
“Karena kita menang!” Kai Zen tersenyum seraya membalas pertanyaan Yi Yizue.
“Me—menang?” Yi Yizue keheranan.
“Ya, ketika kita menang maka pandangan orang terhadap kita akan berubah, tergantung bagaimana cara kita bisa menang. Pertandingan kita kali ini melawan penyihir yang tingkatannya lebih tinggi dari kita serta melakukannya dengan adil dan jujur. Lalu kita menang, tentu saja mereka mau tidak mau harus mengakui kemampuan kita!” ucap Kai Zen dengan bangga.
“Ah—eh—emm, ba—baiklah.” Yi Yizue menjawab dengan gugup.
“Apa kau tidak paham?” Kai Zen memastikan.
“A—aku sedikit paham.” jawab Yi Yizue dengan senyumnya yang dipaksakan.
“Pemenang mengambil semuanya!”
“Sejarah ditulis oleh sang pemenang!”
“Semacam itulah kalau kau membaca novel, kau pasti pernah membaca kalimat seperti itu atau semacamnya.” Kai Zen mencoba mengambil contoh kalimat yang muncul di novel.
“Ah, pe—pemenang mengambil segalanya? aku seperti pernah membacanya!” Yi Yizue memasang wajah gembira.
“Jadi, kau sudah tahu garis besarnya?” tanya Kai Zen.
“Ya—ya, ku—kurang lebih aku mengerti!” jawab Yi Yizue dengan yakin. Kemudian, petugas medis datang mengobati Kai Zen dan Yi Yizue. Mereka juga membawa Yi Xue dan Yi Xie untuk dirawat. Lalu, Kai Zen dan Yi Yizue pergi meninggalkan arena setelah selesai diperiksa dan diobati.
...----------------...
Selepas kami meninggalkan arena, kami menuju ke tempat Guo Yan dan Zhuo Fang. Aku mencoba melakukan pembicaraan dengan Yi Yizue agar suasana diantara kami tidak begitu canggung.
“Sepertinya kau sudah terbiasa menghadapi tatapan negatif dari orang lain, Yizue.” Aku memulai pembicaraan.
“Ehmm, a—aku sudah terbiasa sejak kecil. Mereka memandangku monster, pembawa bencana, kesialan, dan lain sebagainya.” jawab Yizue seraya menatap lantai.
“Lalu, kau membiarkannya?” tanyaku padanya.
“Ba—bagaimana kalau aku beneran monster, Kai?” Yi Yizue yang menatap ke lantai kini berubah menatapku.
‘Tidak mungkin Paman Alex memberitahu kejadian itu pada Yizue, kan?’ pikirku dalam hati.
“Maksudnya?” karena sudah terlanjur, lebih baik menggali sedalam mungkin.
__ADS_1
“Ha—hari itu, saat aku sedang bermain sendirian. Datang dua orang dewasa, mereka memakai jubah sehingga aku tidak terlalu tau wajah mereka. Mereka mengatakan bahwa yang membunuh orang tuaku adalah diriku. Mereka mengatakan bahwa akulah pelakunya. Mereka seakan terus menyalahkanku, entah apa tujuan mereka.” Yizue menjelaskan kejadiannya padaku.
“Lalu?” Aku penasaran dengan lanjutan ceritanya.
“A—aku sangat ketakutan waktu itu, bayangkan saja dua orang asing datang kepadamu dan mengatakan bahwa kau adalah pelaku pembunuhan orang tuamu!” lanjut Yizue.
“Jadi, kau percaya dengan apa yang dua orang asing itu katakan?” tanyaku penasaran.
“Be—belum, aku belum percaya.” Jawab Yizue tidak pasti.
“Belum?” Aku mengulangi kata itu, belum dan tidak memiliki arti yang berbeda menurutku.
“Ya, wa—waktu itu aku belum percaya. Hi—hingga pada saat usiaku genap 15 tahun, sosok itu muncul dalam mimpiku.” Yizue memasang wajah sedikit takut.
“Siapa sosok itu?” karena Yizue sedikit ketakutan saat menyebutkannya, aku menjadi penasaran.
“Se—seekor rubah ekor sembilan! a—aku tidak begitu tau warnanya karena aku hanya melihat bayangannya yang berwarna hitam!” suasana diantara kami menjadi tegang karena mendengar ceritanya.
“Di—dia mengatakan padaku bahwa aku memang membunuh orang tuaku, tapi dia juga mengatakan bahwa aku tidak murni membunuh orang tuaku. Kemudian, mimpiku berakhir.” Yizue mulai menenangkan dirinya.
“Lalu, semenjak itu dirimu kadang-kadang bisa berubah kepribadian?” Aku menebak kelanjutannya.
“Aku menebaknya, Yizue.”Jawabku jujur.
“Ka—kau tida berbohong?” tanya Yizue memastikan.
“Aku bersumpah!” Aku bersumpah agar Yizue dapat percaya.
“Ba—baiklah aku percaya padamu, Kai!” Yizue tersenyum padaku.
“A—apa kau bisa menebak kejadian yang selanjutnya?” kini Yizue penasaran dengan prediksiku.
“Karena kau bisa berganti kepribadian karena bertemu sosok itu, kau juga bisa berinteraksi dengannya?” Aku menjawab rasa penasarannya.
“He—hebat! ka—kau benar, Kai. Walaupun aku tidak bisa berinteraksi dengannya secara leluasa, namun pada saat-saat tertentu aku bisa berkomunikasi dengannya.” Yizue memberi pujian seraya mengoreksi prediksiku.
“La—lalu, bagaimana yang selanjutnya?” Yizue bertanya dengan malu-malu.
‘Apakah Yizue sedang memberiku tes? atau bagaimana? mengapa dia terus menanyaiku?’ pikirku dalam hati seraya menggeleng-gelengkan kepalaku.
__ADS_1
“Ke—kenapa, Kai?” karena melihatku menggeleng-gelengkan kepala, Yizue bertanya padaku.
“Ti—tidak apa, beri aku sedikit waktu untuk menganalisis.” Jawabku sedikit berbohong.
“Ba—baiklah,” Yizue menyetujuinya.
Beberapa saat kemudian, aku berhasil menyimpulkan jawabanku. “Kau mempelajari sebuah sihir atau aura?” Aku mencoba memastikan jawabanku.
“Be—benar lagi, Kai. Kau memang hebat!” Yizue memberiku acungan jempol.
‘Kalau aku tidak mengalami kejadian di taman itu dan tidak melihat beberapa aura asing di arena, aku tidak mungkin tahu!’ pikirku dalam hati.
“Setelah mengalami kejadian itu, aku dan sosok itu mulai bisa berinteraksi. Dia tidak menyeramkan, malah menurutku adalah sosok yang baik. Dia mengajariku sebuah sihir dan menyuruhku untuk belajar sebuah jenis aura untuk mendukung sihir yang aku pelajari.” Jawab Yizue dengan riang gembira.
“Ja—jangan terlalu mempelajarinya, Yizue.” Aku memperingati Yizue seraya mengingat kejadian di taman.
‘Jika Yizue berhasil mempelajarinya, maka semua pria...’ Aku memikirkan apa yang seharusnya tidak kupikirkan.
“Ja—jangan berpikir aneh-aneh, K-kai!“ Yizue yang melihat ekspresi wajahku mulai menggoyang-goyangkan tubuhku.
“Ti—tidak kok, Yizue. Intinya jangan terlalu mempelajari sihirnya. Apakah kau tahu sihir apa itu?” Aku mencoba mengalihkan kejadian tadi.
“Ta—tau.” jawab Yizue seraya melihat ke bawah agar menutupi wajah malunya.
“La—lalu mengapa kau masih mempelajarinya?” tanyaku penasaran.
“Me—menurutku sihir dan aura yang sosok itu ajarkan adalah kombinasi sempurna. Sihir itu adalah sihir tipe pesona, digabungkan dengan aura yang dia ajarkan. Maka aku bisa mengontrol pesona yang aku pancarkan. Tidak hanya itu, aura itu dapat memperkuat fisikku serta meningkatkan manaku. Lagipula, tidak ada resiko mempelajari keduanya.” Yizue menjelaskannya padaku seraya berharap aku menyetujuinya.
“Baiklah, kau bisa mempelajarinya. Tetapi, tetap prioritaskan keselamatanmu.” Aku menyetujui pendapatnya, tidak tega melihat wajah Yizue yang sedih jika aku menolaknya.
”Te—terima kasih, Kai!” Yi Yizue tersenyum bahagia.
Melihat Yizue tersenyum bahagia, dalam hati aku berkata, ‘Walaupun status kami belum pasti tapi dia sangat memperhatikan pendapatku ya, tidak buruk juga!’.
“Ngomong-ngomong, kau sangat tangguh bisa bertahan dari cemoohan orang lain waktu kecil.” Aku memuji Yizue.
“Ti—tidak juga.” Yizue menggelengkan kepala
seraya tersenyum malu-malu. Kemudian, kami melanjutkan perjalanan ke tempat Guo Yan dan Zhuo Fang dengan suasana bahagia.
__ADS_1
Bersambung