Lahirnya Penyihir Terhebat Sepanjang Masa

Lahirnya Penyihir Terhebat Sepanjang Masa
Berdua Bersama Yi Yizue! Menara Senja Langit Biru!


__ADS_3

“Seperti yang kalian dengar, Paman menyuruh diriku pulang. Aku akan pulang duluan, maaf karena tidak bisa ikut bersama kalian.”


Zhuo Fang menunduk meminta maaf kepada ketiga temannya. Zhuo Fang terdengar sedih saat mengatakan hal tersebut.


“Tenang saja, Zhuo Fang. Kami mengerti, segeralah pulang.” Kai Zen tersenyum menatap Zhuo Fang.


“A—aku setuju dengan Kai Zen. Se—segeralah pulang. Lagi pula, ini berkaitan dengan masa depanmu.” Yi Yizue mengangguk mengerti dengan keadaan Zhuo Fang. Yi Yizue juga menekankan kata 'masa depanmu' seakan memberi isyarat.


‘Semoga Guo Yan paham dengan isyaratku. Entah mengapa aku merasakan firasat buruk tentang ini.’ Yi Yizue memandang Guo Yan dengan tujuan agar dia paham dengan isyaratnya.


‘Mengapa aku merasakan firasat buruk tentang Zhuo Fang? apakah ini hanya firasatku? mungkin...’ Guo Yan juga merasakan firasat buruk. Dia terdiam saat melihat tatapan Yi Yizue yang seakan memberinya petunjuk.


“Terima kasih dengan pengertian kalian. Aku pulang dulu, sampai jumpa!” sebelum Guo Yan menyadari maksud dari Yi Yizue. Zhuo Fang telah pamit pulang.


Beberapa meter setelah Zhuo Fang meninggalkan mereka bertiga. Yi Yizue mencoba mengatakan hal yang dia maksud kepada Guo Yan.


“Ke—kejar dia, Guo Yan. A—aku merasakan firasat buruk!” ucap Yi Yizue sesingkat mungkin agar Zhuo Fang tidak pergi terlalu jauh.


“Aku mengerti!” Guo Yan mengangguk paham. Dia segera berlari menyusul Zhuo Fang.


Setelah Guo Yan berlari menyusul Zhuo Fang, kini tinggal Kai Zen dan Yi Yizue berdua. Mereka masih menatap Guo Yan yang berusaha mengejar Zhuo Fang. Setelah berhasil mengejar sepertinya Guo Yan terlibat cekcok dengan Zhuo Fang.


“Apakah mereka akan baik-baik saja?” ucap Kai Zen ketika melihat pertengkaran kedua temannya dari kejauhan.


“Me—mereka pasti baik-baik saja!” jawab Yi Yizue dengan optimis.


Mereka melanjutkan melihat kedua temannya yang perlahan menjauh. Sesudah Guo Yan dan Zhuo Fang pergi hingga tak terlihat lagi. Kai Zen dan Yi Yizue juga meninggalkan tempat itu.


“Mau kemana kita sekarang?” tanya Kai Zen sembari berjalan pergi.


“A—aku mengikutimu!” jawab Yi Yizue seraya menatap Kai Zen.


“Aku akan memberimu pilihan, Yizue. Melanjutkan pergi ke Menara Senja Langit Biru atau pulang di rumahku dan makan malam di sana?”

__ADS_1


“Ji—jika aku memilih untuk tetap pergi ke Menara Senja Langit Biru. Apakah kamu tahu tempatnya, Kai?”


“Itu!” Kai Zen menunjuk sebuah menara paling tinggi di tengah Kota Sky Blue. Letak menara lumayan jauh dari tempat mereka berada sekarang.


“Ter—ternyata itu?” Yi Yizue menunjuk menara yang Kai Zen tunjuk. Dia menatap Kai Zen penuh tanda tanya seakan memastikan menara itu adalah Menara Senja Langit Biru.


“Iya, itu benar Menara Senja Langit Biru. Aku telah mencarinya di internet.” Kai Zen mengangguk melihat pandangan Yi Yizue.


“Baiklah, aku memilih untuk pergi ke Menara Senja Langit Biru.” Yi Yizue tersenyum menatap Kai Zen.


‘Sebenarnya aku lebih ingin pergi ke rumah Kai Zen. Tetapi, aku masih belum siap bertemu dengan orang tuanya.’ Batin Yi Yizue.


“Sesuai perintah, Tuan Putri.” Kai Zen tersenyum balik menatap Yi Yizue sembari menggodanya.


Mereka pun berjalan menuju ke Menara Senja Langit Biru. Agar diperjalanan tidak bosan, Kai Zen dan Yi Yizue berbincang banyak hal. Tepat pukul 17.00, Kai Zen dan Yi Yizue telah sampai di Menara Senja Langit Biru.


“Mari pergi membeli camilan dulu.” Ajak Kai Zen setelah sampai di sana.


“Emmm...” Yi Yizue mengangguk setuju.


“Le—lebih baik kita membayar sendiri apa yang kita beli.”


Begitulah perkataan Yi Yizue yang membuat Kai Zen takjub. Akhirnya mereka membayar sendiri apa camilan yang mereka beli.


‘Wanita seperti Yizue yang memutuskan untuk membayar sendiri ketika pergi berdua sangat langka. Itu menunjukkan bahwa dia punya kehormatan. Sebenarnya aku tidak keberatan membayar semua yang kita beli.’


Dalam hati Kai Zen merasa bersyukur karena Yi Yizue bukanlah tipe perempuan yang mudah menerima atau menyetujui pemberian dari pria. Kemudian, mereka berdua melanjutkan berjalan ke atas menara untuk menikmati matahari terbenam.


Sesampainya di atas Menara Senja Langit Biru. Kai Zen dan Yi Yizue segera berdiri bersandar di dinding pembatas seperti yang dilakukan orang lain disekitarnya. Mereka menatap ke arah matahari akan terbenam sembari memakan camilan yang mereka beli.


Pukul 18.05 matahari telah terbenam. Kai Zen dan Yi Yizue terlihat puas melihat detik-detik pemandangan matahari terbenam. Mereka melanjutkan mengobrol seraya menghabiskan camilan.


“Pemandangan yang indah kan, Yizue?” tanya Kai Zen seraya memandang Yi Yizue.

__ADS_1


“Ya, pe—pemandangan yang sangat indah.” Yi Yizue menoleh ke arah Kai Zen seraya tersenyum juga.


“Ah, besok sudah senin. Aku malas berangkat ke akademi.” Tiba-tiba Kai Zen mengubah topik pembicaraan. Sepertinya Kai Zen mulai kehabisan topik.


“Ka—kamu tetap berangkat kan, Kai?” tanya Yi Yizue khawatir setelah mendengar ucapan Kai Zen.


“Tentu saja aku berangkat. Besok baru minggu kedua setelah penerimaan murid baru. Mana berani aku tidak berangkat hahaha!” Kai Zen memalingkan wajahnya lurus ke depan.


“Huh, syu—syukurlah.” Yi Yizue menghela napas lega.


“Kamu mengira aku tidak akan berangkat karena ucapan sebelumnya?”


“Se—sejujurnya iya...” Yi Yizue masih memandang Kai Zen walaupun Kai Zen sudah tidak menatapnya lagi.


“Walaupun malas, tetapi aku harus berangkat. Sudah menjadi kewajiban bagi murid seperti kita untuk berangkat jika tidak mempunyai masalah serius seperti sakit atau masalah lainnya.” Kai Zen menjawab dengan santai, dia memejamkan mata menikmati angin malam yang menerpa tubuhnya.


“Ji—jika kita tidak berangkat tanpa memiliki masalah atau alasan yang serius. Kita akan merasa bersalah. Benar kan, Kai?”


“Tidak sepenuhnya benar.” Jawab Kai Zen seraya membuka mata.


“Itu tergantung hati dari setiap orang.” Imbuh Kai Zen.


Yi Yizue hanya terdiam mendengar ucapan Kai Zen, dia mencoba mencerna ucapan Kai Zen dengan serius. Ketika Yi Yizue tengah berpikir serius. Tiba-tiba Kai Zen mengucapkan sesuatu kepada Yi Yizue.


“Lihatlah ke depan, Yizue. Pemandangan Kota Sky Blue di malam hari tidak kalah bagus dengan pemandangan matahari terbenam sebelumnya.” Kai Zen menunjuk ke depan seraya menoleh ke arah Yi Yizue.


Yi Yizue dengan cepat langsung menoleh ke depan seraya berkata, “Ka—kamu benar, Kai. Andaikan Zhuo Fang tidak mendapat masalah maka kita berempat dapat menikmati pemandangan ini bersama.”


“Ah, kamu mengingatkanku tentang mereka, Yizue. Semoga Guo Yan dan Zhuo Fang baik-baik saja.” Kai Zen berharap sembari menatap langit berbintang.


Sementara itu, Zhuo Fang dan Guo Yan telah berada di depan pintu Kediaman Utama Keluarga Zhuo. Lalu, Zhuo Fang segera mengetuk pintu dengan pelan.


Tok Tok Tok

__ADS_1


‘Sial, aku merasakan firasat buruk setelah melihat mobil-mobil yang terparkir di luar!’


Bersambung


__ADS_2