
“MATILAH, SIALAN!”
Shi Po melemparkan pisau yang di pegangnya ke arah Song Zhiqing. Pisau itu melesat cepat ke arahnya. Tetapi, usaha Shi Po sia-sia.
Clang!
Pisau yang di lempar Shi Po terhempas ke arah lainnya seakan menabrak dinding yang kokoh. Shi Po yang menyadari hal yang tak terduga segera bertindak dengan cepat. Dia berusaha melarikan diri dari hadapan Song Zhiqing.
“Sihir Tanah Tingkat Bumi Menengah: Badai Pasir!”
Shi Po melepaskan sebuah sihir yang menghasilkan badai pasir ke sekitar Song Zhiqing. Namun, karena tingkat sihir yang dikeluarkan Shi Po termasuk rendah, cakupannya menjadi kecil. Kemudian, dia segera berlari melewati Song Zhiqing menuju ke dalam pesta.
‘Andaikan...andaikan aku melangkah ke dalam...aku akan selamat!’ pikir Shi Po sambil berlari. Dia mengira jika berhasil melangkah ke dalam pesta maka dia akan selamat karena Song Zhiqing tidak berani membunuhnya di keramaian pesta.
“Wah sepertinya dia kabur, kau tidak mengejarnya?” tanya Zhuo Fang.
PLOK!
Sekali tepukan tangan dari Song Zhiqing menghilangkan seluruh badai pasir di sekitarnya. Dia mulai berjalan pergi mengejar Shi Po seraya membalas pertanyaan Zhuo Fang tanpa memalingkan wajahnya.
“Aku akan mengejarnya!”
“Ya, ya, ya, cepatlah!”
Zhuo Fang meloncat turun dari pohon, lalu mengambil dua kepala yang terpenggal sebelumnya. Dia berjalan di belakang Song Zhiqing seraya membawa dua kepala itu. Song Zhiqing yang menyadari Zhuo Fang mengikutinya dari belakang tidak melambat sedikitpun. Dia justru bertambah cepat, sedangkan Zhuo Fang tetap berjalan santai jauh di belakangnya.
Pada akhirnya Song Zhiqing berhasil menyusul Shi Po, tetapi Shi Po telah berada di tengah keramaian pesta seraya berteriak tidak jelas. Orang-orang yang melihat Shi Po berteriak tidak jelas mulai menjauhinya. Mereka hanya menatap Shi Po dengan kebingungan.
“T-tolong aku!”
“T-tuan Muda dari Keluarga Song menggila...d-dia berani membunuh orang!”
__ADS_1
“T-teman-temanku telah di bunuh olehnya!”
Teriak Shi Po di tengah keramaian pesta. Song Zhiqing yang mendengar omong kosong Shi Po merasa muak. Dengan tenang, dia membalas teriakan Shi Po dari belakangnya.
“Tutup mulut busukmu itu, semua yang kau katakan hanyalah pembenaran untuk perbuatan tercela yang telah kau lakukan!”
Duk! duk! duk!
Bersamaan dengan perkataan Song Zhiqing, dua buah kepala menggelinding di depannya. Salah satu dari dua kepala itu menggelinding hingga menabrak kaki Shi Po. Shi Po melotot melihat dua kepala itu, dia terkejut karena Song Zhiqing berani membawanya ke tengah keramaian pesta.
‘Orang ini sudah gila!’ pikir Shi Po.
Tidak hanya Shi Po yang terkejut, semua tamu yang datang di pesta itu juga terkejut. Ada beberapa yang muntah melihat dua kepala yang menggelinding itu. Beberapa juga terkejut karena mengenal identitas dari dua kepala tersebut.
“Anakku!” teriak seorang wanita sembari berlari ke arah dua kepala itu. Dia memegang salah satu kepala yang tergeletak di tanah sambil menangis.
“Cu...cucuku...” sementara itu, kepala yang lainnya di pegang oleh seorang kakek. Dia mencoba menahan tangisan sedihnya.
“Dia! Song Zhiqing yang membunuhnya! tuan muda dari Keluarga Song yang melakukan hal kejam ini!” jawab Shi Po dengan angkuh, dia mencoba menghilangkan ketakutan yang sebelumnya agar para pendengar dapat memercayainya.
“Ketika kami bertiga sedang duduk di taman. Tiba-tiba tuan muda Song mendekati kami dan menebas kepala He Si dan Yu Guang tanpa peringatan. Aku yang melihat kejadian itu sontak terkejut dan berlari kemari dengan cepat!” jawab Shi Po dengan nada sedih. Berharap para tamu yang mendengar penjelasannya dapat membantunya.
“Dongeng yang bagus! kau cocok menjadi seorang pendongeng!” tidak lama setelah Shi Po memberi penjelasan palsu, Zhuo Fang memberi tepuk tangan dari belakang Song Zhiqing.
“Apakah kau sudah selesai bercerita? bisakah sekarang aku membunuhmu?” Song Zhiqing juga menanggapi penjelasan palsu Shi Po.
“Ngomong-ngomong, terima kasih telah membawakan kepala kedua orang itu, Zhuo Fang!” imbuh Song Zhiqing.
“Bukan masalah!” jawab Zhuo Fang santai.
Para tamu yang datang ke pesta itu mulai bingung sekaligus terkejut dengan pemandangan di depannya. Mereka bingung untuk memercayai Song Zhiqing atau Shi Po. Sedangkan, terkejut mengetahui Tuan Muda Song berani membunuh dua orang di kediaman Keluarga Zhuo. Mereka sedang menunggu penjelasan dari pihak Song Zhiqing.
__ADS_1
“Penjelasan yang dikatakan Shi Po hanyalah omong kosong belaka, dia dan kedua temannya berniat memerkosa adikku walaupun mereka tahu identitasnya. Jadi, aku membunuh mereka!” jelas Song Zhiqing tanpa basa-basi.
Suami dan istri itu terkejut mendengar penjelasan Song Zhiqing. Mereka hanya dapat menerimanya. Bagaimanapun kedudukan Keluarga Yu tertinggal jauh daripada Keluarga Song, ibarat langit dan bumi.
“Jika begitu kami izin pergi terlebih dulu. Kami ingin menyiapkan pemakaman untuk putra kami, Yu Guang.” Suami itu tersenyum pahit kepada semua orang sembari menggandeng istrinya yang masih memeluk erat kepala anaknya.
“Tubuh anak kalian ada di dekat sebuah pohon di taman Keluarga Zhuo, Bibi, Paman.” Zhuo Fang memberitahu pasangan suami-istri itu dengan sopan.
“Terima kasih.” Jawab sang suami sembari berjalan ke taman untuk membawa tubuh anaknya dan pergi.
“Cucuku memang salah, terima kasih atas kemurahan hati anda karena membiarkan jasadnya utuh.” Sedangkan, kakek dari pihak He Si yang mengetahui betapa menakutkannya Song Zhiqing ketika marah mengucapkan terima kasih padanya karena tidak membakar habis atau melenyapkan mayat He Si. Dia segera pamit dan berjalan pergi. Tidak lupa untuk mengambil tubuh cucunya di taman Keluarga Zhuo.
‘Mengapa para monster tua itu kabur? mereka juga takut dengan bocah Keluarga Song itu?’ pikir Shi Po dengan panik. Dia tidak menyangka bahwa rencana yang dia rancang gagal dengan mudah. Di tengah-tengah keputusasaan karena rencananya gagal, Shi Yongzhen mendekatinya.
“Jangan putus asa, aku akan membantumu!” ujar Shi Yongzhen sembari menepuk punggung Shi Po.
‘Ah, Tuan Muda Shi membantuku, keluargaku tidak meninggalkanku!’ batin Shi Po.
“Terima-”
SREK
Sebelum Shi Po mengucapkan terima kasih kepada Shi Yongzhen, kepalanya telah berpisah dari tubuhnya. Shi Yongzhen yang menyadari hal tersebut segera melotot ke arah Song Zhiqing.
“Apa maksudnya ini?” tanya Shi Yongzhen.
“Bukankah aku sudah menjelaskannya tadi? apa kau tidak terima? mau bertanding lagi denganku?” ujar Song Zhiqing dengan angkuh. Sebelumnya dia pernah menang berduel dengan Shi Yongzhen karena tunangan Song Zhiqing mau direbut oleh Shi Yongzhen.
“Apa kau ingin menyulut peperangan dari kedua keluarga?” elak Shi Yongzhen, dia mencoba menghindari pertanyaan dari Song Zhiqing.
“Bukankah Keluarga Song dan Keluarga Shi sudah saling berperang?”
__ADS_1
Bersambung