MAHAR 33 RIBU

MAHAR 33 RIBU
56


__ADS_3

"Maksudmu? Aku harus semandiri dirimu begitu, Ra?" tanya sang Istri itu pelan sambil menatap kagum Rara.


Wanita dengan cukup umur dan matang secara finansial. Tidak hanya itu, Rara juga pintar dalam segala hal, serta memiliki attitude yang baik.


Rara menggelengkan kepalanya pelan.


"Bukan seperti itu. Aku seperti inikarena kebutuhan. Jangan ikuti aku, tapi minima jadi perempuan lebih bisa membaca situasi dan kondisi, itu saja saranku. Tidak semua orang baik itu benar-benar baik dan tulus," ucap Rara pelan sambil menutup bagasi mobilnya setelah menurunkan semua barang keluarga yang menyewa jasa rental mobilnya.


"Aku harus belajar padamu, Ra Biar aku juga bisa sekuat kamu," ucap Sang Istri itu pelan.


"Kuat, tegar, itu bisa seiring berjalan dengan perjalanan hidup kita dan ujian yang Allah berikan kepada kita," ucap Rara pelan.


"Tapi, Aku sangat kagum kepadamu. Banyak hal yang bisa dijadikan pelajaran utnuk permasalahan hidup. Kamu tahu Ra, mungkin aku terlihat bahagia, api sebenarnya tidak," ucap Sang istri itu pelan tampak tulus memuji Rara.


Rara tersenyum manis dan memegang ereat kedua tangan Sang Istri itu.


"Kamu tahu, kenapa kita perlu mandiri? Karena dikecewakan itu menyakitkan, jadi kita harus bisa bangkit dan bisa bertahan dengan segala kemampuan kita tanpa mengandalkan orang lain, apalagi lelaki yang kita sebut suami," ucap Rara pelan.


"Hebat kamu, Ra. Ya, sudah kalau mau menginap disana, nanti aku bilang sama suami," ucap Sang Istri dengan suara pelan.


Rara melepaskan genggaman tangan itu dan tersenyum lalu mengangguk pelan.


"Aku yakin kamu juga anita hebat bagi suami dan anak-anakmu. Kamu tidak perlu insecure dengan semua ini. Semangat ya Bunda," ucap Rara menyemangati.


Keduanya berpisah, sang Istri itu masuk ke dalam villa, sedangkan Rara masuk k dalam mobil dan keluar dari halaman villa menuju Hotel Mandiri yang terletak berseberangan.

__ADS_1


Langkah kaki Rara begitu pelan memasuki lobby hotel. Melihat banyak keluarga yang akan menginap disana untuk berlibur. Pikirannya melayang mengingat Abuya, anak semata wayangnya yang di tinggalkan sendiri dirumha bersama asistennya. Rara tadi pergi tanpa melihat senyuman Abuya yang lucu mnggemaskan karena tertidur dala gendongannya.


"Permisi, mau pesan kamar satu, untuk satu malam saja," ucap Rara pelan kepada petugas hotel.


"Silahkan, kamar nomor XX di lantai dua," ucap petugas itu dengan senyum lebar sambil memberikan kunci kamar itu lalu meminta identitas Rara.


Rara memberikan kartu identitas dan menerima kuci kamar.


Tubuh Rara sudah direbahkan di kasur empuk itu, pandangannya jelas mengarh ke arah luar jendela kamarnya yang begitu bagus pemandangannya.


Ponselnya kembali berdering. Rara menatap layar ponselnya dengan penuh rasa bahagia. Ada nama Rafli disana yang sedang menghubunginya. Rara tidak lupa, tapi memang sejak tadi, tidak sempat untuk membuk ponsel, sekedar untuk mengecek chat yang masuk apalagi menelepon Abuya, anak semata wayangnya pun belum dilakukan. Tubuhnya sudah lelah dan ingin bristirahat sendiri, tapi melihat Rafli meneleponnya, mood Rara kembali pulih dan terasa sangat bersemangat.


Rara pun mengangkat telepon itu dnegan cepat. terdengar suara khas yang sellau dirindukannya setiap hari. Suarany sudah menjadi candu bagi Rara.


"Waalaikumsalam, Maaf Mas. Aku baru saja sampe dan ini baru chek in hotel. Belum sempat buka ponsel, mengabari Abuya pun belum," ucap Rara pelan dengan jujur.


"Kabarilah Abuya, kasihan anakmu nanti mencarimu," ucap rafli mengingatkan.


"Iya Mas. Nanti setelah Mas telepon aku kabari Kakak," ucap rara pelan.


Rara menegakkan duduknya dan kini bersandar pada sandaran tempat tidur. Wajahnya begitu berseri bahagia. Tubuhnya yang lelah seolah menghilang begitu saja, karena hilang bersama kerinduannya yang mulai memudar. Lelaki yang selama in dicintainya itu begitu memperhatikannya dengan baik.


"Kamu sudah makan?" tanya Rafli pelan.


"Belum Mas. Kan aku juga baru datang, belum sempat apa-apa. Ini juga mau tiduran dulu," jawab Rara pelan.

__ADS_1


"Makanlah, Mas tidak mau kamu sakit. Ra, jaga diri kamu baik-baik ya," ucap Rafli pelan.


"Iya Mas, pasti itu. Aku pasti jaga diri dan jaga kesehatanku dengan baik," ucap Rara pelan.


Dua jam Rara dan rafli mengobrol dalam sambungan telepon. Seolah tidak pernah ada kebosanan dan selalu ada tema untuk di obrolkan. Keduanya saling mengisi dan bisa tertawa lepas hingga beban hidup masing-masing meluap bersama kebahagiaan mereka.


"Ra, kalau ke Jakarta mampir kesini. Nanti Mas yang traktir kamu makan," ucap Rafli penuh harap.


Rara tersenyum bahagia di balik ponselnya. rasanya senang jika dibutuhkan seperti ini. Rasa ingin bertemu bertatap muka satu sama lain secara nyata, karena perasaan mereka berdua itu nyata dan tulus.


"Iya Mas, Aku pasti datang nanti bersama Abuya," ucap Rara dengan suara pelan.


"Semoga kita cepat bertemu. Ad banyak hal yang ingin Mas ungkapkan kepadamu, Ra. Mas hanya bisa berharap kamu menjaga semuanya dengan baik," ucap Rafli pelan.


"Maksud Mas apa? Aku menjadi istri kedua Mas? Seperti waktu itu aku bilang? Aku mau asal Bunda mengijinkan, hanya itu Mas. Aku tidak ingin melakukan kesalahan fatal," ucap Rara pelan.


"Kita saling mencintai bukan?" tanya Rafli dengan sedikit ragu.


"Aku memng suka, sayang dan cinta dengan Mas Rafli. Tapi, jujur cintaku ini tidak mau menyakiti, cintaku ini tidak egois untuk memiliki,cukup kita seperti ini, bisa berkomunikasi dengan baik, saling mensupport satu sama lain, saling mendengarkan, saling menyayangi, ini smeua sudah membuat aku bahagia, Mas. Hanya seperti ini dan tidak lebih, karena aku juga ingin membatasi diri agar aku juga tidak terluka karena kecewa," uca Rara menjelaskan dengan pelan.


"Baiklah, Mas hargai keputusanmu, Ra. Tapi, Mas ingin kamu tetap sabar. Mas pasti akan menikahimu dengan jalan yang benar dan iojin dai Bunda Fatar," ucap Rafli lembut dan meyakinkan Rara dengan kisah cinta terlarang merek.


"Cintaku ini sebenarnya salah Mas. Cintaku ini seharusnya tida tumbuh. Aku salah sudah mencintai bahkan selalu merindukan suami orang," ucap Rara lirih. Pembicaraan mereka selalu berujung penyesalan namun mereka selalu berharap suatu saat semuanya ada keajaiban dan berubah dan mereka berdua bisa bersama selamanya.


"Tidak ada yang salah, ra. Tolong jangan merasa kamu yang selalu bersalah. Cinta ini suci dan tidak bersalah. Mas pun juga sayang dengan kamu, kita sama-sama brharap untuk bisa bersama. Tolong jangan bicara yang Mas tidak suka. Mas paling tidak suka dibantah. Tolong kamu pahami situasi ini, jangan buat dirimu merasakan bersalah. Ingat tidak ada yang salah dengan rasa cinta kita berdua dan rasa sayang kita, yang salah itu hanya waktu. Kenapa kita harus di pertemukan pada waktu yang membuat hubungan kita sedikit rumit," ucap Rafli menjelaskan.

__ADS_1


__ADS_2