Lahirnya Penyihir Terhebat Sepanjang Masa

Lahirnya Penyihir Terhebat Sepanjang Masa
Kitsune! Kai Zen VS Roh Sihir Yizue! Kai Zen Marah?!


__ADS_3

“Ter-ternyata benar Roh Sihirku?” ucapnya terkejut.


‘Ternyata benar Rubah Ekor Sembilan!’ ucapku dalam hati setelah melihat sosok itu dengan mata kepalaku sendiri.


“Apakah benar dia sosok yang kau temui sebelumnya?” tanyaku.


“Be-benar, ti-tidak salah lagi!”


Sosok Rubah Ekor Sembilan di depan kami terlihat sangat besar, lebih besar dari ukuran gedung Akademi Satu. Rubah itu dalam keadaan tertidur saat ini. Yizue yang melihat Rubah itu tertidur mencoba mendekatinya.


“Apa yang kamu lakukan, Yizue?” teriakku dengan pelan.


”A-aku ingin membangunkannya.” jawab Yizue seraya membalikkan sedikit badannya ke arahku.


“Jangan, Yizue! bahaya!” jawabku spontan. Siapa yang tidak khawatir melihat temannya mencoba membangunkan makhluk asing yang berukuran sangat besar di depannya? begitulah yang saat ini aku rasakan, Aku khawatir terhadap Yizue.


“Dia tidak bahaya, Kai. Percayalah padaku!” Yizue tersenyum melihatku.


Aku yang melihat senyuman Yizue menjadi luluh, aku pun menganggukkan kepalaku tanpa berbicara sepatah katapun.


‘Semoga Yizue baik-baik saja.’ harapku dalam hati.


Kemudian, Yizue mulai membalikkan punggungnya membelakangiku. Dia perlahan-lahan berjalan mendekati Rubah itu. Kurang lebih saat berjarak satu meter dari Rubah tersebut, Yizue berhenti mendekatinya. Dia ganti berkeliling memutari Rubah itu seperti sedang mengamatinya.


‘Sebenarnya apa yang Yizue lakukan?’ Aku tidak paham dengan tingkah Yizue. Aku kira dia akan mendekatinya, lalu langsung membangunkan Rubah itu. Namun, tidak demikian.


“No-nona Rubah, apa kau mendengarku?” kini Yizue mulai memanggil Rubah itu di depan kepalanya.


“Per-permisi, ha-halo.” karena sebelumnya tidak ada jawaban, Yizue mulai menyapanya lagi seraya melambai-lambaikan tangannya.


“Sepertinya dia sedang tertidur pulas, Yizue. Mari pergi, jangan ganggu dia.” Ajakku setelah melihat Yizue tidak menerima tanggapan dari Rubah tersebut.


“Ta-tapi, Kai...” Yizue tidak melanjutkan ucapannya.


“Kamu sudah mengingat apa yang kuajarkan tadi?” aku memandang wajah Yizue, dia masih berharap bisa membangunkan Rubah itu.


“A-aku mengingatnya,”


“Lain kali jika kamu ingin kembali ke sini lagi, pakailah cara itu. Sekarang mari kita pergi!” ajakku lagi seraya memberinya solusi untuk kekhawatirannya.


“Te-tetapi kali ini bisa masuk dan bertemu dengan Roh Sihirku berkatmu, Kai. Ji-jika kau tidak ada, bagaimana caraku bisa-”


“Kau pasti bisa, Yizue. Jika kau tidak bisa maka aku akan membantumu lagi! mudah bukan?” Aku menyela perkataannya.


Yizue tersenyum bahagia mendengar perkataanku, dia pun mengangguk setuju sembari berkata, “Ba-baiklah,”

__ADS_1


Yizue segera berjalan mendekatiku. Namun, saat Yizue baru berjalan beberapa langkah dari tempat sebelumnya, terdengar suara yang asing bagiku.


“Kenapa buru-buru pergi begitu, nak?”


“Siapa itu?” teriakku seraya melihat ke sekeliling.


“A-apakah itu kamu, Nona Rubah?” berbeda dengan diriku yang berteriak, Yizue justru memanggilnya dengan lemah lembut.


‘Ternyata suara rubah itu!’ pekikku dalam hati.


“Wah, wah, wah, ternyata ini Yizue, apakah kau sudah bisa memasuki alam bawah sadarmu, nak?” tanya Rubah itu kepada Yizue.


“I-ini berkat bantuan temanku, Kai Zen!” jawab Yizue, dia pun mendekat lagi pada Rubah tersebut.


“Hoo, temanmu?” entah kenapa dia seperti melihatku tajam, namun raganya tetap tidur seperti sebelumnya. Hanya terdengar suaranya saja.


‘Sepertinya dia hanya bisa berbicara, tidak bisa menggerakkan tubuhnya.’ pikirku dalam hati.


“Apa kau sedang memikirkan kenapa aku hanya bisa berbicara tanpa menggerakkan tubuhku, anak muda?” Rubah itu seperti membaca apa yang sedang kupikirkan.


“Kau benar.” Jawabku tanpa menyangkal.


‘Toh, tidak ada gunanya aku berbohong.’ Ucapku dalam hati.


“Heh, aku tidak akan mempermasalahkannya, anak muda. Lagipula, kau sudah membantu Yizue untuk masuk ke alam bawah sadarnya, aku berterima kasih padamu!” Rubah itu tidak memedulikan apa yang kupikirkan, justru berterima kasih kepadaku karena telah membantu Yizue.


“Ngomong-ngomong, bisa kau tinggalkan aku dan Yizue sendiri, anak muda?” pinta Rubah tersebut kepadaku.


“Baiklah.” Aku mulai meninggalkan mereka berdua. Entah apa yang mereka bicarakan, aku sebenarnya ingin tahu.


Beberapa saat kemudian, Yizue memanggilku.


“K-kai, sini!” teriaknya. Aku hanya mengangguk, lalu berlari ke arahnya.


“Ada apa?” tanyaku setelah sampai.


“K-kitsune ingin berbicara denganmu,”


“Kitsune? siapa dia?” tanyaku pada Yizue.


“Ro-roh sihirku,” jawab Yizue.


‘Roh sihir yang memiliki nama? sungguh langka!” pujiku dalam hati. Lalu, Aku mulai melihat ke arah Kitsune.


“Jadi, ada perlu apa kau denganku?” Aku langsung menanyakan tujuannya.

__ADS_1


“Apa kau memiliki roh sihir, manusia?” tanya kitsune dengan arogan.


“Aku tidak memiliki kewajiban untuk menjawab pertanyaanmu!” jawabku kesal karena sikap arogannya.


Dia memberikan aura penindasan setelah aku menolak memberitahunya, kemudian dia mengancamku dengan berkata, “Kau akan menyesal jika tidak mengatakannya!”


“Se-sebenarnya Kai-” melihat diriku yang diancam Kitsune, Yizue ingin mengatakan yang sebenarnya. Namun, Aku menghentikannya


“Hust, tidak apa-apa, Yizue. Percayalah padaku!” ucapku mengikuti perkataan Yizue sebelumnya. Mendengar itu, Yizue langsung mengangguk seraya menatapku penuh keyakinan.


“Karena kau enggan mengatakannya, maka rasakan ini!” Kitsune langsung mengeluarkan kekuatan jiwanya dengan maksud untuk menundukkanku.


‘Beradu kekuatan jiwa denganku? walaupun kau roh sihir miliki Yizue, aku tidak akan berbelas kasih!’ pikirku dalam hati seraya tersenyum.


“BOOM!”


“BOOM!”


“BOOM!”


Karena ini alam bawah sadar, kekuatan untuk bertarung di sini adalah kekuatan jiwa. Suara ledakan penindasan terdengar setelah Kitsune memberikan tiga serangan jiwa padaku, berusaha membuatku bersujud di tanah.


“Bersujudlah padaku, manusia!” ucapnya dengan arogan. Namun, kearoganan Kitsune segera sirna ketika melihatku masih berdiri.


“Apakah hanya ini kekuatanmu? aku kecewa!” ejekku, lalu aku mengeluarkan perisai jiwa untuk melindungiku. Walaupun aku dapat menghentikan serangan yang sebelumnya, tapi aku tidak tahu serangan untuk kedepannya.


“Kau terlalu sombong, manusia! Aku belum mengeluarkan kekuatan penuhku di keadaan ini!” dia menolak menerima kekalahannya.


“Lalu, apa yang kau tunggu? segera keluarkan!” aku berusaha memprovokasinya.


“Sesuai permintaanmu, manusia!”


BADUMMMMM!!! tiba-tiba sebuah sinar menghantamku dari atas.


‘Sial, aku salah mengira kekuatan penuhnya!’ batinku.


‘Kalau sudah begini maka aku hanya perlu menahannya bukan?’ karena panik tidak akan memberikan jalan keluar, aku berencana menahannya dengan cara bar-bar.


“STOP! HE-HENTIKAN, KITSUNE!” itu teriakan Yizue, aku dapat mendengarnya.


“LE-LEPASKAN DIA, KITSUNE!” Yizue berteriak lagi. Dia berusaha menghentikan Kitsune yang menyerangku. Namun, Kitsune tidak peduli dengan tindakan Yizue, dia hanya berfokus untuk menyudutkanku.


‘Bagimana bisa seorang wanita melindungiku? ini karena diriku terlalu lemah sehingga Yizue menjadi begini!’ Aku tidak tega melihat Yizue yang mati-matian membelaku.


“Tidak ada gunanya menyembunyikan kekuatan bila wanitaku ditindas!” ucapku lirih.

__ADS_1


“Teratai Penghangat Jiwa keluarlah!” teriakku marah. Kemudian, sebuah teratai berwarna kuning keemasan mulai muncul di atas tubuhku. Teratai itu memancarkan cahaya yang sangat terang benderang.


Bersambung


__ADS_2