
Ketika mereka sudah siap untuk pergi ke luar, muncul sosok misterius yang menghentikan mereka. “Tidak sopan jika membangunkan seorang yang sedang tidur, lalu pergi tanpa menyapanya.” Ucap suara itu menggelegar di seluruh alam bawah sadar Kai Zen.
Yi Yizue terkejut mendengar suara menyeramkan itu, dia menggenggam tangan Kai Zen saking takutnya. Kai Zen yang melihat Yi Yizue yang ketakutan mencoba menenangkannya.
“Tenang, Yizue, aku ada di sampingmu.” Ucap Kai Zen dengan suara lembutnya.
Mendengar suara Kai Zen yang lembut, Yi Yizue seperti mendapatkan rasa aman, dia merenggangkan genggamannya seraya berkata, “Ba-baik,”
Kai Zen tersenyum melihat Yi Yizue yang sudah tenang, lalu memalingkan wajahnya ke segala arah secara bergantian. Mencoba mencari sosok misterius itu.
“Siapa kau?” teriak Kai Zen sembari melihat ke sekitar.
“Aku? aku adalah sosok yang kau cari!” jawab sosok itu.
“Tunjukanlah wujudmu, jangan hanya bersembunyi di balik kegelapan!” seru Kai Zen.
“Bukan aku tidak ingin bertemu denganmu, Nak. Hanya saja keadaanku saat ini tidak mendukungku untuk bergerak bebas.” Ucap sosok itu jujur.
“Jika kau sangat ingin melihat sosokku, singkirkan dulu wanita itu dari alam bawah sadarmu, Nak.” Wanita yang disebut sosok itu tidak lain adalah Yi Yizue.
“Baiklah." Jawab Kai Zen tegas. Lalu, dia menatap Yi Yizue seraya berkata, “Kamu keluar duluan ya, Yizue. Aku akan menyusulmu nanti.” Kai Zen memberi senyuman kepada Yi Yizue.
“Ti-tidak, a-aku tidak akan meninggalkanmu!” Yi Yizue menggelengkan kepalanya sembari menolak.
“Percayalah padaku!” Kai Zen mencoba menyakinkan Yi Yizue.
“Ta-tapi-”
“Yizue, sama halnya saat aku percaya dirimu yang mencoba mendekati roh sihirmu. Cobalah percaya padaku, oke?” Kai Zen melihat Yi Yizue dengan serius.
Yi Yizue yang mendengar ucapan itu dari Kai Zen menjadi ingat saat tadi Kai Zen mengkhawatirkannya, lalu Yi Yizue menyakinkannya dan akhirnya Kai Zen pun setuju.
‘Bukankah situasi Kai sama sepertiku? lantas kenapa aku tidak mempercayainya? aku harus percaya padanya!’ pikir Yi Yizue setelah mendengar ucapan Kai Zen.
__ADS_1
“Ba-baiklah, a-aku percaya padamu, a-aku pergi dulu!” Yi Yizue perlahan-lahan mulai menghilang dari alam bawah sadar Kai Zen.
“Terima kasih, Yizue.” Ucap Kai Zen sembari memalingkan tubuhnya dari Yi Yizue.
“Se-semoga berhasil, Kai!” kalimat terakhir yang di ucapkan Yi Yizue sebelum dirinya pergi meninggalkan alam bawah sadar Kai Zen.
Kai Zen yang mendengar itu hanya tersenyum seraya berkata dalam hati, ‘Aku pasti berhasil!”
“Yizue telah pergi, bukanlah sekarang kau menepati perkataanmu?” Kai Zen menagih perkataan sosok misterius itu setelah Yi Yizue pergi.
“Tentu saja." Ucap sosok misterius itu. Kemudian, kegelapan yang tersebar di alam bawah sadar Kai Zen perlahan-lahan berkumpul di satu tempat, seakan telah ditarik oleh sesuatu.
“Ikutilah pergerakan kegelapan ini.” Suruh sosok misterius itu. Kai Zen segera berjalan mengikuti arah gerak kegelapan di sekitarnya.
‘Kenapa tidak menggunakan teleportasi saja? berjalan kaki akan menguras waktu lebih banyak!’ keluh Kai Zen di dalam hati.
“Jika menggunakan teleportasi, kau tidak akan berpindah tempat, Nak. Jangan meremehkan kegelapan ini,” seakan tahu apa yang dipikirkan Kai Zen, sosok itu menjawab keluh kesah yang ada di dalam hati Kai Zen.
“Jangan mencoba mengintip diriku, aku tidak suka!” protes Kai Zen menyadari bahwa sosok itu dapat mengetahui isi pikirannya.
“Itu sama saja dengan yang kuat yang mengetahui segalanya, kan?” cetus Kai Zen.
“Benar, kesimpulan itu kau ambil saat menyadari kalau dirimu tidak bisa membaca isi pikiranku, sedangkan diriku dapat membaca isi pikiranmu, lalu diperkuat dengan penjelasanku tadi, kau jenius nak!” sanjung sosok misterius itu. Mendengar sanjungan sosok misterius itu, Kai Zen tidak bergeming. Dia hanya terus fokus berjalan mengikuti kegelapan di sekitarnya.
“Aku akan menunggumu, Nak!” menyadari bahwa Kai Zen hanya fokus untuk berjalan, sosok misterius itu memutuskan untuk meninggalkan Kai Zen sendiri.
Beberapa saat kemudian, Kai Zen berhasil sampai di tempat kegelapan berkumpul. Lalu, dia segera berteriak memanggil sosok misterius yang sebelumnya.
“Aku telah sampai!” teriak Kai Zen sangat keras.
WUSH!
Tiba-tiba kekuatan penyerapan di tempat itu semakin kuat. Tidak lama kemudian, alam bawah sadar Kai Zen telah sedikit terang, kegelapan abadi yang sebelumnya telah menghilang. Kegelapan abadi itu berkumpul di satu tempat di depannya Kai Zen. Walaupun kegelapan abadi telah menghilang, namun alam bawah sadar Kai Zen tetap gelap karena karakteristiknya.
__ADS_1
WUSH!
Kegelapan yang menjadi satu di depannya Kai Zen, kini telah menyebar membentuk sesosok makhluk.
“Naga?” ucap Kai Zen yang melihat sosok itu mulai terbentuk.
BOOM
Suara ledakan terdengar sesaat sosok itu terbentuk. Sosok tinggi besar yang akan membuat orang lain merinding ketika melihatnya. Makhluk yang dianggap sangat kuat bagi manusia. Naga, itulah makhluk yang saat ini tepat berada di depan Kai Zen.
“Lebih besar dari roh sihir milik Yizue, Kitsune, boleh juga!” tidak seperti orang lain yang akan gemetar ketakutan saat melihat sosok naga, Kai Zen malah kegirangan melihat makhluk itu.
“Apa sekarang kau takut, Nak?” tanya makhluk itu saat sudah selesai terbentuk, dia tidak mendengar apa yang diucapkan Kai Zen tadi.
“Takut? apa kau bercanda? kau adalah roh sihirku, untuk apa aku takut? justru aku bersyukur dan senang melihat dirimu yang terlihat sangat berguna!” Kai Zen menjilat bibirnya mengatakan itu.
“Apa-apaan ekspresi semacam itu, Nak?” sosok itu menatap aneh Kai Zen saat melihat ekspresinya.
“Selama aku hidup, tidak ada manusia yang tidak takut padaku! kau adalah satu-satunya orang yang tidak takut padaku dan memberikan ekspresi aneh itu padaku!” ucap sosok itu dengan bangga sekaligus percaya diri.
“Masa bodoh dengan manusia yang kau sebut, saat ini kau adalah roh sihirku!” jawab Kai Zen setelah mendengar ucapan sosok itu yang penuh kesombongan.
“Ngomong-ngomong, kau adalah naga, kan?” tanya Kai Zen memastikan.
Pertanyaan Kai Zen seperti penghinaan bagi sosok itu, dia dengan marah menjawab, “Tentu saja aku naga, Nak! Naga terkuat di seluruh alam! Heaven Destroyer, itulah julukanku!”
“Heaven Destroyer? Hahahaha!” Kai Zen tertawa mendengar julukan itu.
“Apa yang kau tertawakan, Nak? Bukankah seharusnya kau mengagumiku?” Naga itu menatap Kai Zen heran.
Kai Zen yang masih tertawa lalu berkata, “Bukankah julukan itu terlalu dibesar-besarkan? orang mana yang memberimu julukan itu?”
“Huh, sepertinya aku harus menunjukkan padamu beberapa kemampuanku agar kau percaya, Nak!”
__ADS_1
Bersambung