
Sinar matahari yang masuk melewati celah korden jendela kamar membuat Ecca mengerjapkan matanya yang masih terasa berat.
Grab!
Seketika mata Ecca terbuka sempurna saat tubuhnya tertindih oleh tangan seseorang yang kini tidur di sampingnya.
'Bee! Bagaimana aku bisa tidur bersama Bee di sini?' batin Ecca sambil menutup mulutnya agar tidak berteriak dan membangunkan Belva.
Ecca pun langsung menyibakkan selimut yang masih menggulung tubuhnya.
'Huft, pakaianku masih lengkap. Berarti semalam tidak terjadi apa-apa antara aku dan Bee.'
Ecca menghembuskan nafasnya lega dan mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya.
Nuansa kamar monokrom milik Belva membuat Ecca langsung tersadar jika saat ini dia sedang tidur di kamar King Bee.
Ecca perlahan lahan turun dari ranjang dan jalan berjinjit menuju pintu keluar agar langkahnya tidak membangunkan Belva yang masih terlelap.
"Kau mau kemana, Queen Ca?" tanya Belva dengan suara khas orang bangun tidur saat tangan Ecca meraih handle pintu kamar Bee.
"Kembali ke kamarku, Bee."
Belva pun terbangun dari tidurnya dan berjalan ke arah Ecca.
"Jangan pergi dulu, biarkan aku memelukmu di atas ranjang sebentar saja!" pinta Belva sambil menarik tangan Ecca dan membawanya kembali ke ranjang.
"Tapi, Bee..."
"Just a moment, Queen Ca!" pinta Belva yang langsung mengangkat tubuh Ecca dan kembali menidurkan Ecca di sampingnya.
Belva langsung memeluk tubuh Ecca dan kembali memejamkan matanya. Sedangkan Ecca sendiri tidak menolak sama sekali dan justru memandangi Bee yang kembali terpejam.
'Tampan sekali jika melihatnya tertidur seperti ini.'
'Aku benar-benar merasa nyaman ada di dalam pelukan, Bee. Terima kasih Bee, kau sudah membalas perasaan cintaku yang kupendam sejak lama.'
'Tapi bagaimana aku bisa tidur di kamar Bee, ya?' tanya Ecca dalam hati.
๐
๐
๐
Tadi malam saat pulang dari rumah sakit, Ecca yang sudah sangat lelah dan mengantuk pun langsung tertidur saat menyandarkan kepalanya di headrest mobil Bee.
Melihat Ecca yang sudah tertidur, membuat Bee menggenggam tangan Ecca dan berulang kali mengecup punggung tangan Ecca.
'Aku benar-benar tidak menyangka akan dicintai oleh gadis secantik bidadari sepertimu, sayang,' gumam Belva dalam hati sambil sesekali mencuri pandang ke arah Ecca yang sudah tertidur.
Karena jalanan malam sangat lengang, tidak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai di apartemen. Sesampainya di apartemen, Belva langsung menggendong Ecca ala Bridal Style.
__ADS_1
"Sepertinya kau harus lebih banyak makan, sayang. Agar tidak seringan ini di tanganku," bisik Belva gemas dan dijawab Ecca yang kini tenggelam di bawah alam sadarnya.
"Hemm!" balas Ecca tanpa membuka matanya sedikit pun.
"Kau benar-benar membuatku semakin gemas, sayang! Malam ini tidur di kamarku saja ya?" tawar Belva sambil berbisik di telinga Ecca.
Lagi lagi Ecca berdehem menjawab tawaran Belva dari alam bawah sadarnya. Dengan semangat Belva pun membawa Ecca masuk ke dalam kamarnya dan menidurkannya di atas ranjang king sizenya.
Setelah menyelimuti Ecca, Belva pun segera mengganti pakaiannya dan menyusul Ecca berenang di alam mimpi.
๐๐๐
"Apa menurutmu aku begitu tampan, Queen Ca sampai kau memandangi ku seperti itu?" tanya Belva membuyarkan lamunan Ecca.
"Diiih, Narsis!" balas Ecca sambil melepas pelukan Belva.
"Eiiitzz! Mau kemana sih, buru-buru amat!" tarik Belva dan Ecca kembali terjatuh dalam pelukan Belva.
"Aku harus ke rumah sakit melihat keadaan Kak Nuna, Bee."
"Ck, Memangnya harus ya?!" gerutu Belva.
Cuppp!
Tiba-tiba Ecca mendaratkan kecupan nya sedikit lebih lama dari biasanya di pipi kanan Belva dan membuat Belva terhenyak sampai tidak sadar jika Ecca sudah tidak lagi di atas ranjang bersamanya.
"Bergegas lah Bee jika ingin mengantarkan aku ke rumah sakit terlebih dahulu sebelum kau berangkat ke firma!" ucap Ecca yang sudah membuka pintu kamar Belva.
Belva pun tersenyum sambil menggigit bibir bawahnya sendiri. "Sepertinya jika aku segera menikahinya, kehidupanku pasti akan lebih berwarna!" gumam Belva.
Sedangkan Nuna kini sedang menggerutu tidak jelas di rumah sakit saat mendapati dirinya hanya sendirian. Bahkan Ecca juga tidak terlihat menemani Nuna di ruangan inapnya.
"Huh, ruangan apa ini?! Kenapa aku ditarus di bangsal tidak berkelas seperti ini?!" gerutu Nuna yang memang sudah dalam pengaruh obat tidur saat dipindahkan dari UGD ke ruang inap.
"Sssttt! Jangan berisik! Gini-gini juga bangsal kelas 1 tauk!" tukas laki-laki yang sedang menunggu istrinya yang kini dirawat satu ruangan bersama Nuna.
"Ieuuuh! Amit-amit banget sih di rawat di bangsal rendahkan begini. Udah dibarengin sama orang gak jelas kayak gini lagi!" omel Nuna yang semakin menggerutu sambil memencet tombol panggilan untuk perawat.
"Heh, buk! Jangan ngomel gak jelas deh. Istri saya lagi sakit nih!" gertak lelaki tadi yang seketika membungkam mulut Nuna sampai perawat datang.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya perawat yang datang karena panggilan Nuna.
"Suster, kenapa saya ditaruh di ruangan kayak gini sih? Pindahin saya ke ruang VIP!" pinta Nuna dengan geram.
"Suami anda sendiri bu yang meminta anda di rawat di ruangan ini."
"Ck, pindahkan aku ke ruang VIP! nanti aku yang akan bayar biayanya sendiri." balas Nuna kesal.
'Kurang ajar Belva ini! seenak kepalanya sendiri naruh aku di bangsal kaya begini. Huft! Bener-bener gak punya hati!' umpat Nuna dalam hati.
"Untuk kamar VIP, biayanya lebih dari satu juta setiap harinya, bu!" jelas perawat tadi.
__ADS_1
"Dasar orang miskin gak tau diri. Udah tau gak mampu masih aja belagu!" tukas laki-laki yang sedang menunggui istrinya di ranjang yang satunya.
"Kalian pikir saya gak mampu apa?!" gertak Nuna kesal.
"Tunggu sebentar bu, saya akan carikan kamar untuk anda. Mohon untuk disiapkan uang down payment nya." ucap perawat tadi dan kemudian berbalik meninggalkan ruang inap Nuna.
Setelah perawat tersebut meninggalkan ruangan, Nuna pun merogoh saku dress nya untuk mencari ponsel miliknya yang sudah sengaja dimasukkan ke dalam saku sebelum Nuna melancarkan aksinya.
"Loh, ponsel aku kok gak ada sih?" gumam Nuna yang kemudian menoleh ke arah nakas.
"Apa mungkin di simpan di sini ya?" Nuna membuka laci nakas. Sayangnya barang yang Nuna tidak ada sama sekali.
Nuna yang tadinya hendak memberi kabar kepada orang tua dan juga mertuanya jadi tertunda karena ia tidak menemukan ponselnya sama sekali.
Tak lama kemudian perawat yang diminta untuk memindahkan Nuna ke ruang VIP pun datang kembali dengan membawa berkas persetujuan.
"Ini adalah berkas yang perlu di tanda tangani oleh anda bu. Dan uang DP yang harus dibayarkan di awal sekitar 3 juta rupiah," jelas perawat tersebut.
"Saya akan bayar, suster. Tapi sebelumnya saya harus mendapatkan ponsel saya dulu," balas Nuna.
"Ponsel anda semalam dibawa oleh Dokter Joy dan diserahkan kepada suami anda," jelas perawat tersebut.
"Apa?!!" pekik Nuna terkejut. "Ya sudah, nanti aku bayar uang DPnya saat ponselku sudah kembali."
"Yang terpenting sekarang cepat segera pindahkan aku!" pinta Nuna.
"Maaf, bu. Saya tidak bisa memindahkan anda sebelum menerima uang DPnya. Kalau begitu saya permisi dulu. Ibu bisa kembali memanggil kami jika uangnya sudah ada," jelas perawat tadi sambil berbalik dan keluar dari ruangan Nuna.
Saat perawat tadi sudah keluar dari ruangan inap. Sepasang suami istri yang ada di samping Nuna pun langsung tertawa terbahak-bahak menertawakan Nuna.
"Ya Ampun, Mas. Aku bisa cepat sembuh jika melihat hiburan seperti ini," ucap istrinya yang sedang dirawat sambil terkekeh.
"Syukurlah jika kau tidak terganggu dengan sikap pasien sakit jiwa yang ada di samping," tukas suaminya membuat Nuna langsung naik pitam dan menyibakkan korden yang membatasi ranjang mereka.
"Apa kamu bilang?!" gertak Nuna geram. "Siapa yang kamu maksud dengan pasien sakit jiwa, Hah?!" hardik Nuna sambil bersiap turun dari ranjang nya dan membuat perhitungan dengan orang yang kini satu ruangan dengannya.
โ๏ธโ๏ธโ๏ธ
Pagi Semuanya ๐๐๐
Terima kasih banyak udah berkenan baaca karya recehku yaa. Nantikan 2 bab kelanjutannya yang akan author up hari ini juga.
Jangan lupa untuk dukung terus karya Author dengan
Like ๐
Comment ๐ฌ
Favorit โค๏ธ
Vote ๐
__ADS_1
Gift ๐นโ๐บ
Dan Tonton iklannya ๐น๐ฝ๏ธ juga ya