Lahirnya Penyihir Terhebat Sepanjang Masa

Lahirnya Penyihir Terhebat Sepanjang Masa
Perubahan Sikap! Kembalinya 3 Senior Hina! Kesempatan Guo Yan!?


__ADS_3

Disaat mereka telah berdiri di depanku. Aku sudah bersiap dengan berbagai kemungkinan yang terjadi, aku berharap mereka tidak membuat masalah denganku. ‘Aku hanya ingin menjalani kehidupan murid yang tenang dan damai, kenapa masalah selalu menghampiriku? Sial’ Aku mengeluh dalam hati.  Mereka menatap diriku dengan sinis. Sudah jelas niat mereka tidak baik. Aku membalas menatap mereka, mata kami saling beratatap.


“Apa nona-nona sekalian memiliki keperluan denganku?” Aku bersikap sopan pada mereka.


Mereka tidak menjawab perkataanku, hanya menatap sinis diriku. Aku mulai risih dengan tatapan mereka. Akupun beranjak berdiri ingin pergi dari kelas.


“Jika kalian tidak memiliki keperluan denganku, aku akan pergi.” Aku berkata dengan nada tajam.


“Tunggu!” salah satu perempuan menghadang diriku dengan tangannya.


“Kami ingin memastikan sesuatu.” Lanjut perempuan yang menghadang diriku.


“Mungkin kamu sudah tau namaku, tapi aku akan memperkenalkan diri lagi. Perkenalkan namaku Qian Qian. Perempuan yang ada di kiriku bernama Fu Yue, sedangkan yang ada di kirinya bernama Su Ling. Salam kenal.” Dia memperkenalkan dirinya dan dua temannya.


“Kai Zen, salam kenal.” Jawabku singkat. Sikapku tergantung sikap mereka padaku.


“Maafkan kami jika perbuatan kami membuatmu tidak nyaman.” Qian Qian membungkuk padaku. Fu Yue dan Su Ling yang yang melihat sikap Qian Qian, mulai membungkuk juga. Mereka mengakui kesalahan mereka. Saat mereka selesai membungkuk, mereka tidak menatap diriku dengan sinis lagi.


“Baiklah. Jadi, apa tujuan kalian menghampiriku?” tanyaku pada mereka.


“Aku ingin meminta nomermu. Boleh?” Qian Qian meminta padaku.


“Untuk apa?” tanyaku curiga.


“Tidak boleh?” Qian Qian memasang wajah sedih. Aku malah seperti seorang penjahat disini.


“Baik, Baiklah. Jangan memasang wajah seperti itu. Orang-orang akan salah paham jika melihatnya.” Aku menyetujui permintaannya. Bukan karena aku ingin, tapi karena terpaksa.


“Berikan HPmu.” Aku mengajukan tanganku padanya dengan telapak tangan terbuka ke atas.


“Ini.” Dia menaruh HPnya di tanganku.


Akupun mulai mengetik nomerku di HP Qian Qian. Sesudah selesai mengetik aku menyerahkan handphoneku padanya seraya berkata “Selesai.”


“Terima kasih. kalau ada keperluan denganmu, aku akan menghubungimu.” Qian Qian tersenyum padaku.


“Sama-sama. Karena urusan disini telah selesai. Aku pamit pergi. Ayo Zhuo Fang.” Aku beranjak pergi mengajak Zhuo Fang. Zhuo Fang yang mendengar ajakanku mulai beranjak pergi dari tempat duduknya. Dia berjalan disampingku. Kamipun pergi meninggalkan kelas.


< < > >


“Hei Qian Qian, kenapa rencana kita berubah? bukan ini yang kita rencanakan.” Tanya Fu Yue keheranan.


“Benar. Sifatmu juga menjadi lembut. Tidak seperti Qian Qian yang kukenal.” Su Ling mendukung pernyataan Fu Yue.


“Sekarang bukan saatnya. Aku akan memberitahu kalian suatu saat nanti.” Ucap Qian Qian.


“Ayolah beritahu kami alasanmu.” Su Ling menggerak-gerakkan pundak Qian Qian.


“Ini demi kebaikan kalian!” Qian Qian menatap Su Ling dengan penuh amarah. Su Ling merasa ketakutan karena tatapan Qian Qian, baru kali ini Qian Qian menatapnya dengan penuh amarah. Fu Yue yang menyadari suasana antara kedua temannya mencoba menenangkan.


“Cukup, jangan bertengkar. Qian Qian tenanglah. Sedangkan Su Ling, jangan memaksa Qian Qian. Lagipula Qian Qian tidak memberitahu kita demi kebaikan kita sendiri. Benarkan Qian Qian?” Fu Yue tersenyum menoleh Qian Qian.


“Iya.” Jawab Qian Qian singkat.


Karena suasana masih canggung. Fu Yue mencoba mencairkan suasana dengan berkata “Su Ling...”


Su Ling yang mengetahui maksud Fu Yue hanya mengangguk seraya berkata, “Baiklah, baiklah. Qi-Qian Qian, A-aku minta maaf. Padahal kamu bertindak untuk kebaikan kami. Aku seharusnya tidak mendesakmu memberitahu kami.”


“Aku juga minta maaf, Su Ling.” Qian Qian menunduk.


“Nah begitu dong!” Fu Yue merangkul Qian Qian dan Su Ling. Akhirnya mereka berdua berbaikan. Mereka bertiga tidak menyadari kalau tindakan mereka menjadi tontonan semua murid di kelas, seakan mereka terlihat tidak peduli dengan murid yang masih di kelas. Lalu, apa sebenarnya yang dilihat oleh Qian Qian? Sampai tidak memberitahu teman terdekatnya.


< < > >


Setelah aku dan Zhuo Fang pergi meninggalkan kelas. Kami menuju ke kelas Yizue. Sepanjang perjalanan, aku dan Zhuo Fang berbincang-bincang perihal persoalan di kelas tadi.


“Aku tidak menyangka mereka tidak membuat masalah denganmu.” Ucap Zhuo Fang padaku.


“Padahal mereka menatapmu sinis.” Lanjut Zhuo Fang.


“Lupakan, kita dari tadi sudah membahas topik ini. Apakah kau tidak bosan?” Aku mengalihkan pandangan ke samping, melihat-lihat keadaan sekitar.


“Akan lebih bosan jika tidak ada topik yang dibahas.” Ucap Zhuo Fang membantah.


“Huh, terserah.” Aku menghela napas. Aku tidak menyangkal apa yang diucapkan Zhuo Fang karena alasannya masuk akal.


“Tapi, kau sangat hebat Kai Zen. Bisa bertukar nomer dengan perempuan yang baru saja kau temui.” Zhuo Fang tersenyum aneh padaku. Satu hal yang aku tahu, senyum yang terpasang di wajahnya adalah senyum mengejek.


“Dia yang meminta padaku, bukan diriku. Jika tidak kuberikan mungkin kami sudah berkonflik. Aku malas jika berurusan dengan perempuan sepertinya.” Aku menyangkal perkataan Zhuo Fang.


“Heh, apakah benar? Aku mencium bau - bau seorang playboy disini.” Zhuo Fang menggodaku.


“Baiklah, Baiklah. Kau menang. Berdebat denganmu hanya membuang - buang tenagaku.” Aku memilih mengalah.

__ADS_1


“Hohoho, apakah itu sebuah pujian?” Zhuo Fang bertanya dengan muka bodoh.


“Jelas - jelas itu sebuah hinaan, darimana letak pujiannya?” Aku menepuk jidatku.


“Bagiku itu sebuah pujian.” Zhuo Fang tersenyum padaku.


Aku mengabaikan senyumannya. Kami melanjutkan perjalanan ke kelas Yizue dengan perbincangan santai.


< < > >


Ketika Aku dan Zhuo Fang hampir sampai di kelas Yizue. Kami malah berpapasan dengannya, dia berjalan menuju arahku bersama Guo Yan. Akupun menyapa Yizue dan temannya. Zhuo Fang juga ikut menyapa. Kami berempat memutuskan untuk berkeliling akademi. Agar kami tidak bosan. Disepanjang perjalanan kami bercerita kejadian yang terjadi di kelas kami masing-masing. Zhuo Fang yang pertama kali bercerita. Dia menceritakan tentang murid arogan di kelas kami yang tidak terima ditempatkan di Kelas C. Yizue dan Guo Yan mendengarkan ceritanya dengan seksama. Setelah Zhuo Fang selesai bercerita, Guo Yan memberikan tanggapan.


“Hahahaha, tipe orang yang tidak bersyukur lagi.” Ucap Guo Yan seraya menertawakan.


“Lagi? di kelasmu juga terjadi?” Tanya Zhuo Fang.


“Iya. jika kau tidak percaya, tanyakan pada Yizue.” Guo Yan menyakinkan Zhuo Fang.


“Apakah yang Guo Yan katakan benar?” Zhuo Fang menoleh ke arah Yizue.


“I-iya,” Jawab Yizue singkat.


“Lebih baik menjauh dari orang-orang seperti itu agar kita terhindar dari masalah.” Aku menyela pembicaraan.


“Kenapa kau begitu yakin kalau orang-orang seperti itu membawa masalah?” Guo Yan bertanya padaku.


“Kenapa? karena aku pernah membaca buku yang membahas kelakuan orang seperti itu.” Sebenarnya aku ingin membahas lebih detail, tapi aku sedang malas karena kejadian di kelas tadi.


“Apa judul bukunya?” Guo Yan memasang wajah penasaran.


“Judul bukunya ‘Manusia Dengan Sifat Beracun'. Perpustakaan kota mempunyai bukunya.” Aku menjawab pertanyaan Guo Yan.


“N-nama lain bukunya ‘Manusia Beracun’.” Yizue mencoba bergabung dalam percakapan.


“Benar juga, aku baru ingat kalau buku itu punya nama lain.” Aku menanggapi ucapan Yizue.


“Kau juga sering membaca buku Yizue?” Guo Yan gantian bertanya pada Yizue.


“Ka-kadang-kadang.” Yizue menjawab dengan ragu.


“Kau pernah membaca buku di perpustakaan kota?” Guo Yan bertanya lagi.


“A-aku lumayan sering membaca buku disana.” Yizue menjawab dengan ragu. Aku mulai curiga dengan perkataannya. ‘Apakah Yizue berbohong? Kenapa dia ragu-ragu disetiap ucapannya?’ ucapku dalam hati. Namun, tidak mungkin dia berbohong. Pasti ada alasan lain. Selagi aku mengamati tingkah Yizue, mereka bertiga tetap melanjutkan bercerita. Aku menyadari bahwa disetiap perkataan yang diucapkan Yizue, dia selalu mengatakannya dengan ragu-ragu. Wajahnya juga sesekali memasang tampang cemas tanpa disadari Guo Yan dan Zhuo Fang. Karena aku sudah menyadari bahwa ada yang tidak beres dengan tingkah Yizue. Aku menanyakan keadaannya.


“Yizue, apakah kau baik-baik saja? ceritakan padaku jika ada suatu masalah.” Aku bertanya padanya.


“Tolong jangan berbohong padaku Yizue. Jika ada masalah, ceritakanlah padaku.” Aku mulai mendesak Yizue karena aku sudah berjanji pada Paman Alex untuk menjaganya. Jadi, tidak akan kubiarkan dia mengalami ketidaknyamanan.


“Be-benar benar tidak ada Kai.” Yizue masih menyangkalnya.


“Huh, apakah kau tidak mempercayaiku?” Aku pura-pura bersedih.


“Bu-bu-bukan begitu, aku mempercayaimu Kai. Kau adalah orang pertama yang ingin berteman denganku sekaligus dermawan yang menolongku.” Yizue menatap diriku dengan mata berbinar-binar.


“Lalu, bisakah kau menceritakan masalahmu?” walaupun ekspresi Yizue sangat menggoda, aku harus tetap mempertahankan rasionalitas. Jangan sampai terbawa emosi sebelum aku mendapatkan jawaban darinya.


“Sudahlah. Ceritakan saja padanya Yizue.” Guo Yan membujuk Yizue.


“Sebenarnya apa yang kalian sembunyikan?” Zhuo Fang mulai menyadari apa yang sedang dibicarakan.


“A-apakah tidak masalah Guo Yan?” Yizue menatap ke arah Guo Yan.


“Lagipula Kai Zen sudah menyadarinya.” Guo Yan ganti menatapku.


“Matanya sangat tajam~” Lanjut Guo Yan.


“Baiklah.” Jawab Yizue singkat.


“J-jadi begini, ketika aku dan Guo Yan berpisah dengan kalian sesudah upacara. Kami langsung pergi ke kelas. Tapi, ditengah perjalanan kami dihadang  oleh tiga orang laki-laki.” Yizue lanjut menjelaskan.


“Biar kutebak, tiga orang itu adalah para senior yang kemarin, kan?” Aku menebak setelah mendengar penjelasan Yizue.


“Be-be-benar.”


“Apa mereka melakukan sesuatu padamu?” Aku khawatir pada Yizue.


“Ti-tidak, sa-salah satu dari mereka hanya mengatakan ‘Aku akan menghajar pria kecilmu besok!’, di-dia adalah laki-laki yang ditengah.” Wajah Yizue kelihatan cemas.


“Oh, ‘pria kecil’ yang dimaksud mungkin aku. Jangan cemas Yizue, mereka mengincarku bukan dirimu.” Aku mencoba menenangkan Yizue.


“Dasar laki-laki bodoh! justru Yizue cemas karena mereka mengincarmu!” Guo Yan berteriak ke arahku.


“Heh? benarkah Yizue?” Aku tidak paham dengan pemikiran perempuan.

__ADS_1


“Le-lebih baik besok kamu izin tidak berangkat.” Wajah Yizue terlihat cemas.


“Tenanglah Yizue, mereka tidak bisa menghajarku selagi aku di akademi. Apakah kamu melupakan aturan akademi?” Ucapku santai. Masih mencoba menenangkan Yizue.


“Bisa, mereka bisa menghajarmu Kai. Akademi memiliki sistem peringkat seluruh murid. Untuk menaikkan peringkat,  murid yang peringkatnya lebih rendah harus menantang murid lain yang peringkatnya lebih tinggi dan harus menang. Mungkin mereka akan menantangmu disana Kai.” Zhuo Fang menjelaskan padaku.


“Bagaimana kau bisa tau?” tanyaku penasaran.


“Internet! makanya jangan kudet.”  Zhuo Fang mengejekku.


“Lalu, bagaimana mereka akan menghajarku kalau aku belum mempunyai peringkat?” Aku belum paham dengan sistem peringkat seluruh murid Akademi.


“Karena mereka yakin bisa menghajarmu. Mereka pasti mempunyai rencana.” Ucap Guo Yan.


“Benar, lebih baik besok kau tidak berangkat. Karena mulai besok seluruh murid baru bisa menantang papan peringkat akademi.” Zhuo Fang memberiku peringatan.


“A-a-aku setuju dengan Zhuo Fang.” Yizue menyetujui perkataan Zhuo Fang.


“Kalian berpikir aku akan kalah?” ucapku dengan santai. Andaikan mereka tau kekuatanku yang sebenarnya, mereka tidak akan khawatir. Tapi, untuk saat ini lebih baik tetap kurahasiakan.


“Sudah dipastikan kalah.” Ucap Zhuo Fang sambil cekikikan menepuk punggungku.


“Walaupun ada sedikit kemungkinan kau menang. Aku tetap berpendapat kau akan kalah Kai. Benarkan Yizue?” Guo Yan menatap ke arah Yizue.


Yizue terdiam sejenak, lalu menatapku seraya berkata, “T-tidak,”


“Hah?” Guo Yan dan Zhuo Fang terkejut melihat jawaban Yizue.


“Ka-kalau Kai Zen tetap ingin bertarung. Ma-maka aku akan mendukungnya. Lagipula kau tetap akan bertarung walaupun kami bertiga melarangmu, benarkan, Kai?” Yizue yang dari tadi menunjukkan wajah cemas. Sekarang dia menunjukkan senyumnya padaku.


“Akhirnya kau mengerti.” Aku tersenyum padanya. Mata kami saling bertatapan. ‘Dari semua perempuan yang kulihat. Hanya Yizue yang paling berkesan dimataku.’ Ucapku dalam hati.


“Pemandangan ini terlalu menyilaukan!” Zhuo Fang berkomentar setelah melihat suasana aku dan Yizue.


“Kenapa aku melihat bunga bermekaran disekitar mereka?” ucap Guo Yan iri.


“Yah, mari kita biarkan mereka bermesraan Guo Yan.” balas Zhuo Fang.


“Baiklah.” Guo Yan menyetujui perkataan Zhuo Fang. Akhirnya Guo Yan dan Zhuo Fang membiarkan Kai Zen dan Yizue bermesraan.


< < > >


Disaat Kai Zen dan Yizue bermesraan. Zhuo Fang dan Guo Yan melakukan pembicaraan.


“Apakah kau tidak iri dengan mereka?” Guo Yan bertanya pada Zhuo Fang seraya menatap Kai Zen dan Yizue.


“Sebenarnya aku iri. Tapi, apa yang bisa kulakukan?” Zhuo Fang menghela napas menjawab pertanyaan Guo Yan.


“Ya, siapa tau kau ingin mencari perempuan~” Guo Yan menggoda Zhuo Fang.


“Untuk saat ini aku tidak tertarik dengan percintaan. Lagipula, tunanganku sudah ditentukan.” Zhuo Fang berkata dengan santai.


“Mengejutkan! kau serius?” Guo Yan terkejut mendengar pengakuan Zhuo Fang. Dia bertanya untuk mengkonfirmasi.


“Untuk apa aku berbohong? tentu saja aku serius!” ucap Zhuo Fang.


“Hahahaha, tidak kusangka kau sudah punya tunangan!” Guo Yan menepuk punggung Zhuo Fang.


“Aku mendoakan kalian selalu bersama~” Lanjut Guo Yan.


“Mungkin doamu tidak terkabul.” Zhuo Fang menggelengkan kepalanya.


“Bagaimana bisa kau tau? apakah kau ingin membatalkan pertunanganmu?” tanya Guo Yan penasaran.


“Bukan aku yang akan membatalkan pertunangannya, tapi tunanganku. Karena aku sekarang berada di kelas C. Sedangkan tunanganku berada di kelas A. Dan ini bukan pertunangan yang dibuat olehku, tapi keluargaku.” Zhuo Fang menjelaskan situasinya pada Guo Yan.


“Hmmm, jadi begitu. Aku paham.” Guo Yan mengangguk paham.


“Tetaplah semangat! jangan putus asa!” Guo Yan memberikan semangat pada Zhuo Fang.


“Aku tidak bersedih! justru aku malah bahagia tidak jadi bertunangan dengannya.” Zhuo Fang tersenyum bahagia.


“Dia perempuan jahat?” tanya Guo Yan.


“Benar, dia licik, kejam, dan sering memandang rendah orang lain.” Zhuo Fang berkata dengan wajah masam.


“Kau pernah bertemu dengannya?” Guo Yan bertanya lagi.


“Tentu saja! jika tidak, bagaimana aku menjelaskan sifatnya?” Zhuo Fang mendengus kesal.


“Siapa tau kau berbohong hahahaha.” Guo Yan tertawa.


“Sudahlah. Jangan bahas topik ini lagi. Percaya atau tidak itu terserah padamu!” Zhuo Fang mengakhiri pembicaraan.

__ADS_1


“Baiklah, jangan marah Zhuo Fang~” Guo Yan setuju untuk mengakhiri pembicaraan seraya terkekeh pelan. Setelah mendengar perkataan Zhuo Fang tadi, Guo Yan tersenyum dengan muka memerah tanpa disadari Zhuo Fang. “Jadi aku masih memiliki kesempatan ya~” ucap Guo Yan pelan.


Bersambung


__ADS_2