
“Dia memilih untuk mengungkapkan cintanya kepadaku. Aku mempunyai pilihan untuk menerima atau menolaknya, pilihan ada di tanganku dan aku yang menentukannya. Bukankah itu adil? seharusnya dia tahu konsekuensi dari pilihannya!”
“Jika dia mendengar ucapanmu saat ini. Song Zili akan menangis.” Guo Yan tersenyum mendengar perkataan Zhuo Fang seraya menggeleng-geleng kepalanya dengan pelan.
“Itu adalah keputusanku.”
“Sebentar, sebentar...” Kai Zen menyela pembicaraan di antara Guo Yan Zhuo Fang.
“Kau berkata bahwa Song Zili tidak akan menyukaimu, kan?” ucap Kai Zen seraya menatap Zhuo Fang.
“Benar.” jawab Zhuo Fang sembari mengangguk.
“Sebelumnya kau berkata bahwa Song Zhiqing adalah seorang siscon dan tidak mungkin memaksa adiknya untuk menikah denganmu, lalu pertanyaanku. Bukankah kau berkata bahwa adiknya tidak mungkin menyukaimu? mengapa dia mengajukan pertunangan denganmu jika pertunangan itu bukan untuk adiknya?” tanya Kai Zen sambil menjelaskan logika yang dia pikirkan.
“Apakah jika pertunangan tadi benar-benar keinginan adiknya. Kau akan menolak sesuai apa yang kau ucapkan sebelumnya?” imbuh Kai Zen. Dia seakan menyerang Zhuo Fang bertubi-tubi dengan kata-katanya.
Zhuo Fang mencoba bersikap tenang mendengar penjelasan Kai Zen. Dia terdiam seraya memikirkan penjelasan Kai Zen dengan sungguh-sungguh. Guo Yan dan Yi Yizue yang berada di situ juga terdiam menunggu jawaban dari Zhuo Fang.
Lima menit berlalu, Zhuo Fang masih memikirkan perkataan Kai Zen. Dia bingung ingin membalasnya. Hingga akhirnya Yi Yizue membuka mulutnya untuk memecah keheningan.
“A-anou, sekarang sudah hampir jam sebelas, ja-jadi...”
“A-aku ingin pergi ke kantin dulu untuk makan siang, permisi.” imbuh Yi Yizue.
Yi Yizue segera keluar dari kamar tersebut. Sesaat sebelum meninggalkan Kai Zen, dia sudah mengirimkan satu pesan kepadanya.
Kai Zen yang melihat Yi Yizue keluar tanpa memberinya isyarat segera membuka HPnya. Dia melihat jam di HPnya yang menunjukkan pukul 10.58, lalu di bawahnya terdapat gelembung chat dari Yi Yizue. Tanpa pikir panjang, Kai Zen langsung menekan gelembung tersebut.
(Aku menunggumu di luar.)
Kai Zen menyimpan HP di saku celana setelah membaca pesan Yi Yizue. Dia segera pamit kepada Guo Yan dan Zhuo Fang.
__ADS_1
“Ah, pertanyaanku yang tadi kau tidak perlu menjawabnya, Zhuo Fang. Kau simpan untuk dirimu saja!”
“Aku akan menemani Yizue ke kantin. Kami akan kembali sekitar jam satu siang, sampai jumpa!” tambah Kai Zen seraya pamit pergi.
KREK!
Suara pintu tertutup telah terdengar oleh mereka, Kai Zen telah pergi menyisakan Guo Yan dan Zhuo Fang sendiri di kamar itu. Namun, suasana berdua hanya menambah keheningan di antara mereka.
“Apakah aku masih harus menjawab pertanyaan Kai Zen? sementara dia sudah pergi dari sini.” Tanya Zhuo Fang. Walaupun Kai Zen menyuruhnya untuk tidak menjawab dan menyimpan pertanyaan tadi untuk dirinya sendiri. Tetapi, dia tidak berani untuk mengikuti perkataan Kai Zen sedangkan ada Guo Yan di depannya.
“Huh...Sudah kuduga, kau memang begitu...” Guo Yan menghela napas panjang, dia membuang pandangannya ke arah lain.
“Sudahlah, terserah padamu! aku ingin tidur dulu, jangan ganggu aku!” Guo Yan sedikit meninggikan ucapannya. Dia membaringkan tubuhnya seraya menatap ke arah yang berlawanan dari tempat Zhuo Fang.
Zhuo Fang yang melihat tingkah Guo Yan saat ini menjadi sedih. Dia menjadi teringat tamparan dan ekspresi Guo Yan saat di pertandingan sebelumnya.
‘Apakah...apakah aku salah lagi?’
“Sebenarnya...apa yang kau harapkan dariku, Guo Yan?”
“Mengapa aku merasa kau selalu kecewa padaku terus-menerus?”
“Kau selalu memandang tinggi diriku. Ketika ekspektasimu tidak sesuai realita, kau selalu memasang wajah kecewa...”
“Mengapa kau sama seperti orang tuaku? yang berekspektasi tinggi pada diriku, lalu kecewa saat realitanya berbeda.”
“Kau tahu, Guo Yan? saat aku berumur sembilan tahun, aku gagal dalam sebuah kompetisi. Karena kegagalan itu, orang tuaku menjadi kecewa padaku. Mereka melupakan semua pencapaian yang kudapatkan sebelumnya hanya karena satu kegagalan. Mereka memarahiku hingga berbulan-bulan lamanya seakan kegagalan itu adalah aib mereka.”
“Semenjak saat itu, aku selalu mengalami kemunduran. Orang tuaku meninggalkanku, mereka menjadi lebih fokus kepada adikku, Zhuo Qing. Apakah aku kecewa? ya, aku kecewa terhadap mereka. Namun, aku bisa apa? hanya terdiam sambil berproses sembunyi-sembunyi.”
“Selama Zhuo Qing diperhatikan oleh orang tuaku, dia selalu berusaha semaksimal mungkin agar mencapai ekspektasi kedua orang tuaku. Akan tetapi, hal itu tidak bertahan lama. Setelah wajah Zhuo Qing rusak untuk menjaga kesuciannya dari Shi Yongzhen. Orang tuaku langsung membuangnya sama sepertiku, mereka tidak menganggap aku dan Zhuo Qing sebagai anaknya lagi. Sebagai gantinya, mereka mengadopsi dua orang anak laki-laki dan perempuan untuk dijadikan anak mereka. Kami pun di usir keluar dari rumah.”
__ADS_1
“Pergilah ke Kediaman Keluarga Zhuo dan katakan bahwa akulah yang mengirim kalian, mulai detik ini kalian tidak boleh kembali ke rumah ini lagi. Aku tidak sudi mengurus dua orang sampah seperti kalian, biarkan kediaman utama yang mengurus kalian, siapa tahu kalian berguna disana. Jika kalian tidak di terima disana maka singkirkan marga Zhuo dari nama kalian dan hiduplah sebagai gelandangan!”
“Itulah yang diucapkan seorang 'Ayah' sambil mengusir kami. Untung saja kepala Keluarga Zhuo mau menerima dan merawat kami. Sejak itu aku dan adikku tinggal di kediaman utama Keluarga Zhuo.”
“Semenjak kejadian itu, aku berusaha menutupi beberapa kemampuanku. Aku menjadi lebih hidup dengan bebas dan tidak terkekang, begitupula dengan adikku.”
“Entah apa yang kau harapkan dariku, Guo Yan. Aku minta maaf karena tidak bisa menggapainya.”
Setelah Zhuo Fang mengatakan unek-uneknya seraya meminta maaf kepada Guo Yan. Dia juga membaringkan badannya berlawanan dengan tempat Guo Yan. Suasana di kamar itu menjadi sunyi seketika.
“Maafkan aku.”
“Maafkan aku, Zhuo Fang.”
Tiba-tiba kesunyian di kamar itu menjadi pudar. Guo Yan meminta maaf kepada Zhuo Fang tanpa mengubah posisinya. Walaupun begitu, ucapannya terdengar tulus.
“Meminta maaf untuk apa?”
“Aku yang seharusnya meminta maaf kepadamu karena diriku tidak sesuai dengan ekspektasimu, Guo Yan."
Zhuo Fang menanggapi permintaan maaf Guo Yan. Dia juga tidak mengubah posisinya. Percakapan di antara mereka tidak saling menatap wajah.
“Tidak apa-apa, aku yang salah karena berekspektasi tinggi. Lagipula, aku tidak menyebutkan sama sekali tentang ekspektasiku kepadamu.”
“Jadi, akulah yang harusnya disalahkan. Maaf karena membuatmu terbebani.” Ucap Guo Yan masih dalam keadaan yang sama. Dia merasa bersalah setelah mendengar unek-unek Zhuo Fang.
“Tidak apa-apa, lupakan saja kejadian yang sebelumnya!” jawab Zhuo Fang seraya membalikkan badannya menatap ke arah Guo Yan.
“Hemmm, baiklah. Jadi, aku tidak akan berekspektasi tinggi lagi padamu agar tidak membuatmu terbebani!”
Bersambung
__ADS_1