
"Aku cape Ra. Aku mau istirahat," ucap Dyah lirih.
Rara hanya bisa terdiam dan membiarkan Dyah melakukan semua hal yang disukainya tanpa melarangnya.
Dyah sudah mengganti pakaiannya dan mulai merebahkan tubuhnya di ranhang milik Rara. Malam itu Dyah ingin tidur bersama dengan Rara, sahabatnya. Sudah lma sekali mereka berdua tidak bermain bersma seperti dulu lagi semenjak Dyah menikah dengan Mas Hendra. Waktu kebersamaan mereka pun berkurang, paling hanya di kantor atau sesekali makan malam bersama di sebuah restauran yang ada di pusat perbelanjaan favorit mereka berdua.
"Kita belum selesai bicara, Dy?" ucap Rara pelan yang dari tadi menatap lekat Dyah dnegan segala aktivitasnya tanpa menghiraukan Rara sedikitpun.
Kedua mata Dyah yang sudah mulai dipejamkan pun akhirnya terbuka kembali dan menatap ke arah Rara yang masih duduk di tepi ranjang. Tubuh Dyah sudah terlalu nyaman dalam posisi rebahan dan sulit seklai untuk bangkit. Kedua mata Dyah langsung menoleh ke arah Rara.
"Apa lagi? Aku ingin tidur," ucap Dyah singkat.
Raga Dyah sudah lelah, begitu juga batinnya yang juga lelah berpikir dan merasakan kekecewaan. Bukan hari ini saja, bahkan semua ini sudah beberapa hari lalu terjadi.
"Dyah, Kamu yang meminta saran. Tapi, kamu juga yang menghiraukan semuanya," ucap Rara pelan.
"Aku tidak mau ambil pusing. Aku ingin tenang dulu, Ra," ucap Dyah singkat lalu memejamkan kedua matanya kembali.
Rara hanya bisa menarik napas dalam. Tubuhnya pun ikut di rebahkan tepat di samping Dyah. Lalu, mematikan lampu kamar itu dan menggantikan dengan lampu tidur yang ada di nakas.
Rara masih tidak habis pikir dengan semua curhatan Dyah. Ada begitu banyak masalah yang sedang di hadapi oleh Dyah.
__ADS_1
Dyah sudah terlelap dan sudah terlihat sangat pulas. Rara bangkit berdiri berjalan menuju kamar sebelah untuk meihat keadaan Abuya.
Baru beberapa langkah berjalan, ponsel Rara berdering nyaring. Rara berlari menuju meja rias tempat dimana ponsel itu di letakkan.
Tanpa melihat siapa yang meneleponnya, Rara langsung mengangkat sambungan telepon itu.
"Assalamualaikum ... " ucap Rara memberikan salam.
"Waalaikumsalam ... Ra, Dyah ada di rumah kamu?" tanya mas Hendra kepada Rara.
Rara terdiam, menyimak dengan baik suara lelaki yang tidak asing lagi di telingannya itu.
"Tidak perlu, Ra. Sudah biarkan saja. Ekhem Ra, Dyah bicara apa saja?" tanya Mas Hendra pelan sedikit ragu.
"Banyak Mas. Sejak sore menangis saja. Jujur, Rara kok ragu. Kalian berdua sudah Rara anggap seperti saudara Rara. Rara tidak mau membela salah satunya, tapi Rara butuh kejujuran Mas Hendra. Kalau memang itu benar, tolong sadar dan kembali lagi ke Dyah dan Cnatika, tapi kalau itu tidak benar, kenapa Dyah begitu yakin dengan feelingnya. Lalu, semua bukti itu, apa bisa Mas Hendra jelaskan kepada Rara," tanya Rara pelan.
Saat ini Rara menyendiri di ruang tengah dan duduk dengan santai di sofa kesayangannya. Wajahnya sedikit tegang menanyakan hal yang sebenarnya bukan menjadi urusannya.
Terdengar tarikan napas dalam dari sambungan telepon itu. Mas Hendra tidak gugup sama sekali dengan rentetan pertanyaan Rara yang panjang seperti kereta api. Tapi, ada hal lain yang mungkin tidak bisa Mas Hendra ungkapkan semua. Bukan todak percaya dengan Rara, tapi ada rahasia yang di pedam agar tidak trbongkar sekalipin kepada Rara sahabt istrinya itu.
"Mas kan jawab satu per satu pertanyaan kamu, Ra. Tolong kamu cermati, jadilah pendengar yang baik dan jadilah hakim yang bijak dalam menyikapi suatu masalah. Mas tahu, Dyah adalah sahabat terbaikmu, Ra. Tapi ... Kalau Dyah salah, maka kamu juga harus tegas bilang salah dan tetap menyalahkan perbuatannya," ucap Mas Hendra dengan suara berat namun tetap terdengar sangat tegas.
__ADS_1
"Maksud Mas Hendra apa sih? Jangan bertele-tele, dan jangan membuat Rara semakin bingung dengan masalah ini. Apa susahnya untuk jujur. Rara juga seorang perempuan, Mas. Rara bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Dyah walaupun tidak secara langsung. Tapi, Rara sangat tahu, Dyah benar-benar kecewa besar dengan Mas Hendra. Seharusnya Mas hendr lebih paham dengan prasaaan Dyah, masalah ini bukan main-main lho, Mas," ucap Rara yang sedikit meninggi dan terdengar ikut kesal.
"Kamu jadi kesal sama Mas, Ra? Kmau tidak tahu, seperti apa kejadiannya, hanya mendengar dai sudut pandang Dyah. Jangan seperti itu, Mas juga butuh di hargai, di dengar, dan di mengerti," ucap Mas Hendra membela diri.
"Rara tidak menyalahkan Mas hendra. Apa yang Rara ucapkan ini adalah suatu bentuk kepedulian, suatu bentuk alarm untuk diri sendiri. Kalau memang itu salah dan bukan suatu kebenaran, seharusnya Mas Hendra jangan marah dan jangan kesal," ucap Rara pelan menjelaskan.
"Oke ... Mas akan ceritakan semuanya kepada kamu, Ra. Dengarkan baik-baik," ucap Mas Hnedra dengan tegas dan ltang.
Mungkin sudah saatnya semua di buka. Cerita yang sudah disimpan rapat-rapat oleh Mas Hendra selama sebulan ini akhirnya di buka juga. Semuanya diceritakan secara gamblang dan jujur, tidak ada yang di tutupi atau yang di sembunyikan lagi.
Rara mendengarkan dengan seksama. Tidak ada satu kata pun yang terlewat. Mas Hendra begitu jelas menceritakan semua kejadian itu secara runtut. Intinya semuaitu tidak ada hubungannya dengan kejadian di Bali. Mungkin kebetulan dan Dyah menyangkut patkan. Lalu, semua bukti chat dan foto itu hnya sebuah potongan cerita bukan alur cerita sebenarnya, mana mungkin bisa dijadikan suatu bukti yang akurat.
"Sekarang terserah kamu, Ra. Mau percaya Mas atau Dyah. Tapi, Mas yain, kamu wanita yang pintar dan idealis, tolong logikanya itu dipakai dengan baik, jangan pakai perasaan. kalau kamu menyikapi pakai perasaan maka sudah bisa di pastikan, Mas Hendra yang kalah," ucap Mas Hendra tegas.
Rara hanya bisa terdiam. Ada akhir cerita yang masih di sembunyikan oleh Mas Hendra dan semuanya belum terungkap.
"Mas Hendra yakin ini alur cerita sebenarnya? Tidak ada akhir ceritanya? Kok seperti menggantung, dan vcerita itu seolah berhenti di hari ini, malam ini, bukan suatu keputusan akhir, atau akhir cerita," tanya Rara dengan sedikit bimbang.
Mas Hendra memang sudah menceriitakan semuanya dari A hingga Z tanpa terputus dengan alur yang snagat jelas. Pada intinya semua itu adalah bohong. Dan masalah itu hanya timbul dari pemikiran Dyah sendiri yang sebulan terakhir ini memnag sedikit sensitif. Ditambah lagi, kesibukan Mas Hendra di luar kota untuk menangani sebuah proyek besar hingga waktu kebersamaan dalam keluarga pun sedikit berkurang.
Mas Hendra hanya bisa tersenyum puas di balik layar ponselnya saat mendengar Rara yang masih meragukan ceritanya itu. Mas Hnedra sengaja membuat cerita itu menggantung agar Rara juga ikut terhanyut dalam alur cerita itu sendiri. Cerita fiksi yang dibuat oleh Mas Hendra untuk mengeprank Dyah, istrinya dan Rara, sahabat baik istrinya.
__ADS_1