
Ketika Kai Zen telah keluar dari Arena dan hendak menuju bangku penonton untuk menemui Yi Yizue dan yang lainnya. Kai Zen dicegat oleh seorang guru. Guru itu tidak lain adalah wali kelas Kai Zen, Guru Xiao.
“Pertandingan yang keren, Kai Zen!” Guru Xiao memuji Kai Zen.
“Terima kasih atas pujiannya, Guru Xiao.” Kai Zen berterima kasih.
“Tapi, jangan terlalu senang dulu. Masih ada orang yang lebih hebat di luar sana!” ucap Guru Xiao seraya berjalan pergi.
“Akan kuingat nasihatnya, Guru Xiao.” Kai Zen menundukkan kepalanya.
“Bagus! ngomong-ngomong kalau kau terus begini. Orang itu akan memanggilmu.” Guru Xiao memperingati Kai Zen seraya berjalan pergi hingga dirinya menghilang dari pandangan Kai Zen.
‘Terus mengambil perhatian maksudnya, Guru Xiao?‘ Kai Zen menyimpulkan maksud perkataan Guru Xiao.
‘Dan orang itu siapa? kungkin, Kepala Akademi?’ tebak Kai Zen.
“Tunggu saja waktunya!” tanpa pikir panjang Kai Zen pergi meninggalkan tempat dia berdiri. Kai Zen berjalan menuju bangku penonton untuk bertemu teman-temannya.
< >
Aku berjalan mendekati Yizue dan yang lainnya, mereka sudah terlihat oleh mataku. Saat aku berjalan, banyak sorot mata yang melihatku. Tatapan mereka seakan memiliki berbagai makna. Ada yang kagum, marah, benci, dan sebagainya. Walaupun aku tidak nyaman dengan tatapan mereka, tapi aku tetap menahannya.
‘Toh, aku tidak berhak melarang mereka tidak menatapku.’ Ucapku dalam hati.
Yizue menyadari diriku berjalan mendekat, dia melambaikan tangannya. Akupun segera menghampiri mereka.
“Se-selamat atas kemenangannya, Kai!” Yizue tersenyum padaku.
“Sudah kubilang aku akan menang.” Jawabku seraya duduk di samping Yizue.
“Aku masih tidak percaya kau berhasil menang!” Guo Yan menggelengkan kepalanya.
“Sebenarnya aku sudah menduga kalau kau akan menang. Namun, tidak kusangka kau akan menang hanya dengan mengeluarkan Sihir Bumi Tingkat Rendah!” Zhuo Fang memasang wajah kagum.
“Seperti yang kalian lihat, aku berhasil menang!” Aku tertawa kecil.
__ADS_1
“Kau masih ingat dengan janji kita, Yizue?” tanyaku padanya.
“Te-tentu saja a-aku ingat. A-aku ju-juga sudah berjanji!” ucap Yizue seraya menatap ke bawah, seperti menyembunyikan ekspresi wajahnya.
“Baguslah!” Aku tersenyum jahat untuk menggodanya. Yizue yang melihat senyumku berkata.
“Ja-jangan aneh-aneh! Ka-kamu mengatakan hanya permintaan yang wajar!” ucap Yizue dengan ekpresi malu.
“Iya, tidak aneh aneh kok.” Jawabku mengiyakan ucapannya.
“Apa yang kalian bicarakan? kenapa harus berbisik?” Guo Yan tiba-tiba menyela pembicaraan kami.
“Bu-bukan apa-apa.” Jawab Yizue.
“Ngomong-ngomong, aku berada di peringkat berapa?” Aku melemparkan pertanyaan pada Zhuo Fang, mencoba menghindari pertanyaan yang akan dilemparkan Guo Yan.
“Karena kemenanganmu melawan Shi Kuang, kau berhasil merebut peringkatnya. Kau berada di peringkat 258 dari 720 murid seluruh akademi.” Jawab Zhuo Fang.
“Dan hanya kau seorang yang berhasil memasuki peringkat 200 besar diantara murid baru!” Zhuo Fang mengacungkan jempolnya padaku.
“Kau terlalu memandang tinggi murid baru, Kai!” Zhuo Fang membantah perkataanku.
“Murid baru seperti kita yang baru masuk tingkatannya lebih rendah dari murid lama. Walaupun ada murid baru yang tingkatannya lebih tinggi dari murid lama, namun itu hanya sebagian.” Zhuo Fang menjelaskan alasannya padaku.
“Tapi, murid baru dari kelas A yang berasal dari lima keluarga besar memiliki kemungkinan masuk 200 besar kan?” tanyaku pada Zhuo Fang.
“Bisa! tapi, kau terlalu meremehkan persaingan diantara lima keluarga besar, Kai. Jika ada orang dari keluarga besar yang mencoba menaikan peringkat mereka, maka murid dari keluarga besar lain akan mencoba menghalangi mereka. Kau tidak akan merasakannya karena kau bukan dari keluar besar. Kecuali, kau menjadi ancaman bagi mereka.” Jawab Zhuo Fang.
“Intinya murid dari keluarga besar saling bersaing satu sama lain. Sedangkan, murid yang bukan dari keluarga besar akan dibiarkan sesuka mereka asalkan tidak mengancam bagi mereka?” Aku menyimpulkan ucapan Zhuo Fang.
“Kurang lebih begitu. Yang ingin kusampaikan adalah kau orang tercepat yang memasuki peringkat 200 besar. Walaupun murid baru juga bisa memiliki kesempatan memasuki 200 besar, tapi tidak secepat dirimu.” Ucap Zhuo Fang.
“Aku mengerti apa maksudmu!” Aku menganggukkan kepala. Setelah itu aku dan Zhuo Fang membahas persoalan lainnya. Hingga pada akhirnya percakapan kami berhenti ketika nama Yizue dipanggil oleh Host Arena.
“Murid tahun pertama Yi Yizue dari kelas F apakah bersedia menerima tantangan Murid tahun pertama Yi Xue dari kelas B? jika bersedia silahkan maju.” Ucap Host itu.
__ADS_1
“Marganya sama dengamu, apakah dia keluargamu?” tanya Guo Yan.
“Y-aya, dia satu keluarga denganku.” Yizue tampak menyembunyikan ketakutannya.
“Jika kau tidak mau bertarung dengannya, tolak saja.” Ucapku ketika menyadari ekspresi ketakutan Yizue.
“Ji-jika aku menolak, aku...” Yizue tidak melanjutkan ucapannya.
“Zhuo Fang, katamu peringkat akademi bisa didapatkan tidak hanya dari pertarungan satu vs satu, kan?” tanyaku pada Zhuo Fang.
“Ya, jika musuh setuju untuk dua vs dua, tiga vs tiga, atau empat vs empat. Maksimal adalah empat vs empat dan musuh setuju untuk melakukan pertarungan tim, maka itu diperbolehkan.” Jawab Zhuo Fang dengan senyumnya, sepertinya dia mengerti maksudku menanyakan ini.
“Kau sudah mendengarnya, Yizue? ajukan pertarungan dua vs dua saja, jika dia tidak setuju maka kau tinggal pergi.” Aku menatap wajah Yizue yang sudah mulai membaik.
“Si-siapa yang jadi partnerku?” tanya Yizue.
“Tentu saja Kai Zen! benarkan, Zhuo Fang?” ucap Guo Yan.
“Benar.” Jawab Zhuo Fang.
“Ba-baiklah, aku akan mengikuti saranmu.” Ucap Yizue padaku, lalu dia pergi menuju arena. Aku dan yang lainnya juga memberikan semangat pada Yizue.
< >
Aku berjalan menuju arena setelah mendengar saran dari Kai Zen. Sebenarnya aku ingin langsung menolak tantangan Yi Xue. Namun, jika aku menolaknya maka mereka tidak akan puas dan akan terus mengejar-ngejar. Aku paling tau sifat keluargaku. Disaat aku ingin menerima tantangan Yi Xue dan bersiap untuk kalah, Kai Zen dan yang lainnya memberikanku semangat dan solusi. Aku menjadi yakin untuk menang.
‘Walaupun kemenanganku karena Kai.’ Aku tersenyum malu dan bahagia.
Ketika aku sampai di arena akademi. Yi Xue langsung merendahkanku. “Dasar pembawa sial keluarga, aku akan menghajarmu di depan seluruh murid akademi agar kau tidak memiliki wajah untuk menatap mereka!” ucapnya.
Aku hanya terdiam mendengar ucapan itu, aku berusaha menenangkan diriku dan menghilangkan ekspresi ketakutan dari wajahku. Setelah itu, aku mengajukan pertandingan dua vs dua kepada Yi Xue.
“A-aku ingin mengajukan pertarungan tim, dua vs dua. Ji-jika kau menolak maka aku akan pergi.” Aku mengatakan sesuai arahan Kai Zen.
Bersambung
__ADS_1