MAHAR 33 RIBU

MAHAR 33 RIBU
71


__ADS_3

Malam ini Rafli sudah kembali ke rumah kontrakannya. Setelah menelepon Rara sebelum pulang karena sudah menjadi suatu rutinitas dan candu setiap malam.


Fatarani memang tidak secara khusus menunggu kedatangan Rafli suaminya. Aktivitas kepulangan sang suami setiap malam dan larut sudah menjadi hal biasa sehingga tidak ada yang spesial dan tidak perlu ada acara penyambutan secara khusus.


Makan malam pun sudah tersedia di meja makan. Fatarani sendiri malah sibuk dengan kegiatannya setiap malam bersama teman-teman onlinenya untuk sekedar bertegur sapa.


"Assalamualaikum ..." ucap Rafli saat memasuki rumah kontrakannya setelah memasukkan motornya ke dalam halaman rumah kontrakannya.


Tidak ada yang menjawab salamnya. rafli sudah berdiri di dalam rumah kontrakannya dan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang tampak sepi namun terdengar suara dari balik pintu kamarnya yang tertawa cekikikan. rafli hanya bisa menahan rasa kecewanya dan menggelengkan kepalanya dnegan pelan.


Ini bukan kali pertamanya Fatarani mengabaikan kedatangan Rafli yang sudah lelah seharian bekerja mencari nafkah. Pemandangan seperti ini sudah sering di temui oleh Rafli bahkan hampir setiap hari.


Sudah menjadi kebiasaan, Rafli pun langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya. Saat keluar dari kamar mandi pun, Sang istri masih tetap berada di kamar tidurnya. Tidak ada sambutan ataupun pelayanan terhadap suaminya yang lelah.


Piring makan sudah terisi makanan, sudah ada nasi lengkap dengan lauk pauknya dan sayur yang sudah dingin. Rafli membawa piring dan segelas air putih ke depan rumah. Sambil duduk di depan dan menikmati masakan sang istri sebagai pelengkap perutnya yang sudah meronta karena lapar.


Dengan sangat cepat Rafli menikmati dan menghabiskan seluruh makanannya yang ada di piring itu hingga habis tak bersisa. Lalu melanjutkan aktivitas setelah makan dengan menyalakan sebatang rokok untuk dihisap untuk mengusir rasa makanan yang masih menempel di lidah. Bukan itu saja, rokok itu sendiri bisa memberikan kenyamanan lain sambil menemani kesendiriannya di depan rumah kontrakannya itu.


Langit malam itu begitu cerah hingga aan yang berjalan di udara pun terlihat sangat jelas karena sinar rembukan yang begitu terang menyinari bumi, di tambah lagi taburan bintang yang mempercantik langit malam itu. Ingin rasanya ikut terbang ke atas dan menggapai bintang-bintang cantik itu.

__ADS_1


Ponsel yang berada di sampingnya pun diambil dan mulai di scroll untuk membuka satu aplikasi favoritnya. Tapi jari-jarinya seolah ingin mencari aplikasi chat yang biasa digunakan untuk memberi kabar Rara. Entah kenapa chat dengan anita itu menjadi candu. Padahal baru saja menelepon wanita itu sebelum pulang tadi. Tapi kini rasanya sudah rindu dan terasa sudah berabad-abad tidak mendengar suara dan kabar wanita itu.


"Assalamualaikum, sedang apa kamu?" tanya Rafli dalam chatnya kepada Rara.


Rafli mengirimkan pesa singkat itu sambil menghisap satu batang rokok yang sejak tadi dinyalakan dan berada di tangan kanannya.


Beberapa menit kemudian pesan singkat itu pun berbalas. Rara sudah membalas isi dari pesan singkat itu.


"Waalaikumsalam, lagi menatap bintang di langit yang terlihat cerah malam ini. Kamu sudah sampai rumah Mas?" tanya Rara membalas pesan singkat itu.


"Sudah sejak tadi. Baru selesai makan lalu menikmati sebatang rokok, dan mengingatmu," balas Rafli kemudian.


Rafli langsung masuk ke dalam dan mengayun kembali ayunan kain itu hingga bergerak maju mundurmembuat anak bungsunya terbuai kembali dan terlelap dalam tidurnya.


Malam ini sama seperti malam-malam sebelumnya. Rara duduk bersandar pada sandaran sofa empuk itu dengan malas. Tubuhnya sudah terlalu nyaman menempel pada sandaran sofa yang berada di ruang tengah.


Rara menarik napas dalam-dalam untuk mengisi oksigen baru ke dalam rongga dadanya. Beberapa hari ini perasaannya memang tidak enak, mungkin permasalahan Dyah ini menjadi pikiran Rara dan cukup menguras otak dan tenaganya. Belum lagi Rara harus bekerja sebagai driver dan itu semua kegiatan yang cukup melelahkan.


Tiba-tiba ingatannya kembali teringat Abuya. Tadi, rencananya Rara akan emlihat kondisi Abuya yang sudah terlelap. Dengan pelan Rara berjalan menuju kamar Abuya dan membuka pintu kamar itu dengan sangat pelan hingga suarapintu itu tidak terdengar sama sekali dan tidak mengganggu tidur Abuya.

__ADS_1


Langkahnya perlahan mendekati ranjang tidur anak lelaki kesayangannya itu. Dicium kening anaknya itu dengan penuh kasih sayang. Beberapa hari ini Rara sangat sibuk mencari uang untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya berdua denagn Sang Anak. Rasa syukurnya begitu terus berucap alhamdulillah sampai bisa di titik yang baik ini.


Beberapa hari yang lalu, Saudara jauh Rara menawarkan temapt untuk usaha. Melihat kondisi keuangan Rara yang semakin baik, membuat saudara sepupu jauhnya ini memberi tawaran menarik itu.


Rara sudah mencoba berpikir dan mencari usaha yang tepat untuk membuak usaha baru disana atau meneruskan usaha saudara sepupunya yang sempat gulung tikar karena bangkrut.


Rencananya, uang yang sudah ditabungnya akn di ambil dan membuka kembali usaha sembako dengan sistem supermarket yang tersistem dengan baik.


jari jemari Rara dengan lembut menyusuri pipi Abuya dan mengusap lembut kepala anak lelaki kesayangannya itu. Rasa cintanya kepada anak lelaki itu sangat besar. Bukan hanya rasa kasihan saja, tapi ketulusan Rara mengurus dan merawat amanah dari Allah sebagai anugerah terindah. Walaupun masa lalunya begitu gelap dan sulit sekali termaafkan.


'Maafkan Mama, kalau belum bisa membahagiakan kamu, Nak. Mama janji untuk bisa memnyenangkan kamu dan membahagiakan kamu serta merawat kamu dengan sangat baik,' lirih Rara dalam hatinya.


Satu buliran kristal yang sempat menumpuk di ujung matanya pun tertetes ke pipinya. Melihat Abuya yang tertidur pulas, ada rasa iba terhadap anak itu. Anak yang tidak pernah mengenal Ayah kandungnya dan tidak pernah merasakan kasih sayang seorang Ayah.


Beberapa wktu lalu, ada beberapa pria yang berusaha mendekati Rara dan berusaha dekat dengan Abuya. Dan, terbukti Abuya dengan mudahnya dekat dan menempel dengan siapa pun yangingin dekat dengannya walaupun itu semua hanya alih-alih untuk bisa mendekati Rara.


Salah satu syarat Rara untuk bisa menjadi pendampingnya adalah bisa mengambil hati Abuya dan bisa dekat dengan putra kesayangannya itu.


Malam ini semakin larut, Rara pun jadi kepikiran dengan apa yang di ucapkan Rafli tadi sewaktu menelepon. Lelaki itu terkadang memang terlihat cuek tapi sebenarnya sayang dan tulus terhadap pasangannya. Rara berjalan ke arah jendela kamar tidur Abuya menatap langit yang terlihat mendung, apdahal tadi langit begitu sangat cerah dan indah.

__ADS_1


Pikiran Rara melayang tak karuan. Hari ini benar-benar membuatnya pusing tujuh keliling.


__ADS_2