Kurebut Suami Kakakku

Kurebut Suami Kakakku
Siapa dia?


__ADS_3

Setelah menghabiskan sarapannya, Ecca pun bergegas menuju ke ruangan Belva.


"Ada yang bisa saya bantu, pak?" tanya Ecca yang berusaha untuk sebiasa mungkin.


Aura ketampanan Belva kali ini membuatnya makin susah untuk melupakan perasaan cintanya kepada lelaki yang sudah menjadi kakak iparnya itu.


"Duduk!" perintah Belva dan Ecca pun langsung menarik kursi dan duduk tepat di hadapan Belva.


"Siapa yang mengantarmu pergi ke kantor?" tanya Belva sambil enatap tajam ke arah Ecca.


"Ojek online," jawab Ecca singkat.


"Kenapa tidak menungguku?!" gertak Belva membuat Ecca mengerutkan dahinya.


"Saya hanya tidak ingin terlambat datang ke kantor, pak." jawab Ecca sedatar mungkin.


"Kamu fikir kamu akan terlambat hanya dengan menungguku sebentar saja?!"


"Jawaban yang tidak logis. Bagaimana jika sopir ojek online itu tiba-tiba menculikmu dan membawamu pergi?!"


Batin Ecca mulai tidak terima dengan gertakan Belva. "What?! Tidak logis?! Sebenarnya siapa di antara kita yang sudah berfikian tidak logis? Mana ada ojek online mau menculik dan membawa aku pergi?" gerutu Ecca dalam hati.


"Bagaimana jika terjadi apa-apa denganmu di jalan tadi, Ca?! Siapa yang akan bertanggung jawab?!"


Serentetan pertanyaan yang diucapkan Belva dengan nada menggertak membuat Ecca mengulum senyumnya.


"Juteknya Mas Belva yang kayak gini tuh yang bikin aku semakin jatuh cinta." batin Ecca dalam hati.


"Marahnya dia itu bukti kalo Mas Belva perhatian banget kan sama aku?" tanya Ecca pada dirinya sendiri.


Brak!


Belva menggebrak mejanya sampai membuat Ecca sangat terkejut.


"Jangan diem, Caca! Jawab aku!" gertak Belva.


"Pak Belva nih kenapa sih pagi-pagi udah marah-marah? Apa segitu besarnya ya kesalahan saya, sampai semarah itu bapak terhadap saya?" tanya Ecca membuat Belva kini tersadar.


Seharusnya ia tidak perlu semarah itu dengan Ecca hanya karena hal sepele. Tapi entah kenapa mood nya benar-benar buruk saat tidak melihat Ecca pagi ini.


Terlebih saat mengetahui Ecca sudah pergi ke kantor lebih dahulu tanpa memberinya kabar sama sekali.


Kali ini Belva mengusap wajahnya kasar dan berjalan mendekat ke arah Ecca.


Dada Ecca langsung berdegub kencang saat Belva merundukkan tubuhnya dan semakin dekat dengan Ecca. Aroma parfum Belva kini terhirup jelas di hidung Ecca membuatnya ia semakin kalang kabut.


"Besok kau harus pergi ke kantor denganku." Bisik Belva tepat di telinga kiri Ecca.

__ADS_1


"Jika tidak, maka aku tidak akan segan-segan untuk menghukum mu!" ancam Belva.


Entah kenapa ancaman Belva kali ini membuat hati Ecca bersorak gembira.


"Tapi pak, bukannya bapak juga harus mengantar kak Nuna bekerja?" tanya Ecca kemudian saat mengingat kakaknya juga masih diantar jemput oleh Belva.


"Mulai hari ini dia diantar jemput oleh sopir perusahaan tempat ia bekerja," jawab Belva. "Jadi tidak ada alasan lagi untuk menolak tawaranku!"


Kali ini Belva berbalik dan kembali duduk di kursi kebesarannya.


"Baik Pak," jawab Ecca. "Emm, apa ada lagi yang ingin bapak sampaikan pada saya?"


Belum sempat Belva menjawab pertanyaan Ecca, papa Belva masuk ke ruangan putranya dan menjawab pertanyaan Ecca.


"Hari ini Ecca ikut kamu, Belva untuk menemui client di Resto Hotel Carl," ucap Dion Quiero mengarah ke hotel dimana Kak Nuna bekerja.


"Kamu harus mulai belajar bagaimana menghadapi masalah client mulai hari ini." lanjutnya lagi membuat mata Ecca berbinar.


Ecca memang sangat menginginkan untuk bisa menyelesaikan masalah client. Tidak hanya itu, ia juga berambisi untuk bisa menjadi seorang pengacara hebat selepas wisuda nanti.


Kesempatan emas ini tentu saja tidak akan Ecca tolak. Apalagi kali ini ia akan mendampingi Belva.


"Siap Pak Dion!" jawab Ecca dengan mantap.


Pak Dion pun segera memberitahu Ecca apa saja yang harus ia persiapkan saat menemui client bersamanya nanti.


...๐Ÿ„๐Ÿ„๐Ÿ„...


Siang ini, pertama kalinya Ecca mencoba menguraikan permasalahan client Belva dan menjelaskan beberapa cara untuk menyelesaikan permasalahannya.


Client Belva kali ini menyatakan sangat puas atas penjelasan dari Ecca dan meminta Ecca untuk menjadi pengacaranya dalam sidang perceraian mereka.


"Mohon maaf pak, tapi saya bukanlah seorang pengacara. Saya hanya seorang asisten pengacara," ucap Ecca sangat santun.


"Benar Tuan Kevin, Ecca ini asisten baru kami," ucap Belva.


"Dia hanya membantu menyampaikan duduk permasalahan anda, dan nanti yang akan mendampingi anda di pengadilan adalah saya." jelasnya lagi membuat Kevin menganggukkan kepala.


"Wow, asisten pengacara seperti Ecca ini sangat luar biasa Pak Belva. Penjelasannya sangat lugas dan tegas. Saya kagum dengannya," puji Kevin membuat pipi Ecca bersemu merah.


Pujian di meeting pertamanya dengan client membuat Ecca benar-benar seperti terbang melayang. Padahal kasus yang menimpa Kevin saat ini bukanlah kasus yang rumit bagi ranah hukum.


Bahkan Ecca sudah mempelajari permasalahan ini saat ia duduk di semester 2. Setelah meeting dianggap cukup, Kevin pun undur diri dan tidak ikut makan siang bersama karena ia harus menjemput putranya pulang sekolah.


Akhirnya kali ini Ecca hanya makan siang berdua dengan Belva. Jika tadi Ecca tampak sangat percaya diri saat menjelaskan argumennya di depan client, kali ini ia justru merasa sangat gugup karena berduaan saja dengan Belva.


"Pak, saya ke kamar mandi dulu ya," ucap Ecca meminta izin pada Belva sebelum mereka mulai makan siang.

__ADS_1


"Oke," jawab Belva singkat.


Saat Ecca hendak berbelok ke kamar mandi, tak sengaja ia melihat sosok kakaknya yang berjalan menuju ke ruang makan VIP bersama dengan seorang lelaki.


"Kak Nuna," gumam Ecca yang kemudian mengikuti kakaknya dan menunda keinginannya untuk ke kamar mandi.


Nuna dan lelaki itu berjalan dengan bergandengan tangan. Meski terlihat biasa saja, namun bagi Ecca itu bukanlah hal yang wajar karena kakaknya sudah menikah.


"Aku akan mengajakmu ke Paragon Mall sore ini. Kamu ada waktu kan?" tanya lelaki itu yang terdengar jelas di telinga Ecca.


"Tentu saja, Bosku sayang." jawab Nuna tepat di pintu ruang makan VIP tersebut.


"What?! Aku gak salah denger kan? Kak Nuna panggil bosnya dengan kata 'sayang'?" gumam Ecca dalam hati yang kemudian berbalik dan menuju kekamar mandi.


Berbagai pertanyaan mulai berkecamuk dalam batin Ecca, "Siapa sebenarnya laki-laki yang bersama dengan kakak tadi?"


"Kenapa kakak memanggilnya dengan panggilan 'sayang'?"


"Apa memang itu panggilan untuk setiap bawahan kepada bosnya di sini?"


"Paragon Mall? Sepertinya sore ini aku harus ke sana, untuk mencari tahu siapa laki-laki itu sebenarnya."


Setelah mencuci wajahnya, Ecca pun kembali bergabung dengan Belva yang tampak belum menyentuh makanan yang ada di depannya.


"Kamu ke toilet lama banget sih, Ca?! Buat pengacara kayak kita ini waktu adalah uang. Jadi tolong jangan pernah buang-buang waktu lagi untuk hal yang tidak penting!" tegur Belva.


"Oh, iya Pak. Maaf, tadi perut saya..."


"Cepat selesaikan makan siangmu dan kita akan segera kembali ke Firma! Masih banyak tugas yang harus segera diselesaikan!" perintah Belva tanpa mau mendengarkan penjelasan dari Ecca.


Ecca pun kini mulai menikmati makan siangnya tanpa berbicara sedikit pun dengan Belva.


...๐Ÿ„๐Ÿ„๐Ÿ„...


Jangan lupa untuk dukung terus karya Author dengan


Like โ˜‘๏ธ


Comment ๐Ÿ’ฌ


Favorit โค๏ธ


Vote ๐Ÿ’ž


Gift ๐ŸŒนโ˜•๐Ÿ’บ


Dan Tonton iklannya ๐Ÿ“น๐Ÿ“ฝ๏ธ juga ya

__ADS_1


Terima kasih


__ADS_2