Kurebut Suami Kakakku

Kurebut Suami Kakakku
Perang ke 2


__ADS_3

Ecca yang kini justru menjadi bahan perhatian papi dan Maminya hanya menghela nafasnya pelan.


"Jangan bicara sembarangan jika kakak tidak memiliki bukti!" sarkas Ecca yang tidak terima dibilang sebagai pelakor.


Meskipun saat ini ucapan Nuna memang benar adanya, tetapi Ecca tidak menggoda Belva secara terang-terangan.


Justru Belva sendiri yang terus mengejar Ecca dan tidak memberikan ruang sedikit pun untuk Ecca bisa move ON dari mencintainya.


Terlebih berkali-kali Belva juga menekankan jika dirinya bukanlah seorang pelakor.


"Siapa yang sebenarnya pelakor di sini?" ucap Ecca lagi.


"Perebut lelaki orang yang sudah memiliki 2 orang anak dan istrinya justru kakak dari sahabatku sendiri!" suara Ecca mulai meninggi demi membela dirinya sendiri.


"Gara-gara sikap beja+ kakak, aku ditampar oleh Wita, istri yang merasa tersakiti karena suaminya tergiur dengan wanita seperti kakak!"


"Aku diusir malam-malam dari rumah Naya, keliling dari penginapan satu ke penginapan yang lain dan tidak ada satu un yang kosong! Apa kakak tidak sadar jika perbuatan menjijikkan yang kakak lakukan membuatku malu dan sangat menderita?!"


Cerocos Ecca panjang lebar membuat Mami Aleya dan Papi Mario kembali memandang Nuna dengan sangat muak.


Terlebih Papi Mario yang tampak tidak terima putri bungsu kesayangannya harus menderita karena perbuatan yang sama sekali tidak pernah dilakukan Ecca.


"Andai saja dulu,..."


Mendengar suaminya hampir mengatakan hal yang sedari dulu mereka Rahasia kan, membuat Mami Aleya langsung mencegahnya.


"Papi!" Mami Aleya memotong kalimat suaminya.


"Jangan bahas tentang masa lalu. Selesaikan dulu masalah yang ada sekarang," pinta Mami Aleya.


Satu bulir air mata kii langsung membasahi pipi Nuna. 'Sepertinya benar yang diucapkan Mama Dea tadi, aku bukanlah anak kandung Papi dan Mami. Tapi, Mami sepertinya masih ingin merahasiakannya dari aku dan Ecca,' gumam Nuna dalam hati.


'Baguslah jika memang begitu, aku tidak boleh menyia-nyiakan hal ini begitu saja!' batin Nuna yang mulai merencanakan hal yang lain.


"Baiklah, kali ini aku mengaku salah. Aku sudah berbohong dengan kalian, Maafkan aku," ucap Nuna sambil menundukkan kepalanya.


Kali ini ia memilih untuk mengalah terlebih dahulu untuk menyusun rencana selanjutnya yang akan ia buat.


Akhirnya mereka berempat pun mulai saling berbicara secara baik-baik. Mami Aleya tampak berusaha memaafkan Nuna meski sangat berat untuk memaafkannya karena Nuna sudah membuatnya malu dengan sahabatnya sendiri.


Berbeda dengan Papi Mario yang tampak sangat enggan dengan Nuna.


"Aku tidak percaya sama sekali denganmu, Nuna. Kesalahan yang sama terus saja kau buat berulang kali. Aku yakin kau saat ini hanya berpura-pura menyesal," sanggah Papi Mario saat mendengar Nuna sangat menyesal dengan semua kesalahan yang ia lakukan.


"Kau sudah membuat papi dan Mami sangat malu dan kali ini kau harus menerima hukumannya!" ucap papi Mario dengan tegas.


Semuanya terdiam menunggu hukuman apa yang kini diberikan oleh Papi Mario.


"Mulai besok pagi, aku akan meminta supir mengantar mu ke desa dan hidup di sana sampai kau melahirkan!" titah Papi Mario.

__ADS_1


Nuna langsung menggelengkan kepalanya tidak terima. "Jangan papi, aku tidak mau! Aku mohon jangan hukum aku seperti itu," pinta Nuna dengan wajah yang memelas.


'Sial! Jika aku di kampung, bagaimana aku bisa menjalankan rencanaku selanjutnya,' batin Nuna tidak terima.


"Aku berjanji akan berubah, Papi. Aku mohon, biarkan aku tinggal disini," pinta Nuna yang kini bersimpuh di kaki Mario.


Melihat papinya tidak bergeming sama sekali membuat Nuna meminta pertolongan dengan maminya.


"Mami, aku mohon bujuk papi untuk mengizinkan aku tetap tinggal di sini," ratap Nuna yang sangat tidak dipindahkan ke desa.


"Maaf Nuna, Mami sama sekali tidak bisa menggugat keputusan papimu," balas Mami Aleya membuat Nuna langsung terduduk lemas.


'Aaaarrrrgghhh!' teriaknya dalam hati. 'Hai otak brilianku, berfikir lah dengan cerdas!'


Akhirnya Nuna teringat akan Madam Lui.


'Oh iya, bukankah aku masih memegang cek 1 Milyar dari Madam Lui, uang transferan dari Belva juga masih utuh.'


'Hemm, lebih baik besok aku kabur saja dari sini untuk sementara dari pada harus ke kampung. Ieuuuh, gak banget deh,' gumam Nuna dalam hati.


Akhirnya Nuna pun setuju untuk diantarkan ke desa besok pagi.


"Namun sebelum Nuna diantarkan, lebih baiknya kita menemui Dion dan Dea, sayang untuk meminta maaf," ucap Mami Aleya yang langsung disetujui oleh Papi Mario.


Karena sudah larut malam, Mami dan Papi pun memutuskan untuk masuk ke dalam kamar lebih dulu. Kini tinggal Ecca dan Nuna yang masih duduk di depan televisi.


"Tidur lah, mau ngapain lagi di sini!" balas Ecca yang sudah lebih berani dari sebelumnya.


"Urusan kita belum selesai, Ecca. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah rela melihatmu bahagia!" ucap Nuna.


"Ck, apa sih sebenarnya yang kakak mau?! Belum kapok ya udah terbongkar semuanya?" tanya Ecca membuat Nuna semakin geram.


Tangan Nuna langsung terulur menarik rambut panjang Ecca. Untung saja Ecca langsung berkelit menghindari tangan kakaknya.


"Aku juga akan tetap berjuang untuk meraih kebahagiaanku sendiri, Kak Nuna. Bahkan aku juga akan melawan siapa pun yang menghalangi kebahagiaanku."


"Apa kakak pikir aku takut?" tantang Ecca.


Plak!


Tangan Nuna langsung menampar pipi Ecca. "Sudah berani kuยฎang ajaยฎ kamu ya sama kakak!" gertak Nuna kesal.


Ecca mengusap pipinya yang terasa perih akibat tamparan Nuna. Jauh di dalam lubuk hatinya ia sangat ingin membalas perbuatan kakaknya.


Tapi keinginannya itu langsung ia buang jauh-jauh mengingat kakaknya sedang hamil.


"Bahkan aku akan lebih berani dari pada ini, Kak! Karena aku bukan lagi Ecca yang dengan mudahnya kakak ancam begitu saja!" ucap Ecca sambil meninggalkan Nuna begitu saja.


"Awas kau ya! Aku akan buat perhitungan denganmu!"

__ADS_1


Ancaman Nuna kali ini sama sekali tidak diindahkan oleh Ecca. Ecca langsung menaiki anak tangga dan masuk ke kamarnya tanpa menoleh sama sekali.


Nuna pun kembali ke kamarnya sambil mulai membuat rencana selanjutnya yang akan ia buat agar Ecca menderita.


๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’


Keesokan harinya, Ecca yang baru saja keluar dari kamarnya langsung dikejutkan oleh kegaduhan yang di ruang tamu.


Terdengar Papi dan juga Maminya sedang memarahi satpa dan asisten rumah tangganya.


"Bagaimana bisa kalian tidak tahu Nuna pergi kemana? Bukankah kalian berjaga sepanjang hari? Jadi untuk apa kalian digaji jika malah membiarkan Nuna pergi begitu saja!" Cecar Papi Mario.


"Kalian juga gimana sih mbak, kalo satpam kan memang gak tahu jika semalam Nuna dimarahin papinya. Tapi kalian semua dengar kan?" tanya Mami Aleya sambil menunjuk satu persatu ke arah 3 asisten rumah tangganya.


"Maaf Nyonya, tapi pagi kami fikir non Nuna memang akan kembali ke rumah suaminya." jawab salah satu asisten rumah tangga yang paling tua.


"Ada apa sih Mi, pagi-pagi gini udah rame?" tanya Ecca mendekat.


Mami Aleya langsung memberikan secarik kertas kepada Ecca. "Nuna kabur dari rumah dan meninggalkan ini di mejanya," jawab Mami Aleya.


"Dia nulis surat khusus buat kamu, dek," lanjut Mami Aleya lagi.


Ecca pun menerima kertas yang disodorkan Mami ke arahnya dan mulai membacanya.


๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’


Nah, isi surat Nuna akan di up di bab selanjutnya yaa. Pagi ini juga akan ada pertemuan antara dua keluarga.


Sambil nunggu bab selanjutnya yang bentar lagi Author ketik, mampir dulu yuk ke Novel bestie Author yang dijamin ceritanya sangat menarik dan gak kalah seru.


Judul Karya : Pemandu Hati Pengganti


Author : Chika Ss



Jangan lupa untuk dukung terus karya Author dengan


Like ๐Ÿ‘


Comment ๐Ÿ’ฌ


Subscribe โค๏ธ


Vote ๐Ÿ’ž


Gift ๐ŸŒนโ˜•๐Ÿ’บ


Dan Tonton iklannya ๐Ÿ“น๐Ÿ“ฝ๏ธ juga ya

__ADS_1


__ADS_2