
“Hemmm, baiklah. Jadi, aku tidak akan berekspektasi tinggi lagi padamu agar tidak membuatmu terbebani!”
Guo Yan juga membalikkan badannya menghadap Zhuo Fang setelah mendengar beberapa suara gesekan karena perpindahan posisi Zhuo Fang. Saat ini mereka saling menatap satu sama lain.
“Setidaknya beritahu harapanmu kepada orang itu agar dia dapat tahu.” Jelas Zhuo Fang seraya tersenyum.
“Ya, ya, ya...” Guo Yan tersenyum balik.
“Oh ya, aku minta maaf padamu tentang sikapku di arena sebelumnya. Seharusnya aku tidak mudah menyerah, tetapi...”
“Tidak apa-apa, aku sudah memaafkanmu. Lagipula, kita menang.” Potong Guo Yan. Dia terlihat tidak mempermasalahkannya.
“Tetap saja akun ingin meminta maaf padamu!” tegas Zhuo Fang.
“Kita berdua sama-sama salah, mari lupakan kejadian sebelumnya dan sambut masa depan dengan lebih baik lagi!” Guo Yan mengepalkan tangannya, kemudian diangkat mengarah ke Zhuo Fang.
Zhuo Fang yang memahami ajakkan tos dari Guo Yan segera menanggapinya. Dia mengepalkan tangannya, lalu meangkatnya hingga menyentuh kepalan tangan Guo Yan. Suasana di antara mereka kembali harmonis.
...----------------...
“Ka-kamu mau pesan apa, Kai?”
“Sama denganmu.”
Sesampainya di kantin, Kai Zen dan Yi Yizue segera memesan makanan. Selama di perjalanan ke kantin, mereka sama sekali belum berbicara satu sama lain. Yang mereka pikirkan adalah sama-sama ingin membahas beberapa hal setelah sampai di kantin.
“Ummm, ka-kalau begitu bagaimana dengan nasi goreng dan air putih seperti sebelumnya?”
“Baiklah.” Kai Zen mengangguk setuju.
Segera setelah Kai Zen setuju, Yi Yizue memesan makanan mereka. Menunggu beberapa menit, makanan mereka telah selesai di buat. Kemudian, Kai Zen dan Yi Yizue mencari tempat yang cocok. Karena keadaan kantin sepi, mereka berdua dengan cepat mengambil salah satu meja yang kosong.
“K-kai, boleh aku bertanya?” ucap Yi Yizue setelah mereka berdua duduk.
“Tentang yang sebelumnya?” tanya Kai Zen memastikan.
“Bu-bukan, ini bukan tentang Guo Yan dan Zhuo Fang. Pe-perihal mereka, kita lebih baik tidak membahasnya.” Yi Yizue menggelengkan kepalanya.
“I-Ini tentang dirimu.” Imbuh Yi Yizue seraya menunduk.
“Baiklah, katakan saja, Yizue. Aku akan menjawabnya sebisa mungkin.” Kai Zen menatap Yi Yizue dengn serius.
“A-apa kau sering berlatih, Kai?” tanya Yi Yizue masih dalam keadaan menunduk.
__ADS_1
“Ya, aku sering berlatih.”
“Ka-kapan kau akan berlatih di waktu paling dekat?”
“Nanti setelah pulang dari akademi.” Jawab Kai Zen jujur.
“Ummm, bo-bolehkan aku ikut berlatih bersamamu?” Yi Yizue yang dari tadi menunduk kini mulai memalingkan wajahnya menatap Kai Zen.
“Huh...apakah ini permintaanmu atau permintaan Kitsune?” dalam sekejap Kai Zen langsung menebak asal dari permintaan Yi Yizue.
Mendengar tebakan Kai Zen, Yi Yizue terdiam sejenak. Dia kembali menundukkan kepalanya seolah-olah sedang memikirkan sesuatu.
“Seharusnya aku kemarin tidak menunjukkan wujudku padamu, Nak. Sungguh tidak nyaman ketika sudah terikat denganmu!” tiba-tiba dalam diri Kai Zen terdengar suara Long Wang.
“Jika sudah begini, aku hanya terus terganggu karena selalu membantumu, sungguh sial!” cetus Long Wang.
“Mengapa juga kau terbangun? apa aku menyuruhmu? dan jangan marah-marah kepadaku!” batin Kai Zen membalas perkataan Long Wang.
“Ck, waktu tidurku terus berkurang!” cetus Long Wang lagi tanpa memikirkan perkataan Kai Zen.
“Aku tidak peduli, sungguh tidak peduli!” Kai Zen yang jengkel dengan perkataan Long Wang segera membalasnya.
“Ah, sudahlah. aku tidak ingin bertengkar denganmu, nak. Kali ini aku terbangun karena ingin memberitahumu sesuatu.” Long Wang mulai serius.
“Jika perkiraanku tidak salah. Kau akan...”
Beberapa menit setelah Kai Zen selesai membahas beberapa hal dengan Long Wang. Dia segera meminta kepastian dari Yi Yizue.
“Apa kamu tidak akan berbicara, Yizue? hidangan kita segera dingin lho!”
“Ummm, se-sebenarnya permintaan ini diusulkan oleh Kitsune. Karena usulannya menurutku bagus, aku pun menyetujui usulannya.” Yi Yizue mengatakan hal tersebut dengan jujur, tidak ada kebohongan sedikitpun dari perkataannya.
“Apa kau akan marah kalau aku menolak permintaan itu?”
“Ti-tidak, aku memahaminya.”
Kai Zen tersenyum mendengar jawaban Yi Yizue. Lantas, Kai Zen menatap Yi Yizue dengan senyum seraya berkata, “Sebenarnya aku tidak keberatan kalau kamu ingin ikut berlatih bersamaku. Tetapi...”
“Te-tetapi?” Yi Yizue menatap Kai Zen dengan penuh penasaran.
“Bagaimana dengan Paman Alex? apakah beliau memperbolehkannya?” lanjut Kai Zen.
“Pa-paman Alex pasti memberi persetujuan asalkan itu kamu, Kai Zen. K-kalau orang lain mungkin tidak...” jawab Yi Yizue sedikit malu.
__ADS_1
“Baiklah, aku menyetujuinya asalkan Paman Alex menyetujuinya.”
Mendengar persetujuan Kai Zen, Yi Yizue segera mengambil HPnya dan mulai mengetik. Raut wajah bahagia tergambar darinya.
“Sudah meminta izin?” tanya Kai Zen selepas melihat jari-jemari Yi Yizue berhenti mengetik.
“Su-sudah!” jawab Yi Yizue dengan senyumannya. Lalu, dia segera menaruh HPnya di meja.
“Baguslah, kalau begitu mari kita makan dulu!” ucap Kai Zen seraya mengambil sendok.
Yi Yizue menganggukan kepalanya, dia kemudian juga mengambil sendok yang ada di samping nasi gorengnya.
“Selamat makan!” ucap Kai Zen dan Yi Yizue bersama. Mereka mulai menyantap nasi goreng dengan lahap.
Beberapa saat telah berlalu, nasi goreng dan air putih di depan mereka telah habis semua. Agar suasana tidak sunyi, Kai Zen memulai percakapan dengan Yi Yizue.
“Sekarang jam berapa, Yizue?” tanya Kai Zen. Dia tidak membuka HPnya yang ada di saku karena pertanyaan yang Kai Zen lemparkan hanya untuk memberi isyarat kepada Yi Yizue untuk mengecek HP, siapa tahu Paman Alex sudah membalasnya.
Yi Yizue segera membuka HP, dia tersenyum sesaat layar HPnya hidup. Kemudian, dia menatap Kai Zen seraya membalas pertanyaan sebelumnya.
“Ja-jam 11.38. Ngomong-ngomong, Paman Alex menyetujuinya!” jawab Yi Yizue seraya menunjukkan layar HPnya.
Kai Zen yang melihat persetujuan Paman Alex dari layar HP Yi Yizue hanya tersenyum. Dia menganggukkan kepalanya yang berarti mengerti.
“Baiklah, kamu boleh ikut berlatih denganku.” Ujar Kai Zen.
“YATTA!” Yi Yizue bersorak gembira mendengar itu.
“Ngomong-ngomong, sekarang kita mau melakukan apa? jam satu siang masih lama.” Tanya Kai Zen.
“Ja-jalan-jalan saja? a-atau duduk santai di sini?atau ke arena untuk menonton pertandingan? atau-”
“Stop! aku memilih di sini untuk bersantai saja, Yizue.“ Jawab Kai Zen seraya menghentikan Yi Yizue.
‘Jika kubiarkan maka tidak akan selesai-selesai...’ batin Kai Zen seraya tertawa kecil.
“Aku beli minum dulu agar kita tidak bosan. Kamu mau apa, Yizue?” Kai Zen mengajukan dirinya untuk membeli minum.
“Mi-milksahe vanilla, terima kasih, Kai!” jawab Yi Yizue sembari tersenyum kepada Kai Zen.
“Oke.” ucap Kai Zen seraya mengangguk. Dia segera pergi untuk membelinya.
Kai Zen kembali beberapa saat kemudian dengan membawa dua milkshake vanilla untuk dirinya dan Yi Yizue. Kemudian, mereka menghabiskan waktu di sana hingga sekitar jam satu siang.
__ADS_1
Bersambung