
Suasana toko pagi itu sangat ramai sekali. Rara dan dua asisten yang ikut membantu di toko pun sempat kewalahan melayani konsumen yang sejak pagi telah membludak.
Rasa syukur terus saja terucap dari bibir mungil Rara atas segala limpahan rejekin untuk dirinya saat ini.
Ponsel Rara kembali bergetar dengan dering suara yang begitu nyaring. Kedua matanya melirik ke arah ponsel yang sejak tadi berdering di atas meja kasir dekat komputer untuk menginput data barang.
Satu tangannya meraih ponsel itu dan menatap layar yang terus menerus menampilkan nama Rafli. Sontak Rara menatap ke atas melihat jam dinding yang tertempel di atas rak barang di sebelah kanan. Arah jarum memang sudah menujukkan pukul sebelas siang, sudah waktunya Rafli datang ke tempat bekerjanya.
"Assalamualaikum ...." ucap Rara saat mengangkat sambungan telepon itu dengan suara lembut.
"Waalaikumsalam, Kamu sedang apa?" tanya Rafli saat menjawab salam Rara.
"Aku lagi di toko, Mas. Ada apa?" tanya Rara kembali kepada rafli.
"Maafkan kejadian pagi tadi. Mas benar-benar minta maaf soal ini," ucap Rafli dengan suara yang begitu lirih.
"Maaf untuk apa? Tidak ada yang salah. Aku yang salah, benar kata Bunda. Jika rasa ini tidak pernah ada, tidak mungkin akan begini," jawab Rara tetap tenang.
Ucapan Rara cukup membuat Rara sendiri begitu tersiksa dengan keadaan ini. Mungkin akan sangat sulit menerima kenyataan dan takdir yang memang sudah digarisakn oleh Allah SWT.
"Mas berada dalam posisi yang sulit juga. Jalan satu-satunya Mas memang jujur dengan Bunda tentang perasaan Mas terhadap Kamu, Ra. Tapi ...." jelas Rafli yang langsung di sela oleh Rara.
"Tapi apa? Bunda tidak bisa menerima alasan Mas, kan? Mas, mau sampai kapan pun, Bunda akan tetap benci Rara, karena Rara yang sudah merusak rumah tangga Mas dan Bunda," jawab Rara dengan tegas.
__ADS_1
"Tidak ada yang merusak. Tolong jangan pernah ucap kata-kata itu lagi," tegas Rafli yang mulai cemas.
Jujur, Rafli sudah sangat sayang kepada Rara. Dia pun tidak ingin menyakiti dan mengecewakan perasaan Rara. Mereka berdua saling menjaga satu sama lain.
"Tapi Mas? Sudahlah semua sudah terjadi," jawab Rara dengan nada kecewa.
"Maka dari itu karena semua sudah terjadi Mas minta maaf. Seharusnya Mas membela, tapi kan Mas harus bisa menjaga perasaan kalian berdua," ucap Rafli menyesal.
"Membela? Mas mau mmbela siapa? Aku? Atau Bunda Fatar?" tanya Rara dengan perasaan aneh.
"Mas ingin membelamu!! Tapi kamu tahu kondisinya," jawab Rafli dengan cepat dan sangat tegas.
"Cukup Mas. Cukup. Aku cukup tahu diri tentang ini semua. Jadi, jangan tambah beban pikiranku lagi. Kamu mengerti maksudku kan?" ucap Rara dengan tegas.
"Ra ... Dengarkan kata-kata Mas. Kamu masih mau mendengar ucapan Mas? Masih mau nurut sama Mas?" tanya Rafli lembut dalam sambungan telepon itu.
"Ya, Aku mau dengar. Aku mau menurut. Apa?" jawab Rara dengan suara lirih dan pasrah. Hatinya begitu lembut dan dengan mudahnya luluh dengan ketulusan Rafli.
"Mas sayang sama kamu, Ra. Tapi, Mas juga tidak bisa meninggalkan Bunda, bukan?" lirih ucapan Rafli begitu menusuk hati Rara yang terlalu peka.
"Aku paham dengan ucapanmu Mas. Sejak awal pun aku bilang, aku memang mencintai kamu tapi aku tidak menuntut apa-apa!" tegas Rara dengan nada yang sedikit meninggi.
Rara hanya ingin Rafli tahu, bahwa kehadirannya jangan pernah dianggap sebagai perusak rumah tangga orang lain.
__ADS_1
"Mas tahu itu. Tapi, Mas yakin bisa menikahimu, sesuai harapanmu itu," ucap Rafli dengan tegas tidak mau kalah.
"Aku ada sales. Nanti kita lanjut lagi, Assalamualaikum," ucap Rara dengan cepat dan langsung menutup ponsel itu.
Rara tidak mau tersulut emosi lagi. sudah cukup kejadian pagi tadi membuat pikirannya kalut hingga saat ini yang terus memikirkan ucapan Bunda Fatarani terhadap dirinya.
"Waalaikumsalam ..." jawab Rafli pelan.
Perjalanan hidup seseorang tidak akan ada yang tahu. Takdir pun berjalan sesui rencana Allah SWT. Rara terus saja trdiam setelah menutup sambungan teleponnya dan menyandarkan punggungnya pada kursi kasir itu. Lelah sekali rasanya, bukan hanya raganya saja yang lelah, tapi juga jiwa Rara yang juga ikut melemah seiring dengan beban pikirannya yang semakin bertambah.
Rafli menutup aplikaasi teleponnya dan membuka galeri foto yang ada dlam ponselnya. Tangganya sangat terampil menggeser-geser beberapa foto yang dianggap tidak penting dan terus menggeser ke kanan, seperti sedang mencari sesuatu.
'Kenapa tiba-tiba Mas merindukamu Ra. Mas pun sudah terlanjur jatuh cinta kepadamu, Ra,' batin Rfali di dalam hatinya sambil terus mencari foto Rara yang diambilnya saat Rara dan Abuya ke Jakarta menemuinya kemarin.
Foto itu ketemu dan terus dipandangi oleh Rafli. Senyum Rara yang terlihat manis, ramah dan begitu tulus apa adanya.
'Kamu itu memang cantik apa adanya. Tidak terlihat ada kekuragan yang kamu miliki, malahan semuanya tampak luar biasa. Pesonamu sanggup melumpuhkan Mas yang seharusnya menjaga hati. Jujur Mas memang tertarik kepadamu, ada sesuatu hal yang unik dan menarik dari dirimu ang membuat Mas begitu ingin mengenalmu lebih dekat, dekat dan dekat lagi. Malahan kini, Mas ingin memilikimu juga, Ra,' batin Rafli kembali di dalam hatinya.
Perasaan cintanya kepada Rara tidak dapat di cegah seperti kepada anita-anita lain yang selama ini Rafli kenal dan yang ingin mengenal Rafli secara lebih personal lagi.
'Ahh, Pertemuan hari itu terasa sangat cepat dan begitu singkat. Padahal seharian kamu beada disni bersama Mas, tapi terasa sangat kurang dan cepat sekali aktu berlalu bila mengobrol denganmu,' lirih Rafli sambil menyentuh wajah Rara di foto yang terpampang pada layar ponselnya.
Ternyata tidak hanya perempuan saja yang selalu merindu. Lelaki pun jika sudah jatuh cinta dan sayang bisa merasakan merindu luar biasa. Tidak bisa diungkapkan dan hanya bisa dirasakan saja. Ternyata itu semua bukti rasa kasih sayang yang dimiliki oleh seseorang terhadap pasangannya. Semakin rasa rindu itu terasa berarti semakin besar rasa sayang dan cinta yang dimiliki kepada pasangan kita.
__ADS_1
Rafli memejamkan kedua matanya dan menarik napas dalam. Satu tangannya menutup galeri fotonya dan menutup layar ponselnya tanpa melihat ke arah ponselnya. Rafli hanya berusaha untuk bisa menekan rasa rindunya itu dengan mengingat jelas bayangan wajah Rara yang terekam dengan sangat apik di memori otaknya itu. Senyum khas Rara yang selalu membekas di hati Rafli.