
“Selamat pagi para murid sekalian!” Guru itu mengucapkan salam.
“Pagi Pak Guru!” semua murid kompak menjawab.
“Pak Guru mengucapkan selamat karena telah diterima di Akademi ini. Kalian yang diterima adalah masa depan kota ini, apapun hasilnya kalian harus tetap bangga!” Pak Guru membuka kelas dengan sebuah motivasi.
“Heh, Bangga untuk apa pak? kelas lain selain Kelas A hanya sampah!” seorang murid laki-laki berteriak pada guru itu. Dia menjadi sorotan seluruh kelas karena perkataannya. Seluruh murid menatap dia dengan tatapan marah.
“Hahahahahahaha, perkataanmu sangat lucu! dari perkataanmu, bisa disimpulkan bahwa kau juga seorang sampah!” Zhuo Fang membalas perkataan murid itu dengan sindiran.
“Aku bukan sampah! aku berbeda dari kalian!” murid itu tak terima dengan perkataan Zhuo Fang.
“Pandanganmu sungguh aneh. Mengejek murid yang bukan kelas A dengan sebutan sampah, padahal kau sendiri adalah kelas C.” Seorang murid perempuan berkata dengan santai.
“Aku masuk kelas C karena sebuah kesalahan! jika aku dinilai lagi, maka aku akan masuk kelas A dengan mudah!” murid laki-laki itu sangat terobsesi dengan kelas A.
“Jadi, apakah kau menyalahkan pihak akademi?” Pak Guru yang dari tadi diam mulai berbicara dengan nada tajam.
“Bu-bukan begitu maksudku Guru.” Murid itu terlihat sangat ketakutan saat ditanyai Pak Guru. Nyali yang tadi dia tunjukkan entah hilang kemana.
Melihat ekspresi murid itu, Pak Guru hanya tersenyum seraya berkata, “Lalu?”
Tidak ada jawaban dari murid itu. Dia hanya diam saja dengan ekspresi tidak berubah. Kelas menjadi sunyi sesaat.
“Tidak mau menjawab? Mari lanjutkan pembelajaran.” Karena murid itu tidak menjawab, Pak Guru memutuskan untuk melanjutkan pembelajaran.
Bukannya segera melanjutkan, guru itu hanya diam seperti memikirkan sesuatu. Para murid hanya diam menunggu. Pada akhirnya guru itu berkata, “Sampai mana tadi?”
Para murid yang mendengar perkataan itu mulai tertawa. Suasana kelas yang mulanya sepi menjadi ramai. Melihat suasana kelas yang tidak tegang lagi, guru itu hanya tersenyum lembut.
“Kalian yang diterima adalah masa depan kota ini, apapun hasilnya kalian harus tetap bangga! itulah kalimat terakhir yang Pak Guru bilang.” Kai Zen menjawab dengan lesu.
“Terima kasih telah mengingatkan Kai Zen.” Tanpa diduga guru itu tau nama Kai Zen. Kai Zen terkejut mengetahui bahwa guru itu mengetahui namanya. Tapi, Kai Zen tidak menunjukkan ekspresinya.
“Tidak kuduga Pak Guru bisa mengetahui nama Kai Zen!” Zhuo Fang berkata dengan lantang.
“Bukan hanya Kai Zen. Bahkan bapak tau semua nama murid di sini Zhuo Fang. ” Pak Guru berbicara dengan santai. Murid yang ada di kelas itu terkejut dengan pernyataannya. Salah satu murid perempuan menanggapi pernyataan Guru itu, perempuan yang sama dengan perempuan yang mengomentari murid laki-laki arogan tadi.
“Tidak perlu terkejut. Saat kita mendaftar di akademi. Bukankah kita memberikan informasi dan foto kita? Pak Guru pasti membacanya.”
“Hahahaha, kau benar Ying Yin.” Pak Guru mengacungkan jempolnya pada Ying Yin. Murid lain mengangguk seakan mengerti. Wajah terkejut mereka mulai memudar. Pak Gurupun mulai berbicara lagi.
“Ngomong-ngomong, ada yang tau nama Pak Guru?” Pak Guru menanyai para murid. Tidak ada murid yang menjawab pertanyaan itu.
“Tidak ada yang tau?” Pak Guru menanyai mereka lagi. Keadaan tidak berubah, tidak ada murid yang menjawabnya.
“Sepertinya tidak ada. Kenapa Pak Guru tidak memperkenalkan diri saja? supaya kami tau.” Kai Zen mengambil inisiatif menjawab.
__ADS_1
“Baiklah.” Wajah Pak Guru terlihat kecewa, dia menghela napas. Walaupun begitu, Pak Guru tetap memperkenalkan dirinya.
“Nama guru, Xiao Zi Zhao. Kalian bisa memanggil guru, Guru Xiao. Guru akan mengajar mata pelajaran Sejarah Sihir serta menjadi wali kelas kalian selama kalian bersekolah di sini. Jadi, mohon bantuannya murid-murid sekalian!” Guru Xiao memperkenalkan dirinya.
“Mohon bantuannya juga Guru Xiao!” Para murid menjawab serempak.
“Karena Guru sudah memperkenalkan diri. Sekarang gantian kalian para murid. Walaupun Guru tau nama kalian, tapi teman sekelas kalian belum tau. Dimulai dari...Zhuo Fang. ” Telunjuk Guru Xiao yang sedang berputar, berhenti di arah Zhuo Fang. Zhuo Fang mulai berdiri dan memperkenalkan dirinya.
< < > >
“Selamat Pagi. Perkenalkan namaku Zhuo Fang, mohon bantuannya.” Zhuo Fang memperkenalkan dirinya.
“Singkat sekali ya? Baiklah. Untuk murid lainnya tolong perkenalkan nama dan hobi kalian. Jika ingin mengungkapkan yang lainnya juga diperbolehkan.” Guru Xiao merasa bermasalah dengan perkenalan singkat Zhuo Fang.
“Depannya Zhuo Fang, perkenalkan dirimu.” Guru Xiao menyuruh murid yang duduk di depan Zhuo Fang, murid itu diriku sendiri.
Akupun berdiri, mengambil sikap yang menurutku pantas lalu berkata, “Selamat pagi teman-teman. Perkenalkan namaku Kai Zen. Hobiku mungkin berlatih karena aku ingin melindungi sesuatu yang berharga bagiku. Mohon bantuannya.” Aku memperkenalkan diriku.
“Kai Zen, apakah kamu tidak mempunyai hobi lain? Berlatih menurut guru bukan sebuah hobi, tapi kewajiban.” Guru Xiao mengeluh tentang hobiku.
Aku mengangguk mengerti lalu menyebutkan hobiku yang lain, “Kalau begitu, hobiku adalah membaca. Buku yang sering kubaca adalah buku tentang sihir, entah itu sejarah atau persoalan lainnya. Biasanya aku membaca di Perpustakaan Kota.”
“Mengagumkan Kai Zen. Ngomong-ngomong, berapa banyak buku yang pernah kau baca di perpustakaan kota hingga saat ini?” Guru Xiao bertepuk tangan mengagumi hobiku lalu memberiku pertanyaan.
“Aku hanya membaca beberapa buku Guru Xiao. Jumlah spesifiknya tidak tau, mungkin seperempat bangunan Perpustakaan Kota.” Aku sedikit menaruh kebohongan di kalimatku. Kalu aku jujur menyebutkan seluruh buku di Perpustakaan Kota pernah kubaca. Mungkin tidak akan yang percaya. Tapi, kalau seperempat mungkin ada beberapa yang percaya.
“TIDAK MUNGKIN!”
“KAU PASTI BERBOHONG!”
Teriakan demi teriakan terdengar di dalam kelas. Seluruh kelas terkejut mendengar pernyataanku. ‘Sepertinya perkiraanku salah. Seharusnya aku bilang beberapa saja.’ Ucapku dalam hati.
“Hoi Kai, kau bercandakan?” Zhuo Fang berbisik di telingaku.
“Tidak. Aku serius.” Karena sudah terlanjur begini, lebih baik teruskan tanpa menyangkal.
“Huh, kau mengagumkan Kai. Aku percaya padamu!” tanpa kuduga, Zhuo Fang percaya perkataanku. Dia tersenyum lalu mengacungkan jempolnya. ‘Aku telah salah menilainya selama ini, maafkan aku Zhuo Fang.’ Ucapku dalam hati.
“Kasihan sekali dirimu bila tidak ada satupun yang percaya Hehehehehe.” Zhuo Fang melanjutkan kalimatnya sambil tertawa di belakangku. ‘Sial! Aku tarik kembali perkataanku.’ Ucapku dalam hati seraya menyesal memberikan penilaian bagus padanya.
“Tenang semua, tenang. Guru ingin berbicara.” Guru menyela ditengah kericuhan. Suasana kelas menjadi tenang.
“Bagi sebagian besar murid mungkin sulit untuk mempercayai perkataan Kai Zen. Tapi, Aku percaya padamu Kai Zen!” Guru Xiao tersenyum padaku.
“Sejak kapan kau mulai membaca Kai Zen?”
“Sejak umur 7 tahun aku mulai membaca di perpustakaan kota guru. Setiap ada waktu luang aku akan menghabiskan waktuku disana.” Aku membalas pertanyaan Guru Xiao.
__ADS_1
“Untuk mengkonfirmasi perkataanmu, guru akan bertanya beberapa buku yang ada di perpustakaan kota. Jika kau bisa menjawabnya, maka perkataanmu memang benar. Bagaimana Kai Zen?” Guru Xiao menatap mataku.
“Baiklah,” Jawabku singkat.
Guru Xiao mulai bertanya beberapa buku padaku. Pertanyaan yang dia berikan bisa berupa pendapatku, penulis buku, kesimpulan, dan pertanyaan yang berkaitan tentang buku itu. Karena aku hanya mengaku pernah membaca seperempat buku yang ada di perpustakaan kota. Aku sengaja tidak tau tentang beberapa buku yang Guru Xiao tanyakan.
“Pertanyaan terakhir dariku. Kamu tau buku berjudul ‘Sihir Zaman Kuno, Elemen Sihir Tidak Terbatas’? ” Tanya Guru Xiao padaku.
“Ya guru,”
“Bagaimana pendapatmu tentang buku itu?”
“Bagiku buku itu sangat mengagumkan. Apalagi semua yang di tulis di buku itu berasal dari analisa sang penulis dari bangunan kuno. Memang apa yang di tulis di buku itu sulit dipercaya dan hanya sekedar analisa. Tapi, aku mempercayai apa yang dikatakan buku itu.” Aku memberi jawaban singkat.
“Pendapatmu tentang buku ini sangat singkat, tidak seperti buku lainnya.” Celetus Guru Xiao.
“Aku masih belum paham pasti tentang buku itu, jadi tidak berani terlalu berpendapat tentang bukunya.”
“Walau kau kurang paham, kenapa kau mempercayai apa yang dikatakan buku itu?” Guru Xiao seperti menginterogasiku.
“Tidak tau guru. Entah kenapa aku hanya mempercayainya.” Jawabku tanpa memberi kepastian.
“Baiklah, cukup sampai disini pertanyaanku. Apa ada yang belum percaya perkataan Kai Zen?” Guru Xiao menanyai pendapat murid lain.
Murid lain hanya diam, pertanda mereka sudah percaya apa yang kukatan atau tidak punya alasan untuk membantah perkataanku. Pembicaraanku dengan Guru Xiao untuk membuktikan perkataanku menghabiskan satu jam pelajaran. Setelah tidak ada yang berbicara, Guru Xiao mulai melanjutkan perkenalan muridnya.
“Karena tidak ada yang berbicara, guru anggap semua menerima apa yang Kai Zen katakan. Luar biasa Kai Zen, guru bangga padamu.” Guru memberi tepuk tangan padaku.
“Terima kasih guru,”
“Mari lanjutkan perkenalan kalian.” Akhirnya Guru Xiao melanjutkan perkenalan murid lainnya. Setelah semua murid selesai memperkenalkan diri, Guru Xiao mengakhiri kelasnya.
“Baik, karena semua murid telah memperkenalkan diri kalian masing-masing maka kelas berakhir. Jadwal akan dikirimkan ke FVZ Chat. Ada pertanyaan?” Guru Xiao memberikan kesempatan bertanya.
“Apa yang kami lakukan guru? Bukankah jam pelajaran masih ada?” Murid bernama Xing Xingchen melontarkan pertanyaan.
“Pertanyaan bagus. Karena jam pelajaran masih ada kalian tidak diperbolehkan pulang. Tapi, kalian bisa pergi jalan-jalan ke seluruh kawasan akademi. Anggap saja sebagai bentuk adaptasi kalian di lingkungan akademi.” Jawab Guru Xiao.
“Ngomong-ngomong, seminggu ini kalian tidak ada pelajaran. Kalian bebas melakukan apapaun asalkan berada di kawasan akademi. Jam pulang tidak akan berubah. Pelajaran akan di mulai minggu depan. Ada pertanyaan?” Guru Xiao menjelaskan kembali.
Setelah Guru Xiao menjelaskan, tidak ada murid yang bertanya. Sepertinya mereka sudah paham. “Aku anggap kalian paham. Jika ada yang perlu ditanyakan, temuilah guru.” Guru Xiao bersiap-siap keluar dari kelas.
“Pelajaran berakhir, terima kasih atas perhatian kalian.” Guru Xiao mulai melangkah pergi. Disaat Guru Xiao sudah menutup pintu, tidak berlangsung lama ada beberapa murid yang menghampiriku.
“Sepertinya mereka tidak memiliki niat baik.” Ucap Zhuo Fang di belakangku.
“Santai saja.” Ucapku sembari menatap mereka datang. Jumlah mereka tiga orang, ketiga orang itu perempuan semua. ‘Sial, kenapa harus perempuan semua yang datang, berurusan dengan perempuan lebih sulit daripada laki-laki.’ Ucapku dalam hati.
__ADS_1
Disaat mereka telah berdiri di depanku. Aku sudah bersiap dengan berbagai kemungkinan yang terjadi, aku berharap mereka tidak membuat masalah denganku. ‘Aku hanya ingin menjalani kehidupan murid yang tenang dan damai, kenapa masalah selalu menghampiriku? sial.’ Aku mengeluh dalam hati. Mereka menatap diriku dengan sinis. Sudah jelas niat mereka tidak baik. Aku membalas menatap mereka, mata kami saling beratatap.
Bersambung