
Rara sudah tegang. Masih terngiang jelas suara Fatarani yang begitu menghentak hingga telinga Rara terasa panas dan nyeri mendengarnya.
Sesuai perjanjian kemarin siang. Siang ini Fatarani dan Rara akan bertemu di salah satu restoran di Jakarta pas jam makan siang tanpa sepengetahuan Rafli.
Pagi-pagi benar setelah shubuh, Rara berangkat dari Bogor membawa mobilnya sendiri tanpa siapa pun termasuk Abuya, anaknya. Rara dengna berani menerima ajakan Fatarani untuk menemuinya di tempat yang telah di sepakati.
Apapun hasilnya nanti, Rara berusaha legowo dan ikhlas.
Pagi ini, gerak-gerik Fatarani seperti orang yang sedang melakukan suatu kesalahan. Sejak malam, Rafli sudah mengendus ada sesuatu yang tidak beres dengan Fatarani, istrinya. Tapi entah apa itu, Rafli pun tidak mau menebak-nebak.
Satu hal yang membuat Fatarani agak gugup dan cemas saat Rafli mulai memegang ponselnya padahal hanya untuk melihat masa aktif kuota atau sekedar melihat pulsa yang di miliki oleh Fatarani. Tapi, Fatarani seolah sudah bingung dan kebakaran jenggot. Sampai-sampai Fatarani berteriak kepada Rafli, suaminya.
"Bunda kenapa sih? Sejak tadi Ayah lihat kayak cacing kepanasan. Kayak ada sesuatu yang di sembunyikan?" tanya Rafli yang jengah melihat Fatarani, istrinya itu sedang tidak jenak.
Fatarani menggeleng pelan. Lalu, tubuhnya di hempaskan di atas sofa empuk yang ada di ruang tamu. Fatarani memutar otaknya dan mencari alasan untuk ijin kepada Rafli, suaminya perihal kepergiannya besok siang. Tentu, anak-anak mereka harus ada yang menjaganya.
Tidak mendapat jawaban yang memuaskan, Rafli pun menatap lekat ke arah Fatarani, Istrinya itu. Mencari suatu kebenaran dan kejujuran yang mungkin bisa di dapatkan dari kedua bola matanya. Sebenarnya apa yang sedang terjadi.
"Bunda sebenarnya kenapa sih? Ada apa? Coba cerita kepada Ayah?" tanya Rafli dengan suara lembut. Nada bertanyanya di buat selembut mungkin hingga Fatarani makin merasa bersalah walaupun sedang mencari keadilan dan kebenaran untuk dirinya dan demi mempertahankan keutuhan rumah tangganya.
Tarikan napas Fatarani yang begitu dalam untuk mengisi seluruh rongga dadanya yang sedikit sesak pun, sudah memperlihatkan bahwa Fatarani sedang menyimpan sesuatu yang disembunyikan dari Rafli, suaminya. Memang semua sudah ada dalam perencanaanya. Semua sudah di buat sedemikian rupa agar Fatarani bisa menemui Rara dalam waktu dekat dan bertanya secara langsung dengn wanita yang sudah hampir setahun ini telah menjadi benalu dan mengganggu kehidupan rumah tangga antara Fatarani dan Rafli.
Perdebatan, percekcokkan, amarah, kekecewaan, penyesalan, sakit hati dan emosi selalu menghantui dan selalu ada saj pemicunya setiap malam hingga berakhir pada tangisan, teriakan, kebencia dan diam.
Fatarani masih bisa menahan semuanya. Dulu, kalau benci dengan kelakuan suaminya, Fatarani akan kabur dari rumah dan kembali ke kota kelahirnnya dan kembali ke rumah orang tuanya.
"Bunda baik-baik saja. Kenapa pertanyaan Ayah seolah Bunda sedang tidak baik-baik saja," jawab Fatarani dengan suara pelan dan berusaha tenang menutupi semuanya agar tidak tercium oleh Rafli, suaminya.
"Bunda yakin sedang baik-baik saja. Rasanya kok Ayah kurang percaya. Sepertti ada hal yang Bunda sembunyikan dari Ayah?" ucap Rafli yang sedikit penasaran.
"Tidak ada! Jangan menguji Bunda dengan pertanyaan murahan seperti itu!! Seharusnya Bunda yang mulai curiga dengan Ayah dan terkikis kepercayaannya karena sikap dan kelakuan Ayah!!" nada suara fataani mulai meninggi. Tidak suka urusannya di acak-acak dan dikethaui. Baru saja Fataraniingin mencari kata-kata yang pantas untuk memaki-maki Rara besok siang dan mempermalikan wanita beranak satu itu dengan sebutan pelakor.
"Tapi Ayah merasakan hal yang beda. Bunda seperti sedang ingin melakukan sesuatu tapi hal yang mengarah pada keburukan. Ini rasa yang ayah rasakan di dalam pikiran dan hati Ayah. Adaapa sebenarnya sih?" tanya Rafli kemudian masih dengan rasa penasarannya.
Fatarani hanya tertawa sinis. Ini adalah pertanyaan jebakan yang bisa-bisa membongkar rahasia yang sudah diatur dalam rencananya besok. Jangan sampai Rafli, suaminya itu mnengetahui acara yang sudah di tetapkan oleh Fatarani.
"Sudahlah Bunda mau tidur!! Lelah seharian ini menjaga si bungsu yang sedikit rewel," ucap Fatarani dengan ketus lalu meninggalkan Rafli, suaminya yang masih duduk di sofa ruang tamu.
Rafli hanya menatap aneh kepada Fatarani, istrinya itu. Hari ini baginya hari yang aneh yang di lewatinya. Sikap Fatarani yang terlihat menyembunyikan sesuatu dan sikap Rara yang sejka siang seperti mulai mendiamkan. Seharian ini Rafli dan Rara hanya berkomunikasi melalui chat saja tanpa ada kominikasi secara langsung dan online.
'Kalian berdua hari ini tampak aneh, dan kamu, Bunda, kamu paling aneh. Mara dengan tiba-tiba tanpa ada api dan asap. Wajahmu tampak takut dan terlihat sangat panik dan cemas,' batin Rafli di dalam hati.
Pagi ini, Bunda Fatarani sudah membereskan dan merapikan semua sudut ruangan rumah kontrakannya. Fatarani bangun pagi-pagi sekali lalu mencuci, menypu, mengepel dan memasak.
Rafli hanya membatin di dalam hati dan masih berpura-pura tidur pulas. Sesekali Fatarani membalas chat di ponselnya, entah kepada siapa pagi-pagi buta, Fatarani berkomunikasi. Padahal Fatarani termasuk wanita yang kurang dekat dengan saudara-saudaranya, bahkan kepada orang tuanya sendiri.
Pagi itu, Fatarani mencoba mengirim pesan singkat kepada Rara seusai sholat shubuh. Tidak lama, Rara pun membalas pesan singkat Fatarani.
"Jangan lupa dengan janji kita nanti siang. tolong jangan pernah beri tahu Ayah Rafli. Bila Ayah Rafli mengetahui janji kita hari ini, maka aku akan buat perhitungan yang sangat banyak kepadamu!!" begitu tulisan Fatarani untuk Rara lewat pesan singkatnya.
__ADS_1
Dengan cepat Rara membalas pesan singkat itu, "Bunda tidak perlu khawatir dengan semua ini. Rahasia ini adalah rahasia kita berdua, tanpa ada campur tangan dari Mas Rafli, dan aku sangat paham sekali," balasan pesan singkat dari Rara kepada Fatarani.
"Ya, itu yang aku harakan. Ini urusan wanita antara aku dan kamu!!" balas Fatrani dengan nada tulisan yang ketus.
Ponsel itu di letakkan di dekat rak piring dan di masukkan ke dalam hingga tertutupi oleh gelas-gelas yang berjajar di sebelahnya. Fatarani pun langsung melanjutkan pekerjaan rumahnya yaitu menjemu pakaian di teras depan rumah.
Melihat Fatarani yang berjalan ke teras depan dengan membawa dua ember pnuh cucian yang siap untuk di jemur. Rafli pun mengambil kesempatan ini untuk melihat ponsel Fatarani yang di sembunyikan di rak bagian atas.
Ponsel itu telah di temukan dan kini telah berada dalam genggaman Rafli. Dengan cepat dan cekatan Rafli membuka ponsel milik Fatarani dan mengecek seluruh isi pesan singkat dan ternyata semua chat masih aman tersimpan di dalamnya dan belum terhapus.
Pesan singkat Fatarani kepada Rara yang di mulai pagi ini smeua masih ada dan belum sempat terhapus dari media aplikasinya yang biasanya di hapus dengan sengaja oleh Fatarani untuk menghilangkan jejak dan mengecoh Rafli, suaminya. Selain itu, ada pesan singkat dnegan nomoe baru yang belum tersimpan namanya di kontak fatarani. Rafli pun membuka room chat tersebut, di sroll isi pesan chat dari atas, dari pertama Fatarani melakukan chat dari awal waktu hingga selesai di beberapa menit yang lalu.
Jelas sekali, isi dari pesan singkat itu adalah beberapa langkah yang sudah terjadwal yang akan mereka lakukan unuk menyakiti Rara. Rafli akhirnya mengetahui rencana jahat pertemuaanya dengan Rara nanti siang di jam makan siang di suatu tempat yang telah di janjikan.
'Bunda dan teman Bunda, sengaja mengajak Rara untuk bertemu dan duduk bersama untuk makan siang di sebuah restoran di Jakarta. Lalu, ini rencana jahat kamu untuk menyakiti dan mencelakai Rara. Salah Rara kepadamu itu apa, Bunda? Bisa-bisanya kamu berpikir sepicik dan sependek itu untu membuat Rara tersakiti. Kenapa Bunda harus menceritakan aib rumah tangga Bunda kepada orang lain?' batin Rafli dengan sangat kesal.
Rafli pun keluar dari room chat itu dan menutup layar ponselnya, lalu meletakkan kembali ke tempat semula tanpa menghilangkan jejak ponsel itu sudah sempat berpindah tangan. Semua sama dan di letakkan sama persis di tempat semula.
Rafli pun kembali lagi ke kasurnya dan berpura-pura untuk tidur kembali. Kepalanya memutar otak untuk mencari solusi atas masalah ini.
Kedua matanya dengan sengaja di pejamkan dan isi pikirannya mulai tertuju pada Rara.
'Mamah sudah pergi dari Bogor kah? Sudah dalam perjalanan kah untuk menemui Bunda. Mungkin ini ada dua solusi yang bisa di dapat. Tapi, tentu akan ada rasa sakit hati di sini. Sekuat tenaga Papah akan tetap memperjuangkan Mamah. Bagi Paph saat ini, Mamah sudah menjadi bagian hidup Papah yang paling penting,' batin Rafli di dalam hati.
Dalam pejaman kedua matanya, terngiang jelas wajah Rara yang sedang menari indah dalam pikirannya. Wajah cantik dan ayu, yang sedikit pu n tidak pernah membuat Rafli bosan, bahkan setiap saat malah selalu membuat Rafli candu untuk tetap melihat senyum indah berlesung pipi itu.
Terdengar suara langkah kaki kecil dan suara berisik yang di hasilkan dari gesekan kedua ember yang dibawa oleh Fatarani. lngkah kaki Fatarani nampak tergesa-gesa dan cemas. Ada sesuatu yang dilupakan walapaun sudah tersimpan rapat. Fatarani mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan rumah kontrakannya terutama di bagian kamar. Terlihat jelas dengan mata kepala sendiri, Rafli, suaminya masih tertidur pulas di atas kasurnya lengkap dengan selimut tipis yang meutupi setengah tubuhnya.
Satu tangannya menggapai rak bagian atas untuk mengambil ponselnya yang sejak tadi di sembunyikan di rak tersebut. ponsel itu sudah berada di tangan Fatarani, dengan gerak cepat Fatrani menghapus semua isi chat tersebut sebelum ponselny kaan di pinjam oleh anak-anaknya melihat aplikasi bermain dengan anak.
Jantung Fatarani berdegup dengan sangat kencang. Rasanya seperti ada yang tidak beres, namun apa? Beberapa kali fatarani saslah mengambil gelas karena kegugupannya.
"Bunda?" panggil Rafli yang tiba-tiba memanggil dengan suara parau dan mengejutkan Fatarani yang sedang mengambl beberapa gelas kosong untuk di rapikan di baki besar.
PRANG!!!
Satu gelas yang sedang berada dalam genggaman Fatarani pun terlepas dan lolos begitu saja karena terkejut dnegan kehadiran Rafli yang datang tiba-tiba.
"Argh ... Ayah kenapa sih? Bunda jadi kaget," ucap Fatarani jadi canggung. rasa bersalah dan gugup bercampur menjadi satu hingga malah membuat Fatrani menjadi salah tingkah.
'Bunda kenapa sih? Masa, Ayah panggil aja, itu gelas sampai pecah? Bunda lagi punya piiran ya?" cecar Rafli yang sengaja ingin membuat Fatarani mengakui semua perbuatannya sebelum menemui Rara.
Wajah fatarani seketika berubah. Wajah yang tadinya gugup dan cemas pun kini berubah pucat karena takut. Kepalanya menggeleng pelan dan menadakan smeuanya baik-baim saja.
"Cuma kaget saja. Tadi kan suasana sepi, dan tiba-tiba Ayah memnaggil dalam keadaan sunyi, pasti Bunda terkejut," ucap Fatarani memberikan alsan ang cukup masuk di akal.
Rafli tidak menjawab dan tidak memberikan jawabannya. Kedua matanya menangkap basah mata Fatarani yang tampak berpikir mencari jawaban.
"Yakin, tidak sedang punya pikiran apapun?" desak Rafli seolah ingin Fatarani jujur dengan dirinya.
__ADS_1
Fatarani mengangguk pelan. Menutupi semua kebohongannya dengan senyum manis yang tertahan di sudut bibirnya.
"Bunda kan lagi mengandung Ayah. Kalau pikiran pasti punya," jawab Fatarani pelan.
"Itu bukan alasan, Bun. Ayah kenal Bunda itu lama. Kita pacaran tiga tahun, menikah pun sudah hampir dua belas tahun. jadi tidak ada alasan untuk Ayah tidak mengenal Bunda, karakter Bunda, sikap Bunda," ucap Rafli tegas.
Fatarani pura-pura tidak mendengar dan mematikan air panas yang sudah mendidih dan memasukkan ke dalam teko.
Betapa rasa sakit itu tentunya lebih sakit dari pada tersiram air panas yang telah mendidih ini.
Istri mana yang tidak murka mendengar suaminya mau menikah kembali, apapun alasannya. Saat ini, mungkin akan baik-baik saja, tapi besok, lusa, dan yang akan datang, apakah tetap akan sama, tetap akan seimbang, tetap akan adil!! Tentu poligami yang baaimana dulu. Semua itu bukan hal yang mudah, tidak hanya melakukan ijab kabul dan memberi nafkah baik lahir dan batin sesuai kemampuan dan adil. Adil yang seperti apa?!!
"Kalau Ayah sudah mengenal Bunda? Lalu untuk apa mengenal yang lain? Mengenal wanita lain? Bunda tahu, Bunda memang tidak sempurna, tapi bukan ini caranya untuk melupakan apa yang telah kita jalani selama usia pernikahan. Ingat prosesnya, ingat susahnya, ingat segala apa yang ada pada kita," lirih Fatarani mengutarakan semuany. Hatinya nyeri terasa seperti tertusuk-tusuk.
"Bunda itu kenapa sih? Dari semalam kayak sensitif?" tanya Rafli pura-pura.
Fatarani diam dan membawa minuman hangat itu ke ruang tamu dan meletakkan di meja ruang tamu.
"Ayah sedang bicara!! Jangan kamu mengabaikan suamimu sendiri?" gertak Rafli yang mulai kesal.
Rafli semakin kesal dibuat oleh Fatarani dengan segala ketidak jujurannya.
"Bunda lagi tidak mau membahas apapun," jawab fatarani ketus.
Fatarani langsung pergi ke luar setelah membawa dompet untuk membeli sarapan pagi.
'Bunda, kenapa sih? Ayah hanya meminta restu saja untuk menikahi Rara. Ayah juga terus tidak meninggalkan Bunda dan anak-anak. Semua akan Ayah sesuai dengan porsinya,' lirih Rafi dalam hatinya.
Dengan cepat, Rafli pun mencari ponselnya dan mengetikkan pesan singkat kepada Rara.
"Assalamualaikum, temui Papah dulu sebelum Mamah temui Bunda di restoran. Ada yang ingin Papah bicarakan dengan Mamah,' tegas Rafli mengetikkan isi pesan singkat itu dengan sangat jelas," ucap Rafli dalam isi pesannya untuk Rara.
Lama sekali isi pesan singkatnya hanya di baca tanpa dibalas oleh Rara. sebenarnya bukan untuk tidak membalas. Pertama, sudah jelas tugas negara setiap pagi.
Pagi ini Rafli memang di buat sangat pusing dan dilema.
'Apa yang harus aku lakukan dengan semua ini. Aku tidak bisa memilih salah satunya, karena keduanya sangat istimewa dan berarti untukku. Kamu, Bunda, kamu wanita terhebat yang telah memberikan enam orang anak, dan menemaniku dari titik enol hingga saat ini. Dan kamu, Ra, kamu itu unik dan memiliki daya tarik pesonamu sendiri. Dan kalian berdua juga memiliki kekurangan yang ternyata melengkapi satu sama lain,' batin Rafli.
Sarapan pagi di rumah kiontrakan Rafli masih nampak biasa saja. Fatarani yang masih bingung dengan ijin Rafli pun sedikit tidak tenang saat makan nasi uduk.
"Ayah ...." panggil Fatarani dengan suara lirih.
Rafli pun menoleh ke arah Fatarani, istrinya. Tidak biasanya Fatarani memanggil namanya dengan lembut.
"Ada apa Bun?" jawab Rafli dengan pelan.
"Hari ini Bunda mau ketemu sama temen Bunda waktu SMA. Boleh kan?" tanya Fatarani pelan. raut wajahnya terlihat cemas namun berusaha bersikap tenang.
Kepala Rafli langsung berputar untuk mencari solusi. Ada denyutan keras yang mengelilingi rasa sakit di seluruh bagian kepalanya.
__ADS_1
"Ketemuan dimana?" tanya Rafli mulai cemas dan khawatir terhadap Fatarani yang sedang mengandung.