
Sore harinya, Ecca langsung memesan ojek online untuk mengantarkan dirinya menuju ke Paragon Mall. Kali ini ia kembali melupakan dirinya yang harus pulang bersama dengan Belva.
"Dimana Ecca?" tanya Belva kepada Ollyta saat melihat kursi Ecca sudah kosong.
"Sudah pulang, Pak," jawab Ollyta.
Belva melihat jam di tangannya yang masih menunjukkan jam 4 lebih 3 menit.
"Pulang? Bukannya ini baru jam 4?" tanya Belva kemudian. "Jam berapa dia pulang?"
Dengan sedikit takut, Ollyta pun menjawab pertanyaan atasannya.
"Maaf pak, tadi Ecca sepertinya sedikit terburu-buru ingin mencari sesuatu di Paragon Mall. Coba nanti saya akan menghubunginya," balas Ollyta.
Sebelumnya ia memang melihat Ecca sudah memesan ojek online sebelum jam 4, waktu yang ditentukan untuk pulang seluruh karyawan. Bahkan jam 4 kurang satu menit Ecca sudah meninggalkan ruangannya.
Ecca hanya mengatakan ada hal penting yang ingin dia beli di Paragon Mall dan ia harus pulang lebih cepat. Ollyta pun hanya mengangguk tanpa bertanya lebih lanjut. Ia tidak menduga jika atasannya akan datang ke ruangannya untuk menanyakan keberadaan Ecca.
"Tidak perlu Ollyta, aku akan menghubungi adikku sendiri," jelas Belva yang kemudian meninggalkan ruangannya dan membuat Ollyta sedikit terkejut.
"Oooh, ternyata Ecca itu adiknya pa Belva ya. Pantas saja mereka terlihat sangat dekat," gumam Ollyta dalam hati.
...☘️☘️☘️...
Belva pun kemudian menghubungi ponsel Ecca berkali-kali. Sayangnya Ecca sama sekali tidak mengangkat panggilan dari Belva hingga akhirnya Belva mengirimkan pesan untuk adk iparnya itu.
💌 Belva
Kamu dimana, Ca?!
Ecca yang masih dalam perjalanan menuju Mall, sama sekali tidak mengetahui ada panggilan atau pesan dari Belva karena ponselnya ia simpan di dalam tas.
Sesampainya di Mall, tanpa sengaja Ecca melihat kakaknya masuk ke dalam toko perhiasan bersama dengan laki-laki yang ia lihat tadi.
"Untung saja aku bisa cepat menemukan Kak Nuna. Aku datangi dan tanya langsung, atau aku ikuti saja ya?" tanya Ecca pada dirinya sendiri.
"Emmmh, lebih baik aku datangi saja untuk menanyakan siapa yang saat ini bersama dengan kakak," batin Ecca memutuskan untuk bertanya dengan kakaknya secara langsung.
Sayangnya saat ia hendak melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam toko perhiasan, lengannya di tarik oleh seseorang yang kemudian menutup mulutnya dan membawanya menjauh dari toko perhiasan itu.
Ecca yang sangat terkejut pun langsung menyikut perut lelaki yang membekap mulutnya sampai lelaki tersebut memekik kesakitan.
"Awh!"
Ecca langsung berbalik saat mengenali suara pria yang kini ada di belakangnya.
"Mas Belva!" pekik Ecca yang sangat terkejut setelah mengetahui bahwa lelaki yang baru saja membekap mulutnya adalah kakak iparnya.
"Ngapain kamu ke sini?!" tanya Belva dengan Sorot matanya yang tajam sambil menahan sakit di perutnya.
"Aduh, aku harus ngomong apa ya sama Mas Belva? Gak mungkin kan kalo aku bilang lagi ngikutin kak Nuna yang lagi jalan sama orang laki-laki?" batin Ecca.
"Oh, itu mas. Aku mau beli buku." jawab Ecca.
"Mas Belva perutnya gak kenapa-napa kan? Lagi pula pake akting kaya penculik segala sih," tanya Ecca mencoba mengalihkan pertanyaan Belva.
Ctak! Belva menyentil kening Ecca.
__ADS_1
"Beli buku di toko perhiasan ya?" tanya Belva kemudian yang menangkap kebohongan dari mulut Ecca.
Namun sesaat kemudian ia sendiri melihat Nuna yang baru saja keluar dari toko perhiasan tersebut dengan seorang lelaki yang sangat ia kenal.
"Oh, jadi ini alasan Ecca datang kemari." batin Belva.
"Yuk, aku tunjukin dimana letak toko bukunya!" ajak Belva sambil menarik tangan Ecca menjauh dari toko perhiasan tersebut.
"Yaah, gagal deh buat nanya ke Kak Nuna laki-laki tadi itu siapa. Tapi lihat Mas Belva pegang tangan aku begini ini bikin aku makin gak bisa move on." gumam Ecca dalam hati sambil memandang ke arah tangan Belva yang kini sedang memegang tangannya.
"Ya Ampun, andai aja aku bisa jadi wanita yang Mas Belva cinta. Aku yakin, aku pasti akan menjadi wanita yang paling bahagia di dunia." batin Ecca.
"Tapi itu gak mungkin Ecca!" celetuk Ecca tiba-tiba membuat Belva kemudian menghentikan langkahnya.
"Apanya yang tidak mungkin?" tanya Belva membuat Ecca langsung tergagap.
"Haah?! Emm, aa, itu, emm, gak mungkin kan di toko ini gak ada buku 'Hukum Pidana Internasional'?" jawab Ecca yang membuat Belva menyentil keningnya untuk kedua kalinya.
Ctak!
"Awh, sakit Mas!" gerutu Ecca sambil mengusap keningnya.
"Kenapa ga bilang dari tadi kalau kamu tuh nyari buku itu?"
"Ayo pulang! Kalau butuh buku untuk skripsi, kamu bisa cari di ruang kerja Mas! Buku yang mau kamu beli itu ada disana!" ucap Belva.
Keduanya kini berbalik dan kembali untuk pulang ke rumah. Baru saja Ecca masuk ke dalam mobil Belva, ponselnya berdering dan tampak panggilan masuk dari kakaknya.
"Huft, Kak Nuna pasti udah minta dimasakin nih." gerutu Ecca sambil mengangkat panggilan Nuna dengan malas.
"Kenapa kak?"
"..."
"..."
"Emang kalo orang hamil ngidamnya tiap hari ya?!"
"..."
"Iya deh iya, gak usah pake ngancem begitu juga aku pasti bikinin," ucap Ecca kesal sambil mematikan panggilannya secara sepihak.
Ecca kemudian memandang kesal ke arah Belva yang sedang mengemudi lewat kaca spion mobil karena saat ini ia duduk di belakang.
"Kenapa sih ngeliat Mas sampe kayak gituh?" tanya Belva saat menyadari tatapan kesal Ecca yang memandang ke arahnya.
"Mas Belva waktu bikin anak itu gimana sih? Bikin adonannya buru-buru ya, makanya kak Nuna pas hamil makin ngeselin begini?" tanya Ecca dengan nada kesal sampai Belva menginjak rem mobilnya dengan sangat mendadak.
Ckiiit!
Ecca yang tidak duduk dengan posisi yang pas membuat tubuhnya terdorong ke depan dan tanpa sengaja bibirnya mendarat dengan mulus tepat di pipi kiri Belva.
Cup!
Belva menelan ludahnya kasar saat menerima kecupan mendadak dari Ecca. Dadanya tiba-tiba berdebar begitu kencang, terlebih saat Ecca tidak beranjak untuk menjauh darinya hingga kecupan dadakan di pipinya sedikit terasa lebih lama.
Tiin! Tiin!
__ADS_1
Bunyi klakson mobil di belakangnya membuat Ecca tersadar dan kembali duduk di tempatnya, sedangkan Belva pun kembali menjalankan mobilnya.
"Oh My God, Eccaaaa! Kamu gegabah banget sih! Bisa-bisanya kamu serendah itu sampai berani mencium orang yang sudah menjadi kakak iparmu sendiri!" gerutu Ecca dalam hati sambil merutuki kebodohannya sendiri.
Keduanya kini sama-sama saling terdiam sampai mobil Belva terparkir rapi di dalam garasi.
Ecca pun buru-buru keluar dari mobil Belva dan segera masuk ke dalam rumah. Tampak rumah Belva masih gelap, bermakna Nuna belum sampai di rumahnya.
Ecca pun menyalakan lampu dan segera menuju ke pantry untuk membuat masakan untuk makan malam kakaknya.
"Ca!" panggil Belva sambil berjalan mendekat ke arah Ecca.
"Tadi waktu di mobil kamu tanya apa?"
Ecca langsung membeliakkan matanya mendengar pertanyaan dari Belva.
"Oh, Nothing! Ignore aja, Mas, gak penting kok!" jawab Ecca sambil mundur sedikit demi sedikit karena Belva sudah semakin dekat dengannya.
"Kamu tanya bagaimana cara aku membuat adonan ya?" tanya Belva yang kini sudah benar-benar membuat Ecca terpojok.
Jantung Ecca semakin berdegub kencang karena keduanya kini sudah hampir tidak berjarak.
"Bagaimana kalau kita membuat adonan bersama?" tanya Belva berbisik dan membuat tubuh Ecca meremang.
Ecca yang sudah terpojok pun langsung mendorong tubuh Belva untuk menjauh darinya.
"Jangan gila, Mas! Aku sama sekali tidak pernah menginginkan untuk menjadi pelakor dalam rumah tangga Mas Belva! Aku masih waras untuk tidak melakukan hal keji seperti itu!" balas Ecca.
Meski ia masih begitu mencintai Belva, dia masih sadar diri jika merebut suami kakaknya sendiri sama sekali tidak dibenarkan.
"Aku semakin tidak paham dengan arah pembicaraanmu, Caca! Aku hanya ingin membuat adonan ayam tepung untuk makan malam nanti." balas Belva sambil berbalik dan mengambil celemek di dalam lemari.
"Nuna baru saja mengirim pesan jika malam ini ia ingin makan ayam tepung bumbu teriyaki dan juga cah brokoli," ucap Belva sambil memakai celemeknya.
Blush!
Pipi Ecca langsung merona, ia pun langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci mukanya. Sedangkan Belva justru tersenyum melihat adik iparnya itu salah tingkah.
"Ternyata pernikahanku dengan Nuna tidak terlalu buruk. Bahkan aku justru mendapatkan mainan baru yang sangat mengemaskan," gumam Belva dalam hati sambil mulai mencuci ayam.
"Entah kenapa aku merasa jika Caca pasti memiliki perasaan yang sama terhadapku, tapi aku tidak boleh gegabah karena saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk itu,"
"Aku masih harus menyelamatkan mama dan keluarga besarku dari hasutan Nuna," batin Belva.
☘️☘️☘️
Jangan lupa untuk dukung terus karya Author dengan
Like ☑️
Comment 💬
Favorit ❤️
Vote 💞
Gift 🌹☕💺
__ADS_1
Dan Tonton iklannya 📹📽️ juga ya
Terima kasih