
Sore ini Ecca pulang dari firma dijemput oleh papi dan Maminya yang kebetulan melewati firma dimana Ecca bekerja.
Sepanjang perjalanan, Ecca hanya menyandarkan kepalanya di hadrest mobil sambil memejamkan matanya. Wajah lelah Ecca sangat jelas terlihat dan membuat Mami Ecca membiarkan anak bungsunya istirahat meski hanya sebentar di perjalanan pulang.
Sesampainya di Mansion, Ecca langsung masuk ke dalam kamarnya dan berendam di air hangat untuk merilekskan tubuhnya.
Namun seketika ia teringat tentang kakaknya yang hari ini sudah diperbolehkan pulang ke rumah.
"Oh iya, gimana kabar Kak Nuna sama suami barunya ya?" gumam Ecca yang kemudian segera menyudahi mandinya.
Kali ini Ecca mengenakan kaos yang sedikit kebesaran di tubuhnya dan celana pendek di atas lulut. Saat ia keluar dari kamarnya, tanpa sengaja ia berpapasan dengan Joko yang terlihat baru saja tiba di Mansion.
"Mas Joko baru pulang ya?" sapa Ecca dengan ramah membuat Joko menelan ludahnya kasar.
Tawaran Nuna untuk meniduri gadis cantik yang kini berdiri di hadapannya membuat pikirannya mulai melayang kemana-mana.
"Emm, i-i ya!" jawab Joko terbata-bata.
"Yaudah nanti habis mandi nyusul aja ke bawah. Kita makan malam sekeluarga," tukas Ecca yeng berlalu begitu saja dan menuruni anak tangga.
"Waaah, anak mami udah seger banget nih!" puji Mami Aleya yang tampak sibuk menyiapkan makan malam dengan Nuna.
"Udah dong."
"Kak Nuna apa kabar? Udah lebih baik kan?" tanya Ecca kepada kakaknya.
Dengan mantap Nuna menganggukkan kepalanya dan tersenyum. "Udah adekku sayang. Bertemu dengan Mas Joko membuatku cepat pulih dan sehat," tukas Nuna membuat Ecca sedikit merasa curiga.
'Kak Nuna kenapa berubah ya? Bukannya sebelumnya ia menolak mentah-mentah jika Joko adalah suaminya?' tanya Ecca dalam hati.
Tak lama kemudian, Mas Joko turun ke bawah dan bergabung untuk makan malam. Hal mencengangkan yang Ecca dapati lagi adalah ketika Nuna melayani Pak Joko dengan baik di meja makan.
Tidak hanya itu, Nuna juga membuatkan coklat hangat kesukaan Ecca tanpa diminta sama sekali.
"Ini coklat hangat untuk Ecca tersayang." Nuna meletakkan coklat panas di meja makan Ecca.
'Ck, kenapa ini sangat mencurigakan bagiku,' gumam Ecca dalam hati.
"Kakak tau kamu pasti capek banget kan hari ini. Jadi kakak buatin kamu biar capeknya hilang," tukas Nuna.
"Makasih ya kak."
Ecca kini melanjutkan makan malamnya dan membiarkan coklat yang ada di sampingnya agak dingin dulu.
Setelah menghabiskan makanannya, Nuna mengajak Joko untuk segera masuk ke dalam kamar, sedangkan Ecca baru mau menikmati coklat hangat buatan Nuna.
Namun, saat coklatnya baru saja dihabiskan, Ecca merasakan kepalanya sangat berat. Ia pun menaiki anak tangga dengan sedikit terhuyung-huyung. Dan saat ia berhasil meraih handle pintu kamar, Ecca pun langsung masuk dan merebahkan tubuhnya di atas kasur.
☘️☘️☘️
__ADS_1
Satu jam setelah makan malam, Mansion mulai sangat sepi karena semua penghuninya sudah masuk ke dalam kamar masing masing.
Kali ini Nuna dan Joko pun mulai menjalankan rencana mereka yang sudah dibuat secara matang.
"Ingat Joko! Lakukan selembut mungkin dan jangan sampai membangunkan Ecca!" ucap Nuna mengingatkan.
"Efek obat tidurnya akan hilang besok pagi, jadi pua5kan dirimu malam ini dengan Ecca. Lakukan sesuka dan sebanyak yang kamu mau," lanjut Nuna membuat Joko menjadi sangat tidak sabar untuk mendapatkan tubuh gadis cantik yang sedari siang tadi bayangannya sudah menari-nari di pelupuk matanya.
Joko pun menganggukkan kepalanya dan perlahan lahan membuka handle pintu kamar Ecca dan masuk ke dalamnya.
Aroma kopi di kamar Ecca membuat ha5rat Joko semakin membuncah. Terlebih saat melihat orang yang kini sedang terlelap di balik selimut.
Perlahan-lahan Joko berjalan mengendap-endap ke arah ranjang Ecca dan menyibakkan selimut. Kemudian tanpa membuang buang waktu, Joko pun masuk ke dalam selimut.
Jantungnya kini berdegub tidak menentu, namun iming-iming dari Nuna membuat keberaniannya semakin membara. Tangannya pun terulur memeluk Ecca dari belakang.
Tidak hanya itu, kakinya pun mulai berani menindih orang yang kini sedang dipeluknya membuat gemuruh di dada Joko semakin tidak menentu.
'Tunggu!'
'Aku baru sadar jika gadis cantik seperti Ecca memiliki banyak bulu halus di kakinya,' gumam Joko dalam hati.
Meskipun begitu, senjata kepemilikannya tetap berdiri tegap dan tidak sabar untuk memasuki tempat barunya.
Tangannya pun kini mulai berani untuk membelai tepat di dada orang yang kini dipeluknya. Sampai Joko tidak sadar jika gerakannya itu membangunkan orang yang saat ini ia peluk.
Deg!
Kali ini Joko langsung membulatkan matanya saat mengetahui bahwa orang yang berada di dalam selimut Ecca ternyata adalah Tuan Mario.
'Loh, kok aku malah meluk Tuan Mario sih bukannya Ecca!' pekik Joko dalam hati.
Semua bayangannya sejak siang tadi langsung buyar seketika. Perlahan Joko melepaskan pelukannya dengan Tuan Mario dan segera keluar dari kamar Ecca.
Sayangnya gerakan Joko barusan membuat Papi Mario terbangun dan berteriak kencang.
"Siapa kamu?!" gertak papi Mario sambil menyalakan lampu meja yang ada di sampingnya.
Joko yang sudah tidak bisa lari pun hanya menundukkan wajahnya ke bawah.
"Joko!"
"Apa yang kau lakukan disini!" gertak Papi Mario mengingat ini adalah kamar Putrinya.
Satu jam yang lalu,...
Ecca yang sudah sangat mengantuk, akhirnya membuka pintu kamar Maminya dan langsung terlelap di ranjang Mami Aleya.
Karena Ecca Sudah sangat lelap, akhirnya Papi Mario mengalah dan memutuskan untuk tidur di kamar Ecca.
__ADS_1
"Apa yang kan kau lakukan di dalam kamar putriku, Joko?!" tanya Pak Mario sangat marah.
"Maaf Tuan, saya salah kamar," jawab Joko yang kini tidak berani memandang wajah Mario.
"Meskipun kau tidak salah kamar, kau juga dilarang untuk meniduri putriku Joko!" gertak Papi Mario yang sudah tidak bisa membendung amarahnya.
Dengan geram Papi Mario pun menyeret Joko untuk keluar dari kamar dan mulai memukul rahang Joko dengan keras.
"Ini adalah hukuman untukmu yang sudah berani memasuki kamar anak Gadis ku!"
Bugh! Bugh!
Dua bogem mentah papi Mario mendarat sempurna di rahang kanan dan kiri Joko.
Mendengar keramaian di depan kamarnya, membuat Nuna segera keluar dari kamarnya.
Betapa kagetnya ia saat melihat kondisi Joko yang penuh dengan luka lebam di wajahnya. Bahkan ujung bibirnya pun mulai mengulurkan darah.
"Apa yang sudah terjadi papi?" tanya Nuna yang langsung memeriksa keadaan Joko.
"Tanyakan pada suamimu sendiri!" gertak Papi Mario sambil menunjuk ke arah Joko.
☘️☘️☘️
Tinggal 1 bab lagi yaaa untuk Author up hari ini.
Sambil menunggu kelanjutannya, mampir yuk ke Novel bestie aku yang ceritanya sangat seru dan menarik banget looh.
Nama Pena : Nirwana Asri
Judul Karya : Dikira Melarat Ternyata Konglomerat
Jangan lupa untuk dukung terus karya Author dengan
Rate 5 bintang 🌟🌟🌟🌟🌟
Like 👍
Comment 💬
Subscribe ❤️
Vote 💞
Gift 🌹☕💺
Dan Tonton iklannya 📹📽️ juga ya
__ADS_1