
“Halo, ini siapa ya?”
Suara perempuan terdengar dari HP Kak Fex setelah panggilannya diterima. Kak Fex yang mendengar perempuan tersebut menanyakan Identitasnya hanya bisa tersenyum.
“Ini siapa?” tanya perempuan itu lagi.
“Sepertinya kau tidak menyimpan nomorku, Shadow Purple.” Jawab Kak Fex masih dalam keadaan tersenyum.
“Ketua?” Shadow Purple berkata dengan terkejut.
“Ya, ini aku.” Jawab Kak Fex dengan santai.
“M-maafkan aku, aku tidak tau kalau ini kau, Ketua. Ngomong-ngomong, aku menyimpan nomormu Ketua, hanya saja aku tidak melihat nama kontaknya saat mengangkat panggilan mu karena terlalu terburu-buru. Aku baru selesai mandi.” Shadow Purple dengan panik meminta maaf serta memberi penjelasan kepada Kak Fex.
“Ya, lupakan saja kejadian tadi. Mari kita bahas topik sebenarnya.” senyum yang terukir di wajah Kak Fex perlahan-lahan mulai sirna. Dia memasang wajah serius kali ini.
“Baik, Ketua!” Shadow Purple mulai bertindak serius sehingga sesuai dengan kode etik organisasi Shadow.
“Bagus, dengarkan aku baik-baik. Aku ingin kau dan satu orang lagi untuk menjaga seseorang yang penting bagi hidupku. Dia saat ini sedang berada di kota Sky Blue dan bersekolah di Akademi Satu. Namanya Kai Zen, dia baru saja menyinggung beberapa Keluarga Besar dari Kota ini. Aku ingin kalian berdua melindunginya sekuat tenaga!” Kak Fex memberi perintah kepada Shadow Purple.
“Siap, laksanakan!”
“Apa kau sudah memikirkan siapa kandidat yang akan menjadi partnermu?” tanya Kak Fex langsung.
“Siap, sudah! saya memilih Shadow Green untuk menjadi partner saya.”
“Bagus. Jika, dia menolak ajakanmu, bilang padanya bahwa ini perintahku.”
“Baik, Ketua!”
“Apa ada yang ingin kau tanyakan tentang misi ini?”
“Siap, tidak ada!”
“Kalau begitu segera laksanakan misinya, aku ingin kalian sampai di kota Sky Blue sebelum besok pagi!”
Kemudian, Kak Fex menutup panggilannya. Sedangkan, Shadow Purple terdiam sebentar setelah Kak Fex menutup teleponnya. Dirasa Kak Fex sudah menutup panggilannya, Shadow Purple mulai bergerak menelpon temannya, Shadow Green.
“Halo?” terdengar suara lemas wanita yang terburu-buru untuk mengangkat panggilannya disaat dia sedang tidur, dia adalah Shadow Green.
“Cepat datang ke rumahku, kita harus segera berangkat melaksanakan misi dari organisasi!” seru Shadow Purple.
__ADS_1
“Hah, misi jam segini? besok saja kita berangkat!” jawab Shadow Green dengan malas.
“Tetapi, misi ini mengharuskan kita untuk datang ke tempat tujuan sebelum besok pagi. Ngomong-ngomong, misi ini dari Ketua Tertinggi Organisasi Shadow, Shadow White!”
Mendengar kata 'Shadow White' membuat Shadow Green langsung berdiri, dia terlihat panik ketika mendengarnya.
“Mengapa kau tidak langsung menyebutkannya, sialan!” cetus Shadow Green.
“Aku baru ingat~” Shadow Purple terdengar tidak bersalah saat mengatakannya.
“Tch, kau hanya ingin mempermainkanku!”
“Sudah, segera datang ke rumahku, kita akan segera berangkat!”
“Baiklah, tunggu aku.” Shadow Green menutup panggilannya. Shadow Purple yang melihat itu hanya bisa tertawa kecil seraya berkata, “Wanita ini masih saja mudah marah.”
30 Menit kemudian, Shadow Purple dan Shadow Green sudah berada di dalam sebuah mobil. Mereka segera berangkat setelah selesai persiapan.
“Apa misi kita?” tanya Shadow Green dengan penasaran, dari tadi Shadow Purple belum mengatakan misinya.
“Menjaga seorang bernama Kai Zen di kota Sky Blue, dia juga seorang murid dari Akademi Satu di kota itu. Dia menyinggung beberapa Keluarga Besar sebelumnya.” Jawab Shadow Purple sesuai yang dikatakan ketuanya, Shadow White.
“Lagi-lagi masalah dengan keluarga besar.” Shadow Green menghela napas, dia seakan bosan dengan istilah keluarga besar.
“Ngomong-ngomong, siapa Kai Zen bagi ketua kita?”
“Apa kau penasaran?”
“Tentu saja aku penasaran!” Shadow Green menjawab penuh semangat.
“Seorang yang penting bagi hidup ketua kita.” Jawab Shadow Purple singkat.
“Hanya itu?” Shadow Green terlihat tidak puas mendengar jawaban Shadow Purple.
“Hanya itu yang aku tahu, jika kau ingin tahu lebih dalam, cobalah tanya kepada ketua!” Shadow Purple menjawabnya sedikit marah, dia menatap Shadow Green dengan sinis.
“Hoi, hoi, tenanglah. Aku mengerti,” jawab Shadow Green seraya menenangkan Shadow Purple.
Mereka pun terus melanjutkan perjalanan. Terkadang Shadow Green bertanya sesuatu kepada Shadow Purple agar suasana diantara mereka tidak sunyi.
...< >...
__ADS_1
Pagi pun tiba, warna langit yang gelap perlahan-lahan menjadi lebih terang, Bulan mulai terbenam dan digantikan dengan Matahari yang mulai terbit. Burung-burung terbang kesana kemari seraya berkicauan, suasana di pagi hari yang membuat Kai Zen takjub. Kai Zen yang baru bangun segera membuka jendela kamarnya, dia termenung sembari melihat pemandangan di luar kamarnya.
‘Apakah akan datang kekacauan di hari yang indah ini?’
Kai Zen mengharapkan hari ini tidak ada kekacauan di dalam hatinya, walau dia tahu itu adalah hal yang mustahil.
“Apa yang sedang kuharapkan? daripada mengharapkan sesuatu yang mustahil, lebih baik aku berlatih saja.” Kai Zen berbicara sendiri seraya tertawa kecil. Kemudian, dia mengambil handuk dan keluar dari kamarnya untuk segera mandi.
“Pagi, Kai.” Sapa Kak Fex ketika melihat Kai Zen.
“Pagi juga, kak.” Jawab Kai Zen, lalu dia segera masuk ke kamar mandi. Setelah selesai mandi, Kai Zen bersiap-siap untuk berangkat ke akademi.
“Makan dulu, Kai. Mau kemana terburu-buru?” melihat Kai Zen yang bertingkah aneh di pagi hari, Kak Fex menanyakan keadaannya.
“Tidak apa-apa, Kak. Hanya saja, ada sesuatu yang menjadi beban pikiranku.” jawab Kai Zen sedikit jujur, lalu segera duduk di meja makan.
“Apa itu karena masalah dengan keluarga besar?” tebak Kak Fex.
“Bukan, bukan itu. Masalah dengan keluarga besar tidak akan membuat ku bimbang seperti sekarang.” Kai Zen menggeleng-geleng kepalanya.
“Lalu, karena apa?” tanya Kak Fex sembari menyiapkan sarapan untuk Kai Zen.
Kai Zen hanya diam saja, dia enggan menceritakan masalahnya kepada Kak Fex. Dia takut Kak Fex mengkhawatirkannya. Jadi, dia lebih memilih memendam sendiri masalahnya.
“Lupakan saja kalau kau tidak ingin memberitahuku.” Kak Fex menyodorkan sarapan kepada Kai Zen. Kai Zen hanya tersenyum menatap Kak Fex, lalu segera memakan sarapan yang ada di depannya. Kak Fex yang melihat itu hanya tersenyum.
“Aku berangkat ya, Kak,”
Setelah selesai sarapan, Kai Zen segera pamit untuk berangkat ke akademi. Ketika dia sedang memakai sepatu, Kak Fex memberinya sebuah nasihat.
“Semua masalah pasti ada solusinya, mau itu masalah besar ataupun kecil. Kau hanya perlu terus berjuang dan berpikir untuk menyelesaikannya.”
Kemudian, Kak Fex segera pergi meninggalkan Kai Zen. Dia mencoba memberi Kai Zen waktu untuk berpikir sendiri. Setelah Kai Zen selesai memakai sepatu, dia segera berangkat seraya berpamitan kepada Kak Fex.
“Aku pergi dulu, Kak,”
‘Dan terima kasih untuk nasihatnya.’
Kai Zen mendekat ke pintu keluar, lalu memegang gagang pintu seraya menariknya dan segera keluar dari rumahnya. Lalu, Kak Fex menuju meja makan untuk membersihkan beberapa alat makan yang telah digunakan setelah mengetahui Kai Zen sudah berangkat.
“Entah apa masalah yang sedang kau hadapi. Aku percaya kau pasti bisa menyelesaikan semua masalahmu, Adikku.”
__ADS_1
Bersambung