Kurebut Suami Kakakku

Kurebut Suami Kakakku
Rumah Sakit


__ADS_3

Malam semakin larut, Ecca pun memutuskan untuk masuk ke apartemen lebih dahulu agar kakaknya tidak mencurigainya dengan Belva.


Awalnya Ecca mengira kakaknya sedang menunggunya di depan televisi, namun ternyata dugaannya salah.


'Kak Nuna berarti udah istirahat dong di kamar,' batin Ecca saat melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan hampir jam 12 malam.


Ecca pun memutuskan langsung ke kamar. Namun, saat pintu kamarnya sudah terbuka, mata Ecca langsung terbelalak sempurna. Terlihat Nuna tidak sadarkan kan diri di atas lantai dan dengan genangan darah segar yang terus mengalir di kakinya.


Tidak hanya itu, bau anyir darah juga sudah memenuhi kamar saat ini.


"Kak Nuna!" pekik Ecca yang langsung menghambur mengangkat kepala Nuna dan memangkunya.


"Kenapa bisa seperti ini kak?" tanya Ecca sambil menepuk-nepuk pipi Nuna pelan dan mengecek denyut nadi Nuna.


"Mas Belva!"


"Maaas!"


"Tolooong kak Nunaa!"


Ecca terus berteriak sambil menggoyangkan tubuh Nuna dan berharap kakaknya cepat sadar. Belva yang mendengar teriakan Ecca pun langsung masuk ke dalam kamar Ecca.


Jika Ecca tadi sangat terkejut melihat keadaan Nuna yang sangat mengkhawatirkan, kali ini Belva tampak santai dan biasa saja.


"Aku akan memanggil ambbulan untuk segera datang," ucap Belva yang kemudian berbalik dan mendial nomor ambbulan di rumah sakit terdekat.


Setelah melakukan panggilan, Belva baru kembali lagi untuk masuk ke kamar.


"Mas, apa gak seharusnya di gendong aja dan segera kita bawa ke rumah sakit?" tanya Ecca yang benar-benar diliputi rasa khawatir.


Belva tidak langsung menjawab pertanyaan Ecca dan mencoba mengecek denyut nadi Nuna.


"Ini belum terlalu kritis, Ca. Kita tunggu saja petugas rumah sakit datang," jelas Belva yang kemudian mengambilkan bantal untuk Nuna.


"Ganti dulu pakaianmu yang sudah terkena darah dan ganjal dulu saja kepala Nuna dengan bantal!" perintah Belva dan Ecca menurut begitu saja.


Meski Nuna tampak bersimbah darah seperti itu, Belva tetap saja nampak enggan bersimpati dengan Nuna. Meski hanya dengan sedikit rasa peduli dengan mengangkat tubuh Nuna dan membawanya ke rumah sakit.


Tak lama kemudian pihak dari rumah sakit datang dan langsung memindahkan tubuh Nuna di atas brankar.


"Anda ingin ikut ambulans atau..."


"Saya akan segera menyusul naik mobil," jawab Belva atas tawaran dari salah satu petugas dari rumah sakit.

__ADS_1


Ecca yang sudah mengganti pakaiannya secara kilat pun langsung mengamit lengan Belva untuk segera menyusul kakaknya.


"Ayoo, Bee! Aku takut jika terjadi sesuatu dengan Kak Nuna dan juga bayi yang ada di dalam kandungannya."


"Oke, kita akan pergi setelah cleaning service datang," jawab Belva.


Setelah cleaning service datang dan membersihkan kamar Ecca, Belva dan juga Ecca pun langsung menuju ke rumah sakit.


Sepanjang jalan menuju ke rumah sakit, Ecca terus saja me®em@§ jari-jari tangannya karena begitu khawatir dengan keadaan Nuna.


"Tidak perlu terlalu cemas, sayang. Aku yakin Nuna pasti akan baik-bak saja," ucap Belva sambil mengusap bahu kanan Ecca agar sedikit membuat Ecca tenang.


"Bagaimana aku tidak cemas, Bee? Kak Nuna benar-benar mengeluarkan darah yang sangat banyak."


"Bagaimana jika nanti bayinya tidak tertolong?" tanya Ecca.


"Aku paham jika Bee sama sekali tidak suka dengan Kak Nuna, tapi kali ini keadaannya berbeda, Bee!"


"Terlambat sedikit saja, kita akan kehilangan 2 nyawa!"


Kekhawatiran Ecca kali ini masih saja ditimpali Belva dengan sangat santai.


"Itu tidak akan mungkin terjadi, Ecca. Percayalah denganku!" Belva kali ini menggenggam tangan Ecca.


"Nuna dan juga calon bayinya pasti akan baik-baik saja!"


☘️☘️☘️


Sesampainya di rumah sakit, Belva dan juga Ecca langsung di arahkan menuju ke ruang rawat inap kelas 1 yang sebelumnya sudah dipesan Belva via telfon.


Kali ini Belva sama sekali tidak mau membuang-buang uangnya hanya untuk memesankan ruang VIP untuk Nuna.


Nuna yang baru saja di beri tindakan, kini sedang beristirahat di dalam kamar yang biasanya di isi oleh 2 orang pasien. Hanya saja ranjang yang satunya saat ini masih kosong.


Ecca langsung duduk di samping kakaknya dan menggenggam tangan Nuna. "Aku harap kak Nuna baik-bak saja," ucap Ecca lirih.


Tak lama kemudian, dokter jaga pun masuk ke dalam ruangan.


"Apa saya bisa berbicara dengan suami pasien?" tanya Dokter tersebut yang langsung diangguki kepala oleh Belva.


Belva pun mengikuti langkah dokter tersebut dan keduanya kini masuk ke dalam ruangan dokter untuk membicarakan sesuatu yang berkaitan dengan kondisi Nuna.


"Untung anda cepat membawa istri anda ke rumah sakit, Pak."

__ADS_1


Baru satu kalimat yang keluar dari mulut dokter tersebut, Belva langsung mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.


"Sebelumnya, kita berkenalan lebih dulu dokter agar kita berdua saling mengenal. Perkenalkan nama saya Belva Quiero, konsultan hukum di rumah sakit ini."


Dokter Joy kini terhenyak saat mengetahui siapa yang saat ini ada di hadapannya. Dia tidak akan bisa berkilah sedikit pun dan harus menyampaikan hal yang sebenarnya terjadi tentang pasien yang bernama Nuna itu kepada Belva.


"Oh, Pak Belva. Suatu kehormatan bagi saya bisa bertemu dengan anda," balas Dokter tersebut sambil menyambut uluran tangan dari Belva.


"Kenalkan, saya dokter Joy."


"Emmmh, kondisi istri anda dan juga bayi yang sedang dikandungnya sangat baik, Pak Belva. Tidak ada sesuatu hal yang serius."


"Bahkan besok, saya pastikan bisa segera kembali pulang," jelas Dokter Joy.


"Terima kasih sudah memberitahukan kabar yang baik kepada saya Dokter Joy," balas Belva.


"Tapi kira-kira aapa ada sesuatu hal lagi yang ingin anda sampaikan kepada saya?" tanya Belva.


"Emmm, a - a - da Pak." jawab Dokter Joy sedikit terbata-bata.


"Tidak perlu takut, Dokter. Sampaikan saja apa yang ingin anda sampaikan terhadap saya."


"Sebenarnya yang bermasalah dalam diri istri anda adalah psikisnya pak. Istri anda bisa mengalami baby blues jika selama kehamilannya kurang akan kasih sayang dari orang di sekitarnya terutama suami."


"Begini Dokter Joy, bisa tolong beritahu kepada saya apa penyebab keluarnya darah dari rahim Nuna?"


"Saya rasa keluarnya bukan karena masalah psikis Nuna yang terganggu bukan?"


Dokter Joy kini terdiam.


"Saya mengetahui banyak hal tentang apa yang dilakukan Nuna, Dokter. Jadi, lebih baik anda jelaskan secara gamblang dari pada penjelasan itu harus keluar dari mulut saya!" tantang Belva membuat Dokter Joy panas dingin menghadapi konsultan hukum nomor 1 di rumah sakit ini.


☘️☘️☘️


Jangan lupa untuk dukung terus karya Author dengan


Like 👍


Comment 💬


Favorit ❤️


Vote 💞

__ADS_1


Gift 🌹☕💺


Dan Tonton iklannya 📹📽️ juga ya


__ADS_2