Lahirnya Penyihir Terhebat Sepanjang Masa

Lahirnya Penyihir Terhebat Sepanjang Masa
Hari Pertama di Akademi! Teman Baru!


__ADS_3

Hari yang ditunggu Kai Zen telah tiba. Akademi memulai semester baru. Setelah persiapan selesai, Kai Zen berpamitan dengan Kak Fex.


“Kak, aku berangkat.” Kai Zen mulai berjalan menuju pintu keluar.


“Tidak ada barang yang ketinggalan?” Kak Fex bertanya pada Kai Zen seraya mencuci alat makan.


“Sudah kupastikan tidak ada Kak.” Kai Zen mulai membuka pintu.


“Baiklah. Hati-hati di jalan!” Kak Fex sedikit berteriak karena setengah badan Kai Zen telah keluar dari rumah.


Kai Zen menjawab dengan memberi jempol menggunakan tangan yang masih terlihat di dalam rumah, setelah itu menutup pintunya.


...----------------...


Kai Zen pergi ke Akademi dengan jalan kaki karena jarak Akademi dari rumahnya tidak terlalu jauh. Di sepanjang perjalanan Kai Zen mencoba membuat metode menyerap mana yang ada di sekitarnya dengan keadaan bergerak. Biasanya penyihir hanya bisa menyerap mana di sekitarnya dalam keadaan meditasi, seperti yang dilakukan Kai Zen di bukit pinggiran Kota Sky Blue sebulan yang lalu. Selama sebulan Kai Zen berlatih, dia menyadari jika penyerapan mana bisa dilakukan saat dia sedang bergerak maka akan sangat menguntungkan ketika dia bertarung dan akan sangat efektif bagi pelatihannya. Maka dari alasan itu saat ini Kai Zen mencoba membuat metode menyerap mana dalam keadaan bergerak. Walaupun usahanya hingga saat ini tidak membuahkan hasil, dia percaya suatu saat akan berhasil.


“Seperti yang kuduga, membuat metode ini sangat susah!” Kai Zen menghela napas lalu melanjutkan percobaannya.


Tak terasa, Kai Zen telah sampai di depan gerbang Akademi. Dia menghentikan percobaan karena suasana disekitarnya lumayan ramai, tidak ingin memancing perhatian orang lain. Ketika Kai Zen telah melewati gerbang, terdengar seseorang berteriak dari belakangnya.


“Ka—kai, tunggu!”


Kai Zen yang mendengar teriakan itu menoleh ke sumber suara. Seperti yang diduga Kai Zen, ternyata yang berteriak adalah Yi Yizue.


“Selamat pagi, Yizue.” Kai Zen menyapa Yizue yang telah berada di sampingnya.


“Se—selamat pagi, Kai.” Yi Yizue menjawab dengan sedikit terengah-engah, dia juga membetulkan posisi kacamatanya.


“Mari duduk disebelah sana dulu.” Kai Zen yang menyadari keadaan Yi Yizue kelelahan, mengajak untuk duduk seraya menunjuk kursi taman yang kosong.


Yi Yizue menjawab dengan menganggukan kepala, menyetujui ajakan Kai Zen.


Akhirnya mereka pun menghampiri kursi taman itu lalu duduk. Beberapa saat setelah mereka duduk, Kai Zen melihat  ke arah Yi Yizue. Dia memastikan Yi Yizue tidak lagi kelelahan. Setelah dirasa keadaan Yi Yizue lebih baik dari sebelumnya, Kai Zen melontarkan pertanyaan untuk mencairkan suasana.


“Bagaiman keadaanmu?”


“Le—lebih baik dari sebelumnya, terima kasih.” Yi Yizue menjawab dengan nada lembut.


“Sama-sama, lalu bagaimana kabarmu selama ini?” Kai Zen melontarkan pertanyaan lagi kepada Yi Yizue.


“Ti—tidak ada yang spesial, seperti hari-hari biasa. Bagaimana denganmu Kai?” Setelah menjawab pertanyaan Kai Zen, Yi Yizue berganti bertanya kepadanya.


“Sama sepertimu, melakukan kegiatan seperti biasa.”


“Be—benarkah? kenapa...kenapa aku merasa kau lebih kuat dari sebelumnya?” Yi Yizue bertanya dengan canggung.


“Kegiatanku hanya berlatih setiap hari, jadi sudah wajar kalau kamu merasa aku jauh lebih kuat dari sebelumnya. Bukankah kamu juga jauh lebih kuat dari sebelumnya?”


“Me—memang benar aku bertambah kuat, tapi peningkatanmu jauh melebihiku dan kebanyakan orang. A—a—apakah...” Yi Yizue ragu melanjutkan kalimatnya.

__ADS_1


Kai Zen diam menatap ke arah Yi Yizue, menunggu Yi Yizue menyelesaikan kalimatnya.


Menyadari kalau Kai Zen menatap ke arahnya, Yi Yizue tersipu malu. Yi Yizue menutup wajahnya yang  memerah dengan tas yang dia bawa seraya berkata dengan lirih, “A—apakah kamu jenius?”


“Bisakah kamu berkata lebih keras?” Kai Zen mendekatkan telinganya ke Yizue.


“APAKAH KAMU JENIUS?”


Kai Zen terkejut mendengar teriakan Yi Yizue. Dia melihat ke sekitarnya, syukurlah tidak ada orang yang memperhatikan teriakan Yi Yizue. Kai Zen lalu membalas perkataan Yizue dengan nada bergurau, “Mungkin aku memang jenius hahahaha!”


Yi Yizue tidak membalas perkataan Kai Zen, dia masih menutupi wajahnya dengan tasnya.


“Ngomong-ngomong, aku tidak menyangka kamu bisa berteriak, Yizue.” Kai Zen mengubah topik pembicaraan.


Yi Yizue menurunkan tas yang menutup wajahnya dan melepas kacamatanya, lalu memalingkan wajah ke arah Kai Zen dengan anggun seraya berkata, “Menurutmu aku seperti apa?”


‘Cantiknya’ itulah yang dipikirkan Kai Zen sekarang saat melihat Yi Yizue. Tanpa Kai Zen sadari, wajahnya semakin dekat dengan wajah Yi Yizue. Hingga bibir mereka hampir bersentuhan, barulah Kai Zen sadar. Dia langsung menjauhkan wajahnya dari Yi Yizue.


“Ehem, maaf atas kelancanganku.” Kai Zen meminta maaf atas kelakukannya pada Yi Yizue.


“Ti—tidak masalah, Kai. A—aku juga salah.” Yizue juga merasa bersalah. Dia memakai kacamata kembali.


“Ngomong-ngomong, tadi kamu bertanya apa?” Kai Zen lupa pertanyaan Yi Yizue karena kejadian tadi.


“Lu—lupakan saja. Ngomong-ngomong bukankah kita sebaiknya mencari letak kelas kita? ah tidak maksudku, bukankah kita sebaiknya mencari kelas masing-masing?” Yizue mencoba mengalihkan topik pembicaraan.


“Benar juga. Kalau begitu ayo!” Kai Zen berdiri setelah selesai berbicara lalu mengulurkan tangan kepada Yi Yizue.


”Emmm,” Yi Yizue menggengam uluran tangan Kai Zen. Setelah Yi Yizue menggenggam tangan Kai Zen, dia berdiri lalu melepas genggamannya. Kai Zen hanya tersenyum. Merekapun berjalan berdampingan.


...----------------...


Setelah Aku dan Yi Yizue melangkah pergi dari kursi taman. Kami menghampiri denah sekolah yang terpasang di papan pengumuman. Kami mencari letak kelas masing-masing. Setelah Aku menemukan letak kelasku, yaitu Kelas C. Aku mencari letak Kelas Yizue, yaitu kelas F, ternyata Kelas F berada tidak jauh dari kelasku. Jadi aku mengajukan diri untuk menemani Yizue ke kelasnya.


“Sudah menemukan kelasmu?” Aku bertanya kepada Yizue.


“Su—sudah,” Dia menjawab sambil menunjuk letak kelasnya di denah sekolah.


“Mau aku temani masuk ke kelas? kebetulan kelasku tidak jauh dari kelasmu.” Aku mengajukan diri untuk menemaninya.


“Ti—tidak usah, karena kelasmu lebih dulu terlihat. Ka—kamu bisa masuk ke kelasmu dulu. Aku tidak mau merepotkanmu.” Yizue menjawab dengan canggung. Mungkin dia merasa selama ini hanya menjadi bebanku.


“Baiklah,” Aku mengangguk pada Yizue.


“Karena kelas kita berada di arah yang sama makan aku akan menemanimu sampai depan kelasku. Oke?”


“Emmmm,” Yizue menyetujui usulanku. Kami pun berjalan pergi menuju kelas.


Beberapa saat kemudian, Aku telah berada di depan kelas. Aku mengucapkan beberapa kata kepada Yizue sebelum masuk ke kelas.

__ADS_1


“Aku akan masuk kelas dulu. Aku akan menghampirimu saat istirahat makan siang. Jadi, tunggu aku saat istirahat. Sampai jumpa Yizue!”


“Baiklah, Sampai jumpa, Kai!” Dia melambaikan tangannya kepadaku.


Aku membalasnya dengan melambaikan tanganku kepadanya. Ketika Yizue mulai menghilang dari pandanganku. Tiba-tiba ada suara dari belakang yang sepertinya ditujukan kepadaku.


“Wow, hari pertama masuk sudah mempunyai pacar. Hebat sekali!” terdengar suara laki-laki yang tidak kukenal di belakang.


Aku pun menoleh ke belakang dan menjumpai seoarang laki-laki dengan tinggi yang hampir sama denganku, dia lebih pendek dariku pastinya. Badannya seperti kebanyakan orang, tidak besar maupun kecil. Rambutnya berwarna merah. Aku menduga dia memiliki afinitas tinggi terhadap sihir api, terlihat dari warna rambutnya. Setelah selesai memandanginya, aku bertanya balik padanya.


“Apakah kau bicara padaku?”


“Sudah jelaskan? hanya ada kamu di sini!” orang itu menjawab dengan kesal.


Aku melihat-lihat situasi di sekitar, memang benar hanya ada kami berdua sekarang, ‘berpura-pura bodoh itu menyenangkan hehehehe,’ ucapku dalam hati.


“Yang kau katakan memang benar.” Aku mengangguk, mengkonfirmasi ucapannya.


Dia terlihat marah, tapi dia menahannya. Setelah itu dia menghirup udara dalam-dalam, lalu mengeluarkannya dengan rileks selama tiga tarikan nafas. Sepertinya dia mudah marah.


“Lalu, jawab pertanyaanku!” Setelah selesai mengontrol emosinya. Dia mulai berbicara.


“Dia bukan pacarku, kami berteman saat hari pengumuman penerimaan Murid Akademi Satu kemarin. ” Aku langsung menjawabnya. Jika aku bermain-main lebih lama lagi, dia mungkin akan marah.


“Serius? tapi, aku lihat kalian sangat dekat!” dia berkata dengan antusias.


“Dasar penguntit!” Aku membalas dengan sedikit tertawa.


“Aku tidak sengaja melihat kalian tadi, jadi jangan asal menuduhku!” dia sedikit tersinggung dengan ucapanku.


“Baik, aku tahu. Tidak usah marah hahahahaha!” Aku menepuk pundaknya beberapa kali.


Dia hanya diam saja sambil memiringkan kepalanya, ‘Hmph’ mungkin itu yang dia pikirkan saat ini.


“Ngomong-ngomong, siapa namamu? Aku Kai Zen. Kau bisa memanggilku Kai!” Aku mengajak dia berjabat tangan seraya mengenalkan diriku padanya.


“Aku Zhuo Fang. Senang berkenalan denganmu.” Dia menjabat tanganku. Sepertinya aku dapat satu teman lagi.


‘Marga Zhuo? Keluarga Zhuo? pantas saja,’ batinku dalam hati. Di Kota Sky Blue terdapat lima keluarga besar yang sangat berpengaruh, Keluarga Zhuo adalah salah satunya. Keluarga tersebut terkenal karena anggota keluarganya yang memiliki afinitas tinggi terhadap sihir api sehingga melahirkan banyak penyihir api yang berbakat. Penyihir Api yang ditugaskan di kota ini kebanyakan berasal dari Keluarga Zhuo sehingga keluarga tersebut sangat berpengaruh di kota ini. Aku penasaran bagaimana Zhuo Fang bisa berakhir di kelas C. Apakah dia bukan anggota keluarga inti? apakah garis keturunannya tipis? Lebih baik aku tidak banyak tau, itu hanya membawaku ke sesuatu yang merepotkan. Semakin sedikit yang kamu tau semakin baik, mari gunakan pepatah tersebut untuk keadaan ini.


“Senang berkenalan denganmu Zhuo Fang. Karena sudah tidak ada hal penting lagi maka aku akan masuk kelas dulu. Bagaimana denganmu?” Aku bertanya pada Zhuo Fang.


“Masuklah dulu. Aku ada urusan sebentar. Sampai nanti!” Setelah dia menyelesaikan kalimatnya, dia bergegas pergi.


“Sampai nanti,” Aku membalas ucapannya lalu aku masuk ke kelas.


Suasana di dalam kelas lumayan sepi. Hanya ada beberapa orang yang ada di dalam kelas, mungkin yang lain sedang melihat lingkungan di akademi. Setelah Aku masuk, Aku mengambil tempat duduk nomor dua dari belakang yang di sampingnya terdapat jendela. Setelah aku menaruh tasku, aku langsung duduk menghadap ke luar jendela. Aku memikirkan kejadian di kursi taman tadi.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2