Kurebut Suami Kakakku

Kurebut Suami Kakakku
Akhirnya berjumpa


__ADS_3

"Kak Nuna, apa yang kakak lakukan di sini?" tanya Ecca yang baru saja turun dari lantai atas dan kembali ke ruang meeting atas permintaan Belva.


"Ecca, kau ada di sini juga ternyata?" Nuna langsung menghambur memeluk Ecca.


Entah kenapa Nuna merasa sangat lega kali ini bisa bertemu dengan Ecca.


"Dia tidak memperbolehkan kakak masuk ke ruang suami kakak sendiri, Ca!" Nuna menunjuk ke arah Pak Toni, penasehat hukum di firma milik Belva.


"Oh, memang ruang Pak Belva tidak diperbolehkan siapa pun masuk ke dalam kak, kecuali Pak Belva sendiri," jelas Ecca.


"Pak Toni, mohon maaf ya atas sikap kakak saya barusan. Ia memang belum tahu tentang prosedur di sini," dengan santun Ecca meminta maaf kepada Pak Toni atas kelakuan kakaknya.


"Oh, iya Ecca, bukan masalah bagi saya. Apa ini kakak kandung Neng Ecca?" tanya Pak Toni kemudian.


"Iya pak, kenalkan ini Kak Nuna, kakak kandung saya," balas Ecca memperkenalkan kakaknya.


"Oooh, bagai langit dan bumi ya dengan kamu!" tukas pak Toni membuat Nuna kembali meradang.


"Apa maksud anda bagai langit dan bumi, hah?!" gertak Nuna tidak terima.


Melihat kakaknya kembali mengamuk, Ecca pun langsung mengamit lengan Nuna dan membawanya masuk ke dalam lift.


"Udah lah kaak, Jangan dibikin emosi. Kasihan tuh baby yang ada di perut kakak!" ucap Ecca saat mereka sudah ada di dalam lift.


"Kenapa? Kamu bangga di nilai lebih baik di mata mereka dari pada kakak, ya?" racau Nuna kesal.


"Adik macam apa sih kamu ini?"


Ecca menghela nafasnya pelan menghadapi kakaknya yang saat ini sedang diliputi dengan rasa kesal. Ia sendiri malas menanggapi ocehan kekesalan kakaknya, karena ujung-ujungnya kekesalan Nuna pasti akan semakin meruncing.


Saat pintu lift terbuka, Ecca mengajak kakaknya beristirahat di ruangannya yang baru. Ruangan yang tadinya kosong dan saat ini digunakan untuk Ecca mengerjakan skripsi.


Tidak hanya itu, Ecca juga membantu beberapa pekerjaan Belva karena mulai hari ini ia diangkat sebagai asisten Training Belva.


"Kakak istirahat di sofa dulu ya. Nanti Ecca pesenin makanan di kantin," ucap Ecca mempersilahkan kakaknya duduk.


"Aku sudah sangat kenyang, tidak perlu dipesankan makanan lagi!"


"Ini ruang siapa, Ecca?" tanya Nuna sambil berjalan mengelilingi ruang kerja Ecca yang baru.


Nuansa monokrom di ruang kerja Ecca terkesan elegan meski tidak begitu luas. Penataannya juga sangat keren menurut Nuna.


Belum sempat Ecca menjawab pertanyaan yang dilontarkan, Nuna sudah kembali bertanya.


"Trus, kok kamu bisa ada di sini sih?" tanya Nuna lagi dan kali ini dengan tatapan mengintimidasi.


"Yaa kan aku lagi penelitian kak, kebetulan tempatnya bisa diganti," jawab Ecca.

__ADS_1


Sayangnya jawaban Ecca kali ini membuat Nuna tidak langsung percaya begitu saja.


"Tidak mungkin, kamu pasti ada main sama Belva kan di belakang aku? Buktinya kamu bisa ada dikantor yang sama dengan Belva."


Tuduhan Nuna kali ini membuat Ecca hampir kehilangan kesabarannya. Akhirnya Ecca memutuskan untuk tidak menanggapi Nuna kali ini.


"Udahlah, aku masih harus menyelesaikan Skripsi ku, Kak. Lebih baik kakak istirahat saja daripada bicara yang tidak-tidak!" tukas Ecca yang langsung berkutat dengan laptopnya.


Nuna pun menyandarkan tubuhnya di sofa sambil mengirimkan pesan untuk Belva.


๐Ÿ“ฉ Nuna


Aku menunggumu di ruangan Ecca, kabari aku jika kamu sudah sampai di kantor.


Setelah mengirim pesan untuk Belva, Nuna pun kembali buka suara dan mengajak Ecca berbicara.


"Kamu masih tinggal di rumah Naya, sahabat kamu itu?"


"Trus gimana sikap j@l@ng Wita sama kamu?" tanya Nuna.


'Tidak sadar diri, siapa yang j@l@ng sebenarnya?!' gerutu Ecca dalam hati.


"Ck, aku sedang tidak ingin di ajak bicara kak. Tolong beri aku waktu untuk fokus dengan tugasku saat ini!" jawab Ecca yang sangat enggan menimpali ocehan Nuna.


"Dih, baru juga ngerjain skripsi. Sok sibuk amat sih, Ca! Makanya, dulu kalo milih jurusan kuliah itu di fikir dulu."


Bukannya diam, Nuna malah makin panjang berceloteh ria sampai Ecca kini terpaksa memakai earphone agar tidak terganggu dengan kebisingan yang Nuna lontarkan.


๐Ÿ„๐Ÿ„๐Ÿ„


Tepat saat jam makan siang tiba, Belva pun tiba di ruangan Ecca. Melihat Belva berdiri di pintu ruangan, membuat Nuna langsung berdiri dan menghamburkan memeluk Belva.


"Aku kangen banget sama kamu Belva. Akhirnya aku bisa ketemu juga sama kamu," ucap Nuna sambil memeluk Belva dengan sangat erat.


Ecca yang masih berkutat dengan laptopnya, kali ini sengaja tidak memandang ke arah Belva. Dia tetap fokus tanpa bergeming sedikit pun.


"Tidak perlu basa basi, Nuna. Katakan saja apa yang kau inginkan dariku?!" tanya Belva sambil melepaskan pelukan Nuna sambil melirik ke arah Ecca.


Ia takut jika membiarkan Nuna terus memeluk dirinya, justru akan menyakiti hati Ecca.


Tak lama kemudian Dirga datang dan masuk ke ruang kerja Ecca sambil membawa makan siang pesanan Belva.


Dirga sedikit memicingkan matanya saat melihat Wanita yang kini berdiri di dekat Belva.


'Oh ini kakaknya Ecca. Beda banget sama Ecca. Kalo Ecca itu bening dan cantik natural, kalo kakaknya udah make up tebal, tapi masih kalah cantik sama Ecca.'


'Pantes aja Pak Belva lebih milih adiknya dari pada kakaknya,' gumam Dirga dalam hati.

__ADS_1


"Maaf Pak Belva, ini makan siang yang sudah anda pesan."


Dirga meletakkan 4 box meal pesanan Belva di atas meja sofa.


"Yang 2 bawa masuk ke ruanganku, Dirga. Kita makan di sana karena ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan denganmu."


"Siap pak!" jawab Dirga yang langsung berbalik dan keluar dari ruangan Ecca.


Setelah Dirga tidak terlihat, Belva langsung bertanya tentang tujuan kedatangan Nuna. "Apa yang sebenarnya kau inginkan sampai jauh-jauh datang kemari?"


"Belva, aku sadar telah berbuat salah selama ini. Aku mohon maafkan aku!"


"Aku benar-benar ingin berubah menjadi istri yang baik untukmu, Belva," tukas Nuna dengan sungguh-sungguh.


"Bukankah kita menikah hanya sampai anak itu lahir? Agar kau tidak menanggung malu, Nuna? Dan setelah itu kau akan membesarkan anak itu sendiri bukan?" tanya Belva mengingatkan perjanjiannya dengan Nuna.


"Awalnya memang seperti itu Belva, tapi apa kau tidak kasihan jika ia besar nanti tidak ada sosok ayah yang mendampinginya?" balas Nuna yang jauh dalam lubuk hatinya berharap Belva setuju menggagalkan perjanjian mereka.


Untung saja sejak awal Belva benar-benar mengurus perjanjian mereka sedetail mungkin yang tentunya tidak begitu memberatkan dirinya.


"Tidak ada hubungannya sama sekali denganku, Nuna. Karena aku bukanlah ayah dari bayi yang kau kandung itu!" jelas Belva.


"Tapi..."


"Aku akan mengirimkan uang ke rekeningmu 5 juta setiap bulan sampai kau melahirkan anakmu. Setelah itu, kontrak oerjanjian kita selesai!" ucap Belva dengan tegas dan bergegas meninggalkan ruangan Ecca.


"Mana cukup jika hanya 5 juta, Belva?!" pekik Nuna sambil menghadang langkah Belva.


"Bukankah kau tidak pernah butuh uangku, Nunaya?! Jadi, 5 juta atau tidak aku beri sama sekali!" balas Belva sambil terus melangkah meninggalkan Nuna.


"Ck! benar-benar keterlaluan!" gerutu Nuna yang terdengar jelas di telinga Ecca karena Ecca sudah mematikan musik yang sedari tadi terus mengalun di telinganya.


"Lihat saja! Aku akan membuatmu bertekuk lutut di hadapanku Belva, dan kau sendiri nantinya yang akan meng-cance surat perjanjian kita!" ucap Nuna yang sudah bertekad untuk memiliki Belva seutuhnya.


โ˜˜๏ธโ˜˜๏ธโ˜˜๏ธ


Jangan lupa untuk dukung terus karya Author dengan


Like ๐Ÿ‘


Comment ๐Ÿ’ฌ


Favorit โค๏ธ


Vote ๐Ÿ’ž


Gift ๐ŸŒนโ˜•๐Ÿ’บ

__ADS_1


Dan Tonton iklannya ๐Ÿ“น๐Ÿ“ฝ๏ธ juga ya


__ADS_2