut... Tut... Tut...
Nuna langsung mematikan panggilannya secara sepihak tanpa menunggu jawaban dari Ecca.
Sedangkan Mami Aleya yang benar-benar sangat shock dengan apa yang ia dengar pun langsung terjatuh lemas di atas karpet dan menyandarkan tubuhnya di tempat tidur Ecca.
Tanpa terasa air mata Mami Aleya kini terjatuh membasahi pipinya. Namun cepat-cepat dihapusnya saat terdengar Ecca mulai bangun dari tidurnya dan duduk mengggeliat.
"Akhirnya aku bisa tidur nyenyak di kamar kesayanganku sendiri!" gumam Ecca sedikit keras sambil menggerakkan tubuhnya ke kanan dan ke samping.
Setelah itu Ecca tidak langsung turun dari tempat tidurnya melainkan menyandarkan tubuhnya di headbord.
Melihat Ecca suda terbangun, Mami Aleya perlahan-lahan berdiri dan duduk di tepi tempat tidur Ecca.
"Ya Ampun Mami, bikin Ecca kaget aja sih!" teriak Ecca sambil memegang dadanya karena terkejut ada orang yang tiba-tiba datang dari bawah tempat tidurnya.
"Ck, kamu nih ngeliat Mami kayak ngeliat setan aja sih, Ca!" gerutu Mami kesal sambil meletakkan kembali ponsel Ecca ke atas nakas.
"Ya Mami juga sih bikin kaget Ecca duluan. Tapi omong-omong Mami kok bisa ada di kamar Ecca sih? Butuh bantuan Ecca ya?"
Ecca beringsut mendekatkan tubuhnya ke arah maminya duduk. Mami Aleya pun mengangguk sambil memperlihatkan senyumannya.
"Memang kali ini Mami sangat membutuhkan bantuan, sayang. Ecca kira-kira bisa bantu Mami kan?" tanya Mami dengan sangat halus.
"Tentu bisa dong, Mi. Apa sih yang nggak buat Mami?"
__ADS_1
"Sekarang Mami katakan aja yang yang perlu Ecca bantu?"
Selama Ecca mengambil kuliah di Jogja, Mami Aleya sangat jarang sekali mengobrol empat mata dengan Ecca.
Bahkan saat liburan kuliah pun Ecca selalu menyibukkan dirinya untuk belajar dan menghafalkan pasal hukum. Kegigihan Ecca untuk meraih cita-citanya membuat Mami Aleya sama sekali tidak mau mengganggu Ecca.
"Emm, Mami sebenarnya kangen banget pingin ngobrol sama kamu, sayang. Udah lama kan kita gak ngobrol bareng?" tanya Mami Aleya.
Ecca menganggukkan kepalanya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Tidak bisa dipungkiri jika dirinya juga sangat rindu bercerita dengan Maminya sendiri.
Namun, setelah kejadian ia memergoki Nuna yang melakukan hubungan terlarang dengan kekasihnya saat Ecca menginjak SMA, Nuna selalu melarang dirinya untuk menghabiskan waktu berdua saja dengan Mami. Bahkan Nuna juga sering mengancam Ecca.
"Kok Ecca malah nangis sayang?" tanya Mami sambil memeluk Putrinya.
"Ecca juga kangen banget ngobrol sama Mami," ucap Ecca sambil membalas pelukan Maminya dengan sangat erat.
"Yaudah, kalo gitu sore ini kita jalan berdua ke kafe yuk sambil ngobrol-ngobrol. Ecca mandi dulu gih, nanti Mami tunggu di bawah!" ucap Maminya sambil melepaskan pelukannya.
"Kita beneran jalan berdua aja, Mi?" tanya Ecca dengan mata yang berbinar.
"Iya dong sayang, buruan yah. Mami tunggu!"
"Siap Mami!" balas Ecca bergegas turun dari tempat tidurnya dan masuk ke kamar mandi.
๐๐๐
Mohon maaf semuanya kemarin tidak Up ๐๐๐
Kelanjutan ceritanya akan Author lanjutkan secepatnya ๐
Sambil nunggu bab selanjutnya, mampir dulu yuk ke karya bestie Author yang ceritanya keren, seru dan menarik banget.
Judul Novel : Dewi untuk Dewa
Author : Tyatul
Jangan lupa untuk dukung terus karya Author dengan
Like ๐
Comment ๐ฌ
Favorit โค๏ธ
Vote ๐
__ADS_1
Gift ๐นโ๐บ
Dan Tonton iklannya ๐น๐ฝ๏ธ juga ya