MAHAR 33 RIBU

MAHAR 33 RIBU
100


__ADS_3

Pagi ini Rara sudah bersiap untuk pergi ke kota Jakarta untuk urusan bisnisnya. Setelah urusannya selesai, Rara sudah membuat janji dengan Rafli untuk menemuinya di suatu tempat. Namun, semalam, Rafli pun menginformasikan untuk tidak datang ke tempat kerjanya.


Rara sudah beberapa kali datang ke tempat kerja Rafli dan menemani Rafli bekerja dari siang hingga petang smbil berbincang-bincang bila Rafli ada aktu senggang.


Tadi malam, Rafli memberi kabar kepada Rara bahwa esok hari Rafli akan mengambil hari libur dari pekerjaannya.


"Mah ... Besok Papah ambil libur saja, biar bisa menemani Mamah setelah urusan bisnis Mamah selesai," ucap Rafli pelan sambil membereskan tempat kerjanya saat menelepon Rara


Terlihat senyum Rara yang terbit sempurna hingga lesung pipi itu tercetak jelas di sekitar kedua pipi Rara. Anggukan pelan yang mantap pun di pakai Rara untuk menjawab pertanyaan Rafli.


"Iya Pah. besok itu, Mamah jam dua belas siang juga sudah beres," ucap Rara pelan.


"Papah jemput Mamah saja. Mamah kasih alamat biar Papah bisa jmeput," ucap Rafli pelan meminta alamat di mana Rara akan melakukan pertemuan bisnisnya.


"Besok Mamah kirim alamatnya Pah," jawab Rara pelan. Tidak bisa di pungkiri hatinya benar-benar bahagia.


"Papah tunggu alamat Mamah," ucap Rafli terakhir sebelum menutup teleponnya.


Rara mengingat ucapan Rafli pun sambil tersenyum sendiri. Pagi ini Rara membawa kendaraan sendiri dan meyetir sendiri dari kota Bogor ke Jakarta.


Pagi-pagi sekali sudah berangkat menuju kota Jakarta. Pertemua dengan rekan bisnis di salah satu hall Apartemen Rose di Jakarta.


Setelah menempuh perjalanan yng cukup lama dan membosankan. Rara pun sampai di parkiran Apartemen yang di tuju. Pertemuan hari ini untuk membahas rencana bisnis yang akan di mulainya bulna depan di Kota Jakarta. Sudah tentu Rara akan sering bolak-balik Bogor - Jakarta untuk mengurus usaha baruny ini.


Rara sedikit berlari kecil menuju Hall Apartemen Rose. Karena kegugupan Rara takut dan cemas bila terlambat, Rara hanya berlari kecil sambil menundukkan kpela untuk melihat jalan yang dilalui agar tidak ada hambatan yang mengganggu jalannya.


"Assalamualaikum, Maaf telat," ucap Rara dengan suara pelan sambil menarik kursi tanpa melihat beberapa orang yang sudah hadir disana.


"Agatha!!" panggil Ridwan dengan suara lantang.

__ADS_1


Ridwan adalah rekan bisnisnya sekaligus sahabatnya saat masih sama-sama mengenyam pendidikan di bangku kuliahan.


"Hei, Ridwan. Beda banget," ucap Rara dengan polos lalu meletakkan tas cantiknya di meja.


Setelah menatap Ridwan dan saling bersalaman. Rara pun mulai mengedarkan pandangannya ke segala arah setiap orang-orang yang hadir dan duduk di meja itu.


Ada Baihaqi yang menatap lekat ke arah Rara sambil mengangguk pelan dan mengedipkan satu matanya kepada Rara dengan maksud untuk tidak menyapanya anggap saja mereka berdua baru kenal.


"Loe cantik banget sekarang? Pake hijab loe sekarang, loe muslim? Bukannya loe dulu sama Cantas, anak band kafe? Gue pernah lihat loe jalan sama dia beberapa tahun yang lalu," ucap Ridwan yang terus saja bicara mengajukan rentetan pertanyaan.


Rara hanya menarik napas panjang dan memalingkan wajahnya dari Baihaqi kepada Ridwan.


"Sudah selesai pertanyaannya? Gue boleh duduk dong? Biar bisa napas dulu. Tadi gue buru-buru takut telat," ucap Rara pelan lalu duduk dan mengambil buku menu makanan untuk segera memesan makanan. Pagi ini Rara belum sempat sarapan karena mengejar waktu untuk sampai Jakarta tepat waktu.


"Duduklah. Mau pesan apa? Oh iya, ini investor untuk bisni kita. Dia investor terbaik yang tidak pernah ribet dengan kontrak. Namanya Baihaqi, dia juga dari Bogor, kalian berdua satu kota," ucap Ridwan memeperkenalkan Baihaq kepada Rara.


Rara mengangkat wajahnya. Baru saja akan mencatat beberapa makanan yang akan di pesan. Rara berusaha tersenyum ke arah Baihaqi setelah aa kesalah pahaman beberapa waktu alu yang membuat hubungan baik keduany menjadi putus tali silaturahmi.


Rara mengulurkan tangan kanannya ke arah Baihaqi.


"Rara," ucap Rara pelan berpura-pura memperkenalkan diri.


"Baihaqi," jawab Baihaqi pelan dan mengulurkan tangganya.


Tidak bisa di pungkiri, ada rasa rindu di dalam hati BAihaqi setelah sekian lama tidak bertemu dengan Rara, dan kini mereka harus di pertemukan dalam sau proyek bisnis yang akan di bangun bersama.


Ridwan melihat keduanya secara bergantian. Sorot mata keduanya seperti terlihat hangat dan akrab, bukan seperti denagn orang asing.


"Kalian sudah kenal?" celetuk Ridwan ke arah Rara yang terlihat terkejut.

__ADS_1


Dengan cepat, Rara menggelengkan kepalanya pelan.


"Belum ...." ucap Rara pelan.


"Sudah ...." jawab Baihaqi menyusul dengan suara lantang hingga membuat Rara langsung menoleh ke arah baihaqi.


"Sebenarnya sudah kenal atau belum?" tanya Ridwan pelan dengan rasa penasaran dan sedikit ragu.


Serempak Rara dan Baihaqi pun berteriak memberikan jawaban yang tidak sama. Lagi-lagi Ridwan dibuat bingung dan semakin penasaran, ada masalah apa dengan keduanya.


Ridwan berpura-pura tertawa dengan wajah lugu yang terlihat keki dan bingung.


"Kalian berdua lucu dan kekanak-kanakan. Kalian berdua ada masalah apa? Jangan sampai masalah pribadi kalian bisa merusak bisnis yang sudah fix sembilan puluh sembilan persen ini akan di bangun awal bulan depan!' tegas Ridwan menatap tajam Rara.


"Kok jadi gue yang salah? Gue gak kenal. Sudahlah, kita bahas proyekitu sambil sarapan," ketus Rara menjawab.


"Sudah biarkan saja Ridwan. Kita fokus pada usaha yang mau di bangun. Biarkan Rara sarapan, kasihan perjalanan jauh pasti membuatnya belum sarapan sejak pagi," ucap Ridwan pelan membela Rara.


Rasa sayang Baihaqi kepada Rara tidak pernah pudar dan tidak akan pernah pudar untuk selamanya. bahkan sampa saat ini Baihaqi masih berharap kepada Rara untuk menjadi teman hidupnya. Baihaqi selalu berusaha meyakinkan Rara dan menunggu kesanggupan Rara.


Rara hanya diam dan mencoba menulis beberapa pesanan makanan lalu memanggil pelayan untuk segera memesan makanan itu dengan cepat.


Kepala Rara rasanya sudah berputar dan terasa sangat pusing sekali. penyakit darah rendhnya sepertinya kambuh di saat yang tidak tepat. Semua ini efek pikiran dan klelahan.


"Ra? Kamu baik-baik saja kan?" tanya baihaqi tiba-tiba yang melihat wajah Rara memucat seketika.


Dengan cepat Baihaqi memberikan teh manis hangatnya yang belum di minum kepada Rara. Baihaqi berpindah duduk dan kini tepat berada di sebelah Rara lalu menyodorka teh manis hangat itu.


"Minumlah dulu, Kamu lelah? Mau istirahat dulu? Rapat ini bisa di tunda atau tanpa kamu, yang penting usahabinisnya lanjut terus," ucap Baihaqi pelan.

__ADS_1


Rara menerima teh manis hangat itu dan di minum hingga habis setengah gelas, Rasanya sangat melegakan tenggorokan.


"Aku boleh istirahat? Aku beneran tidak kuat?" ucap Rara lirih sambil tangan kanannya memijat keningnya yang masih terasa sangat pusing dan berputar


__ADS_2