
"Tapi dia sudah hampir merusak dan mencelakai Wanita ku, Papa!" balas Belva membuat Papa Dion kini tercengang.
"Apa?!"
Keterkejutan papanya kini membuat Belva sadar jika ia sudah membuka rahasianya sendiri selama ini.
"Siapa yang kau katakan sebagai wanita mu, Belva?!" tanya Papa Dion yang masih sangat terkejut dengan pengakuan putranya.
Belva pun kini hanya terdiam dan mengusap wajahnya kasar. Ia pun memilih menjauh dari tempat dimana papanya berdiri, kemudian mengambil air mineral dan meneguk nya sampai habis.
"Ecca?!" tebak papa Dion menyebutkan nama wanita yang sudah berhasil membuat Belva lupa diri.
"Iya pa."
Jawaban Belva kali ini membuat papa Dion membuang nafasnya kasar.
"Huuuh! Masalah yang satu belum juga selesai, sudah ada lagi masalah yang baru," gerutu Papa Dion sambil mengacak rambutnya sendiri.
"Bagaimana dengan masalah Nuna?" tanya Belva yang mulai berjalan ke arah papanya.
"Anak gila itu tiba-tiba merasakan pusing saat melihat papa. Dia bilang seperti mengingat papa," jawab Papa Dion yang mulai kewalahan dengan sikap Nuna.
"Tidak perlu dibuat pusing, pa. Aku yakin dia hanya berpura-pura untuk memancingku agar menemuinya," tukas Belva.
"Aku sudah curiga jika ia tidak benar-benar hilang ingatan. Bahkan dia menjadikan kebohongan itu sebagai tameng untuk dirinya sendiri yang sudah sangat terpojok."
"Lalu apa rencanamu untuk menghadapi masalah ini?" tanya Papa Dion.
"Apa kamu tidak sadar jika Nuna sedang berencana menyeret kasusnya saat ini ke pengadilan agama? Jika masalah ini masuk dalam daftar antrian di sana, sudah pasti kebohongan tentang pernikahan Nuna dengan Joko akan terbongkar, Belva."
"Terlebih jika Nuna merasa tertekan atas pernikahannya dengan Joko, sudah tentu, izin legal pernikahan mereka habis masa berlakunya dan tidak lagi diakui," gumam Papa Dion mulai gusar.
Kekhawatiran papa Dion kali ini juga dirasakan oleh Belva. Namun kemudian ia pun teringat akan suatu hal.
"Nuna bukan orang yang pintar untuk merencanakan hal itu dengan baik, pa. Sebelum ia melaporkan gugatannya ke pengadilan agama, aku akan lebih dulu menguak kebohongannya jika ia sebenarnya tidak hilang ingatan."
Penjelasan Belva kali ini membuat Papa Dion sedikit merasa tenang. Tak lama kemudian, Pak Joko pun datang bersama Dirga setelah luka bekas pukulan Belva ditangani oleh dokter.
"Alasan apa yang kau katakan kepada dokter saat ia menanyakan luka lebam di wajah pria br3ngs3k ini?" tanya Belva saat menerima kwitansi pembayaran cek dokter yang diserahkan oleh Dirga.
"Seperti biasa, luka ini disebabkan oleh 2 pria yang sedang memperrebutkan seorang wanita yang bernama Nuna," jawab Dirga sedikit meledek Belva.
"Enak aja! Gak sudi aku ngerebutin makanan busuk kayak gituh!" balas Belva sambil memberikan uang kepada Dirga dan menyimpan kwitansi nya.
Pak Dion kali ini mencoba mengajak bicara Pak Joko yang masih tampak babak belur. Kali ini ia mengancam Joko agar mau berkata dengan jujur.
__ADS_1
Akhirnya mau tidak mau pak Joko pun mengatakan dengan jujur jika kali ini ia diperintahkan oleh Nuna karena dijanjikan hadiah sebesar 100 juta rupiah.
"Dasar b0d0h!" umpat Belva dengan kasar. "Cewek kayak Nuna itu gak punya duit sama sekali! Mana mungkin dia punya uang sebanyak itu!"
Penjelasan Belva kali ini membuat Pak Joko sadar jika ia sudah di bohongi oleh Nuna. Ia pun tersungkur di kaki Belva dan meminta maaf dengan ketakutan.
"Maafkan saya, Pak Belva. Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi!" ucap Pak Joko memohon dengan sungguh-sungguh.
"Aku akan Memberikanmu satu kesempatan. Jika kamu sama sekali tidak menggunakan kesempatan ini dengan baik, kau akan aku tuntut untuk mengembalikan uang yang sudah aku berikan untuk biaya operasi istrimu."
"Dan jika sampai waktu yang ditentukan, ternyata kamu tidak bisa membayarnya. Maka siap-siaplah untuk menghabiskan hidupmu di dalam penjara," tukas Belva dengan tegas.
Tadinya Belva sudah tidak mau memberikan Pak Joko kesempatan lagi. Jauh di dalam lubuk hatinya ia sangat mengkhawatirkan Ecca.
Terlebih jika Nuna masih tinggal di Mansion orang tuanya.
"Serius, kamu mau kasih kesempatan sama Pak Joko?" tanya Papa Dion yang langsung diangguki oleh Belva.
"Kamu gak takut kalo dia masih curi-curi kesempatan ke Ecca?" tanya papa Dion yang kali ini terdengar seperti meledek Belva.
"Tentu saja tidak, karena setelah ini aku akan memberi perintah Ecca untuk segera merapat ke Jogja untuk bimbingan skripsi," tukas Belva pelan.
"Ke Jogja?" tanya Papa Dion dan Belva pun mengangguk.
"Bimbingan Skripsi?"
"Jadi saat kita makan di rumah sakit itu kamu sama Ecca lagi chattingan dong?" tebak Papa Dion mengingat Ecca saat itu menjawab jika ia sedang membalas pesan dari dosen mudanya.
Kali ini Belva hanya nyengir kuda. "Papa gak marah kan?" tanya Belva dan papa Dion hanya mengedikkan bahunya.
"Entahlah, papa jadi pusing," jawabnya.
Padahal jauh di dalam lubuk hatinya papa Dion merasa sangat lega.
'Hemm, aku gak nyangka jika kali ini keinginan istriku untuk mempersunting Ecca menjadi menantunya akan terkabul.'
'Sepertinya jika sepulang dari kantor aku memberikan surprise kepada Dea, dia pasti akan memberikan malam yang panjang untukku,' batin papa Dion sambil menyunggingkan senyumnya.
"Pa, kok malah senyam senyum sendiri sih," tepuk Belva di bahu papanya dan seketika membuyarkan lamunan papanya.
"Ayo, kita balik lagi untuk mediasi masalah Joko sama Nuna!" ajak Belva.
***
Pak Joko yang sudah lebih dulu menuju ruang mediasi bersama dengan Dirga pun kini sedang duduk berdampingan dengan Nuna.
__ADS_1
Sedangkan Ecca kali ini sedikit bergidik ngeri melihat wajah Pak Joko yang penuh dengan luka lebam.
"Pak Dirga, itu wajah Pak Joko kenapa bisa babak belur gituh?" tanya Ecca dengan berbisik.
"Baru adu kekuatan sama Jagoan kamu," balas Dirga pelan membuat Ecca mengerutkan dahinya.
"Serius?"
"Sadis amat?" celetuk Ecca pelan namun terdengar jelas di telinga Belva yang baru saja masuk ke dalam ruangan mediasi.
"Apanya yang sadis?" tanya Belva.
Ecca buru-buru menggelengkan kepalanya dan menggerakkan kedua telapak tangannya.,"Eh, gak ada kok pak. Bukan apa-apa," jawab Ecca.
Belva pun kemudian segera menuju ke kursi yang ada di depan Pak Joko, sedangkan Pak Dion kini duduk di kursi yang berhadapan dengan Nuna.
Melihat wajah Belva yang sudah sangat ia rindukan kehadirannya, membuat Nuna tidak bisa mengontrol dirinya sendiri.
Tiba-tiba ia pun berdiri dari kursinya dan berjalan ke arah Belva. Namun saat Nuna merentangkan tangannya hendak memeluk Belva, dengan cepat Belva menarik kursi yang didudukinya ke bekakang menghindari pelukan Nuna dan menyenangkan Nuna jatu tersungkur.
Untung saja kepalanya tidak mengenai tepi meja. Tapi justru dengan sengaja Nuna mengantukkan kepalanya ke tepi meja dengan keras sampai keningnya mengucurkan darah segar.
"Awwwh!" pekik Nuna dan tak lama kemudian ia tidak sadarkan diri.
☘️☘️☘️
Sambil menunggu kelanjutannya, mampir dulu yuk ke Novel bestie aku. Dijamin cerita menarik dan seru banget.
Nama pena : Mom AL
Judul Novel : Cintai Aku, Istriku.
Jangan lupa untuk dukung terus karya Author dengan
Rate 5 bintang 🌟🌟🌟🌟🌟
Like 👍
Comment 💬
Subscribe ❤️
Vote 💞
__ADS_1
Gift 🌹☕💺
Dan Tonton iklannya 📹📽️ juga ya