
“Huh, sepertinya aku harus menunjukkan padamu beberapa kemampuanku agar kau percaya, nak!”
“Aku akan menyerangmu menggunakan kekuatan jiwa, apa kau bersedia, Nak?” berbeda dengan Kitsune yang langsung menyerang, naga itu meminta persetujuan dulu dari Kai Zen.
“Huh, kekuatan jiwa? baiklah!” jawab Kai Zen dengan sangat percaya diri.
‘Aku memiliki Teratai Penghangat Jiwa, serangan super kuat masih bisa aku tahan!’ pikir Kai Zen dalam hati.
“Mari kita mulai.” Naga itu mulai menatap Kai Zen dengan tajam.
BOOM!
BOOM!
BOOM!
Tiga serangan berbentuk panah menabrak Kai Zen dari tiga arah berbeda, namun Kai Zen tidak mengalami luka karena dia sudah memasang perisai di sekitar tubuhnya.
“Hanya ini?” tanya Kai Zen meremehkan.
“Tentu saja tidak, hancurkan!” setelah naga itu selesai mengatakan perkataannya, perisai yang ada di sekitar Kai Zen langsung hancur.
“A-apa yang terjadi?” Kai Zen sedikit terkejut mengetahui perisainya hancur.
Sebelum Kai Zen sadar, sebuah serangan muncul dari dalam tanah. Sebuah tongkat besi hitam menghantam bagian belakang Kai Zen, tepatnya di pundak.
“Sial, aku terkecoh!” Kai Zen langsung sadar setelah menerima serangan itu.
“Dalam pertempuran tidak ada yang namanya saling menunggu, Nak. Kau lengah, kau mati!” ucap naga itu tajam.
DUAR!
DUAR!
DUAR!
DUAR!
Bersamaaan dengan naga itu berbicara, dia juga menyerang Kai Zen dengan ledakan energi jiwa. Mengumpulkan satu titik energi jiwa hingga meledak, itulah serangan naga itu saat ini. Kai Zen yang dalam kondisi tidak mendukung berusaha menghindari semua serangan naga itu. Namun, dia gagal menghindari satu serangan dan membuatnya terhempas mundur karena ledakan serangan itu.
Kai Zen menyadari bahwa pertarungan yang saat ini dia lakukan sangat berbeda dengan pertarungan sebelumnya, saat melawan Kitsune. Naga di depannya lebih brutal daripada Kitsune. Walaupun Kitsune sombong, dia tahu menahan diri, tapi naga di depannya tidak. Dia menyerang seakan ingin membunuhnya.
__ADS_1
‘Bukankah dia roh sihirku? kenapa dalam pertarungan ini dia seperti berusaha membunuhku?’ ucap Kai Zen di dalam hati seraya berusaha berdiri lagi.
“Sudah waktunya, Teratai Penghangat Jiwa!” setelah Kai Zen berhasil berdiri, dia mulai mengeluarkan harta andalannya.
“Sudah kuduga kau akan menggunakan benda itu.“ Naga itu tersenyum menatap Kai Zen.
“Kegelapan abadi, menyebar!” Naga itu juga mulai serius.
“Sial, kegelapan ini lagi!” Kai Zen melihat kegelapan yang sebelumnya mulai menyebar lagi.
Karena pertarungan ini terjadi di alam bawah sadar Kai Zen, dia bisa menggunakan kekuatan Teratai Penghangat Jiwa secara maksimal. “Teratai Penghangat Jiwa, hisaplah semua kegelapan ini!” kemudian, teratai itu mulai menghisap kegelapan yang ada di sekitar Kai Zen.
Sedikit demi sedikit kegelapan mulai menghilang, naga dengan Julukan Heaven Destroyer tidak membiarkannya begitu saja. Dia membuka mulutnya, lalu mengaum ke arah Kai Zen dengan sangat keras.
ROAR!
“Perisai!” teriak Kai Zen ketika mendengar auman naga itu.
“Terlambat, nak!” ucap Naga itu penuh percaya diri.
WUSH! BOOM!
WUSH! BOOM!
WUSH! BOOM!
Kai Zen yang menerima serangan tersebut langsung terjatuh ke tanah, dia berusaha memulihkan dirinya. Walaupun di bantu oleh Teratai Penghangat Jiwa, luka-luka Kai Zen tidak sembuh semudah sebelumnya.
“Kau kalah, Nak.” Ucap Naga itu setelah melihat kondisi Kai Zen.
“Aku menerima kekalahan ini.” Kai Zen tersenyum mengatakannya. Bagi Kai Zen, kekalahan bukanlah akhir segalanya. Justru karena kekalahan ini dia tahu bahwa dalam pertarungan kekuatan jiwa, dia terlalu lemah. Selama ini dia tidak menduga bahwa kekuatan jiwa juga penting, jadi dia hanya melatih kekuatan sihir dan fisiknya.
“Teratai Penghangat Jiwa, kembalilah!” teratai itu mulai menghilang kembali ke tempat sebelumnya setelah Kai Zen memerintahkannya.
“Kau tidak bersedih, nak? apa kau sudah percaya padaku?” melihat senyum yang terlukis di wajah Kai Zen, Naga itu bertanya keadaannya.
“Untuk apa bersedih? aku justru bahagia dan aku belum mempercayaimu sepenuhnya.” Kai Zen membaringkan dirinya.
“Kau beruntung karena aku tidak bisa bergerak, Nak. Jika aku bisa bergerak, kekalahanmu akan lebih cepat.” Naga itu menyombongkan dirinya.
“Kau bukan dari planet ini kan? Julukan Heaven Destroyer tidak pernah terdengar di sini.” Kai Zen yang berbaring tiba-tiba mengubah pembicaraan ke arah yang lebih serius.
__ADS_1
“Kau benar, aku bukan dari planet ini.” Naga itu mengiyakan ucapan Kai Zen.
“Lalu, darimana kau berasal?
“Kau tidak perlu tahu untuk saat ini, nak”
“Hmm, kalau begitu mengapa kau memilihku?”
“Ini juga karena terpaksa, Nak. Aku sebenarnya tidak ingin terikat dengan manusia seperti kalian.” Naga itu terdengar malu mengatakannya.
“Heh, terpaksa?” Kai Zen memalingkan wajahnya ke arah naga itu, lalu menatapnya dengan tatapan penuh makna.
“Jangan menatapku seperti itu, Nak.” Naga itu memalingkan wajahnya, Kai Zen pun semakin menatapnya dengan seksama.
“Baiklah, baiklah, aku akan mengatakannya!” Naga itu menyerah karena enggan di tatap Kai Zen.
“Sebenarnya aku dicelakai oleh beberapa orang, mereka melakukan penyerangan saat aku sedang tidur. Ketika aku berada di ambang kematian, aku memecah ruang hampa dan melarikan diri dari mereka. Lalu-” saat Naga itu ingin melanjutkan ceritanya, Kai Zen menyelanya.
“Lalu kau tidak sengaja tiba di planet ini, kau pun mencari seseorang yang cocok untuk menampungmu. Setelah mencari beberapa lama, kau menyimpulkan bahwa aku yang paling cocok dan memasuki diriku. Selesai!” sela Kai Zen.
Naga itu tercengang mendengar cerita Kai Zen, lalu dia berkata, “Bagaimana kau bisa tahu, Nak?”
Kai Zen tersenyum lalu membalasnya, “Aku sering membaca novel ataupun komik!”
“Novel? komik? apa itu?” naga itu terdengar keheranan saat mendengar beberapa nama yang disebutkan Kai Zen.
“Kau tidak perlu tahu untuk saat ini.” Kai Zen meniru ucapan naga itu sebelumnya sambil terkekeh pelan.
‘Sial, anak ini mempermainkanku!’ mendengar kata yang pernah dia ucapkan, Naga itu menggerutu di dalam hatinya.
“Oh iya, aku ingin bertanya satu pertanyaan lagi, boleh?” pinta Kai Zen.
“Tidak.” jawab naga itu dengan acuh.
“Boleh, ya?”
“Tidak!”
“Satu pertanyaan lagi, ayolah~”
“Baiklah, hanya satu! setelah ini aku akan tidur lagi, jangan ganggu aku jika tidak ada hal yang mendesak!” karena Kai Zen terus meminta, naga itu akhirnya mengizinkannya.
__ADS_1
“Kau mungkin sudah berada di dalam diriku sejak aku bayi atau dalam kandungan Ibuku, apakah kau tahu siapa orang tuaku?” tanya Kai Zen dengan antusias. Dia berharap naga itu tahu sesuatu tentang orang tuanya.
Bersambung