Kurebut Suami Kakakku

Kurebut Suami Kakakku
Secangkir Kopi


__ADS_3

Ecca masuk ke dalam ruangan Belva dan langsung duduk di dekat rak buku yang terletak di pojok ruangan Belva. Tanpa menunggu lama, Ecca langsung fokus menatap layar laptopnya dan mulai mengerjakan skripsinya.


Sedangkan Belva yang masih berkutat dengan beberapa berkas permasalahan client sesekali melirik ke arah Ecca yang tidak bergeming sedikit pun.


'Cantik, cerdas, energik, dan aku rasa Caca multi talenta. Dia pandai memasak, mengurus rumah tangga dan pastinya ia akan pintar mengurus anaknya kelak,' gumam Belva dalam hati sambil terus memperhatikan Ecca dari tempat duduknya.


Ecca yang merasa diperhatikan Belva sedari tadi, mulai mengangkat kepalanya dan menatap ke arah Belva.


"Pak Belva," panggil Ecca membuyarkan lamunan Belva.


"Iya, ada apa?" tanya Belva sambil menutupi rasa gugup nya.


"Saya mau ke pantry, apa bapak mau saya buatkan kopi?" tawar Ecca yang sudah mulai beranjak dari tempat duduknya.


"Boleh saja jika tidak merepotkan," jawab Belva yang kembali fokus mengecek berkas di atas mejanya.


Ecca pun langsung menuju ke pantry dan membuatkan minuman untuk Belva. Kali ini Ecca membuatkan kopi dengan cream dan juga sedikit susu untuk Belva.


Sedangkan Ecca membuat teh dengan aroma mint untuknya dan juga mengambil kudapan untuk mereka.


Setelah semuanya siap, Ecca pun membawanya masuk ke dalam ruangan Belva dan meletakkan minuman milik Belva di meja yang dekat dengan sofa agar tidak membasahi berkas penting milik Belva.


Melihat kedatangan Ecca, Belva pun beranjak dari tempat duduknya dan mendekat ke arah Ecca.


"Mau kemana, Ca?" tanya Belva saat Ecca hendak kembali ke depan laptopnya.


"Mau ngelanjutin ngerjain skripsi pak," jawab Ecca sambil membawa teh mint miliknya.


"Nanti aja, Ca. Mendingan kamu sekarang temenin duduk di sini," pinta Belva.


Awalnya Ecca ragu untuk menuruti permintaan Belva. Namun mengingat kali ini ia sedang mencoba trik yang kedua, akhirnya Ecca setuju untuk menemani Belva duduk di sofa.


Perlahan Ecca menikmati tehnya dengan menghirup aromanya terlebih dahulu dan kemudian me nye sap nya sedikit demi sedikit. Cara Ecca menikmati tehnya membuat Belva menelan ludahnya kasar.


"Caca," panggil Belva pelan sambil mulai menikmati kopinya.


"Iya pak,"


"Kopi buatan kamu agak sedikit berbeda. Ini kamu buat di pantry atau pesan di luar?" tanya Belva kemudian setelah merasakan kenikmatan kopi buatan Ecca.


"Oh, itu buat sendiri pak," jawab Ecca. "Kurang enak ya?"


Pertanyaan Ecca langsung dijawab dengan gelengan kepala oleh Belva.


"It's so delicious, Ca. Kamu benar-benar hebat bisa memanjakan lidahku kali ini," balas Belva kembali menikmati kopi buatan Ecca.


Mendengar jawaban Belva barusan membuat hati Ecca bersorak gembira.


'Mas Belva menikmati kopiku!' teriak Ecca dalam hati.


'Yes! Sepertinya Mas Belva akan ketagihan dengan kopi buatanku.'


'Tenang saja mas, nanti aku akan buatkan yang lebih nikmat lagi,' batin Ecca yang tanpa dia sadari pipinya sudah berubah warna karena sedikit merona.

__ADS_1


Sedangkan Belva yang mencuri pandang ke arah Ecca pun engulum senyumnya melihat pipi Ecca memerah.


'Apa pujianku barusan membuat pipinya semerah itu?' tanya Belva dalam hati.


'Ya Ampun Caca, kamu ternyata sangat menggemaskan. Lain kali kamu harus benar-benar memanjakan lidahku dengan cara yang lain,' batin Belva.


Melihat Belva terus memandang ke arahnya membuat Ecca sedikit salah tingkah.


"Maaf pak, Cream nya tertinggal di ujung bibir Pak Belva," ucap Ecca melihat mulut Belva sedikit belepotan.


Belva pun mengambil tisue di atas meja dan langsung menyerahkan kepada Ecca.


"Bisa tolong untuk bersihkan?" pinta Belva.


Ecca sedikit tergagap menerima helaian tisue di tangan Belva. Jantungnya langsung berdegub kencang saat tangannya terulur membersihkan bekas Cream yang tertinggal di mulut Belva.


Terlebih saat netra keduanya saling bertaut membuat nafas Ecca terasa begitu sesak.


'Mas Belva beneran cakep banget. Aku gak sanggup kalo terus terusan di dekat Mas Belva kayak gini. Yang ada aku beneran baper,' batin Ecca bergemuruh.


'Trus kalo ternyata Mas Belva tidak tergoda dengan aku, gimana?'


'Setahu aku, Mas Belva adalah orang yang berprinsip. Aku yakin dia pasti hanya menganggap sebagai seorang adik,' gumam Ecca yang kemudian menjauhkan tangannya dari bibir Belva.


'Ck, Amel! Sepertinya aku harus menyerah untuk menjadi pelakor dari pada aku makin merasa sakit hati nantinya,' batin Ecca.


"Makasih ya Ca," ucap Belva yang hanya dijawab dengan deheman dan anggukan kepala Ecca.


Sedangkan Belva juga kembali ke meja kerjanya untuk meneruskan pekerjaannya tadi.


'Aku benar-benar sangat nyaman berada di samping Caca. Tapi aku tidak mungkin memilikinya karena saat ini aku Masih harus mencari cara untuk mengambil bukti yang ada di tangan Nuna terkait dengan gagalnya bisnis mama,'


Belva menarik nafasnya panjang dan kemudian menghembuskannya perlahan.


Tak berapa lama kemudian, pintu ruangan Belva terbuka dan terlihat sosok Nuna di pintu ruangan.


Nuna yang baru masuk ke dalam ruangan Belva sedikit terkejut mendapati Ecca yang berada satu ruangan dengan suaminya.


Meskipun Ecca berada di pojok ruang baca Belva, tetap saja mereka berada di dalam ruangan yang sama.


"Hai sayang," sapa Nuna yang sengaja mengeraskan suaranya agar terdengar oleh Ecca.


"Aku bawain makan siang nih buat kita berdua," lanjut Nuna lagi sambil menekan kalimatnya.


"Tapi aku masih sangat kenyang, baru saja menikmati kopi dan menghabiskan kudapan di sana," jawab Belva menunjuk ke arah meja yang ada di dekat sofa.


Nuna hanya tersenyum saat melihat ada dua cangkir di atas meja.


"Kok cangkir nya ada dua?" tanya Nuna sambil meletakkan bekal makan siangnya di atas meja.


"Kamu barusan menikmati kopi bareng Ecca ya?"


Mendengar namanya disebut oleh kakaknya, membuat Ecca mengangkat kepalanya dan menanti jawaban dari Belva.

__ADS_1


"Iya," jawab Belva datar. "Kebetulan Ecca tadi yang buatin kopinya," lanjut Belva lagi tanpa mengalihkan konsentrasinya yang masih fokus dengan berkas yang ada di atas mejanya.


"Oooh," jawab Nuna singkat yang kemudian berjalan mendekat ke arah adiknya.


"Ecca lagi sibuk apa?" tanya Nuna yang kini sudah duduk di samping Ecca.


"Ngerjain skripsi nih, bab 3 udah hampir selesai," jawab Ecca.


"Aku ada meeting dengan konselor hukum, kamu bisa makan siang terlebih dahulu jika lapar!"


Terdengar suara Belva yang tak lama kemudian meninggalkan ruangannya. Kini tinggal Ecca dan Nuna saja yang ada di dalam ruangan Belva.


Tepat saat Belva sudah tidak terlihat, Nuna langsung menggertak Ecca yang masih fokus dengan skripsinya.


"Kamu sengaja ya goda suami kakak di kantor?!"


Gertakan Nuna membuat Ecca menutup laptopnya dan berbalik memandang kakaknya.


"Apa maksud kakak?!" tanya Ecca balas mengertak kakaknya.


"Bukannya ini semua usul kakak? meminta aku untuk membuat penelitian di Firma Mas Belva dan tinggal bersama dengan kakak?!"


Plak!


Satu tamparan keras mendarat di pipi Ecca.


"Sejak kapan kamu berani bentak kakak kayak gini?!" pekik Nuna geram saat mendapati Ecca kembali berteriak di depannya.


Setelah tadi pagi Nuna mendapati Ecca berani menolak perintahnya untuk memasak lagi, kali ini Nuna justru dibentak oleh Ecca yang nota benenya selalu bersikap lembut dan diam di depannya.


"Kakak hanya membantumu agar lebih mudah dan cepat meraih kelulusan, Ecca," ucap Nuna.


"Kakak tidak pernah meminta mu memberi perhatian khusus untuk Belva, apalagi sampai membuatkan nya minuman dan menyiapkan kudapan untuknya," lanjutnya lagi dengan menatap Ecca tajam.


"Apa kamu sedang berusaha menggoda suami kakakmu sendiri, hah?!" gertak Nuna dengan harapan ia melihat mata Ecca yang berkaca-kaca dan kemudian menangis.


☘️☘️☘️


Jangan lupa untuk dukung terus karya Author dengan


Like 👍


Comment 💬


Favorit ❤️


Vote 💞


Gift 🌹☕💺


Dan Tonton iklannya 📹📽️ juga ya


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2