
Tok tok tok
Suara ketukan pintu mengejutkan Zhuo Fang yang tengah berbincang dengn Guo Yan. Segera Zhuo Fang berseru ke arah pintu.
“Siapa?”
“Ini aku.” Jawab Kai Zen dari balik pintu.
“Masuklah.”
Kai Zen dan Yi Yizue segera masuk, mereka mengambil tempat duduk seperti sebelumnya. Kemudian, Kai Zen menatap Zhuo Fang sembari berkata.
“Kedatangan kami tidak mengganggu kalian, kan?”
“Tidak, tenang saja. Benar kan, Guo Yan?” jawab Zhuo Fang seraya melirik Guo Yan.
“Ya, justru kami menunggu kedatangan kalian!”
“Me-menunggu kami?” tanya Yi Yizue dengan penuh tanda tanya.
“Yup, sebenarnya aku dan Zhuo sedang membahas perihal roh sihir. Aku penasaran dengan roh sihir milik kalian berdua.” Jelas Guo Yan.
“Apa kami boleh tahu tentang roh sihir kalian?” pinta Zhuo Fang setelah Guo Yan selesai berkata.
Yi Yizue kebingungan mengambil keputusan, dia pun menatap Kai Zen dengan maksud agar Kai Zen yang mengambil keputusan.
“Bukan kami tidak mau, tapi sekarang bukan saatnya.” Jawab Kai Zen. Dia menyadari sorot mata Yi Yizue yang menatapnya.
“Sekarang bukan saatnya? lalu kapan?” ujar Zhuo Fang tidak sabar.
“Entahlah, aku juga tidak tahu.” Kai Zen menggeleng-geleng kepalanya seraya tersenyum kecil.
“Itu tidak lucu, Kai!” tatap Zhuo Fang datar.
“Sudahlah, lupakan saja. Jika kau tidak ingin memberitahu, katakan dengan jelas!” gerutu Zhuo Fang.
Guo Yan dan Yi Yizue hanya tertawa kecil melihat kelakuan dua laki-laki itu. Suasana di antara mereka menjadi lebih tenang. Setelah itu, mereka membicarakan berbagai hal hingga pulang.
...----------------...
“Mari ganti baju dulu, Yizue. Kau membawa baju ganti, kan? ”
__ADS_1
“Ya-ya, aku membawanya!”
Selepas pulang dari akademi, Kai Zen dan Yi Yizue segera berangkat menuju tempat latihan. Mereka berdua segera berganti baju setelah sampai di sebuah bukit, tempat latihan Kai Zen biasanya. Untung saja ada dua toilet di sekitar bukit sehingga mereka berdua bisa memakai masing-masing satu.
KREK!
“Aku selesai....” Kai Zen terkejut saat membuka pintunya. Dia melihat Yi Yizue dengan pakaian olahraga yang sangat menawan.
Yi Yizue memakai baju olahraga lengan panjang dengan celana panjang yang serbah hitam, warna hitam yang netral sangat cocok untuknya. Bajunya agak ketat, namun Yi Yizue terlihat nyaman memakainya. Rambut blonde yang dibiarkan terurai lurus membuat kecantikan Yi Yizue bertambah. Kacamata coklat yang biasa di pakainya kini dilepas.
‘Sa-sangat cantik!’
‘Sial, mengapa Yizue yang memakai pakaian olahraga membuatku-’
‘Ah, tidak-tidak! apa yang kupikirkan? tenanglah Kai Zen, tenanglah...”
Kai Zen menjadi kehilangan kendali melihat pemandangan yang ada di depannya. Dia mencoba menenangkan dirinya dengan menepuk kedua pipinya sedikit keras.
PLAK!
Setelah Kai Zen menepuk kedua pipinya, dia menjadi lebih tenang. Dia mulai berpikir jernih kembali walaupun ada beberapa pikiran negatif yang masih berada di benaknya.
“K-kai, mengapa kamu menampar pipimu sendiri?”
‘Kamu, kamulah penyebabnya Yizue!’ teriak Kai Zen dalam hati.
“T-tidak apa-apa, Yizue. Lupakan saja kejadian yang tadi.” Kai Zen mencoba menutupi penyebabnya. Dia merasa malu bila mengatakannya dengan jujur.
“Ka-kamu sungguh tidak apa-apa?”
“A-apa kamu ingin pulang saja? a-aku tidak masalah kalau hari ini tidak jadi latihan.” Kekhawatiran Yi Yizue justru bertambah mendengar jawaban Kai Zen.
“Aku sungguh tidak apa-apa, Yizue. Hanya sedikit terkejut dengan pakaianmu!” seru Kai Zen, dia masih menahan diri untuk tidak mengatakan yang sejujurnya.
“A-ada apa dengan pakainku? a-apa terlihat aneh?” tanya Yi Yizue kebingungan. Dia juga melihat pakaian yang dipakainya.
“Tidak aneh, justru bagus. Ya, ya, sangat bagus!” jawab Kai Zen dengan bingung. Alhasil kata-katanya membuat Yi Yizue bingung juga.
“O-oke...” Yi Yizue yang bingung hanya menyetujui seraya menganggukkan kepalanya.
“Ah ya, karena kita sudah selesai mengganti baju. Bagaimana kalau langsung menuju tempat favoritku untuk latihan?” ajak Kai Zen sebelum suasana di antara mereka menjadi canggung.
__ADS_1
“To-tolong pimpin jalannya, Kai.” Yi Yizue setuju dengan ucapan Kai Zen, dia meminta Kai Zen memimpin jalannya.
Mereka berdua segera pergi dari toilet menuju tempat favorit Kai Zen berlatih. Sesampainya di sana, Kai Zen segera menjelaskan beberapa hal tentang tempat itu kepada Yi Yizue dengan semangat.
“Kita sampai, bagaimana menurutmu?”
Yi Yizue yang berjalan di belakang Kai Zen memasang wajah takjub setelah melihat sekitarnya. Tidak di sangka ada pemandangan seindah ini di balik semak-semak yang hanya menghabiskan beberapa menit untuk berjalan ke sini dan melewati sedikit hambatan.
“Sa-sangat indah!”
Lahan rumput yang lumayan luas, sebuah danau kecil di tengahnya, dan hanya ada satu pohon di lahan rumput itu, yaitu di dekat danau. Di sekeliling lahan rumput tersebut tidak ada jalan masuk sedikitpun karena di tumbuhi semak-semak yang tinggi, kecuali harus membuatnya seperti yang dilakukan Kai Zen.
“Lingkungan latihan yang cocok bukan?” tanya Kai Zen.
“Ya, li-lingkungan yang sangat cocok untuk berlatih sembunyi-sembunyi!” jawab Yi Yizue sedikit melenceng.
“Kalau tidak sembunyi-sembunyi akan gawat untukku, hahaha!” canda Kai Zen walaupun yang dia katakan adalah sebuah kebenaran.
“A-akan gawat? memang ada apa dengan latihanmu, Kai?” berbeda dengan prediksi Kai Zen, Yi Yizue menanggapinya dengan serius.
‘Ups, aku terlalu banyak bicara!’ batin Kai Zen.
“Ah, itu hanya gurauan, Yizue. Ngomong-ngomong, tempat ini adalah salah satu dari beberapa tempat favoritku!” Kai Zen berusaha mengalihkan pembicaraan.
“I-ini bukan tempatmu satu-satunya? ka-kau masih memiliki tempat favorit lain?” Yi Yizue terkejut mendengar pernyataan Kai Zen. Dia segera melupakan pembahasan sebelumnya.
‘Syukurlah Yizue tidak menanggapi yang sebelumnya...’ batin Kai Zen, disa sangat lega.
“Ya, totalnya kalau tidak salah ada...sepuluh!” jawab Kai Zen sembari menghitung dengan jari-jemarinya.
“Tetapi, satu tempat favorit telah hancur...” imbuh Kai Zen.
“Me-mengapa bisa hancur? apakah karena hal itu?” tanya Yi Yizue memastikan. Hal yang dimaksud di sini adalah kejadian besar sebelumnya yang berkaitan juga dengan Shadow White.
“Iya, karena hal itu aku jadi tidak bisa ke sana lagi. Tempatnya sudah tidak aman dari gangguan luar!” ujar Kai Zen sedikit kesal.
“Jadi...hanya tinggal sembilan tempat yang masih aman.” Imbuh Kai Zen sedih.
”Te-tenanglah, Kai. La-lagipula kau masih memiliki sembilan tempat lain. Ha-hanya kehilangan satu tidak akan mebuatmu hancur!” Yi Yizue mencoba menghibur Kai Zen yang tengah bersedih.
“Tetapi, tempat itu...”
__ADS_1
Kai Zen mulai bercerita tentang semua kenangan yang ada di tempat itu, dia juga bercerita tentang kenangan di sembilan tempat lainnya. Yi Yizue dengan senang hati menemani Kai Zen bercerita, dia kadang-kadang tersenyum melihat Kai Zen.
Bersambung