
“Teknik Pedang Keluarga Zu! Teknik Ketiga, Membelah Gunung!”
“Ta—tamat sudah riwayatku...”
ZHINGGGGGGGG!
Yi Yizue memejamkan mata pasrah, dia sedikit tersenyum seraya membayangkan sosok Kai Zen. Ketika tebasan Zu Liang hampir menyentuh Yi Yizue, tiba-tiba tebasan itu hancur.
PYARRR! tebasan Zu Liang hancur berkeping-keping.
“Bukalah matamu, Yizue. Tidak perlu takut, bukankah aku bilang ini hanyalah latihan?” Kai Zen berdiri di depan Yi Yizue sembari mengangkat tangan seakan menahan tebasan Zu Liang.
Yi Yizue membuka mata secara perlahan, melihat sosok Kai Zen yang berdiri di depan membuat jantung Yi Yizue berdebar. Dia tersenyum ceria melihat Kai Zen datang.
‘Akhirnya dia datang...’ batin Yi Yizue.
“Tahan dulu pertanyaanmu, Yizue. Mundurlah, jangan berlama-lama di sini. Orang yang di depan kita bukanlah manusia.” Kai Zen memperingatkan Yi Yizue tanpa menoleh. Dia fokus menatap Zu Liang di depan.
‘Bagaimana Kai Zen tahu bahwa aku akan bertanya? ah, itu tidak penting. Lebih baik aku mundur sesuai perkataan Kai Zen!’ Yi Yizue berlari mundur ke belakang, menjauh ratusan meter dari tempat Kai Zen dan Zu Liang berdiri.
Setelah Yi Yizue sudah berada di tempat yang aman. Kai Zen mulai berbicara kepada orang di depannya, yaitu Zu Liang. Lebih tepatnya roh sihir yang mengendalikan Zu Liang.
“Berani sekali Roh Sihir rendahan mengendalikan paksa tubuh tuannya, apakah kau tidak khawatir membuat tuanmu mati?” Kai Zen memandang lekat-lekat Zu Liang.
“Hoooo, matamu lumayan tajam, nak. Siapa kau?” tanya Roh Sihir yang mengendalikan tubuh Zu Liang.
“Tidak sopan! sebelum bertanya identitas orang lain lebih baik kau mengenalkan dirimu dulu.” Kai Zen menatap rendah Zu Liang.
“Hehehehe, kau ingin tahu identitas raja ini? baiklah, baiklah...raja ini akan memberitahu!”
“Raja ini adalah Kekejaman! roh sihir Warisan!” ucap Kekejaman dengan sombong.
“Roh sihir Warisan, Kekejaman? aku akan memanggilmu Si Kejam!” Kai Zen tersenyum menatap Si Kejam.
“Terserah bagimu untuk memanggilku apa, aku sudah biasa dijuluki oleh para manusia seperti kalian.” Si Kejam terlihat tidak peduli dengan panggilan yang diberikan Kai Zen
“Sepertinya kau kuat, haruskah aku memanggilmu 'Sayang'?” imbuh Si Kejam seraya melihat Kai Zen penuh obsesi.
‘HAHAHAHAHAH! SAYANG?’ Long Wang yang dari tadi diam saja kini tertawa terbahak-bahak.
‘Terimalah, nak. Kau belum pernah dipanggil 'Sayang', bukan? hahahaha!’ imbuh Long Wang masih tertawa.
‘Diamlah!’ Kai Zen mengernyitkan dahi, dia kesal dengan ejekan Long Wang sekaligus omong kosong Si Kejam.
__ADS_1
“Tidak, aku tidak berminat dipanggil 'Sayang' oleh Roh Sihir sepertimu.” Kai Zen tersenyum masam memandang Si Kejam.
“Oh, jika aku tidak bisa memanggilmu 'Sayang'. Bisakah aku memanggilmu 'Baby'? bukankah para manusia sering menggunakan panggilan itu?” Si Kejam menatap Kai Zen dengan mata berbinar-binar.
‘HAHAHAHAHAHA! BABY?‘ lagi-lagi Long Wang tertawa.
‘Sudah kubilang untuk diam! apakah kau tau arti dari 'Baby'?’ Kai Zen semakin kesal.
‘Setidaknya aku tahu garis besar arti kata itu, nak. Baiklah, kali ini aku akan diam hahahaha.” Long Wang berhenti berbicara.
Kai Zen mulai menatap Si Kejam dengan marah, dia belum pernah dipermalukan hingga seperti ini. “Mari akhiri omong kosong ini sekarang juga!”
WUSH!
Kai Zen melesat cepat ke arah Si Kejam. Tangan Kai Zen telah mengepal siap memukul Si Kejam. Dalam beberapa detik, Kai Zen telah sampai di belakang Si Kejam.
BAAAM! Kai Zen memukul bagian belakang Si Kejam. Tetapi, pukulan Kai Zen dapat di tangkis dengan mudah oleh Si Kejam.
WUSH! Kai Zen mundur beberapa meter ke belakang.
WUSH! Si Kejam mengejar Kai Zen, dia melayangkan tebasan kepada Kai Zen.
Zhing! Kai Zen berhasil menghindar dari tebasan itu, dia mundur lagi beberapa langkah ke belakang.
Wish! Kai Zen menghilang dari hadapan Si Kejam. Si Kejam melihat sekitar, tapi tidak menemukan keberadaan Kai Zen.
Si Kejam menoleh ke arah Kai Zen dengan sorot mata tajam seraya berkata, “Bukankah kau ingin bertarung? mengapa malah melarikan diri?”
“Sebelum itu, jawab dulu pertanyaanku. Apakah kau tidak khawatir membuat tuanmu mati?” Kai Zen membalas tatapan Si Kejam dengan dingin.
“Hahahahaha! kalaupun bocah ini mati, aku pasti mendapatkan tuan yang baru. Untuk apa aku khawatir?” Si Kejam memasang raut wajah tidak peduli.
“Ngomong-ngomong, aku sudah menjawab pertanyaanmu serta memperkenalkan diri. Bukankah kau harus membalas memperkenalkan diri juga?” imbuh Si Kejam, dia memandang Kai Zen penuh obsesi.
Kai Zen tersenyum mendengar jawaban Si Kejam. Kemudian, dia menatap Si Kejam seraya berkata, “Untuk apa aku memperkenalkan diri pada roh sihir rendahan sepertimu?”
‘Long Wang, bantu aku memblokir suara di area pertarunganku!’ Kai Zen memberi perintah, bukan permintaan.
‘Baiklah.’ Long Wang dengan gesit segera mengatur penghalang untuk memblokir semua suara yang ada di area pertarungan Kai Zen.
‘Selesai, bertarunglah dengan sesukamu, nak.’ Long Wang berkata dengan semangat.
‘Terima kasih.’
__ADS_1
“Kau...dasar manusia licik!”
“Aku akan memberitahu namaku jika kau menjawab satu pertanyaanku.” Kai Zen memberi penawaran kepada Si Kejam.
“Aku tidak percaya! lebih baik segera bertarung saja denganku!” Si Kejam menolak tawaran Kai Zen.
“Aku bersumpah demi hidupku!” Kai Zen berusaha membuat Si Kejam percaya.
“Baiklah, aku setuju!” dengan cepat Si Kejam langsung mengubah wajahnya, dia setuju dengan penawaran Kai Zen.
“Apakah tuanmu mengingat kejadian yang kau alami ketika sadar nanti?”
“Tidak, dia tidak akan mengingatnya. Sekarang beri tahu aku siapa namamu, nak!” Si Kejam sangat terobsesi dengan nama Kai Zen.
“Kai Zen, itulah namaku. Bodoh sekali dirimu karena tidak tahu namaku. Padahal tuanmu sudah tahu hahahaha!” Kai Zen menertawakan kebodohan Si Kejam.
“Ada beberapa alasan yang membuatku tidak mengetahui pikiran dan percakapan bocah itu, nak.” Si Kejam terlihat tidak peduli dengan perkataan Kai Zen.
“Baiklah, Kai Zen. Sekarang mari kita mulai pertarungan ini!”
“Tunggu!” Kai Zen menghentikan Si Kejam.
“Ada apa, nak? aku sudah menjawab pertanyaanmu dan aku sudah tahu namamu. Untuk apa berlama-lama lagi?” Si Kejam terlihat kebingungan.
“Kau harus berjanji untuk tidak menceritakan pertarungan ini kepada tuanmu dan orang lain, hanya kau yang dapat mengetahui informasi ini.” Kai Zen mendesak Si Kejam agar berjanji.
“Untuk apa aku berjanji? apa keuntungan yang ku dapat?” Si Kejam memandang Kai Zen dengan sombong.
“Jika kau tidak berjanji maka aku akan kabur ke pusat Kota Sky Blue.” Kai Zen mengancam dengan senyum terlukis di wajahnya.
“Apa kau pikir aku tidak berani mengejarmu?” Si Kejam memandang Kai Zen dengan rendah, dia tidak suka dirinya diancam oleh manusia.
“Setidaknya aku percaya diri bisa lolos dari kejaranmu. Setelah memasuki pusat kota Sky Blue. Bukankah ada manusia lain yang akan menghadangmu?”
“Sial, kau menang, nak.” Si Kejam terlihat jengkel.
“Aku berjanji tidak akan menceritakan pertarungan ini kepada tuanku dan orang lain, hanya aku yang tahu tentang pertarungan ini. Jika aku melanggar sumpahku maka surga akan menghancurkanku!”
“Apa kau sudah puas, Kai Zen!?” Si Kejam menatap Kai Zen setelah selesai mengucapkan sumpahnya.
“Aku puas!” ucap Kai Zen dengan gembira.
“Lalu, mari kita bertarung hingga titik darah penghabisan!”
__ADS_1
“Bertarung hingga titik darah penghabisan? lelucon yang bagus hahahahahaha!”
Bersambung