
Ketika Kai Zen berhasil melepas kutukan di dalam tubuhnya, disaat itu juga seorang pria tua yang duduk di singgasana megah sedang memejamkan kedua matanya tiba-tiba membuka matanya dengan cepat.
“Apa ada sesuatu yang mengganggu Anda, Yang Mulia?” laki-laki muda yang berdiri di depan pria tua yang diduga raja itu menanyakan keadaan raja sesaat dia melihat rajanya terbangun.
“Kutukan yang ku jatuhkan terlepas!” ucap Raja sembari menatap laki-laki muda tersebut dengan sorot mata tajam.
“Kutukan?” laki-laki muda itu menatap Raja dengan keheranan.
“Beberapa ribu tahun yang lalu, bangsa kita mencoba menyerang bangsa lain di planet yang berbeda. Namun, tanpa diduga penyihir di planet itu memiliki kekuatan rata-rata lebih tinggi daripada penyihir kita. Hanya aku seorang yang berada di tingkatan tertinggi saat itu dan berhasil mengimbangi mereka. Bagaimanapun kekuatan satu orang tidak bisa mengimbangi ribuan penyihir berbakat. Jadi, aku dan para pasukan mundur untuk menyelamatkan sebagian bangsa kita yang masih hidup.”
“Setelah semua pasukan berhasil mundur, Aku memutuskan untuk memberi kutukan kepada bangsa lain agar mereka tidak bisa mengalami kemajuan. Aku takut mereka akan membalas dendam disaat bangsa kita sedang memulihkan diri. Sebagai bayaran atas kutukan yang kuberikan, aku mengalami kemunduran seperti sekarang.” Imbuh Raja itu dengan serius.
“Setelah beberapa ribu tahun berlalu, tidak ada manusia di bangsa itu yang berhasil lepas dari kutukan ku. Namun, sekarang ada satu semut yang berhasil lepas? ini tidak bisa dibiarkan!” Raja tesebut sangat murka ketika mengatakannya. Laki-laki muda itu terlihat sangat ketakutan melihat Rajanya murka, dia hanya bisa diam menundukkan kepalanya.
“Leo, pergilah ke planet tempat tinggal musuh kita dan bunuh semut yang berhasil lepas dari kutukan ku!” Raja itu menatap laki-laki muda yang bernama Leo seraya memberinya perintah.
“Jika ada semut lain yang mengganggu-”
“Bunuh mereka!” potong Raja itu dengan tegas.
Leo yang memahami perintah sang Raja segera menunduk memberi penghormatan sembari membalas perintah, “Sesuai perintah Raja!”
“Pergilah!”
Leo segera pergi dari hadapan Sang Raja. Sang Raja yang melihat anak pertamanya pergi melaksanakan perintahnya hanya bisa berkata, “Semoga kau berhasil, Anakku.”
Sementara itu, Kai Zen telah berhasil melewati perubahan pada tubuhnya, lalu dia segera berlari pergi dari bukit.
“Sial, hanya sedikit memahami tentang Mana Heart saja bisa menimbulkan keributan besar!” Kai Zen menoleh ke tempat berlatih dirinya tadi sambil berlari.
“Itu termasuk hal besar bagi planet mu, Nak.” Tiba-tiba Long Wang berbicara kepada Kai Zen dengan nada memuji.
“Bukankah kau tidur, Long Wang?” tanya Kai Zen.
__ADS_1
“Aku akan tidur nanti.” Sebenarnya Long Wang tetap terbangun untuk menjaga Kai Zen yang sedang dalam kondisi tidak sadar sebelumnya. Dia takut ada yang mengganggu Kai Zen disaat dirinya sedang tertidur, tapi Long Wang tidak ingin menjatuhkan harga dirinya dengan berkata jujur.
“Ngomong-ngomong, hal besar bagi planet ku tadi, apa maksudnya?”
“Dengan lepasnya satu kutukan di planet ini akan mempengaruhi kutukan lain.” Jawab Long Wang.
“Maksudmu karena aku berhasil lepas dari kutukan ini, kutukan yang lain juga ikut melemah?” tebak Kai Zen.
“Benar, karena hal itu pula orang yang memberi kutukan akan memburumu sekuat tenaga.”
Kai Zen berhenti berlari saat mendengar itu, dia juga melihat kanan kiri untuk memastikan tempatnya saat ini tidak diketahui oleh orang lain. Kemudian, dia duduk bersandar di sebuah pohon.
“Apakah perkataanmu tadi bukan sekedar dugaan, namun sebuah kebenaran? aku merasa nada berbicaramu seperti memberiku peringatan.” Ucap Kai Zen penuh keyakinan.
“Tadi aku merasakan gelombang dari sebuah tempat di planetmu, gelombang itu adalah gelombang ruang hampa. Kalau aku tidak salah, ada seseorang yang berusaha merobek ruang untuk sampai ke planetmu.” Long Wang memberi penjelasan kepada Kai Zen.
Kai Zen terdiam mendengar hal tersebut, dia berpikir kemungkinan terburuk yang mungkin akan terjadi kepadanya. Namun, dia tetap berusaha tenang dalam keadaannya saat ini.
“Apa kau tidak ingin membantuku, Long Wang?” pinta Kai Zen.
“Hal ini disebabkan oleh mu, nak. Cobalah hadapi masalah yang kau buat dengan mandiri.” Tegas Long Wang, sebenarnya apa yang dia ucapkan adalah kebohongan. Dia ingin membantu Kai Zen ketika dia kesusahan, namun malu untuk mengatakannya.
“Yang kau katakan benar.” Kai Zen tersenyum pasrah.
“Toh, aku masih punya beberapa waktu untuk menjadi lebih kuat, aku tidak perlu khawatir. Sebaiknya aku segera pulang agar Kak Fex tidak mengkhawatirkanku.” Ucap Kai Zen menyemangati dirinya sendiri. Akhirnya Kai Zen mulai berdiri dan mengganti pakaiannya yang terlihat sangat kotor akibat kejadian sebelumnya.
“Kalau begitu aku akan tidur dulu, nak.”
“Ya, selamat tidur.” Jawab Kai Zen sembari mengganti bajunya. Sedangkan, Long Wang mulai tertidur lagi.
Setelah selesai mengganti pakaiannya, Kai Zen segera berlari pergi untuk pulang ke rumah. Beberapa saat kemudian, dia telah sampai di depan pintu rumahnya. Kai Zen pun membuka pintu sembari berjalan masuk.
“Aku pulang.” Ucapnya memberi salam.
__ADS_1
“Selamat datang, Kai.” jawab Kak Fex dari dapur.
“Kemarilah, segera makan dan tidur. Kau pasti kelelahan.” Kak Fex membawa makanan dari dapur untuk disajikan di meja makan.
“Aku akan mandi dulu, Kak.” Kai Zen melepas alas kakinya, lalu masuk ke dalam kamarnya untuk menaruh tas dan mengambil handuk. Dia segera masuk ke dalam kamar mandi.
“Cepatlah, jangan sampai hidangan makan malam menjadi dingin!” teriak Kak Fex.
“Baik!”
15 menit kemudian, Kai Zen telah selesai mandi dan berpakaian bersih. Dia segera menuju ke ruang tengah untuk makan malam bersama Kak Fex. Sesampainya disana, Kai Zen segera duduk di depan Kak Fex. Melihat Kai Zen telah berada di depannya, Kak Fex mulai menyantap hidangan yang ada di depan mereka.
“Selamat makan.” Ucap Kai Zen dan Kak Fex secara bersamaan.
Selepas selesai makan, Kak Fex menanyai Kai Zen mengenai kegiatannya hari ini seperti hal yang biasanya dia lakukan selesai makan malam. Kai Zen hanya menjelaskan tentang duelnya dan duel saat dia membantu Yi Yizue. Dia tidak menyebutkan tentang keributan yang terjadi karena pemahamannya tentang Mana Heart.
“Kau harus berhati-hati, Kai. Besok lagi jangan terlalu menyinggung para keluarga besar di kota ini.”
Kebalikan dari perkiraan Kai Zen, Kak Fex hanya memberinya nasihat tanpa memarahinya. Dia pun menatap Kak Fex dengan tatapan heran.
“Mengapa kau menatapku begitu?” Kak Fex yang menyadari tatapan Kai Zen mencoba menanyakan alasannya.
“Apakah kau tidak marah, Kak?”
“Kau sudah besar, kau pasti tahu resiko dari perbuatanmu. Tidur saja sana, kau pasti sibuk besok.” Ucap Kak Fex sembari membersihkan meja makan.
“Terima kasih, Kak. Aku tidur dulu.” Jawab Kai Zen seraya tersenyum. Dia segera masuk ke kamarnya dan tertidur pulas.
Kak Fex hanya tersenyum menatap tingkah Kai Zen. Dia segera membersihkan meja makan, lalu membawa peralatan makan ke dapur untuk mencucinya. Setelah selesai mencuci, dia mengambil HPnya yang tergeletak di meja makan. Kemudian, mencoba menelpon seseorang dari kontaknya. Dia tersenyum sembari memegang HPnya, menunggu orang yang dia telpon untuk menjawabnya.
‘Sepertinya aku harus menempatkan beberapa penjaga di samping Kai Zen!’
Bersambung
__ADS_1