Kurebut Suami Kakakku

Kurebut Suami Kakakku
With You


__ADS_3

"Ada deh, yang penting sekarang kita makan dulu," balas Belva yang sengaja bikin Ecca penasaran.


Selesai sarapan Belva langsung meminta kunci motor milik Ecca.


"Kunci motor kamu mana sayang?" pinta Belva sambil menengadahkan tangannya.


"Emang tadi Bee ke sini naik apa?" Ecca balik bertanya sambil menyerahkan kunci motor miliknya.


"Bawa motor juga sama Dirga, tapi sekarang dia udah pulang."


Belva menarik tangan Ecca dan menggenggam nya erat menuju ke tempat dimana motor Ecca terparkir.


"Pegangan dong!" pinta Belva saat Ecca sudah naik di belakangnya.


Tangan Ecca memegang kaos Belva dan mencengkramnya dengan kuat. "Udah Bee!"


Melihat Ecca berpegangan seperti sedang membonceng tukang ojek membuat Belva menarik kedua tangan Ecca agar mereka sekarang semakin tak berjarak.


"Peluk yaa, jangan cuma pegangan! Nanti kamu jatuh," bisik Belva.


"Tapi, Bee..." kalimat Ecca terputus. Dadanya yang menempel di punggung Belva membuat jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat dan kemudian mengubah ritmenya menjadi debaran kencang yang mulai tidak menentu.


"Aku mohon tetaplah seperti ini!" pinta Belva sambil mulai menjalankan motor Ecca.


Mau tidak mau, Ecca pun menuruti permintaan Bee karena semakin lama debaran jantungnya mulai stabil dan rasa nyaman pun menjalar dalam diri Ecca.


Perlahan Ecca semakin mengeratkan pelukannya sampai ia tidak tahu kemana Bee akan membawanya.


Sedangkan Belva juga sesekali mencuri pandang ke arah Ecca lewat kaca spion yang sengaja ia hadapkan ke arah wanita yang telah mencuri hatinya itu.


Kali ini keduanya tidak berbicara sama sekali, tetapi bahasa tubuh mereka seolah saling berinteraksi satu sama lain.


Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit, Belva menepikan motornya tepat di kebun anggrek.


"Kita ngobrol di sini yuk," ucap Belva.


Ecca pun hanya mengangguk sambil melepaskan pelukannya dan turun dari motor Belva. Setelah itu, Belva mengajak Ecca menuju ke saung yang ada di tengah-tengah kebun anggrek.


Suasana di kebun anggrek sangat sepi. Hanya saja yang membuat Ecca terkejut adalah saat Belva sendiri yang membuka kunci kebun tersebut.


"Kebun anggrek ini punya siapa, Bee?" tanya Ecca kemudian.


"Punya kita."


Jawaban singkat Belva kembali membuat Ecca terhenyak.


"Kita?"


"Tentu saja, sayang." Belva langsung meletakkan kepalanya di atas pangkuan Ecca sambil memejamkan matanya.


"Bukankah milikku juga nantinya akan menjadi milikmu?" lanjut Belva.


Blush!


Wajah Ecca langsung merona mendengar ucapan Belva barusan. Untungnya kali ini Belva sedang memejamkan matanya, jadi Ecca tidak begitu merasa malu.


"Queen Ca!" panggil Belva dengan tetap memejamkan matanya.

__ADS_1


"Hemm, ada apa?" tanya Ecca sambil mengusap kepala Belva dengan sangat lembut.


"Apa kau sungguh mencintai aku?" Kali ini kedua netra Belva terbuka dan menatap netra Ecca secara intens.


Ecca hanya mengulum senyumnya sambil menganggukkan kepalanya. Sikap malu-malu Ecca yang seperti ini ternyata membuat Belva semakin gemas.


"Aku sangat suka melihat raut wajahmu yang tersipu seperti itu, sayang." tukas Belva sambil mengusap pipi Ecca yang merona.


"Kau tahu, setiap malam yang aku inginkan hanya memimpikan mu. Karena hanya dalam mimpi saja aku bisa menyentuhmu sesuka hatiku dan di tempat mana pun yang aku suka."


Deg!


Ecca langsung menepis tangan Belva yang masih mengusap pipinya yang semakin terasa panas.


"Bee... Kau me5um sekali!" gerutu Ecca kesal.


"Hei, mana ada aku me5um? Aku hanya bicara jujur, sayang."


"Buktinya sekarang aku juga tidak melakukan apa apa dengan mu, meskipun jauh dalam lubuk hatiku aku sangat menginginkannya," sanggah Belva membela diri.


"Hanya saja saat di jalan tadi, mimpiku semalam sedikit menjadi kenyataan saat aku merasakan betapa em puknya itu," ucap Belva sambil memandang ke arah dada Ecca.


Cepat-cepat Ecca menyilangkan tangannya di depan dada sambil menggerutu.


"Bee...!" Teriak Ecca kesal. "Kau menyebalkan sekali!" gerutu Ecca kesal.


"Ayolah sayang, nantinya juga semua yang ada padamu akan menjadi milikku," ucap Belva sambil memeluk Ecca.


Sayangnya Ecca langsung menghindar, menolak dipeluk Belva dan menggeser tempat duduknya.


"Mulai sekarang jangan peluk aku, Bee!"


"Kenapa?"


"Nanti fikiranmu semakin kotor!" jawab Ecca ketus membuat Belva terkekeh geli.


"Okey! Okey!"


"Kali ini aku minta maaf dan aku tidak akan mengulanginya lagi," ucap Belva sambil mengulurkan tangannya ke arah Ecca.


Ecca pun membalas uluran tangan Belva dan dengan cepat Belva menarik tubuh Ecca hingga kini Ecca terjatuh dalam pelukannya.


"Bee..." suara Ecca tercekat dan bahasa tubuh sama sekali tidak beranjak dari pelukan Belva.


"Ke depannya hubungan kita akan semakin rumit, Queen Ca. Aku mohon tetaplah bertahan demi kebahagiaan kita," pinta Belva.


"Bagaimana jika aku tidak sanggup menghadapi rintangannya, Bee?" tanya Ecca.


"Kamu tidak akan sendiri, karena kita akan berjuang bersama. Kelemahan saat ini hanya ada pada mama."


"Jika saja mama bisa menerima berita kekalahannya dalam perebutan tender, maka secepat mungkin aku akan memutus perjanjian dengan Nuna."


Kali ini Ecca terdiam mendengar penjelasan Belva. Ia paham betul jika mama Dea memiliki riwayat serangan jantung yang akut.


Terlebih kekalahan tendernya kali ini benar-benar membuatnya harus *** balik masuk rumah sakit.


Namun seketika Ecca teringat akan maminya yang sudah mengetahui jika orang di balik kekalahan bisnis mereka adalah Belva dan juga papanya.

__ADS_1


"Bee... Kali ini aku akan membantumu. Tapi kali ini aku mengajukan syarat khusus," tukas Ecca kemudian.


"Syarat apa?"


"Ke depannya biarkan aku tinggal di Mansion dan jangan paksa aku pulang ke rumahmu!" pinta Ecca membuat Belva sangat terkejut.


"Tapi sayang, terbiasa melihatmu setiap hari membuatku sangat berat jika harus memperbolehkan tinggal kembali di Mansion," balas Belva.


Belum ada satu hari saja, Belva sudah kalang kabut dan terus mencari tahu kemana sebenarnya Ecca akan pergi. Untung saja Belva sudah hafal tujuan Ecca pergi setiap Hari Minggu.


Karena Sebelum kuliah di Jogja, Ecca jarang absen untuk menikmati Car Free Day bersama sahabatnya.


"Semalam, aku sudah bercerita semuanya dengan Mami. Tentang kebohongan Kak Nuna sampai alasan kenapa kalian bisa menikah."


Kali ini Belva sangat terkejut mendengar cerita Ecca. 'Tidak ku sangka, ternyata Mami Aleya benar-benar curiga dengan kehamilan Nuna,' gumam Belva dalam hati.


"Lalu?"


"Aku ingin meminta bantuan Mami untuk masalah ini. Setidaknya agar Mama Dea tidak berlarut larut dalam keterpurukan nya karena kalah tender," lanjut Ecca.


"Jadi kali ini, aku akan berusaha berbicara baik-baik dengan mami dan kau bisa mengurus masalahmu dengan Kak Nuna."


"Lagi pula bukannya kita masih bisa bertemu di firma?"


Belva hanya menganggukkan kepalanya menyetujui ide brilian Ecca.


"Terima kasih sudah mau berjuang bersamaku, Queen Ca," balas Belva menggenggam tangan Ecca dan mengecup punggung tangannya.


Perlahan Belva mendekatkan wajahnya dan mendaratkan kecupannya d kening Ecca.


Namun baru saja kecupan Belva mendarat, tiba-tiba saja ponsel Ecca berdering dan tampak panggilan dari Nuna.


"Kak Nuna telfon," ucap Ecca sambil memperlihatkan layar ponselnya.


"Tidak perlu di angkat! Mengganggu saja!" gerutu Belva menepikan ponsel Ecca dan memeluk Ecca dengan erat.


๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’


Hai readers terbaik aku, stay read ya untu terus mengikuti perjuangan Cinta Belva dan Ecca.


Sambil nunggu kelanjutan ceritanya, mampir yuk ke Novel bestie aku.


Judul Novel : Dendam Cinta


Author : Lena Laiha



Jangan lupa untuk dukung terus karya Author dengan


Like ๐Ÿ‘


Comment ๐Ÿ’ฌ


Favorit โค๏ธ


Vote ๐Ÿ’ž

__ADS_1


Gift ๐ŸŒนโ˜•๐Ÿ’บ


Dan Tonton iklannya ๐Ÿ“น๐Ÿ“ฝ๏ธ juga ya


__ADS_2