
“Cepat, Yizue!” ucapku menyuruh Yizue setelah mendengar Zhuo Fang berteriak di belakangku.
“Ke-kenapa?” Yizue terdengar heran. Namun, aku tidak menjawabnya, melainkan langsung menggandeng tangannya agar berjalan secepat diriku.
‘Apa Zhuo Fang tidak mengingat kejadian kemarin?’ ucapku dalam hati. Aku dan Yizue akhirnya berhasil keluar dari perpustakaan sebelum hal yang kupikirkan datang.
“Me-mengapa kau sangat terburu-buru, Kai?” tanya Yizue.
“Supaya tidak mendengar teguran pengawas perpustakaan.” Jawabku, kami melakukan perbincangan seraya berjalan pergi.
“Oh, s-seperti yang kemarin?” tanya Yizue memastikan.
“Benar, Zhuo Fang tadi, pasti di tegur lagi hahahaha!” jawabku sembari menertawakan Zhuo Fang.
“Ngomong-ngomong, mengapa kau mengajakku jalan berdua, Yizue?” tanyaku padanya setelah puas tertawa.
“A-anuu, I-itu...” Yizue terlihat bingung.
“Ya?” aku menatapnya.
“T0-tolong katakan apa yang kau mau!” ucap Yizue.
“Apakah ini tentang janji kita? karena aku yang menang maka kau harus mengabulkan satu keinginanku?“ tanyaku memastikan.
“Bu-bukankah kesepakatannya begitu?” jawab Yizue malu, terlihat dari gerak-geriknya yang memainkan jari-jemarinya.
“Biarkan aku berpikir.” Aku berpikir tentang permintaan apa yang akan kuminta.
“Ya-yang se-sewajarnya, oke?” kali ini Yizue menatapku, wajahnya sedikit memerah.
“Iya, aku tidak akan meminta yang aneh-aneh.” Jawabku mengiyakan ucapannya.
‘Bukankah Yizue terlalu berpikir negatif tentangku?’ aku mengela napas kesal.
“A-ada apa?” tanya Yizue kepadaku setelah melihat diriku menghela napas.
“Su-sudah menemukan keinginanmu?” tanya Yizue kepadaku
“Bagaimana kalau kita mencari tempat duduk yang sepi dulu, Yizue?” pintaku.
“Ta-taman Akademi, Kai?” Yizue langsung merekomendasikan tempat.
“Baiklah, mari ke sana!” ajakku, kami pun berjalan berdampingan ke sana. Dalam perjalanan itu aku juga memikirkan apa yang kuinginkan.
Kurang lebih 5 menit setelah pembicaraan terakhir kami, Aku dan Yizue telah sampai di Taman Akademi.
“Mari ke sana, tempat itu sepi!” ajakku seraya menunjuk tempat yang kuinginkan.
“Ka-kamu benar, ayo!” Yizue menyetujui ajakanku, kami pun segera berjalan ke sana. Setelah sampai, kami segera mengambil posisi duduk.
“Ja-jadi, sudah memikirkan keinginanmu?” tanya Yizue kepadaku selepas kami berdua duduk.
“Aku sudah menemukannya!” jawabku dengan semangat.
__ADS_1
“A-apa?” tanya Yizue penasaran seraya melihatku.
“Karena kamu sudah mengatakan rahasia paling penting dalam hidupmu, sebagai balasannya aku akan mengajari hal yang menakjubkan!” ucapku.
“Ka-kamu tidak perlu membalas, Kai. I-itu keinginanku untuk memberitahumu. Ja-jadi, kau bisa memikirkan keinginanmu tanpa harus membalasku.” Yizue tersenyum lembut padaku.
“Tidak, aku sudah memutuskannya. Lagipula, kamu belum tentu setuju kalau ini bukan janji kita!” Aku berusaha membuat alasan agar Yizue menerimanya.
“Me-memang apa keinginanmu?” tanya Yizue penasaran.
“Mengajarimu cara untuk masuk ke dalam alam bawah sadarmu!” ucapku dengan bangga.
“A-apa kegunaannya?” tanya Yizue dengan polos.
“Eh, kamu tidak tahu, Yizue?” ucapku terkejut.
“Ti-tidak tahu.” Yizue menggelengkan kepalanya.
“Salah satu fungsi alam bawah sadar adalah untuk menampung Roh Sihir seseorang. Jadi, Jika seseorang memiliki Roh Sihir, Roh Sihir itu akan tinggal di alam bawah sadarnya. Alam bawah sadar memiliki banyak fungsi, tapi saat ini aku hanya menjelaskan itu saja.” Aku memberi Yizue penjelasan.
“Lalu, apa hubungannya denganku?” tanya Yizue lagi.
“Sepertinya kau tidak tahu kalau sosok rubah ekor sembilan itu adalah Roh Sihirmu.” Jawabku memberitahunya.
“Di-dia Roh Sihirku?” Yizue terkejut mendengarnya.
“Ka-kamu tidak berbohong, K-kai?” imbuh Yizue.
“Percayalah padaku, Yizue!” Aku menyakinkannya.
“Begitulah~” jawabku singkat.
“O-oke.” Yizue tidak melanjutkannya.
‘Sepertinya Yizue enggan bertanya lebih jauh lagi, apakah dia takut menghancurkan hubungan kita jika dia bertanya lebih jauh? padahal kalau dia bertanya pun hubungan kita tidak akan langsung memudar, namun aku suka sikap dia yang seperti ini!’ pikirku dalam hati.
“Ja-jadi, mau kapan kau mengajariku?” tanya Yizue padaku.
“Sekarang!” jawabku dengan semangat membara.
“Se-sekarang?” Yizue mengulangi perkataanku, dia terdengar terkejut.
“Ya, sekarang!” jawabku lagi.
“Ba-baiklah.” Yizue mengangguk setuju.
“Mari kita mulai, sekarang pejamkan matamu dan tenangkan pikiranmu!” Yizue segera memejamkan matanya setelah mendengar arahanku.
“Setelah itu, atur napasmu agar teratur!” dia segera mengatur pernapasannya.
“Rasakan sensasi tenang ini dengan seksama, jika kau merasa ada yang memanggilmu, ikutilah suara itu!” Aku memberi arahan lagi kepada Yizue.
“Uhuk-uhuk." beberapa saat kemudian, Yizue terbatuk.
__ADS_1
“A-apa kau tidak apa-apa?” aku panik saat melihat Yizue batuk.
‘Apakah aku terlalu memaksanya? sial!’ cetusku dalam hati.
“Kau tidak perlu mempelajarinya kalau kau tidak mau.” Ucapku khawatir menatap Yizue.
“Ti-tidak apa-apa, Kai. A-aku ingin mempelajarinya!Barusan aku mendengar suara itu, tapi aku tidak mampu untuk mengikutinya dan akhirnya berakhir begini.” Jawabnya lirih sembari memulihkan keadaannya.
“Boleh aku membantumu, Yizue?" Aku menawarkan bantuan.
“A-apakah proses ini bisa di bantu, Kai?”
“Bisa, tapi aku juga bisa melihat alam bawah sadarmu. Apa kau tidak keberatan?” Aku meminta persetujuannya.
“Ti-tidak masalah.” Yizue menganggukkan kepalanya.
“A-ada satu lagi.” Aku malu ingin mengatakan ini, tapi apa boleh buat.
“A-apa?”
“Kedua tangan kita harus saling menggenggam dan kening kita harus saling menempel, a-apa kamu tidak keberatan, Yizue?” ucapku lirih.
Yizue tidak menjawab ucapanku, dia hanya mengangguk yang artinya setuju dengan ucapanku.
“Mari kita mulai.” Ucapku memulai.
Yizue melepaskan kacamatanya setelah mendengar aba-abaku. Kemudian, Kami pun segera menggenggam erat tangan kami. Kedua kening kami juga saling bersentuhan. Aku bisa melihat wajah Yizue yang memerah, merasakan nafas Yizue yang menggoda, dan kehangatan tubuhnya.
‘Kendalikan dirimu, Kai!’ ucapku dalam hati, berusaha menenangkan diri.
Setelah diriku tenang, aku memberi arahan yang sama seperti tadi. Akhirnya aku berhasil masuk. bersama Yizue ke dalam alam bawah sadarnya.
“Wow, tidak kusangka alam bawah sadarmu berbentuk padang rumput yang sangat indah!” Aku memuji alam bawah sadar Yizue.
“Te-terima kasih, Kai!” jawabnya.
“Lalu, mari kita mulai!” karena Yizue tidak ingin bertanya lebih jauh, aku memberi arahan untuk memulainya. Beberapa saat kemudian, suara yang memanggil nama Yizue datang.
“Yi Yizue~”
“Yizue~”
“A-apa kamu mendengarnya, Kai?” tanya Yizue padaku.
“Aku mendengarnya, suara itu berasal dari arah sana!” aku menunjuk asal suara itu.
“Bagaimana kamu bisa tahu?” tanya Yizue penasaran.
“Kekuatan jiwaku juga dapat mempengaruhi alam bawah sadar.” jawabku singkat.
“Ummm, ba-baiklah, mari ke sana!” Yizue mengangguk seraya mengajakku ke tempat yang aku tunjuk. Kami pun segera beranjak pergi ke arah yang telah ditentukan. Setelah sampai, Yizue terkejut melihat sesosok yang tidak asing baginya.
“Ternyata benar roh sihirku?” ucapnya terkejut.
__ADS_1
Bersambung