MAHAR 33 RIBU

MAHAR 33 RIBU
115


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian ...


Usia kandungan Rara semakin membesar. Sejak pindah ke kota yang baru dan membuak usaha baru di sana. Rara semakin rajin mengikuti majelis taklim yang ada. Ia menjadi sosok yang berubah dan benar -benar ingin merubah semua sikap dan sifatnya selama ini. Rara ingin berhijrah.


Rara juga menjadi salah satu pendonor tetap di salah satu Panti Asuhan yang ada di dekat rumahnya. Sesekali Rara datang untuk bermain bersama anak -anak disana. Mengajak putra kesayangannya, Abuya untuk bermain dengan anak -anak seusia Abuya.


Perutnya semakin membesar dan tubuhnya semakin lemah. Usia kandungan sudah menginjak tujuh bulan. Selama itu juga, Rara jarang berkomunikasi dengan Rafli, lelaki yang sampai saat ini masih ia cintai.


Rara tidak pernah menyesali semua yang telah terjadi padanya. Ini semua keinginannya, ini semua adalah harapannya. Rara pikir dengan hamil, Rafli akan segera menikahinya walaupun ia hanya di jadikan istri kedua, tapi nyatanya setelah melihat keutuhan rumah tangga Rafli dan Fatar, istrinya, Rara justru mundur dan tak ingin lagi menginginkan harapannya itu terwujud.


Bagi Rara tidak ada yang terlambat. Rara selalu berharap, bahwa Allah akan mengampuni perbuatannya. Semua dosanya sudah ia akui dan Rara sudah memohon ampu pada Allah SWT.


Semua nikmatnya di tambah setelah Rara mengikhlaskan. Walaupun sejak dulu pun, Rara tak pernah menuntut apapun dari Rafli. Ia hanya ingin di nikahi, dan Abuya, putranya memiliki seorang Papah. Semua itu sudah terwujud, namun Rara tidak mau egois dengan semua keinginannya itu. Jiwa dan raga Rafli memang sudah seharusnya bersama Fatar, istri SAH-nya.

__ADS_1


"Ada apa, Ra? Ada yang ingin kamu ceritakan?" tanay Ibu PAnti pada Rara yang sedang melamun saat menatap Abuya, putranya berlarian di halaman PAnti bersama teman -teman yang sudah ia kenal dnegan baik.


Rara menoleh ke arah Ibu Panti dan tersenyum manis.


"Tidak ada Bu. Rara cuma masih trauma saat melahirkan Abuya. Kini sebenatr lagi, adiknya Abuya akan lahir," ucap Rara pelan.


"Suami kamu gak pulang?" tanya Ibu Panti yang tidak pernah tahu cerita masa lalu Rara.


"Tidak Bu. Rara hanya dan Mas Rafli hanya menikah siri saja. Rara terlalu sayang dengan Mas Rafli, sampai Rara meminta di nikah siri, agar Rara bisa memiliki anak dari Mas Rafli," jawa Rara pelan.


"Lalu?" tanay Ibu PAnti semakin penasaran.


"Rara memilih pergi dan membiarkan keluarganya tetap utuh bersama istri dan kelima anaknya," ucap Rara santai.

__ADS_1


Tidak ada raut penyesalan atau kesedihan yang di tampakkan. Semuanya tetap aman terkendali, karena memang Rara sudah mengikhlaskan.


"Tapi ... Usia kandungan kamu sudah besar. Kamu tidak ingin, dia hadir untuk menemani kamu, Ra?" tanya Ibu Panti pelan.


"Bukan tidak ingin. Rara rindu, bahkan Rara ingin bertemu setiap kita berkomunikasi. Tapi, Rara menahan, agar kejadian speerti dulu tidak terulang lagi. Rara menahan untuk tidak mencari Mas Rafli lagi, karena Rara tidak tega dengan istri dan anaknya," ucap Rara pelan.


"Memang kamu menyuruh Rafli meninggalkan keluarganya?" tanya Ibu Panti kemudian.


"Tidak. Sama sekali tidak. Kita pun belum bercerai. Apa masih boleh kita berkumpul lagi?" tanay Rara pelan.


"Selama kamu memnag sudah menikah siri, semua itu tak akan jadi masalah. Kecuali kamu memang menyuruh Rafli meninggalakna istri dan kelima anaknya. Itu perbuatan tidak baik," ucap Ibu Panti menasehati.


"Sama sekali tidak Bu. Rara tidak begitu," jawab Rara lirih. Rara mengusap pelan perutnya yang mulai membesar. Ia memang berharap bisa bertemu dnegan Raflio saat melahirkan nanti. Harapan Rara, RAfli mau datang emnemaninya, hanya itu.

__ADS_1


__ADS_2