
Baihaqi terbangun dengan raut wajah yang begitu kaget dengan semua mimpinya yang terlihat dengan sangat nyata.
'Itukah kamu, Fatima. Kenapa kamu hadir dalam mimpiku setelah sekian lama aku merindukanmu. Dan kini kamu hadir untuk merestui hubungan aku dengan Rara? Apa maksudnya?' batin Baihaqi di dalam hatinya.
"Mas Bai?" panggil Rara dengan lirih.
Baihqi yang masih belum sadar pun menoleh ke arah Rara.
"Iya Ra ... Ada apa?" jawab Baiahqi pelan masih sedikit pening di kepalanya.
"Aku ingin ke kamar mandi, bisa bantu aku, Mas?" tanya Rara pelan dengan nada memohon.
"Iya, Ra," jawab baihaqi lalu beranjak dari duduknya dan mengahmpiri Rara yang sedang kesusahn untuk bangun dari tidurnya.
Baihaqi membantu Rara mengantarkan hingga kamar mandi dan membawakan infusan yang kemudian di gantungkan di dalam kamar mandi. Denga setia baihaqii pun menunggu di depan pintu kamar mandi itu.
"Mas ... Argh ...." teriak Rara dari dalam kamar mandi dengan suar keras sedikit menyentak.
Teriakan dari arah dalam kamar mandi membuat baihaqi semakin cemas dengan keadaan Rara. Ingin seklai masuk dan membantu Rara, namun rasanya tidak mungkin karena adab. tapi ini semua berhubungan dengan nyawa seseorang. Hati Baihaqi begitu bimbang dan dilema.
BRAK!!
DEG!
DEG!
DEG!
Rara sudah terduduk di lantai dengan darah yang keluar dariorgan intimnya. kedua mata Rara hanya mampu menatap lekat wajah Baihaqi tanpa bisa berkata-kata.
"RARA!!" Kamu kenapa, Ra!!' teriak Baihaq yang langsung mengangkat tubuh Rara yang penuh darah di bagian jalan lahirnya.
Setelah Rara di rebahkan di bed ruangan tersebut, Baihaqi langsung berlari menuju ruang dokter untuk menenui Karin.
"Ada apa Bai?!" tanya karin yang sedang beradadi depan laptonya.
__ADS_1
"Rara .... Itu Rara pendarahan," Ucap Baihaqi dengan terbata-bata dan penuh kecemasan.
Karin segera bangkit dari duduknya dan berlari sambil membawa beberapa alat medis untuk memeriksa Rara.
"Rara, kamu tidak apa-apa? Apa yang kamu rasakan saat ini? Kalau memang kondisi kamu seperti ini terus, mau tidak mau bayi kamu harus segera di keluarkan, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan," ucap dokter kandungan itu menyarankan.
"Lakukan yang terbaik, Karin. Kalau perlu hari ini juga operasi sesar," tegas Baihaqi dengan suara yang begitu lantang.
"Rara itu harus puasa Bai. Operasi itu harus ada persiapannya, tidak bisa tiba-tiba," ucap Karin menjelaskan.
"Mana mungkin!! Faktanya, kalau ada perempuan hamil yang butuh di operasi saat itu, pasti langsung di tidak lanjuti. Apa bedanya dengan Rara?" tanya Baihaqi pelan.
"Kasusnya berbeda Bai. Semua itu ada aturannya, ada SOPnya," ucap Karin dengan suara pelan.
Karin masih memeriksa Rara.
"Kamu siap jika harus operasi? Kalau siap mulai sekarang puasa sekitar delapan jam baru kita tindak. Bagaimana?" tanya dokter kandungan itu meminta kepastian dari Rara.
"Tapi, bagaimana nanti dengan anakku? Apakah dia akan sehat?" tanya Rara lirih sambil sesekali meringis kesakitan.
"Mas Bai ... Bagaimana ini?" tanya Rara pelan sambil menatap Baihaqi yang sejak tadi juga menatap Rara.
"Kamu pasti bisa Ra?" ucap Baihaqi menenangkan Rara yang terlihat cemas dan tegang.
"Tapi, aku takut Mas Bai," lirih Rara berucap. Kecemasan seorang wanita hamil yang hendak melahirkan secara paksa.
"Tenang Ra, kita pasti akan membantu seoptimal mungkin aga keduanya sehat. Aku janji, Ra, asal kamu bisa menuruti segala aturannya," ucap Karin, dokter kandungan di rumah sakit tersebut.
"Apa yang harus aku persiapkan?" tanya Rara dengan suara pelan.
"Puasa ya, Ra. Lalu perbanyak istighfar agar kamu lebih tenang dan siap secara mental. Sebenarnya tidak ada yang perlu di takuti tapi terkadang memang sindrome yang ada pada diri kita itu malah mematikan keberanian kita, memusnahkan semua ketegaran kita hingga kita hanyut dalam suasana yang mencekam dan penuh rasa takut," jelas Karin, dokter kandungan yang merawat Rara.
"Apa itu istighfar? Bisa jelaskan padaku?" tanya Rara dengan polos.
"Dia bukan muslim Karin," ucap Baihaqi pelan dan membela Rara.
__ADS_1
"Maafkan aku, Ra. Aku beneran tidak tahu," ucap Karin lirih dengan perasaan menyesal.
"Tidak apa-apa, ini malah mau belajar agama islam dengan mas Baihaqi. Betul kan, Mas?" ucap Rara pelan men jelaskan.
"Wah, hebat sekali kamu, Ra," ucap Karin yang bangga dengan Rara.
"Ini semua karena Mas Bai ... Beliau yang selalu menguatkan aku, dokter," ucap Rara pelan sambil menoleh ke arah Baihaqi yang juga emnatpnya dan tersenyum manis.
Tatapan keduanya saling bertemu dan saling menatap lekat penuh arti. Harapan Rara yang ingin memulai membuka hati untuk Baihaqi hanya bisa menatap Bahaqi dengan memberikan senyuman terbaiknya.
Sedangkan Baihaqi sendiri masih menyimpan dan menjaga rasa cinta dan sayangnya kepada Rara.
"Bai ... Kode keras tuh," ucap Karin dengan ngat pelan setengah berbisik kepada Baihaqi.
"Kamu siap kan, Ra?" tanya baihaqi pelan kepada Rara.
Rara tersenyum an mengangguk pasrah.
"Aku siap. Asal Mas Bai temani aku untuk menguatkan aku," ucap Rara dengna lembut dengan nada berharap.
Ucapan Rara bagaikan angin segar untuk Baihaqi. Kata-kata yang menyejukkan hati Baihaqi karena Rara termasuk wanita yang jarang memberikan peluang kepada seseorang untuk membantunya. Rara itu seorang wanita yang terlalu mandiri dan keras kepala.
"Oke, aku tidak mau ikut campur dengan urusan pribadi kalian. Tapi aku harap nanti siang, operasinya lancar. Kita harus banyak berdoa agar diberi kelancaran dan keajaiban," ucap Karin pelan.
Sebagai dokter kandungan, Karin sudah bisa memprediksi apa yang akan terjadi dan bagaimana kondisi Ibu dan bayi yang dilahirkan. Tapi, itu semua hanya prediksi, ada hal-hal lain yang bisa saja terjadi d luar nalar manusia karena campur tangan kekuasaan Allah SWT, dan itu nyata seringkali terjadi. Jadi, semua dokter pasti akan berpasrah kepada Allah SWT, agar semua diberi kemudahan, kelancaran dan keajaiban.
"Aamiin. Bantu Rara, dokter Karin. Aku yakin kamu pasti bisa. Dan Kamu Ra, Aku yakin kamu akan kuat, sama kuatnya dengan bayi kamu. aku akan berada disini menjagamu sampai operai itu berjalan," tegas Baihaqi denagn sangat mantap.
"Iya, Mas Bai terima kasih untuk semua wktu dan pengorbanan kamu. Dokter Karin terima kasih atas sarannya, aku akan mencoba untuk bisa lebih tegar dan kuat lagi, agar lebih siap secara mental dan ikhlas dengan semua yang terjadi, aku pasrah dokter," ucap Rara pelan.
"Kamu memang pasien yang hebat, Ra. Puasa ya, mulai saat ini. kalau mau jalan-jalan boleh, tapi saranku lebih baik untuk istirahat untuk mempersiapkan kondisi kesehatan kamu, karena kia mau operasi bukan melahirkan secara noral," ucap Karin pelan.
"Terima kasih Karin," ucap Baihaqi pelan.
Karin tersenyum dan mengangguk pelan.
__ADS_1
"Aku balik ke ruangan dulu. Sehat dan jaga kondisi ya, Ra. Ketemu nanti siang," ucap Karin pelan.