
Hari Minggu tiba, Kai Zen telah berdandan rapi sebelum jam tujuh. Dia menatap cermin yang terdapat pantulan dirinya. Kemudian, dia tersenyum seraya berkata, “Begini saja? sepertinya sudah rapi!”
‘Hmmm, lebih baik meminta pendapat orang lain. Berarti hanya Kak Fex yang dapat ku minta tolong!’ Kai Zen segera membuka pintu kamar, lalu berjalan mencari Kak Fex.
“Kak Fex, kau dimana?” teriak Kai Zen sembari berkeliling melihat satu per satu ruangan.
“Mengapa dia tidak ada?” Kai Zen menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal.
“Di luar mungkin? aku akan pergi melihat, siapa tahu dia ada di sana!” Kai Zen beranjak pergi ke luar.
PIMPOM!
Tebakan Kai Zen kali ini benar. Kak Fex ternyata tengah berada di luar sembari menyiram tanaman. Dia terlihat sedang melamun menatap tanaman di depannya.
“Kak Fex!” panggil Kai Zen dari belakang.
“Ada apa, Kai?” Kak Fex yang melamun segera tersadar, dia menatap Kai Zen dengan bingung.
“Apakah pakaianku terlihat rapi, kak?” Kai Zen tidak bertanya alasan Kak Fex melamun walaupun tadi dia melihatnya.
“Sweater berkerah panjang berwarna putih dan celana jeans berwarna hitam? kau mau pergi, Kai?” ucap Kak Fex setelah mengamati pakaian Kai Zen.
“Iya, aku akan pergi jalan bersama teman-temanku, kak. boleh, kan?” Kai Zen juga meminta persetujuan kepada Kak Fex.
“Tentu saja boleh. Ngomong-ngomong, pakaianmu sudah cocok dan rapi, kau terlihat keren, Kai!” puji Kak Fex sambil mengacungkan satu jempol.
Kai Zen segera masuk ke dalam rumah setelah mendengar pujian Kak Fex. Dia memakai sepatu berwarna putih, lalu keluar lagi.
“Aku pergi dulu ya, kak!” Kai Zen beranjak pergi seraya berpamitan kepada Kak Fex.
“Apa kau memiliki uang saku?” teriak Kak Fex cemas.
“Aku punya.” Jawab Kai Zen terus melangkah pergi.
__ADS_1
“Yasudah, hati-hati. Jika uangmu kurang segera telpon diriku saja!” pekik Kak Fex. Kai Zen hanya tersenyum menanggapi ucapan Kak Fex tanpa menoleh sedikit pun.
Dalam perjalanan menuju titik pertemuan, Kai Zen mengingat diskusi dia dan teman yang lain. Diskusi itu membahas tentang kegiatan yang akan mereka lakukan pada hari libur.
Flashback, Hari Jumat di Perpustakaan Akademi Satu. Kai Zen, Yi Yizue, Guo Yan, dan Zhuo Fang sedang membaca buku. Ketika mereka sedang serius membaca, tiba-tiba Zhuo Fang mengatakan sesuatu kepada mereka.
“Hari ini adalah hari terakhir minggu pertama di Akademi Satu. Besok Sabtu kita sudah libur hingga minggu. Senin besok kita sudah mulai pelajaran. Bagaimana kalau lusa kita jalan-jalan bersama?” usul Zhuo Fang, dia memecahkan keheningan di antara mereka.
“Minggu?” tanya Guo Yan memastikan.
“Ya, Minggu besok. Bagaimana?” Zhuo Fang menatap mereka bertiga dengan antusias.
“Aku setuju.” Kai Zen mengangguk setuju mendengar usulan Zhuo Fang.
“A—aku juga setuju.” Yi Yizue menyusul.
“Bagaimana denganmu, Guo Yan?” Zhuo Fang menatap Guo Yan, dia tidak sabar menunggu jawaban yang akan keluar dari lisan Guo Yan.
“Karena kalian bertiga sudah setuju, lantas untuk apa bertanya kepadaku? aku tentu saja setuju!” Guo Yan tersenyum dengan lebar saat mengatakannya.
“Jadi, di mana titik kumpul kita?” tanya Kai Zen kepada ketiga temannya.
Mendengar pertanyaan Kai Zen, mereka bertiga terdiam berpikir. Kai Zen juga ikut berpikir. Mereka berempat akhirnya berpikir bersama.
‘Aku tidak tahu tempat yang cocok untuk bertemu, aku bahkan tidak hafal tempat apa saja yang ada di Kota Sky Blue. Di bukit Kota Sky Blue? jelas tidak cocok. Di Perpustakaan Kota? mungkin, tetapi jangan karena jauh dari tempat hiburan. Lalu, dimana lagi? sial, harusnya aku tidak selalu membaca buku dan berlatih!’ ketus Kai Zen dalam hati.
‘Di mana ya? mengapa aku tidak mengingat satu pun tempat di kota ini selain bukit tempatku berlatih bersama Kai Zen baru-baru ini? aku selalu mengurung diri di rumah sejak kecil karena penindasan dari luar. Ah, serahkan masalah ini kepada Zhuo Fang saja. Dia pasti lebih tahu!’ pikir Yi Yizue dalam hati.
‘Mengapa aku harus berpikir? aku adalah orang baru di kota ini. Lebih baik serahkan semua kepada ahlinya!’ Guo Yan menatap Zhuo Fang.
‘Tempat yang cocok...tempat yang cocok...tempat yang cocok...’ Zhuo Fang memejamkan mata seraya mengingat berbagai tempat yang ada di Kota Sky Blue. Saking khusyuknya berpikir, Zhuo Fang sampai tidak sadar bahwa dirinya di tatap oleh ketiga temannya.
“Aha, aku tahu!” Zhuo Fang membuka mata dengan wajah bahagia seakan berhasil memecahkan teka-teki silang. Ketika dia ingin mengatakan hasil pemikirannya kepada Kai Zen dan yang lain. Dia sontak terdiam saat menyadari dirinya di tatap oleh ketiga orang itu.
__ADS_1
“Bagaimana kalau kita bertemu di—”
“Mengapa kalian menatapku seperti itu? apa kalian ingin memakanku?” lanjut Zhuo Fang.
“Tidak apa-apa, kami hanya tidak sabar menunggu jawabanmu, Zhuo Fang!” Kai Zen menatap Zhuo Fang dengan serius.
“Huh, aku terkejut melihat tatapan kalian. Tolong jangan menatapku seperti itu!” ketiga temannya segera menghilangkan tatapan kepada Zhuo Fang.
“Nah, begitu dong!”
“Sudah, cepat beritahukan pada kami!” desak Guo Yan tidak sabar.
“Tenang-tenang, aku pasti akan memberitahukannya. Jadi...” Zhuo Fang mulai memberitahu titik pertemuan mereka. Tidak hanya itu, Zhuo Fang juga telah membuat rute jalan-jalan mereka sehingga menjadi lebih terstruktur.
“Luar biasa!“ Puji Kai Zen.
“Heem—Heem!” Yi Yizue mengangguk-anggukan pujian Kai Zen, dia setuju kepadanya.
“Kau tidak mengecewakan!” Guo Yan mengacungkan kedua jempolnya kepada Zhuo Fang.
Kembali ke dunia nyata, Kai Zen telah sampai di tempat titik kumpul. Kai Zen adalah orang pertama yang datang, dia tidak melihat seorang pun yang dia kenal disana.
“Taman Utama Sky Blue, taman di tengah kota. Tidak buruk juga!” ucap Kai Zen seraya duduk di sebuah kursi taman.
Kai Zen membuka HP untuk melihat pesan yang masuk di FVZ Chat setelah dirinya duduk. Dia juga melihat jam yang terpapar di HPnya.
“Jam 07.20? ternyata aku datang terlalu awal!” Kai Zen terkekeh menyadari kekonyolan dirinya.
“Menunggu lebih dari 30 menit tidak masalah. Lagi pula, aku sedang ingin menikmati suasana yang baru ini!” Kai Zen melihat kendaraan lalu-lalang dari kejauhan, anak kecil yang tengah bermain dengan orang tua atau teman sebayanya, dan...orang pacaran.
“Orang pacaran sungguh merusak pemandangan. Menjalani hubungan yang tidak berarti dan hanya menghambur-hamburkan uang saja.” Kai Zen menatap pasangan yang baru pacaran itu dari kejauhan dengan tatapan sayu.
“Ngomong-ngomong? aku dan Yizue tidak sama seperti mereka, kan? jika itu aku, aku akan mengajak Yizue untuk bertunangan langsung!” ucap Kai Zen tanpa rasa malu.
__ADS_1
Bersambung