
Kai Zen yang marah mengeluarkan Teratai Penghangat Jiwa, salah satu harta andalan Kai Zen. Teratai yang berwarna kuning keemasan itu mengeluarkan cahaya terang benderang. Serangan jiwa yang diarahkan Kitsune Perlahan-lahan terserap oleh teratai tersebut.
“I-itu...” Kitsune terpukau melihat pemandangan di depannya. Sebuah teratai yang dapat menyerap serangan jiwa terkuat di keadaannya saat ini.
“Tidak salah lagi!” setelah mengucapkan kalimat itu, Kitsune menghentikan serangannya. Lantas, dia mengajukan pertanyaan pada Kai Zen.
“Dari mana kau mendapat harta itu, nak?”
“Untuk apa aku menjawabnya?” lagi-lagi Kai Zen menolak memberitahu.
“Apa kau tidak takut serangan jiwa seperti sebelumnya?“ begitupun dengan Kitsune, lagi-lagi mengancam Kai Zen.
“To-tolong he-hentikan!” Yi Yizue memohon untuk menghentikan pertengkaran mereka.
“Demi Yizue, aku tidak akan menyerangmu!” Kai Zen menyetujui permohonan Yi Yizue sembari memberi peringatan kepada Kitsune.
“Dasar bocah arogan! andaikan aku bisa bergerak maka kau tidak memiliki harapan menang melawanku!” ucap Kitsune.
“Jika kau tidak ingin memberitahuku tidak masalah, Nak. Namun, jangan sekali-kali mengeluarkan benda itu di depan orang lain atau memberitahunya pada orang asing!" imbuh Kitsune memberi nasihat pada Kai Zen.
“Aku paham.” Jawab Kai Zen.
“Benda itu terlalu berharga, planet ini tidak akan bisa menampung konsekuensi kemunculannya.” Kitsune bergumam pelan.
‘Apakah benda ini sangat berharga?’ pikir Kai Zen tidak sengaja mendengar gumaman Kitsune.
‘Padahal aku mendapatkan benda ini dari sebuah danau yang katanya angker!’ Kai Zen mulai mengingat kejadian saat pertama kali mendapatkan Teratai Penghangat Jiwa.
Flashback saat Kai Zen masih kecil. Hari itu, Kai Zen yang berusia tujuh tahun sangat penasaran dengan sebuah danau yang katanya angker di kalangan masyarakat. Danau itu bernama Danau Blue-Black, asal usul nama tersebut karena setengah dari danau berwarna biru dan setengahnya lagi hitam.
“Aku akan ke sana!” seru Kai Zen penuh semangat. Dia segera melihat-lihat keadaan sekitar seperti seorang detektif.
“Bagus, Kak Fex tidak ada di rumah!”ucap Kai Zen setelah memastikan keadaannya aman, dia segera berlari ke luar menuju danau itu. Jarak rumah Kai Zen dari Danau berkisar sepuluh kilometer. Kai Zen kecil tidak hanya berlari menuju ke danau, dia juga mengaktifkan sihir yang dia kuasai.
__ADS_1
“Sihir Angin Tingkat Bumi Tinggi: Kecepatan Angin!”
“Sihir Angin Tingkat Langit Rendah: Tarian Angin!”
“Sihir Kegelapan Tingkat Langit Tinggi: Kamuflase Kegelapan!”
Sihir Angin yang ditingkatkan untuk mendukung pergerakannya, serta sihir kegelapan untuk menutupi hawa kehadirannya dari orang lain seperti menjadi bayangan. Dengan bantuan ketiga sihir tersebut, Kai Zen berhasil sampai di Danau Blue-Black dengan waktu tiga puluh menit. Kemudian, Kai Zen kecil beristirahat sebentar di pinggiran danau.
“Fuh, lumayan melelahkan!” ucapnya. Lalu, dia mencoba melihat-lihat sekitar seraya memulihkan tenaganya.
“Dari mana letak keangkeran danau ini? apakah cerita bahwa sepasang kekasih melihat hantu di sini adalah kebohongan?” gerutu Kai Zen kecil setelah melihat Danau tersebut tidak angker, justru indah di matanya.
“Pasti sepasang kekasih itu berbuat tidak senonoh di sini, mangkanya mereka melihat hantu, lalu menyebarkan cerita bahwa danau ini angker!” cetus Kai Zen kecil.
Setelah dirasa tenaganya sudah pulih, Kai Zen mencoba menelusuri danau Blue-Black. Namun, hasilnya nihil, tidak ada keanehan di sekitarnya. Kai Zen kecil tidak putus semangat memperoleh hasil itu, lantas dia mengelilingi danau itu lagi dengan teliti.
Usaha tidak mengkhianati hasil, Kai Zen kecil yang hampir putus asa karena tidak memperoleh satupun hal yang menakjubkan, saat ini melihat sebuah teratai yang tidak biasa. Dia merasa teratai itu istimewa.
“Wow, sepertinya teratai itu istimewa, aku akan mengambilnya!” ucapnya kegirangan.
“Semakin besar keuntungan, semakin besar pula resikonya! untuk apa berpikir berlebihan, mending langsung ambil saja!” tanpa pikir panjang, Kai Zen langsung memutuskan mengambil teratai itu.
“Sihir Angin Tingkat Langit Tinggi: Sepatu Angin!”
Kai Zen langsung melayang mendekat ke teratai tersebut. Saat perjalanan menuju ke teratai memang tidak ada masalah, tetapi saat hendak mengambilnya munculah sebuah masalah.
“Hishhh!!!” muncul ular raksasa di sekitar teratai itu saat Kai Zen kecil hendak mengambilnya, dia pun langsung reflek melayang mundur.
“Sudah kuduga!”
“Hishhh!” tanpa memberikan jeda untuk Kai Zen kecil, ular itu mendesis sembari menyerangnya.
Wush! Wush! Wush!
__ADS_1
Tiba-tiba ular itu hancur berkeping-keping sebelum menyentuh sehelai tubuh Kai Zen. Kai Zen kecil hanya tersenyum melihatnya.
“Sayang sekali kau bertemu diriku, sebelum menyentuhku kau bahkan sudah mati hahahaha!” Kai Zen menertawakan ular itu yang mati konyol.
“Mantra perlindungan Kak Fex memang keren, tidak sia-sia aku menyuruhnya memasang satu di badanku!” ucap Kai Zen sembari menggosok hidungnya dengan jari telunjuk.
“Karena hambatan telah hilang, mari ambil hartanya~”
Kai Zen mulai mendekat ke teratai itu, namun kejadian seperti tadi terulang lagi. Saat Kai Zen hendak mengambilnya, seekor ular muncul dari bawah badannya lagi.
“Sial, kenapa hal ini terulang lagi?” Kai Zen kecil mulai marah. Dia mulai mengaktifkan sebuah sihir dalam keadaan seperti itu.
“Sihir Cahaya Tingkat Langit Rendah: Kilasan Cahaya!”
Ular itu buta sejenak karena sihir yang di keluarkan Kai Zen, dia menyerang membabi buta di semua arah. Kai Zen kecil memanfaatkan momen ini untuk mengambil teratai tersebut, lalu dia pergi ke daratan setelah berhasil.
“Akhirnya aku mendapatkannya!” Kai Zen memeluk teratai itu dengan gembira. Namun, kegembiraannya segera berakhir saat mengetahui ular tadi telah berhasil pulih dan berusaha menuju ke arahnya.
“Apa kau tidak terima, cacing?” ejek Kai Zen.
“Hishhh!” Ular itu menjawab seakan memahami perkataan Kai Zen.
“HISHHHHHHHHH!!!” Kali ini ular itu seakan berteriak sembari menuju arah Kai Zen dengan cepat.
“Apa yang dia lakukan? jangan-jangan...” Kai Zen segera mengaktifkan sebuah sihir.
Tiba-tiba ratusan ular berukuran kecil hingga besar mulai bermunculan, mereka menuju ke arah Kai Zen.
“Sudah kuduga, sialan!” ucap Kai Zen sembari tersenyum menatap ratusan ular yang menuju ke arahnya.
“Matilah dasar kalian segerombolan cacing! Sihir Api Tingkat Semesta Rendah: Tsunami Api!” kemudian, sebuah ombak besar muncul dari depan Kai Zen menuju ke arah ratusan ular tersebut. Melihat sebuah ombak yang mengancam nyawa mereka, ular-ular itu mencoba melarikan diri. Tetapi, usaha mereka sia-sia, kecepatan ombak itu sangat cepat hingga mereka terbakar sebelum bertindak. Kai Zen yang melihat pemandangan itu merasa puas sekaligus bingung.
‘Bagaimana aku membersihkan kekacauan ini?‘ pikir Kai Zen kecil di dalam hati, dia terlihat kebingungan.
__ADS_1
Bersambung