Kurebut Suami Kakakku

Kurebut Suami Kakakku
Ekspektasi terlalu tinggi


__ADS_3

"Kak Nuna mau ngapain?" tanya Ecca yang baru saja datang dan terkejut melihat Nuna yang sudah siap memukul seorang pria yang ada di hadapan kakaknya.


"Akhirnya kamu dateng juga, Ecca. Pria bodoh ini sudah mengejek kakak dan membuat kakak marah pagi ini!" jelas Nuna dengan mata yang berkaca-kaca.


Ecca langsung memeluk kakaknya dan membawanya kembali ke atas ranjang.


"Udah kak, gak perlu dibikin emosi. Gak baik buat janin yang ada di perut kakak," ucap Ecca sambil mengusap punggung kakaknya agar lebih tenang.


"Kamu kenapa semalem gak nungguin kakak di sini?" tanya Nuna kemudian.


"Ya kan aku belum bawa karpet kak. Maaf yaa," balas Ecca.


"Makan dulu yuk, biar Ecca suapin. Abis itu minum obatnya. Bentar lagi akan ada kunjungan dokter kan?"


Tangan Ecca tergerak mengambil sarapan Nuna yang sudah disiapkan di atas nakas dan siap untuk menyuapi kakaknya.


"Ponsel kakak sama kamu gak, Ca? Kakak pingin pindah ke ruang VIP, nanti untuk biayanya mau kakak bayar sendiri pake M-Banking."


"Aku gak bawa ponsel kakak tuh, di kamar juga gak ada deh kayaknya," balas Ecca yng memang tidak melihat ponsel Nuna sama sekali.


'Kurang ajar banget sih Belva! Bukannya ponselnya di titipin ke Ecca, ini malah masih dipegang sendiri.' gerutu Nuna kesal.


Tak lama kemudian Belva datang dan menyerahkan ponsel Nuna.


"Nih ponsel kamu, semalam Dokter Joy yang kasihin ke aku."


Mendengar Belva berbicara yang sangat santun dengannya, membuat Nuna melupakan kekesalannya barusan.


'Jangan jangan Belva sengaja pegang ponsel aku untuk ngecek siapa yang akan menghubungi aku! Oh My God, ternyata diem diem Belva kepo juga ya sama aku!' gumam Nuna dalam hati.


"Sayang, aku mau pindah ke kamar VIP. Aku gak mau dirawat di sini!" rengek Nuna kemudian.


"Tapi masalahnya aku gak ada uang untuk menyewakan kamar VIP untukmu, Nuna."


Nuna kembali menggerutu dan merebut ponselnya dari tangan Belva.


"Biar aku sendiri yang akan membayar sewanya!" ucap Nuna sambil kembali memencet tombol untuk memanggil perawat.


Perawat yang tadi kembali datangkan membawa berkas yang harus Nuna tanda tangani untuk perpindahan kamar inap yang ia inginkan.


Akhirnya setelah menghabiskan sarapannya, Nuna pun pindah di kamar yang ia inginkan. Sedangkan Belva sudah berangkat menuju ke firma saat Nuna masih menikmati sarapannya.

__ADS_1


"Nanti malam kamu temani kakak di sini ya, Ca! Soalnya Belva baru kasih kabar sama kakak kalo nanti malam diaa harus lembur," ucap Nuna berbohong.


"Oke, Kak."


"Kamu tahu gak? Sesibuk-sibuknya Belva, dia selalu kirim pesan ke kakak. Meski kakak sedang mengandung bayi yang bukan benih darinya, kakak rasa Belva akan menyayangi bayi ini seperti anaknya sendiri!" ucap Nuna sambil mengelus perutnya yang semakin membuncit.


Cerita Nuna barusan membuat Ecca kembali terbakar rasa cemburu.


"Kemarin malem kamu keluar kemana sih, Ca?" tanya Nuna.


"Cuma nyari vitamin aja kak," jawab Ecca singkat.


"Waktu kamu pergi kemarin, kakak sama Belva melakukan hu bu ngan suami istri untuk pertama kalinya. Dan kamu tahu gak, Belva langsung angkat tubuh kakak ke atas sofa."


Ecca menelan ludahnya kasar saat mendengar cerita dari Nuna.


"Ini serius kak?" tanya Ecca spontanitas.


"Ck, masa kakak bohong sih, Ca. Orang Belva langsung main-main di sini nih pake mulutnya." Ecca menunjuk ke arah da danya yang sedikit ia bu sung kan ke depan.


"Mungkin karena pertama kali nya buat Belva, ia sampai gempur kakak 3 kali dalam satu waktu. Makanya kakak sampe pendarahan. Untung aja bayinya gak kenapa - napa disini," jelas Nuna sambil mengusap perutnya.


Cerita Nuna barusan membuat Ecca bergidik ngeri. 'Jadi kak Nuna ganti dress setelah digempur sama Mas Belva,' batin Ecca mengingat Belva mencurigai dress yang dipakai Nuna semalam bukanlah pakaian yang sebelumnya dikenakan kakaknya.


'Tapi Mas Belva itu cuek banget saat liat kak Nuna pendarahan. Seharusnya kalau mereka baru saja melakukan, tentunya Mas Belva panik, bukan malah cuek.'


'Apa Mas Belva bersikap cuek karena ada aku?'


Batin Ecca kini berkecamuk untuk memastikan kejadian yang sebenarnya.


"Diiih, kakak nih. Kek gitu malah diceritain!" tukas Ecca kesal.


"Tapi enak banget loh, Ca. Beneran deh. Mendingan kamu cepet cari pacar deh biar bisa ngerasain yang enak-enak daripada mupeng gituh!"


"Ogah banget! Yang ada ntar bunting duluan lagi kayak kak Nuna!" tukas Ecca pedas.


"Pedes amat omongan kamu nih. Gak usah sok jual mahal deh, Ca. Ntar sekali ngerasain, kakak jamin kamu bakal ke ta gi han."


Dengan kesal Ecca berdiri dan berpindah tempat menuju ke sofa.


"Udah deh, gak usah bahas hal yang kaya gini! Bikin ge li!" ucap Ecca gusar dan membuat Nuna tertawa senang.

__ADS_1


'Emang enak, dipanas-panasin! Salah siapa semalem pake ngebiarin aku sendirian di rumah sakit,' batin Nuna.


Tak lama kemudian Dokter Joy datang dan memeriksa kondisi Nuna.


"Kondisi anda sudah membaik, dan hari ini anda bisa kembali ke rumah!" jelas Dokter Joy membuat Nuna terkejut dan membelalakkan matanya.


"Apa?! Bagaimana mungkin keadaanku baik - baik saja jika saat ini perut terasa sangat sakit?!" protes Nuna yang jauh dari ekspektasi yang ia bayangkan sebelumnya.


Awalnya ia ingin memberitahukan orang tua dan mertuanya jika ia masuk rumah Sakit karena pendarahan.


Jika mereka semua datang ke Jogja, udah tentu Belva akan sibuk mengurus dirinya. Namun ternyata dokter malah mengatakan dirinya bisa segera pulang.


"Saya sudah meracik kan obat untuk anda konsumsi. Nanti bisa di tebus di apotek rumah sakit. Sakit perut tersebut memang biasa terjadi terhadap ibu hamil saat merasa +e9an9," jelas Dokter Joy panjang lebar.


"Tapi, Dokter! Saya masih mau dirawat di sini. Lagi pula saya baru saja membayar Down Paymentnya sebesar 3 juta," balas Nuna yang tidak terima jika ia harus cepat pulang dari rumah sakit.


"Mohon maaf Nyonya, untuk masalah perpindahan kamar sesuai dengan permintaan anda, memang harus membayar sebesar 3 juta. Dan kami sudah tidak ada sangkut pautnya dengan masalah tersebut."


Jelas Dokter Joy.


Setelah menyampaikan berita kepulangan Nuna, Nuna justru semakin gusar karena yang ia inginkan belum ia dapatkan sama sekali.


"Aku akan pulang asal uangku dikembalikan!"


"Untuk masalah itu anda bisa konsultasikan dengan bagian administrasi Rumah Sakit," jelas Dokter Joy sambil meninggalkan ruangan Nuna.


"Aarrrggghhh! Kenapa jadinya malah jadi rancu seperti ini?!" Teriak Nuna sampai air matanya mengalir membasahi pipinya.


"Kakak baik-baik aja kan?" tanya Ecca dengan raut wajah yang sedikit terlihat panik.


"Aku tidak mau pulang dulu, Ca. Aku masih ingin di sini!" rengek Nuna sambil menangkupkan kedua tangannya di wajahnya.


"Dimana-mana, orang kalo dikasih kabar boleh pulang dari rumah sakit itu seneng kak, Ini kenapa menurut aku aneh banget sih, sampai nangis kayak gini," celetuk Ecca yang kini merasa jengah dengan sikap Nuna.


🍒🍒🍒


Sambil nunggu kelanjutannya, mampir juga yuk ke Novel bestie aku. Dijamin ceritanya keren dan seru banget looh.


Judulnya : Merebut Kembali Hidayah Yang Terhempas


Author : Alinatasya21

__ADS_1



__ADS_2